Tulisan Aneh

Tulisan Aneh
03. Anak Setan (eps 1)


__ADS_3

Dalam sebuah kota penuh hiruk pikuk kegiatan, telah terlahir seorang anak lelaki yang memiliki paras tampan disertai kecerdasan luar biasa. Sayangnya, di saat masyarakat tahu tentang kelebihan sang anak, semua telah terlambat, mereka terlanjur menggores dan mencabik-cabik mental anak itu.


Tidak ada yang tidak tahu tentang bocah berumur 8 tahun bernama Gena King, bahkan dia mendapat julukan dari orang-orang sebagai anak setan. Sebutan "anak setan" tentu saja bukan karena wujud atau rupa Gena yang seperti setan, tetapi hal lain yang merujuk pada kelakuan anak itu.


Untuk lebih jelasnya, mari kita bersama-sama melihat apa saja yang dilakukan si Gena sampai semua orang tidak ragu untuk membunuhnya, atau-paling-tidak membuangnya dari kota.


Hari ini Gena sedang membersihkan diri di salah satu kamar mandi umum yang disediakan untuk pengunjung setelah memakai kolam renang tak jauh dari sana. Gena tidak masuk ke kolam renang karena tidak punya uang, dia hanya meminjam kamar mandi ini sejenak untuk membersihkan campuran tanah basah dan kuman yang sengaja dilemparkan oleh orang tua penjaga toko.


Setelah selesai, dia menyelinap di antara kerumunan yang kebetulan ingin memasuki kamar mandi. Tubuhnya yang kecil memudahkannya untuk berpindah tempat dan bersembunyi dari pandangan orang-orang.


Namun, itu tidak berguna untuk masyarakat lokal yang mengenal sepak terjangnya.


Seorang lelaki berkumis sedang duduk santai menunggui kotak uang yang akan terisi setiap ada orang ingin menggunakan fasilitas kamar mandi bermesin uap. Lelaki itu memang tampak santai dan penuh celah, tetapi tidak banyak yang tahu kalau lelaki itu dipilih untuk pekerjaan ini karena memang memiliki mata tajam. Dia akan tahu jika ada yang berani meninggalkan tempat ini tanpa membayar.


“Hei, Bocah, berhenti,” panggil lelaki berkumis tersebut sambil menangkap pundak Gena.


Dengan gesit Gena berputar dan menjauh dari jangkauan lelaki berkumis. Dia mengambil sesuatu dari kantong celana lalu melemparnya ke wajah si lelaki.


“Makan tuh permen rasa kopi buatanku,” ucap Gena sambil tertawa lebar dan segera berlari meninggalkan tempat tersebut.


Lelaki berkumis mengambil benda yang mengotori wajahnya, setelah itu ekspresinya berubah ngeri dan jijik tak terhingga. Melupakan pelaku kriminal tadi, si lelaki menerobos antrean untuk segera mencuci wajahnya dengan bensin.


Tidak ada yang ingin memarahinya karena berlaku tak beretika setelah mereka mencium aroma lelehan cokelat kekuningan di wajahnya.

__ADS_1


Gena sudah jauh saat dua orang yang sebelumnya berniat mengejar malah membiarkannya kabur. Dua orang itu merupakan teman si lelaki berkumis, saat melihat benda apa yang melumpuhkan sang bos, mereka tak berani mendekati Gena karena takut terkena bom encer juga.


Benda yang disebut permen oleh Gena tadi adalah gulungan kain kecil berisi tanah liat, potongan daun-daun busuk, pecahan beling yang sempat tersemat di rambut kusutnya, lalu yang terakhir sedikit tetesan dari air kencingnya.


Gena tertawa lebar masih berlari. Beberapa orang menoleh padanya dan sebagian besar langsung panik hingga bersembunyi.


“Sembunyi! Ada anak setan!”


“Bahaya, aku baru membuka tokoku. Kenapa dia melewati jalan ini, sih?”


“Lihat tawanya, pasti dia sudah menjahili orang lain lagi.”


“Parah juga anak ini. Siapa orang bodoh yang sudah melahirkannya?”


Gena mendengar setiap bisikan kalimat-kalimat tersebut, tetapi bukannya menyakiti perasaannya, Gena semakin gembira dan bertekad untuk membuat semua orang kesulitan dan menderita. Dia tertawa geli, sesekali bersenandung riang dengan wajah cerah layaknya memenangkan lotre.


Kakek tersebut merapikan barang-barangnya, terlihat ingin menutup jualannya, mulutnya berkomat-kamit merapalkan doa karena dagangannya laku lumayan banyak hari ini.


“Kakek, berikan semua mercon ini! Aku ingin memakainya.” Gena tiba-tiba berseloroh seperti itu sambil menjulurkan tangan.


Si kakek mendongak dengan alis menyatu, dia menemukan seorang anak kecil yang memakai pakaian biasa kini seperti sedang memalaknya. Dia tidak tersinggung akan hal itu, hanya merasa heran dan penasaran.


“Kasihan sekali kakek itu, ayo kita bantu.” Pedagang lain yang memperhatikan Gena sedari awal berkata pada orang di sebelahnya.

__ADS_1


“Kau sudah gila, ya? Kalau anak setan itu berganti menyerang kita, habis sudah!”


“Eh, ini ada apa? Kenapa ribut-ribut?” Seorang pejalan kaki berhenti untuk bertanya.


“Itu di sana, ada bocah yang memalak orang tua. Kita tidak bisa membiarkannya begitu saja,” jawab penggosip pertama.


Gena mengabaikan bisikan-bisikan mengenai dirinya dan memilih menggerakkan tangan yang masih terulur di depan wajah si kakek. “Mana? Berikan padaku. Kakek dengar tidak?”


Si kakek juga mendengar sebutan yang masyarakat lontarkan pada bocah di hadapannya. Sebutan yang paling sering adalah anak setan. Kakek itu jadi ingin tahu kenapa anak normal ini dipanggil begitu serta dibenci banyak orang.


“Kamu mau semuanya, Cu? Bisa saja Kakek memberikan semua padamu, tapi nanti Kakek tidak punya uang untuk membeli makan,” jelas si kakek sambil tersenyum sabar.


Gena menatap si kakek beberapa saat sebelum berkata, “Kakek pasti baru di tempat ini. Karena Kakek menyedihkan, aku akan membeli seluruh dagangan ini dengan uang.”


Gena mengambil dompet berwarna jingga dari kantong jaket kusamnya lalu menyerahkan isinya kepada kakek tersebut.


Kakek kurus kering itu melotot melihat lembaran uang sejumlah dua ratus ribu di tangan bocah ini. Dia menelan ludah dan berucap terbata, “Cu ... kau serius memberiku ini? Harga dagangan Kakek tidak setinggi itu.”


Gena berdecak karena orang tua di depannya tidak segera mengambil uang yang disodorkan olehnya. “Kakek cerewet sekali. Cepat terima ini! Aku butuh mercon Kakek sekarang juga.”


Si kakek tergagap lalu cepat-cepat menerima uang itu. Dia menyerahkan kumpulan petasan beragam bentuk dan ukuran sambil tersenyum lebar. “Terima kasih, Cu. Semoga kebaikanmu mendapat imbalan setimpal.”


Gena langsung berlalu dengan keranjang penuh kembang api di tangan kanannya. Uang memang hebat, pikir Gena dengan senyum miring karena kakek tadi mendoakannya, padahal Gena tidak butuh, aku harus mencuri lebih banyak.

__ADS_1


Uang di dompet jingga ini memang hasil curiannya saat menyelinap keluar dari kamar mandi tadi sore. Sebenarnya Gena hanya iseng ingin membuat orang panik dan histeris sebab kehilangan dompet, dia tidak menduga akan memberi Kakek Penjual Mercon uang tidak halal tersebut. Gena kembali tersenyum geli membayangkan apa yang akan terjadi bila dia mengatakan kepada kakek itu tentang kebenarannya.


Mungkin dia langsung mati berdiri, batin Gena terbahak.


__ADS_2