Tulisan Aneh

Tulisan Aneh
05. Anak Setan (eps 3)


__ADS_3

Berjalan beberapa ratus meter, Gena mendapati sebuah restoran kecil berdiri sendiri di pinggir jalan besar beraspal. Restoran itu menguarkan aroma sedap yang menggugah selera sehingga Gena memutuskan untuk masuk ke sana.


Ternyata di dalam sangat ramai pengunjung, menandakan kalau restoran ini banyak diminati. Gena juga melihat bahwa sebagian besar pengunjung merupakan keluarga-keluarga dengan anak-anak kecil yang berceloteh ria.


Gena mengambil tempat di dekat pintu masuk, lalu memanggil salah satu pelayan di dekatnya. “Aku ingin ini, ini, dan ini, lalu minumnya kopi susu dingin,” ujarnya sambil menunjuk buku menu di tangan si pelayan.


Pelayan itu tampak bimbang menuruti Gena karena merasa anak kecil di depannya tidak memiliki cukup uang untuk membayar pesanan sebanyak ini. Dia memperhatikan Gena dari atas ke bawah dan penilaiannya terhadap anak itu tetap sama.


Gena mengerti apa yang dipikirkan pelayan tersebut, jadi dia mengeluarkan uang dari dompet lalu menggoyangkannya di depan wajah pelayan wanita itu. “Kakak Cantik, sepertinya kau salah paham. Lihat ini, aku punya uang. Cepat kirimkan pesananku atau Kakak akan menyesal.”


Pelayan itu langsung membungkuk-bungkuk sebab telah berlaku tidak sopan, dia berkata akan melakukan apa pun sebagai permintaan maaf selagi Gena berjanji tidak melapor ataupun membawa masalah ini ke pihak berwajib.


“Oh ... Kakak Cantik mencintai pekerjaannya ternyata. Penawaran Kakak juga bagus. Bagaimana kalau Kakak duduk di sini dan menemaniku makan?” ajak Gena dengan senyum lebar dan sorotan mata tidak biasa.


Pelayan itu menyanggupi karena menganggap Gena hanyalah bocah biasa, dia berpikir hal yang paling mungkin adalah Gena ingin bermanja-manja dengannya serta meminta disuapi layaknya anak kecil kebanyakan. Dia meminta izin untuk memberi tahu bagian dapur tentang pesanan Gena sebelum kembali menemani anak itu.


Saat menunggu pelayan itu kembali, Gena meneliti dompet di tangannya lebih jauh. Dia menemukan kartu identitas, beberapa kartu ATM, kartu pelayanan VIP di salah satu rumah sakit terkenal, dan terakhir sebuah foto perempuan seluruh tubuh dengan gaya lumayan wow.


Sungguh jackpot besar, batin Gena berubah semangat, dia menganggap kejadian sebelumnya dengan penjaga toko bukan lagi hal penting sebab ada yang lebih menarik perhatiannya.

__ADS_1


Gena membaca kartu identitas perempuan tersebut, lalu mengingat-ingat alamat rumah yang tertera jelas. Dia jadi memiliki rencana untuk mendatangi perempuan itu dengan alasan menemukan dompetnya walaupun uang di dalamnya sudah berpindah ke saku Gena.


Tidak lama kemudian, pesanan Gena mulai datang satu per satu, pelayan tadi yang mengantarkan langsung ke mejanya. Gena menyuruh pelayan wanita itu untuk duduk tepat di sebelahnya, lalu mereka diam saling lirik. Yang satu bingung dan menduga-duga, yang lainnya penasaran serta menimbang yang akan dilakukannya.


Gena menyeruput kopinya perlahan dan membuka suara, “Kakak Cantik, apa kau tahu masalah Bayang-Bayang?”


Si pelayan tampak terkejut, sepertinya tadi sempat melamun. Dia melirik Gena yang tidak mengalihkan mata darinya, dia menjadi gugup entah kenapa dan menelan ludah. “Ma-maksud Adik apa, ya?”


Gena mengangkat alisnya. “Adik?” Dia terkekeh geli sebelum melanjutkan perkataannya, “Kakak Cantik, maksud ucapanku persis seperti yang kukatakan, aku ingin tahu segala hal tentang Bayang-Bayang. Jika ada yang Kakak tahu, bagikan denganku."


Bayang-Bayang yang dibicarakan adalah organisasi bawah tanah, tetapi bukan berada di bawah tanah, yang menguasai kota-kota dengan kekuatan dalam bayang-bayang bangunan besar di seluruh negeri. Anggota mereka begitu banyaknya sampai pemerintah sekali pun tidak berani bertindak gegabah. Organisasi ini sudah ada sejak seratus tahun lalu, sampai sekarang tidak ada yang tahu siapa saja orang-orang besar yang mengendalikannya.


Gena juga baru mengetahui tentang organisasi ini setahun yang lalu. Dengan tidak sengaja dia mendengar orang-orang di sekitarnya berbisik-bisik tentang salah satu anggota organisasi itu yang melakukan kekacauan di kota, tetapi tidak mendapat hukuman. Gena ingin tahu bagaimana cara kerja organisasi tersebut secara rinci.


Gena terdiam, memilih memakan makanan di depannya dengan lahap. Si pelayan juga diam dan lega karena tidak melanjutkan pembicaraan yang berbahaya itu. Gena menuang air putih yang memang disiapkan di setiap meja ke dalam gelas kaca, meminumnya sekali teguk.


“Kakak Cantik, buka mulutmu,” pinta Gena sambil menjulurkan sesendok makanan ke depan mulut si pelayan.


“Eh?”

__ADS_1


Pelayan itu hendak menolak, tetapi mengurungkan niat ketika Gena menatapnya penuh peringatan. Dengan malu dan takut ditegur bosnya, dia memakan suapan tersebut. Dia tidak menyangka anak sekecil Gena mampu mengintimidasinya.


Gena tersenyum dan tubuhnya menjadi santai, dia kemudian mengalihkan pembicaraan seputar hal-hal yang dapat dijawab si pelayan dengan mudah. Satu waktu dia bertanya tentang kehidupan si pelayan, waktu lainnya bertanya tentang restoran ini dan makanan-makanan yang ada di buku menu.


Gena menyelesaikan makan malamnya dalam setengah jam karena diselingi dengan obrolan dengan si pelayan. Beberapa keluarga yang sebelumnya ada di sana juga mulai berkurang. Melihat itu, para pekerja restoran bisa mengambil napas sejenak untuk beristirahat dan mengusap peluh.


“Kakak Cantik, aku perlu informasi tentang mereka hari ini. Kakak bisa membawaku ke tempatmu karena aku tidak punya rumah. Aku akan membayar Kakak, bagaimana?”


Si pelayan sedikit heran melihat Gena seperti terburu-buru dan memaksanya, padahal dia tidak yakin memiliki informasi yang berguna untuk anak itu. Namun, setelah mereka menghabiskan waktu beberapa puluh menit, dia menganggap kalau Gena merupakan anak baik yang cerdas. Dia tidak masalah membawa Gena ke kos-annya, toh anak itu masih kecil.


Si pelayan meminta Gena untuk menunggu selagi dia menyelesaikan pekerjaannya karena sesinya untuk hari ini akan berakhir tepat pukul delapan. Gena menurut dengan tenang dan memesan satu minuman lagi.


Usai mereka keluar dari pintu restoran, mereka disambut angin dingin malam hari dan terjangan dari kendaraan bermesin yang lewat menambah kebekuan. Si pelayan mengeratkan jaket selututnya dengan gigi gemeletuk, beberapa kali dia meniup kedua tangannya, menggosoknya satu sama lain, lalu menekannya ke pipi untuk mendapat sedikit rasa hangat.


Gena mengetahui hal tersebut, dia berhenti melangkah dan menghadap si pelayan. “Berikan kedua tanganmu," ucapnya tiba-tiba.


Si pelayan ikut berhenti dan bingung, tetapi tidak menolak. Gena menggenggam kedua tangannya lalu menyatukan dan menggesek mereka sedikit cepat. Tidak lama setelahnya, Gena mengecupi kedua telapak tangannya sambil menatap matanya.


Si pelayan merasa wajahnya memerah, tetapi bukan karena kepanasan. Dia merasa malu meskipun Gena hanyalah seorang bocah ingusan.

__ADS_1


“Percepat langkahmu, kau bisa sakit di luar ruangan lama-lama.”


Pelayan itu berterima kasih lalu mensejajarkan langkah di samping Gena, mengikuti sarannya untuk berjalan lebih cepat. Dia menjadi tertarik dengan anak unik di sebelahnya, dia bertanya karena ingin tahu, tetapi anak itu tidak banyak membuka jati dirinya. Jadi, dia menutup mulutnya dan berbicara hanya untuk menunjukkan jalan.


__ADS_2