
Beberapa waktu melangkah, Gena sampai di tempat tujuan. Senyumnya melebar saat matanya melihat sekitar, jalanan di depannya terbilang sepi pada waktu ini, penjaga toko yang biasanya ada di meja kasir juga sepertinya sedang beristirahat di dalam rumah.
Bangunan di hadapan Gena adalah sebuah rumah berukuran sedang dengan toko kecil di bagian ruang tamunya. Toko tersebut menjual alat-alat kelistrikan yang sebagian besar berupa kabel dan mur.
Penjaga toko yang dimaksud merupakan pria setengah baya yang sudah beristri dan memiliki dua anak seumuran dengan Gena. Pria itu berbadan gemuk, emosinya tak menentu, dan jika sudah marah, dia akan melemparkan apa pun yang dapat digapainya.
Sebelumnya, pria itulah yang melemparkan tanah berlumut ke kepala Gena karena Gena mengambil dua obeng berbentuk kembang dan pipih di dalam etalase tanpa membayar. Gena bahkan sempat mengancam akan mengobeng salah satu anak gadis pria tersebut yang kebetulan sedang bersekolah pagi itu.
Gena melirik sekitarnya sekali lagi sebelum menunaikan rencana yang telah lama mengisi pikirannya. Dia menaruh keranjang di bawah pohon tak jauh dari rumah itu, lalu mengambil kembang api bersumbu dan memiliki pegangan kayu tipis dan panjang.
Gena menancapkan beberapa kembang api tersebut dengan dalam ke tanah sambil mengelilingi halaman rumah. Setelah beres, dia mengambil korek api dari kantong kaos oblong yang tertutupi jaketnya. Dikarenakan sumbu petasan tidak terlalu panjang, maka Gena harus cepat membakar mereka dalam satu waktu agar tercipta keseragaman bunyi yang hakiki.
Segera Gena menjauh mendekati keranjangnya dan melihat bagaimana kembang api seharga dua ratus ribu itu bekerja.
Nyatanya, suara letusan serta cahaya warna-warni yang terpampang lebih menakjubkan dari yang dia kira.
Cahaya itu tidak berpendar di udara seperti yang biasanya terjadi, kayu yang menopang bubuk mesiu tersebut terlalu dalam memasuki tanah, jadi tempat penyimpanannya ikut terdiam dan meletus di sekeliling rumah itu.
“Keren ...,” puji Gena dengan ekspresi antusias hampir menyeramkan.
Suara letusan kembang api begitu memekakan telinga sehingga orang-orang yang kebetulan berada di dekat rumah toko itu terlompat kaget dan tidak sedikit juga yang mengumpat serta berniat mencari tersangka untuk dihakimi. Namun, keinginan mereka musnah dan berubah cemas ketika menemukan seorang bocah yang beberapa tahun ini terkenal akan kegilaannya sedang berdiri bangga dengan senyuman puas di bibir.
“Anj**! Siapa brengs** yang berani mengganggu tidurku?!”
Tiba-tiba pemilik rumah yang merangkap penjaga toko keluar dari pintu toko. Dia berteriak lantang dengan wajah merah padam, matanya membeliak melacak sekitar layaknya binatang yang sebelumnya dia sebut.
__ADS_1
Melihat orang yang dicarinya keluar dari gua, Gena gemetar karena senang. Dia meraba keranjang yang sudah diangkatnya untuk mencari petasan lainnya yang lebih kecil. Setelah tertemukan, dia berlari mendekat lalu melempar petasan itu ke tubuh penjaga toko.
Gena tertawa keras saat petasannya meletus di wajah serta bagian tubuh lain hingga mengagetkan penjaga toko. “Bom! Awas bom!” teriaknya di sela tawa riangnya.
Si penjaga toko melotot, darahnya semakin mendidih setelah tahu bahwa Gena mengganggu hidupnya lagi. Tangannya mengibas benda-benda seukuran kerikil yang menghujaninya tanpa ampun walaupun hal tersebut tidak banyak membantu karena petasan itu malah meletus tepat setelah menyentuh tangannya.
“Bocah Setan!” jerit penjaga toko membahana.
Orang-orang yang menonton dari jauh merasa marah dan juga kasihan, tetapi mereka terlalu takut jika Gena mengejar mereka seperti yang terjadi pada penjaga toko karena ikut campur. Jadi, tidak ada yang menghentikan aksi penuh kegembiraan dari Gena kepada korbannya.
“Paman, tahu tidak kalau peluru ini dinamakan mercon banting?” ucap Gena membagi ilmu.
Si penjaga toko mundur selangkah demi selangkah tanpa sadar, masih terus menghalangi laju kencang petasan-petasan yang ingin meledakkan diri di wajahnya. Dia hendak mencakar Gena, tetapi anak itu terus berlari-lari dari kiri ke kanan dan kembali lagi dengan kelincahan yang hanya-Tuhan-yang-tahu.
Pria itu terguling-guling beberapa saat hingga mendapat keseimbangan dengan wajah menelungkup di atas tanah. Kali ini, Gena benar-benar terbahak tak bisa berhenti, perutnya sampai sakit karena gelinya melihat pemandangan sirkus ala komedi tersebut.
Yang paling parah, ternyata penjaga toko itu terhenti tepat di atas sebuah kotoran kucing yang kelihatannya masih baru dibuat.
Gena terbungkuk sambil memegangi perut, sepertinya otot-otot perutnya kejang karena kelelahan tertawa. Dia terengah-engah mencoba memenangkan diri, saat mengangkat kepala, dia kembali tertawa.
“Paman, bagaimana rasanya memakan olahan makanan itu? Kau bisa menambah garam jika hambar.”
Si penjaga toko bangun dengan tubuh bergetar, tampak kacau serta terguncang. Dia melawan rasa jijiknya dan membersihkan kotoran yang menempel di wajah menggunakan baju bagian depannya. Gerakan tersebut membuat perut berlemaknya terlihat dan berhasil membuat Gena meneteskan air mata takjub serta geli yang berlebihan.
“Kuberikan empat jempol untukmu, Paman!” seru Gena sambil menunjukkan semua jempol yang dia punya. Dia jatuh terduduk sebab tak kuat berdiri lagi.
__ADS_1
Penjaga toko seperti ingin muntah mencium aroma di tubuhnya. Dia bangkit berdiri dan memutuskan membuka baju atasnya kemudian melemparnya ke tempat Gena berada.
Gena segera bangkit dan melompat menjauh. Tawanya langsung berhenti, mata cokelat terangnya menatap pria itu tajam. Si penjaga toko juga menatapnya, tetapi matanya berkaca-kaca menahan tangis. Mereka beradu pandang beberapa lama.
“Yah, sepertinya cukup untuk hari ini. Terima kasih sudah memberikan atraksi yang bagus untukku. Paman harus mandi sekarang sebelum gelap. Kalau Paman masuk angin, perutmu tak akan sanggup dan meledak,” ledek Gena sembari berbalik pergi tanpa menoleh.
Si penjaga toko sudah tertekan dan juga malu karena tubuhnya yang tidak ideal diketahui massa, dia membiarkan kalimat Gena mengambang di udara tanpa dijawab dan segera masuk ke rumahnya untuk membasuh tubuh dengan air es.
Masyarakat yang bersembunyi di mana-mana bernapas lega karena tidak ada dari kedua tokoh tersebut yang terluka, hanya harga diri penjaga toko patut mereka tolong. Mereka berniat meminta maaf kepada penjaga toko besok pagi sebab tidak menolong pria itu saat membutuhkan, mereka hendak menyiapkan berkat kotakan dan juga bebungaan terlebih dahulu.
Di sisi lain, Gena mendengus kesal beberapa kali sambil menendang batu-batu yang muncul di depan kakinya. “Orang tua itu cengeng sekali, menyebalkan!"
Padahal Gena masih ingin mempermainkan pria gemuk itu, tetapi dia terpaksa berhenti karena suasana hatinya memburuk. Walaupun dia disebut sebagai anak gila dan tak tahu diri ataupun tak punya moral, nyatanya dia tidak tahan melihat orang lain menangis. Dia lebih suka semua orang kesal, marah, dan takut kepadanya. Bukan mengeluarkan air mata!
Beda lagi kalau air mata buaya, Gena takkan segan memotong organ tubuh mereka.
“Apa aku bakar saja rumahnya?” gumam Gena sambil mengapit dagu. Namun kemudian, dia terbayang akan anak gadis pria itu yang sebelumnya Gena bilang ingin dia obeng.
Gena kenal gadis itu, namanya Cipa, nama yang aneh menuju unik. Karakter gadis itu sama seperti namanya; mungil, manis, lucu, dan penuh semangat. Cipa merupakan salah satu orang yang berperilaku baik kepadanya. Mungkin itu juga karena gadis tersebut masih kecil dan belum mengetahui dunia.
Gena membayangkan jika dia sungguh membakar tempat tinggal Cipa, gadis itu pasti akan menjadi pembenci nomor satu untuknya. Dia akan menangis paling keras, kemungkinan besar juga berambisi untuk balas dendam, batin Gena muram.
“Ya sudahlah, aku cari makan saja,” kata Gena lalu berbelok di salah satu gang, mencari rumah makan karena perutnya lapar.
Untungnya dompet yang dia curi berisi uang lumayan banyak, mungkin hampir dua juta.
__ADS_1