Tumbal Psikopat

Tumbal Psikopat
Perkenalan


__ADS_3

Di sebuah desa terpencil di ujung timur suatu pulau, ada seorang pemuda yang hidup sebatang kara di sebuah rumah besar dan mewah. Jovi namanya. orang tuanya sudah meninggal 3 tahun lalu karena sebuah insiden kecelakaan yang menewaskan keduanya seketika di tempat kejadian.


Kasih sayang orang tuanya juga tidak pernah dia dapatkan sejak berumur 7 tahun karena ditinggal bekerja diluar negeri hingga dia tumbuh menjadi orang dewasa. Dia hanya hidup seorang diri, tanpa kakak, tanpa adik.


Pekerjaannya hanyalah sebagai pekerja serabutan. tidak ada pekerjaan pasti yang dia miliki. hingga dia selalu dipermalukan oleh setiap wanita yang ingin dia jadikan seorang istri.


Hal itu membuat Jovi kian lama menjadi orang yang pendiam, meskipun di sisi lain dia juga berusaha bisa berinteraksi dengan orang disekitarnya.


"duuaar"


suara barang jatuh di dapur itu mengagetkan Jovi. "ah, apaan sih berisik banget". jovi terbangun dari tidurnya. jovi menatap ke arah meja disamping tidurnya yang penuh dengan pisau tajam.


"aaaagghhh, stres gua kalo gini terus, sudah seminggu gua gak dapat korban, hari ini gua harus dapat korban lagi, harus, harus dapat."


Jovi bergegas bangkit dari tempat tidurnya sembari mengambil handuk yang terkait di belakang pintu kamarnya.

__ADS_1


darah berceceran di lantai kamar dan dapur rumah jovi, darah yang berbau anyir itu tidak pernah dibersihkan olehnya sejak dia menghabisi nyawa seorang wanita yang gak pernah dia kenal di rumahnya seminggu yang lalu.


setelah mandi, jovi pun bergegas memakai baju serta jaket hitam sembari menyimpan pisau dibalik pinggangnya.


jovi pun keluar dari rumah dengan berjalan kaki.


tetangga jovi yang sedang berada di halaman rumahnya saling menyapa saat jovi melintas didepan mereka. tidak hanya diam, jovi pun membalas sapaan tetangganya sembari tersenyum manis.


jovi adalah orang yang ramah di depan orang lain, dia juga suka membantu tetangganya yang sedang ada acara.


tapi, tidak ada satu pun tawaran itu diterima oleh jovi. tidak ada kecurigaan sama sekali dari masyarakat dengan tingkah jovi, mereka memaklumi bahwa dia juga seorang yang pemalu, atau lebih tepatnya, tidak mau merepotkan orang lain.


di tengah perjalanan menuju tempat yang tidak jelas tujuannya, jovi merasa bahwa hari ini dia harus mendapatkan wanita yang jadi temannya nanti malam.


jovi berjalan sejauh hampir 10 km, mencari situasi yang tepat untuk bisa mendapatkan korban. setelah hampir 12 km berjalan, akhirnya jovi berhenti di sebuah kursi di tengah taman kota. merasa kelelahan, akhirnya dia istirahat. di tengah dia sedang duduk, datang seorang wanita sekitar berumur 35 tahun satang menghampiri jovi.

__ADS_1


"permisi mas, boleh saya minta tolong?"


"iya bu, mau minta tolong apa?"


"apa mas tau alamat ini ?"


"oww,, iya bu, tau, kenapa?"


"bisa gak mas, antarkan saya ke alamat ini, soalnya saya tanya ke orang-orang gak ada yang tau ?, kalau mas gak keberatan sih."


"owwh, bisa bu, mari saya antarkan"


"iya mas, makasih banyak ya!"


akhirnya jovi mengantarkan ibu itu menuju alamat yang dituju. setelah beberapa saat menunggu angkutan umum, akhirnya mereka mendapatkannya.

__ADS_1


ditengah perjalanan, jovi sesekali menatap wanita yang dia antar, ada sesuatu yang dipikirkan oleh jovi.


__ADS_2