
Setelah Jovi mengikat Diah di atas meja, lalu dia meninggalkan Diah begitu saja tanpa ada sesuatu apapun yang dilakukan Jovi terhadap Diah. Sampai suatu ketika, Diah tersadar dari pingsannya.
Namun, apalah daya, Diah hanya bisa menjerit tanpa ada suara, menangis sejadi-jadinya. mengeluarkan semua tenaganya untuk bisa lepas dari keratan tali yang sudah melilit tubuhnya.
Segala usaha dilalukan oleh Diah, tapi tak ada satu pun usaha yang bisa melepaskan dirinya.
Tidak tinggal diam, Diah terus menerus menjerit, berharap ada orang datang yang bisa menolong dirinya.
Kreeek...
Suara pintu terbuka dari sudut ruangan. Langkah demi langkah suara kaki kian mendekat. Diah langsung mengeraskan suaranya.
hemmmm,,,,heemmmmm
suara rintihan tangis yang tak jelas apa yang diucapkan oleh Diah.
tiba-tiba sesosok laki-laki pun datang yang tak lain adalah Jovi, menghampiri Diah dengan memakai topeng yang menjijikkan.
Ditangannya terdapat sebuah pisau tajam yang siap memotong apapun yang ada didepannya.
Diah hanya bisa menangis, karena ternyata sosok yang pernah dia lihat itulah yang muncul ke hadapannya.
"kenapa cantik, kamu takut ya ?" tanya Jovi sambil mendekatkan mulutnya ke telinga Diah.
Diah semakin takut, wajahnya memerah, tubuhnya semakin bergetar, keringatnya keluar dari seluruh tubuhnya. Dia hanya bisa berdoa, berharap ada suatu keajaiban datang menghampiri dirinya.
"oh oh oh,,, jangan takut sayang, aku ada disini.." lanjut Jovi sambil membelai wajah Diah.
sreeet...
Jovi membuka lakban yang ada di mulut Diah.
"tolong lepaskan aku".. pinta Diah sambil menangis dengan tenaga yang sudah lemas tak berdaya.
"jangan khawatir sayang, aku disini akan menolongmu, hahaha". jawab jovi sambil tertawa.
__ADS_1
"manusia biadab, cuih, lepaskan aku, atau aku akan membunuhmu". Diah meludahi Jovi tepat di mukanya
"uuuhh,,,harum sekali". Jovi mencium dan menjilat ludah yang ada di wajahnya.
"ayo, bunuh aku kalau bisa, kamu sudah gak ada harapan sayang disini, gak akan ada orang yang bisa mendengar jeritanmu. hanya aku, hanya aku sayang yang bisa mendengarmu... hahaha". jawab Jovi tertawa terbahak-bahak.
Diah semakin ketakutan, karena dia benar-benar tak berdaya di atas meja tersebut. sedangkan Jovi, dia bisa melakukan apapun pada Diah. Bisa jadi Diah akan mati di tangan Jovi.
Setelah suara tertawa Jovi berhenti, dia tiba-tiba memainkan pisau di tangannya, memutar-mutar pisau.nya, seakan ada sesuatu yang akan dia lakukan pada Diah.
Diah yang melihat Jovi semakin mendekat pada dirinya, menjerit sekencang-kencangnya.
aaaaaaaa.....jangan, jangan, jangan bunuh aku, jangaaaan... jerit Diah ketakutan
Diaaaaam..... jerit Jovi
***buggh,,,
heegghh,,,,huuuoogh***...
uhuk uhuk,,,uhuk
Diah kesakitan menahan pukulan keras dari Jovi.
Tak hanya sampai disitu. Jovi yang masih mendengar rintihan Diah, semakin merasa jengkel.
"diam, kamu tau, kamu akan aku jadikan tumbal disini, ngerti kamu!". bentak Jovi sambil matanya melotot menatap mata Diah.
"jangan, jangan sakiti aku, aku mau pulang," pinta Diah sambil merintih kesakitan
seakan tuli, Jovi tak menghiraukan apa yang diminta Diah. dia justru mengarahkan pisaunya ke arah Diah.
Jovi menempelkan pisaunya di wajah Diah, dia menyayat pipi putihnya hingga keluar sedikit darah. teriak kesakitan dari Diah pun pecah.
tak hanya sampai disitu, pisau itu ternyata digerakkan menuju leher Diah, seakan mau menusuknya, lagi-lagi jovi hanya memainkan pisaunya.
__ADS_1
pisau itu terus digerakkan mengikuti lekuk tubuh Diah. sampai ujung pisau itu berhenti tepat di atas ulu hatinya. seakan hendak menekan pisaunya agar menusuk ke dalam perutnya, tapi ternyata tidak.
Jovi tetap memainkan pisaunya diatas perut Diah. Diah yang hanya bisa melihat pisau itu berjalan diatas tubuhnya, hanya bisa pasrah, entah hidupnya akan selesai atau tidak.
setelah bermain-main dengan pisau ditangannya, akhirnya jovi mengangkat pisau itu dari tubuh Diah. namun kembali di tempelkan lagi tepat diatas ulu hatinya.
sambil menatap keatas, bibir Jovi terlihat bergerak membaca sebuah mantra.
namun tiba-tiba, pisau tersebut langsung ditancapkan ke ulu hati Diah.
*jleb...
aaaaaggghhh*
Diah semakin menjerit kesakitan tatkala sebagian dari pisau itu menancap ke perutnya. darah pun mengalir deras dari dalam perutnya. baju putih yang dia pakai pun juga penuh dengan darah.
"ku persembahkan wanita ini, wahai jin". teriak Jovi yang masih menatap ke atas.
Diah hanya bisa menahan sakit yang dia alami. perutnya juga masih mengeluarkan darah.
tiba-tiba dengan mata melotot, Jovi langsung menekan pisau itu hingga pisau itu benar-benar masuk ke dalam perut Diah.
huuuoogggh...
Diah langsung memuntahkan darah dari dalam mulutnya. Dia benar-benar diambang pintu kematian, matanya berkunang-kunang. tubuhnya sudah tak berdaya. sedangkan darah masih terus keluar dari dalam perutnya.
nafasnya semakin tersengal-sengal, seakan berat untuk bernafas. merasa belum puas dengan yang dia lakukan, Jovi mencabut pisaunya dan menusukkannya ke perut Diah bagian bawah. tak berhenti di situ, Jovi juga menarik pisaunya ke arah ulu hati, hingga akhirnya perut Diah benar-benar robet. ususnya terburai, dan saat itulah Diah benar-benar tewas di tangan Jovi.
Setelah selesai apa yang dia lakukan pada Diah, Jovi hanya menatap Diah dengan tatapan yang kosong.
*******
Apa yang akan dilakukan Jovi setelah itu ?
Tunggu episode selanjutnya...
__ADS_1