Tumbal Psikopat

Tumbal Psikopat
Di Rumah Jovi


__ADS_3

Rumah Jovi yang biasanya sepi karena hanya Jovi seorang diri yang menempatinya, kini agak terdengar ramai saat Diah singgah di rumahnya. mereka berbincang-bincang panjang lebar membahas tentang kehidupan mereka masing-masing.


Diah juga sudah menganggap Jovi sebagai teman baiknya. karena selama di rumah Jovi, Diah selalu dilayani dengan baik layaknya seorang tamu istimewa yang sangat dimulyakan.


Hampir 5 jam Diah berada di rumah Jovi. akhirnya Diah memutuskan untuk berpamitan kepada Jovi, karena waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 (4 sore).


"Jovi, kayaknya aku sudah harus pulang deh, soalnya sudah sore"


"kok buru-buru banget sih, pulang besok saja Di, nginep dulu aja disini, toh aku juga sendirian aja di rumah, banyak kamar kok yang kosong!" jawab Jovi berharap agar Diah tidak pulang


"gak enak sama tetangga jov, takut dikatain apa-apa lagi sama mereka!" jawab Diah


"beneran nih kamu mau pulang sekarang?" sahut Jovi meyakinkan, apakah Diah benar-benar mau pulang.


"iya jov,"


"iya sudah kalau gitu, tapi tunggu dulu, aku ada sesuatu buat kamu, sebentar ya." pinta Jovi sambil beranjak dari tempat duduknya


Diah ditinggal sendirian di sofa ruang tamu, menunggu Jovi yang sepertinya ada sesuatu yang mau diberikan pada dirinya.


tapi setelah hampir 15 menit menunggu, Jovi belum juga keluar, entah apa yang sedang Jovi lakukan. Diah penasaran kenapa Jovi masih belum juga kelihatan.

__ADS_1


Perasaan cemas, takut, khawatir bercampur aduk menjadi satu di dalam hati Diah. Namun dia memberanikan diri untuk beranjak dari tempat duduknya sembari memanggil Jovi di sekeliling ruang tamu.


"Jov, Jovi, kamu dimana ?" panggil Diah mencari keberadaan Jovi.


"Jov, Joviii?" panggilan Diah semakin mengeraskan suaranya.


Diah semakin takut karena Jovi tidak kunjung terlihat meskipun Diah sudah memanggilnya berulang kali.


Keringat dingin pun keluar dari tubuh Diah, dia semakin ketakutan saat mendengar suara besi yang saling bergesekan.


"sring,,,sring,,,sring"


"hah, suara apa itu," gumam Diah semakin cemas


Saat Diah membalikkan badannya untuk berlari, tiba-tiba dia melihat sosok menjijikkan tepat di depan mukanya.


"aaaaaaa...."


Diah berteriak sekencang mungkin karena kaget melihat sosok tersebut.


"bruk..."

__ADS_1


Diah pun langsung pingsan tergeletak dilantai. tubuhnya terkapar lemas tak berdaya.


Sosok itu tetap berdiri sambil menatap tubuh Diah yang tergeletak di lantai. perlahan dia memegang mukanya sendiri, lalu menarik mukanya.


Setelah muka tersebut lepas, ternyata sosok Jovi yang terlihat di balik topeng mengerikan tersebut.


Yaps, ternyata Jovi hendak merencanakan sesuatu pada Diah.


Diah yang sudah tidak berdaya, akhirnya di angkat oleh Jovi, lalu dibawa ke sebuah ruang bawah tanah yang gelap tanpa ada cahaya sedikit pun dari berbagai sudut.


"byar..."


Satu cahaya dari senter yang ada di tangan Jovi menyala menyinari ruangan tersebut sambil membawa tubuh Diah yang masih lemas.


Satu persatu langkah Jovi menuruni anak tangga. Dia membawa Diah ke sebuah meja panjang yang sepertinya sudah dipersiapkan Jovi jauh-jauh hari.


Lalu Jovi meletakkan tubuh Diah diatas meja tersebut secara terlentang. Sinar kecil dari sebuah lentera di letakkan tepat diatas kepala Diah.


Jovi pun mengikat tubuh Diah dengan tali. Agar saat Diah bangun, dia tidak bisa melakukan apapun, mulut Diah pun juga ditutup dengan lakban hitam.


Yaps, Diah seakan menjadi seekor ayam yang akan dipanggah oleh pemiliknya.

__ADS_1


Tapi, entah apa yang akan dilakukan Jovi terhadap Diah hingga dia tega melakukan halnitu kepada Diah.


__ADS_2