
selama perjalanan, jovi sedikit2 mengalihkan pandangannya ke wanita itu. yaps, dia adalah wanita yang memilik paras yang cantik, kulitnya putih, tubuhnya tidak terlalu kurus maupun gemuk, tak ayal jika jovi sering2 memperhatikan dia.
wanita itu juga agaknya gugup melihat jovi yang kadang-kadang memperhatikan dirinya. pandangan wanita itu juga sedikit-sedikit dialihkan dari tatapan jovi, meskipun dalam hatinya dia agak takut mengapa jovi sedikit-sedikit memperhatikan dirinya.
akhirnya Diah (sapaan wanita itu) memberanikan diri untuk bertanya pada jovi.
"oh ya mas, ngomong-ngomong rumah mas dimana ?". agak gugup
"rumah saya di dekat alun-alun bu", jawabnya sambil tersenyum kecil.
"emm,,,saya kira jauh"
"enggak bu".
"jangan panggil bu lah, panggil diah aja". pintanya yang mulai agak hilang rasa takutnya.
"oh, iya, maaf. diah". sambil tertawa kecil.
"kamu aslinya mana, diah?". tanya jovi
"aku aslinya surabaya,"
"kok sendirian aja jauh-jauh ke bondowoso?"
"iya mas, soalnya gak ada yang bisa saya ajak ke sini!"
"emang suaminya kemana?"
"suami saya sudah meninggal beberapa tahun lalu!"
"terus, sekarang tinggal sama siapa di surabaya?"
"tinggal di rumah sendiri mas!"
"oh,,, btw, kesini mau ke rumah siapa?"
"ini mau jenguk teman, udah lama gak pernah kesini, dulu pernah kesini, tapi katanya rumahnya sudah pindah!"
"owww, gitu."
"iya mas."
"main-main ke rumahku di"
"iya mas, makasih banyak, nanti merepotkan malah". agak malu
__ADS_1
"ah, enggak, biasa aja, siapa tau kita nanti jadi teman juga".
"iya mas, kalau ada waktu kapan2 saya ke rumah kami". jawabnya
perjalanan jovi mengantarkan seorang wanita itu sudah hampir 2 jam, namun belum juga menemukan alamat yang dituju.
"mas, apa masih jauh ?"
"tidak di, sedikit lagi sudah sampai kok!"
"oh, syukur dah kalo gitu"
setelah beberapa menit, akhirnya mereka tiba disebuah desa yang sepi akan penduduk. desa itu hanya dihuni oleh beberapa penduduk saja. rumahnya juga terbilang memiliki jarak yang jauh antara satu rumah dengan rumah yang lain.
mobil yang mengantarkan mereka juga sempat berhenti, menunggu penumpang yang hendak naik ke tujuan alun-alun.
diah heran, apakah benar desa ini adalah alamat yang dia cari, apakah benar temannya tinggal di desa yang sepi penduduk seperti ini ?. banyak pertanyaan yang muncul dibenak diah setelah dia dan jovi turun dari mobil.
"mas, benarkah alamatnya disini ?"
"iya, ini alamat yang kamu cari, soalnya aku sering dulu main kesini."
"oh, iya-iya". keraguan diah sedikit berkurang mendengar yang dikatakan jovi.
"ayo ikut aku". ajak jovi sambil berjalan di depan diah yang sambil membawa tas ransel
"maaf pak, mau tanya, disini ada gak orang yang namanya leni ?". tanya jovi
"wah kurang tau ya mas, coba mas tanya ke orang2 itu!". sambil menunjuk ke sebuah warung di pinggir jalan.
"oh, iya pak, makasih".
jovi dan diah pun berjalan menuju warung yang ditunjukkan oleh laki-laki tadi.
"maaf bu, mau tanya, disini ada gak orang yang namanya leni ?"
"leni ?, alamatnya mana mas ?". tanya seorang warga
"jl. mangga dua no. 43"
"nama desanya apa mas ?" tanya seorang ibu
"desa cangkriman bu"
"kalau desa cangkriman, memang benar disini, tapi kalo nama jalan itu, gak ada mas".
__ADS_1
"loh, iya kah ?" jovi heran seraya mengerutkan keningnya.
"iya mas, disini desanya kecil, saya paham semuanya, tapi kalau nama jalan itu, gk ada disini" jawab seorang ibu.
"iya sudah bu kalau begitu, makasih bu"
"iya mas".
mereka melanjutkan perjalanan dan hendak mencari tau alamat yang dituju. namun disetiap warga yang ditemui, tidak ada satupun warga yang tau alamat yang di tuju, pun nama leni juga tidak ada yang kenal.
akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat setelah 30 menit berjalan.
"kok gak ada yang tau ya alamatnya ?" gumam diah keheranan.
"kamu sudah coba telpon temenmu itu ?" tanya jovi
"gak ada sinyal disini". jawab diah
"ya udah, kita istirahat dulu sebentar, nanti kita cari lagi, ini sudah jam 12 siang, nanti jam 2 kita lanjut lagi". kata jovi
"iya dah mas, aku juga capek". jawab diah
Diah pun ketiduran di dalam sebuah musholla kecil yang terlihat kusam kurang terawat.
Jovi yang berada di depan musholla, juga ikut ketiduran.
setelah mereka bangun dari tidurnya, akhirnya mereka melanjutkan perjalanan untuk mencari alamat yang dituju.
tapi, hasilnya nihil, berkali-berkali mereka bertanya kepada warga yang ditemui, tidak ada satupun warga yang kenal siapa itu Leni.
dalam hatinya, Diah merasa heran, kenapa semua orang di desa tersebut tidak ada yang tau. apa mungkin alamat yang diberikan Leni adalah alamat palsu ?, tapi tidak mungkin, karena Leni adalah teman Diah.
akhirnya Diah menyerah, dan bilang kalau pencarian ini ditunda saja.
"udah mas, aku capek, kayaknya memang bukan desa ini yang dimaksud Leni".
"apa mungkin seperti itu ?" tanya Jovi
"aku gak yakin bakal ketemu sama Leni disini"
"iya sudah, kalau gitu kita cari lagi alamat Leni besok pagi, soalnya kalau mau kita cari lagi sekarang, ini sudah hampir malam, perjalanan juga jauh, angkutan umum juga sudah gak ada yang lewat kalau jam segini!".
"terus gimana mas, kita mau menginap di rumah siapa ?" tanya Diah
"aku ada teman disekitar sini, mungkin rumahnya bisa di tempati sebentar untuk kamu menginap".
__ADS_1
"iya dah mas kalau gitu. semoga aja bisa".
akhirnya mereka berdua berjalan menuju rumah teman Jovi yang berada di ujung desa Cangkriman.