
Setelah menginap di rumah teman Jovi, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke kota. Karena pencarian yang mereka lakukan selanjutnya masih belum membuahkan hasil.
"kamu gak capek di jalan terus?" tanya jovi
"gak mas, aku sudah biasa jalan jauh seperti ini". kata Diah
"iya sudah, ayo kita jalan lagi".
mereka berjalan menuju terminal kecil untuk menunggu angkot yang hendak membawa para penumpang menuju kota.
setelah menunggu beberapa menit, akhirnya angkot pun datang, mereka bergegas masuk ke dalam karena antrian yang sudah memanjang memungkinkan mereka tidak mendapatkan tempat duduk.
Jovi dan Diah duduk berdampingan di samping pintu masuk angkot. desakan pun tak bisa dihindari.
setelah beberapa jam perjalanan menuju kota, akhirnya satu per satu penumpang turun, membuat situasi juga agak renggang.
perbincangan terjadi antara mereka.
"apa kamu masih mau mencari rumah temanmu itu ?" tanya Jovi
"gak tau aku, alamat yang aku bawa aja sudah tidak bisa menemukan posisinya" jawab Diah yang kelihatan sudah menyerah
"terus rencanamu mau kemana lagi setelah ini?" tanya Jovi
"kayaknya aku mau pulang aja ke rumahku, soalnya ini teman satu-satunya disini yang saya kenal." jawab Diah sambil menunjukkan muka yang letih
"gimana kalau kamu mampir dulu aja ke rumahku ?" sambil tersenyum penuh harap
"emm,, aku gak enak mas sama keluargamu nanti, merepotkan malah nantinya". jawab Diah agak malu
"udah, gak apa-apa, aku sendirian kok di rumah, aku udah gak punya siapa-siapa lagi". jawab Jovi sambil menghela nafas
"iya mas, makasih, kapan-kapan aja". tolak Diah agak kurang enak menolak permintaan Jovi
__ADS_1
"udah gak apa-apa, toh kita kan juga sudah jadi teman, dari pada kamu langsung pulang ke rumah, kan lebih baik mampir dulu ke rumahku. itung-itung aku mau merayakan pertemanan baru kita". bujuk Jovi agar Diah mau menerima permintaannya
"emm.. iya dah kalau begitu, tapi mungkin gak bisa lama-lama ya mampirnya." jawabnya agak takut kalau terjadi apa-apa dengan dirinya.
"bagus dah, makasih!" senyum Jovi yang terlihat senang karena tawarannya diterima oleh Diah
akhirnya mereka sampai di terminal kota. setelah melakukan perjalanan yang melelahkan, mereka menuju sebuah warung yang terletak di ujung terminal sembari menghilangkan rasa lelahnya.
"nih, minum dulu!" Jovi menyodorkan sebotol teh dingin yang baru diambilnya dari kulkas
"eh, iya, makasih!" segera menerima air botol pemberian Jovi.
"bentar ya, saya mau ke toilet dulu, titip tasku ya?", segera beranjak dari tempat duduknya sambil melepaskan tas ransel di punggungnya
"iya, taruh aja disitu, saya jamin aman!" jawab Jovi sambil mengacungkan jempol ke arah Diah
Diah segera berjalan menuju toilet yang ada di seberang jalan dari warung yang dia singgahi.
Ada sesuatu yang dipikirkan oleh Jovi pada Diah.
"bang, bang"
"eh, iya, maaf-maaf!" Jovi kaget saat melihat sebuah plastik bekas bungkus permen disodorkan didepan mukanya.
"makasih bang!", sahut pengamen itu yang langsung pergi meninggalkan Jovi
setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Diah keluar dari toilet dan berjalan menuju Jovi. lagi-lagi, jovi selalu memperhatikan langkahnya sampai Diah tiba di depannya.
"hey, kok ngelamun sih?" tanya Diah agak senyum
"eh, sudah selesai ?" jawab Jovi agak kaget
"sudah"
__ADS_1
"gimana, mau langsung ke rumahku kah ?" tanya Jovi
"boleh"
mereka berdua langsung melangkah menuju angkot yang sudah hampir berjalan.
di tengah perjalanan, obrolan mereka semakin asyik, hingga tak terasa mereka sudah tiba di depan sebuah rumah besar yang memiliki gerbang tinggi.
tidak banyak warga yang terlihat di daerah tersebut. karena warga banyak yang mulai mudik ke sanak keluarganya masing-masing.
yaps, mereka sudah tiba di rumah Jovi. Jovi langsung membuka pintu gerbangnya dan mempersilahkan Diah masuk lebih dahulu.
setelah Diah dan Jovi berada di balik gerbang, Jovi langsung mengunci gerbangnya.
"kenapa dikunci ?" tanya Diah agak heran
"biar gak ada maling yang masuk!" jawab Jovi sambil memasukkan kunci ke dalam saku celananya
"ayo masuk!" ajak Jovi
"iya" jawab diah yang terlihat kagum dengan sambil rumah Jovi yang begitu besar.
"kamu tinggal sendirian di rumah sebesar ini ?" tanya Diah
"iya". jawab Jovi santai
"kamu gak punya pembantu gitu buat ngurus rumah ini ?" tanya Diah yang masih keheranan
"gak punya, pembantuku sudah lama tidak kerja disini". jawab Jovi
"owwh". gumam Diah
akhirnya mereka masuk rumah dan Jovi mempersilahkan Diah untuk duduk di kursi ruang tamu.
__ADS_1