TUMBAL TERAKHIR (JELANGKUNG)

TUMBAL TERAKHIR (JELANGKUNG)
RUMAH TUA YANG MEGAH


__ADS_3

El baru saja selesai dengan pesta peresmian resort baru nya di Bali, resortnya sebenarnya sudah beroperasi sejak tiga bulan lalu tapi karna kesibukan El sebagai seorang pengusaha membuat dia baru bisa meresmikan resorts nya itu hari ini dengan tamu-tamu yang selalu mengisi hampir 80% dari jumlah kamar itu menunjukan kalau prospect resort ini akan bagus ke depannya, karna pengunjung yang datang bukan hanya dari domestic, turis luarpun hampir dari seluruh negara di dunia datang ke kota ini, jadi tidak akan ada kata sepi untuk usaha di bidang pariwisaa karna resort milik El menyediakan banyak fasilitas dari fasilitas kamar sampai fasilitas untuk pecinta olah raga laut seperti jetski, dan beberapa yang lainnya, El terbangun dari tidurnya saat matahari sudah sangat tinggi hampir menjelang zuhur karna memang acara peresmian nya sampai menjelang pagi, karna banyak relasi-relasinya yang datang apalagi menjelang weekend seperti ini, El segera membersihkan dirinya dan menghilangkan muka bantal nya, El memakai pakaian santai karna dia mau pergi ke daerah Gianyar untuk melihat rumah yang di tawarkan ke dia oleh rekan bisnisnya yang berada di Jakarta, tepatnya rekan bisnis Papinya yang bernama Om Marco, begitulah dia memanggil nya, pria campuran Indonesia England itu sudah lama menawarkan rumah besar milik keluarga nya, dan ada beberapa yang tertarik, tadinya El tidak begitu tertarik karna sudah memiliki banyak rumah di beberapa kota bahkan sampe ke America, tapi saat mendengar dari Papinya kalau rumah itu rumah tua berumur hampir seratus tahun dan bergaya eropa El langsung berminat dan setuju untuk membelinya walau dia belum melihat bentuk dari rumah tersebut, dengan alasan tidak enak badan Om Marco tidak bisa menemani nya melihat rumah tersebut bahkan untuk menghadiri undangan peresmian resort baru nya Om Marco pun tidak bisa hadir, El merasa sedikit aneh dengan sikap Om marco yang sepertinya selalu menghindari dengan berbagai alasan jika di undang ke acara yang di adakan di Bali, acara apapun pasti Om Marco mempunyai seribu alasan untuk tidak hadir, El jadi berpikir apa ada hubungan nya dengan rumah tua yang ingin di beli oleh nya?


El sudah rapi dan sudah berada di dalam mobil mewahnya dan bersiap untuk pergi melihat calon rumahnya, El sengaja tidak memakai supir karna dia ingin menikmati perjalanannya menuju rumah tua tersebut, El mulai melajukan mobil nya meninggalkan parkiran resort dan berbaur dengan mobil di jalan raya, jalanan di Bali memang tidak terlalu lebar seperti di Jakarta, jadi jalanan yang ada benar-benar cukup hanya untuk dua mobil tapi bagusnya pengendara di Bali lebih baik daripada pengendara di Jakarta yang selalu tidak ada yang mau mengalah yang justru membuat macet Makin parah, El terus melajukan mobil nya memasuki kawasan Gianyar dan terus menerobos jalanan karna weekend jadi perjalanan satu jam lebih terasa lumayan cepat, walau banyak mobil-mobil pribadi yang hilir mudik menuju ke Denpasar, ke nusa dua dan ke tempat wisata lainnya di Bali, karna bisa di bilang tempat wisata di Bali berada hampir di semua kabupaten, dan semuanya pasti memiliki pantai juga laut, jadi para turis yang datang tidak berkumpul di satu tempat saja, setelah hampir dua jam, El memasuki jalanan yang hanya cukup untuk satu mobil dan dua motor, karna memang alamat yang di berikan rumah tersebut tadinya berada di perdesaan tapi karna pembangunan terus berjalan dalam beberapa puluh tahun bisa di bilang rumah tersebut sudah tidak berada di perdesaan lagi walau masih banyak sawah di sekitarnya, El sangat senang melihat hamparan padi yang menghijau dan sebagian sudah ada berubah kuning, dari El memastikan alamat yang akan dia datangi dari jalannya sudah benar tinggal mencari rumahnya, agar tidak terlalu lama El memutuskan untuk bertanya pada warga sekitar saat dia sudah melihat banyak rumah warga juga banyak warga yang berjalan hilir mudik, El menghentikan mobilnya dan beranjak turun dari dalam mobil dan mendekati beberapa orang yang sedang berkumpul.


"Selamat siang Bli Bli semua" Sapa El kepada kumpulan orang-orang tersebut yang semuanya adalah lelaki, dan sebutan Bli seperti kita memanggil abang, begitulah sebutan di Bali.


"Iya, ada yang bisa kita bantu?" Tanya salah seorang dari mereka.


"Begini Bli, saya mau cari alamat ini" El menunjukan alamat yang tertulis di layar smartphone nya.


Para pemuda itu terlihat saling memandang satu sama lain setelah membaca alamat yang di tuju oleh lelaki yang ada di depan mereka dan yang pastinya bukan orang sini karna terlihat dari logat bicaranya .


"Ada apa ya Bli mau ke sana?" Tanya orang yang tadi kepada El.

__ADS_1


"Saya mau berkunjung, untuk melihat rumah yang ada di alamat ini, karna katanya mau di jual" El berkata jujur tentang tujuannya, dan kembali para pemuda itu saling pandang saat mendengar lelaki yang ada di depan mereka mau membeli rumah yang sangat terkenal untuk semua warga sini, rumah yang hampir berumur seratus tahun.


"Bisa kasih tau saya posisi rumahnya Bli?" Tanya El langsung tude point.


"Bisa Bli bisa" Ujar pemuda yang tadi. "Bli masih lurus aja, nanti sekitar seratus meter ada perempatan Bli ambil yang ke kanan, lalu Bli lurus lagi setelah dua ratus meter ada pepohonan bambu nach dari pohon bambu itu Bli udah bisa melihat rumahnya, karna rumahnya sangat besar" pemuda itu menunjukan arah ke arah rumah yang ingin di tuju El.


"Terima kasih Bli atas informasinya, kalau begitu saya lanjut perjalanan lagi, mari semua" El pamit untuk pergi dari sana setelah menjabat tangan para pemuda yang kurang lebih sedikit lebih muda dari dia, El kembali masuk ke dalam mobilnya dan perlahan mobil El melaju pelan, El menekan klakson saat melewati para pemuda tadi dan mengangkat tangannya sebagai tanda permisi dan di balas dengan hal sama oleh para pemuda itu, El melanjutkan perjalanan nya mengikuti petunjuk yang tadi dia dapat, setelah berjalan kurang lebih dua puluh menit El sampai di pohon bambu yang tadi di katakan pemuda itu dan El bisa melihat dari kejauhan rumah yang sangat megah dan artistik sekali bangunannya dan benar-benar membuat El jatuh cinta dengan rumah bergaya eropa tersebut, El memacu mobilnya lebih cepat agar segera sampai di rumah tersebut dan kurang dari lima menit El sampai di depan rumah tua tersebut karna memang bangunannya bergaya bangunan eropa model lama, secara umurnya rumah tersebut saja sudah di atas lima puluh tahun, El turun dari dalam mobil nya dan menyempatkan memandang ke sekitar halaman rumah tersebut yang ternyata sangat luar karna dari sertifikat tanah yang di perlihatkan Om Marco kepadanya memang luas tanah ini lebih dari seribu meter dengan luas bangunan sekitar tigaratus limapuluh meter, El jadi berkeinginan untuk membuat rumah ini menjadi Villa nya nanti tanpa merubah bentuk bangunan yang ada, El memandang ke halaman bagian samping sekilas dia melihat ada bayangan melitas di tempat itu, tapi El tidak berpikir yang aneh-aneh mungkin pengurus rumah ini, begitulah pikir El, setelah puas melihat luas tanah yang ada El lalu berjalan menuju pintu rumah tersebut, El sampai di depan pintu dan mencari bell pintu, tapi El tidak menemukan ada benda yang bernama bell di sekitar area pintu depan, El melihat model pintu yang ada di depan nya dan ada besi berbentuk lingkaran yang di bawahnya terdapat juga besi, owh... El baru sadar kalau dia harus mengetuk pintu tersebut dengan besi yang berbentuk lingkaran itu, benar-benar klasik pikir El. setelah mengetuk beberapa kali tersengar suara kunci di buka dari dalam, dan pintu pun terbuka dari dalam, terlihat seorang lelaki yang usianya di bawah El memandang penuh tanya ke arah El.


"Saya El dari Jakarta, saya mau bertemu dengan Bapak wayan, saya temannya Om Marco" El memperkenalkan dirinya dan siapa yang dia cari.


"Owh Bli temannya Tuan Marco, saya Made keponakan paman wayan, tapi paman wayan sedang tidak ada di sini, beliau sedang sakit, maklum sudah tua" Ujar Made memberitaukan keadaan pamannya yang sedang sakit.


El sedikit tidak focus dengan pemuda di depannya, karna dia melihat seperti ada sepasang mata yang mengintip ke arah mereka dari balik tembok yang berada di ruang tengah.

__ADS_1


"Maaf Bli kalau boleh tau Bli menjaga rumah ini dengan siapa?" Tanya El tanpa ingin membuat pemuda ini takut.


"Owh, biasanya saya sama paman wayan, tapi karna paman sedang sakit jadi sudah seminggu ini saya di sini sendiri, tapi nanti sebelum malam saya sudah kembali ke rumah, karna saya juga tidak berani Bli nginap di rumah sebesar ini sendiri" Made berkata sambil menghadiri tengkuknya yang tidak gatal, dia malu kalau di katakan penakut, tapi siapapun di daerah ini tidak akan berani tinggal sendiri, lebih dari lima orang aja masih takut apa lagi sendiri, rumah ini kalau di lihat dalamnya sudah seperti hotel, kamarnya aja ada lebih dari sepuluh kamar, itu baru kamar tidur belum kamar-kamar yang lain, seperti kamar kerja, dan beberapa ruangan lainnya.


El yang mendengar jawaban Made kalau saat ini dia hanya sendiri, El sadar sepertinya ada yang ingin menyambutnya, atau membuatnya takut dan pergi dari rumah ini.


"Bagini Bli Made, saya berniat membeli rumah ini jadi saya mau melihat-lihat seluruh ruangan dan tempat di rumah ini" El mengatakan tujuannya datang ke rumah ini.


"Owh iya iya, paman wayan ada cerita soal itu, jadi Tuan yang mau membeli rumah ini, silakan Tuan, saya akan mengantar Tuan melihat-lihat rumah ini" Made langsung merubah sebutan ke tamunya, saat tau tujuan tamunya itu, karna bisa saja nantinya bakal menjadi Tuannya saat rumah ini berpindah tangan.


El melangkah masuk ke dalam rumah mewah itu dan saat kedua kakinya sudah berada di dalam rumah dia sangat-sangat bisa merasakan ada hawa dan aura lain di dalam rumah ini, dan itu justru membuat dia semakin antusias untuk memiliki rumah tua ini.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2