
El melangkah masuk ke dalam rumah mewah itu dan saat kedua kakinya sudah berada di dalam rumah dia sangat-sangat bisa merasakan ada hawa dan aura lain di dalam rumah ini, dan itu justru membuat dia semakin antusias untuk memiliki rumah tua ini. made berjalan di depan El sebagai guide rumah ini dan mereka sampe di bagian depan rumah yang memang sangat luas ukurannya, El memandang ruangan tersebut, terdapat banyak lukisan-lukisan di dinding rumah dan juga photo-photo di sana yang di dominasi oleh photo lelaki bule, bahkan ada photo dua anak ABG yang sepertinya kembar.
"Ini yang kembar ini siapa Bli?" Tanya El menunjuk photo dua lelaki yang ada di dinding.
"Saya kurang tau Tuan, mungkin kalau paman wayan tau, karna paman sudah bekerja dari beliau belum menikah" Ujar Made karna memang dia juga tidak pernah menanyakan siapa-siapa aja yang ada di dalam photo-photo tersebut.
El melihat semua furniture masih model lama dan sepertinya teebuat dari kayu yang sangat bagus karna semua masih terlihat bagus walau sebagian di tutup dengan kain, mungkin untuk menjaga agar tidak terkena debu yang akan merusak atau mengotori.
"Bli, kapan terakhir kali Tuan Marco datang ke sini?" Tanya sekedar mencari bahan obrolan.
Made terlihat terdiam seperti sedang mengingat-ngingat.
"Sepertinya sejak saya membantu paman menjaga dan merawat rumah ini saya tidak pernah melihat Tuan besar Marco datang ke sini, bahkan saya tidak pernah tau Tuan besar Marco seperti apa" Ujar Made apa adanya.
"Berapa lama Bli kerja di sini?" Tanya El lebih lanjut.
"Saya membantu paman sudah hampir lima tahun Tuan sejak saya tidak lagi bekerja di bengkel" Jawab Made lagi.
El jadi berpikir juga, kenapa Om Marco tidak pernah datang ke rumahnya ini, setidaknya selama lima tahun ini seperti yang di katakan Made barusan, apa ada kenangan menyedihkan di rumah ini, tapi apa? karna setau dia keluarga Om Marco masih lengkap masih ada istri dan anak semata wayangnya, begitulah yang dia dengar dari cerita Papinya.
"Di rumah ini ada berapa kamar Bli?" Tanya El lagi.
"Di lantai tiga itu ada lima kamar Tuan, sedangkan di lantai dua ada tujuh kamar, sedangkan di lantai satu hanya ada tiga kamar untuk para pembantu dan security Tuan dulunya" Ujar Made menjawab pertanyaan El.
"Dulu nya? maksudnya?" El sedikit bingung dengan kata dulunya..
__ADS_1
"Iya kata paman dulu pungsi kamar di lantai ini seperti itu, tapi sekarang sudah tidak karna di sini sudah tidak ada pembantu ataupun security yang tinggal di sini, karna saya dan paman wayan juga istrinya yang sering membantu membersihkan rumah ini, sedangkan untuk makan, saya dan paman selalu pulang makan di rumah dan kalau malam tidak ada yang tinggal di sini Tuan" Ujar Made sambil mereka terus berjalan menyusuri rumah besar tersebut dan kini mereka sudah berada di lantai dua.
"Kalau tidak ada yang menjaga apa tidak takut ada yang bakal ngemalingin rumah ini?" Tanya El sambil memperhatikan setiap ruangan yang di lantai dua tersebut dan di pojok terlihat seperti ada pintu yang menyatu dengan dinding.
"Owh kalau soal maling, memang pernah beberapa kali terjadi tapi setiap yang mau maling di sini selalu tertangkap warga karna mereka berteriak ketakutan dan mengatakan melihat sosok anak-anak kecil di dalam rumah ini dengan wajah mengerihkan, dan masih banyak yang mereka melihat, dari cerita-cerita orangtua, setiap rumah atau gedung apapun yang kosong terlalu lama pasti akan ada mahluk lain yang akan menghuni tempat tersebut, apalagi di halaman belakang ada dua kuburan dari orangtua Tuan besar Marco" Ujar Made lagi.
El tertawa mendengar perkataan Made.
"Bli Bli, jangankan yang tidak di huni rumah yang kita tempati setiap haripun ada penghuni lain yang tidak kita lihat" Ujar El dengan santai.
"Memang Tuan tidak takut?" Made memandang ke arah El.
"Takut juga kalau mahluk nya mukanya serem terus ada tanduknya dan suka makan jantung manusia" Ujar El menunjukan reaksi takutnya sambil tertawa kecil.
"O ya Bli itu pintu apa ya?" El menunjuk pintu yang dia lihat seperti menyatu dengan dinding.
"Wooww jadi rumah ini ada lift nya? modern juga ya" Ujar El sedikit takjub saat tau rumah yang sudah membuatnya jatuh cinta ternyata memiliki lift.
"Ya... walau rumah ini di bangun tahun 50an tapi kan Bapa Tuan besar Marco orang bule dan katanya seorang insinyur" Made mengatakan apa yang dia dengar dari pamannya saat dia juga kagum karna tau rumah ini punya lift pribadi.
"Bisa saya coba liftnya?" Tanya El jadi antusias ingin mencoba kekokohan lift tersebut dengan umurnya yang udah lebih dari limapuluh tahun, kalaupun harus di perbaiki dia bisa memperbaikinya karna dia memiliki mekanik-mekanik handal dalam urusan merawat hal beginian, El berjalan ke arah lift tapi saat dia melewati salah satu pintu kamar yang di sampingnya ada cermin besar, El seperti melihat ada sosok besar dengan mata merah dan hijau menyala dan taring di antara bibirnya, tapi saat El melihat ke arah cermin tersebut dia tidak melihat apapun apa dia hanya berhalusinasi karna selama ini dia tidak pernah kehilangan objek yang dia lihat.
"Maaf Tuan, liftnya ga bisa di pakai"
"Kenapa ga bisa Bli? apa udah mulai macet?" El langsung memotong ucapan Made dan mencoba melupakan apa yang tadi sekilas dia lihat.
__ADS_1
"Kalau soal itu saya ga tau Tuan, tapi memang kata paman liftnya di kunci Tuan besar Marco" Made menjelaskan apa yang dia tau.
"Owh di kunci" El pun membatalkan niatnya untuk menaiki lift tersebut, mereka lanjut menaiki tangga menuju lantai tiga dan saat sampe di lantai tiga El merasakan aura yang berbeda, bahkan dia melihat banyak mahluk tak kasat mata yang berseliweran di lantai ini seakan ada sesuatu yang membuat para mahluk itu tertarik berada di lantai ini, di lantai tiga ini tidak banyak yang bisa di lihat hanya terlihat pintu- pintu kamar.
"Apa kamar-kamar ini juga di kunci?" Tanya El melihat ke arah Made.
" Tidak Tuan, semua kamar tidak ada yang di kunci biar gampang saat membersihkannya" Ujar Made lagi.
"Kalau gitu saya mau lihat kamar utama bisa?" El sangat ingin melihat kamar utama yang kemungkinan akan menjadi kamarnya nanti.
"Silakan Tuan" Made berjalan menuju kamar nomer dua dari kiri di ikuti oleh El, Made membuka pintu kamar tersebut dan mempersilakan El untuk masuk.
El melangkah masuk ke dalam kamar tersebut dan ternyata kamar nya sangat luas, tapi El kembali merasa aura yang aneh bahkan hawa di kamar ini sangat dingin padahal AC tidak di nyalakan dan hawa ini bukan hawa biasa, El berjalan ke kamar sebuah pintu yang dia pikir adalah pintu kamar mandi, El membuka pintu tersebut, ternyata itu adalah ruang buat ganti, terlihat masih banyak baju yang terdapat di sana, dan hawa di ruangan inipun sama dinginnya, padahal setau dia, seharusnya ruangan yang banyak barangnya dan ruangnya tidak terlalu luas biasanya hawanya sedikit panas, El menutup pintu ruang ganti itu dan memandang ke sudut lain, masih ada satu pintu lain di sudut ruangan yang kali ini dia yakin kalau itu adalah pintu kamar mandi, El berjalan ke arah pintu itu dan membuka nya dan benar memang ini ruang kamar mandi yang sangat luas dengan shower dan bathtub yang masih dengan model lama yang terlihat klasik, tiba-tiba mereka di kejutkan dengan suara seperti barang pecah dari lantai bawah, dan suaranya sangat keras membuat El dan Made sangat terkejut.
"Bli, itu suara apa yang meledak?" El memanndang ke arah Made yang sama terkejutnya dengan dirinya.
"Itu seperti suara kaca pecah Tuan, apa ada yang melempar kaca jendela yang di bawah ya Tuan?" Tanya Made dengan wajah khawatir.
"Memang pernah ada kejadian seperti itu?" El mencari tau.
"Ga pernah sich Tuan" Ujar Made.
"Ya udah kita turun pelan-pelan, takutnya memang ada orang iseng" Ujar El yang langsung menutup pintu kamar mandi dan berjalan dengan perlahan di ikuti Made di belakangnya.
BERSAMBUNG
__ADS_1
maaf kalau ga ada efek suara kaca pecah karna penulisan novel dan naskah film berbeda, kalau naskah film memang perlu ada efek suara untuk mendukung acting pemain agar semakin bagus tapi dalam penulisan novel efek suara-suara sangat jarang di butuhkan karna tidak berpungsi apapun, hanya bagaimana cara si penulis yang harus bisa membuat semuanya terlihat real dan mendukung penulisan. ini yang saya pelajari saat saya belajar pelajaran sastra Indonesia juga cara penulisan novel, penulis novel dan penulis skrip memang 40% berbeda. semoga berguna bagi yang mau complen kok ga ada suara pintu di buka ga ada suara ini ga ada suara itu, karna novel tidak mempengaruhi imajinasi mata manusia hanya sistem otak yang di pengaruhi dan tentunya tergantung bagaimana cara penulisan nya.