
"Cih! Jangan belagu kau!" Gertak satu orang lagi.
Aku hanya memutar bola mata saja.
"Hei minimal kasih jawaban dong!" Teriak satu orang lagi.
"Minimal kasih tahu nama lah baru aku ngomong!" Balas ku kesal.
"Oke oke kami akan berkenalan tapi jangan tertawa kamu ya?" Kata Zein.
"cih! merepotkan!" bentak orang yang aku bingung siapa.
"Hai kenalin nama ku Rei." Kata orang yang persis di depan ku.
"Aku Ryan." Orang di samping nya yang berkata sangat ketus.
"Dan aku Ayano." Orang di samping Ryan lah yang berkata paling ketus.
"Oh ya." Jawab ku singkat singkat saja.
Dan akhir nya pelajaran pertama di mulai. Awal nya baik baik saja tapi waktu istirahat ada sebuah kejadian kecil.
Ada seorang anak kelas tiga yang kepala nya terpenggal di kantin sekolah. Waktu anak anak melihat nya mereka ketakutan. Bagaimana tidak mereka kan murid normal.
"Hmmm menarik nih di sekolah ini ada pembunuh sadis juga ternyata." Gumam ku dalam hati.
"Ih aku takut banget lhoh!" Kata anak anak di sekolah itu. Aneh memang karena walau pun mereka cowok tapi mereka sangat lah alay.
"Jadi sukses kan?" Saat aku hendak pergi ke kamar mandi aku mendengar sesuatu dari musical boy. Dan aku berusaha menguping.
"Gimana hasil kerja ku tadi?" Aku mengenali suara itu. mengenali aroma parfum itu. Dan tidak salah lagi ini adalah mereka ber empat.
"Yah lumayan." Jawab Zein.
"Tapi cewek sialan itu kayak nya juga killer." Kata kata Rei yang membuat ku agak terkejut.
"Dia itu seperti nya bukan killer biasa. Apa kah mungkin dia itu... Si Twilight killer?" Tanya Ian.
"Aku tidak tahu tapi kita harus tetap waspada." Geram Zein.
Tapi sial aku malah membuka pintu itu dengan tidak sengaja membuat diri ku ketahuan sudah menguping. Dan aneh sekali karena pertama kali aku merasa menjadi kucing di antara para singa.
"Starla bodoh! hari ini kamu kenapa sih!" Gumam ku dalam hati.
"Teman teman kayak nya kita dapat dua mangsa nih!" Kata Zein kejam.
"Oke lah! males juga sih aku kalau harus ada cewek di sekolah ini!" Tawa Rei kejam.
__ADS_1
"Huh memang ya cowok itu kebanyakan belagu dan akting!" Sindir ku santai.
"Belum tahu tuh cewek siapa kita!" Bentak Rei.
"Iya deh iya si paling king slayer." Ejek ku.
"Nah! Itu tahu kok masih mau di tantang!" Sindir Ian.
"Karena aku ingin kalian merasakan penggalan demi penggalan yang akan ku lakukan!" Aku tertawa kejam.
"Dih! Kalau memang kamu si Twilight killer kamu juga bisa apa? pangkat mu saja lhoh sudah di bawah kami!" Gertak Zein.
"Aku bisa... lari! bye!" Lalu aku berlari dan lompat dari jendela berketinggian 500 meter.
Mereka mencoba mengejar ku tapi mereka sudah bingung aku ke mana. Jika kalian berpikir tindakan ku ini sering di sebut penakut maka kalian salah menghindari lebih baik dari pada menanggapi.
Dan akhir nya para king slayer itu memojokkan aku.
"Hmmm... tadi sok berani. Sekarang sok menciut ya?" Ledek Ayano.
"Apa iya?" setelah aku mengatakan itu aku langsung berlari dan menyeret tubuh Ayano lalu ku cekik dia.
"Mati gak ya kalau pakai penggaris?" Kata ku sambil mengeluar kan penggaris. dan aku langsung menusuk perut Vino dengan penggaris itu.
"See you again." Kata ku sambil melempar nya ke selokan.
kwkwkwkwkwkkw
Aku pun balik ke kelas.
"Ah! maaf." Aku berkata begitu karena tak sengaja menabrak seseorang.
Tapi ternyata dia sedang menangis! Tidak bisa ku bayang kan seorang cowok menangis sampai seperti itu.
"Apakah kamu baik baik saja? ayo ku antar kamu ke kelas. kita sekelas bukan?" tanpa ba-bi-bu aku memegang tangan nya dan membawa nya ke kelas.
"Ceritakan lah apa yang terjadi." Kata ku lembut.
"Aku tadi sehabis membunuh dan aku tidak tahu jika yang ku bunuh itu adalah kakak teman ku aku sangat takut sekarang." Kata kata nya yang sangat aneh. Ada berapa banyak pembunuh sih disini?
"Kenapa kau tidak bilang langsung ke teman mu?" Kata ku heran.
"Karena teman ku itu adalah Ayano." Jawaban yang membuat ku tercengang.
"Oh kamu juga pembunuh ya? sebener nya ada berapa pembunuh sih di sekolah an ini?" tanya ku heran.
"Sebenar nya ada tujuh pembunuh di sekolah ini tapi sekarang hanya ada enam. Karena kakak nya si Ayano dah aku bunuh." Jawab nya mulai santai.
__ADS_1
"Ohh gitu ya. Boleh jadi temen ku gak aku?" Tanya ku gak jelas.
"Kamu mau punya temen pembunuh kayak aku?" Tanya nya heran.
"Gak apa apa lagi pula aku si Twilight killer lhoh!" Jawab ku antusias.
"Pantesan sketsa muka nya sama." Tawa nya.
Setelah itu kami tertawa bersama sama. Saling mencaci dengan baik.
"Bye the way kamu apakah kakak nya si Ayano?" Aku bertanya.
"Cuma ku banting kepala nya lalu aku penggal kepala nya." Jawab nya santai.
"Ew! sadis." Aku tertawa.
"Yah itu semua pembalasan karena dia telah membunuh adik ku." Jawab nya lesu.
"Turut berduka cita ya?" Aku mulai memahami arah percakapan ini.
"Iya nama nya kan Abdan. Tapi kalau Ayano benci aku gimana ya?" Dia mulai khawatir.
"Gak apa apa karena tadi aku habis menusuk perut nya dengan penggaris." kata ku sambil mengeluarkan penggaris itu.
"Eww! kamu lebih sadis!" Tawa nya.
"Sesama sadis harus bangga dong dengan ke sadis an nya!" kata ku.
Dan saat itu lah aku mulai bisa beradaptasi.
"Oh ya nama kamu siapa?" Tanya nya.
"Oh iya lupa kenalan. Kenalin nama aku Aqila." Aku menyipitkan mata.
"Salam kenal juga nama ku Pyo." Dia tersenyum tipis.
Kami menjadi sahabat dalam waktu dekat. ke dekat an kami bagaikan kisah senja karena kami di penuhi oleh atmosfer ke hangat an.
Seminggu kemudian.
Ayano and the gangs belum muncul di sekolah. Aku berpikir jika dia masih tepar di hisynorn. (semacam rumah sakit tapi khusus untuk para pembunuh)
"Kamu suka cerita genre apa Pyo?" Tanya ku iseng.
"Yang berbau darah, kriminal, mayat, dan aksi, lalu yang semacam itu lah." Jawaban yang sangatembuat ku senang.
"Sama dong aku kayak terngiang ngilang gitu. Terus juga aku paling suka sama genre yang berbau pembulian tragis hingga menyebabkan kematian pada si aktor atau pun pada tokoh utama nya!" Aku berteriak antusias.
__ADS_1
"Kalau begitu kamu suka dong sama film yang bergenre seperti itu. Tapi berlatar belakang kenyataan?" Suara orang yang kejam itu adalah...