Twilight Killer

Twilight Killer
Ke jahilan 2


__ADS_3

"Star kau nyuruh hacker ikut ikutan kan? Btw nama nya siapa?" Tanya Pyo heran.


"Vino dan Vina." Jawab ku pendek.


"Kembar?" Tanya nya lagi.


"Iya. Tapi si Vina manggil Vino kak. Dan kita juga harus manggil Vino kak Vino. Tapi tenang aja di Vina sebaya kok umur nya sama kita." Terang ku pendek.


"Kok gitu?" Dia mulai bingung.


"karena si vino lahir tiga tahun lebih cepat dari pada kita." Terang ku lagi.


"Itu masih bisa di bilang kembar ya?" Tanya Pyo dengan sangat terkejut.


"Mungkin?" Jawab ku.


"Starla yang sangat uwu itu nama nya bukan kembar lagi lhoh. Kenapa kamu suka ingin ku bunuh ya?" Tanya nya mulai frustasi.


"Karena aku ngangenin?" Aku menjawab dengan bangga nya.


Akhir nya Pyo terdiam tanpa kata sedikit pun. Frustasi dan frustasi. Mempunyai teman yang sangat ambigu.


"Andai kan kau bisa jadi milik ku." Dia bernyanyi.


"Suara mu bagus." Puji ku.


"Thanks." Jawab nya.


"Bisa hargai ku. Tapi dunia... Tak ikhlas kita bersama. Entah kenapa....." Dia melanjutkan.


"Ku rindukan mereka. Dan ku berharap mereka merindukan ku saat aku akan pergi mau pun kembali." Aku tersenyum.


"Kata kata mu hari ini?" Dia bertanya.


"Ya! Dan mungkin esok nanti." Aku tersenyum lagi.


"Kayak mau meninggal aja!" Canda nya.


"Entah lah?" Aku tertawa.


Sedikit informasi tambahan mengenai dua hacker ini:mereka adalah hacker yang otak nya sudah kayak komputer asli. Jangan heran jika mereka ber dua sering di juluki human mechanical.


"Aku gabut." Keluh Vina.


"Hack hp nya si Pyo aja lah." Saran ku jahil.


"Boleh emang?" Tanya nya antusias.

__ADS_1


"Paling kalau kamu beneran coba cuma mata mu aja yang hilang." Aku tertawa.


"Gak jadi Lah! Kalau aku buta nanti gak bisa hack hp kak Vino." Keluh nya.


"Yah terserah sih!" Aku tertawa.


Hari Minggu yang cerah. Aku dan Vina berjanji akan bertemu untuk Nge Roasting kepsek dan ketos. Tapi si Pyo dan si Vino belum datang membuat kami Ter sebal sebal.


"Aku ingin ber kata kata kasar sekarang!" Sebal Vina.


"Sabar Vin. Cowok emang lelet." Kata ku juga sudah sangat sebal.


"Maaf kami telat!" Teriak Pyo tiba tiba.


"Huh! untung hari ini aku butuh kalian kalau nggak...." Aku berkata mencekam


"Eh sorry lah!" Mohon Vino.


"Dah lah cepet an ayo!" Aku memandu.


"Oke bos!" Teriak mereka ber tiga serentak.


Kami memang sangat ber ide abstrak.


Dan akhir nya pukul 15.00 Kami pun selesai.


"Di bayar dengan libur satu tahun di sekolah." Tawa Pyo.


"Harus lah..." Sambung Vino.


"Kalau gak gimana dong?" Tanya Vina khawatir.


"Paksa on lah!" Aku tertawa.


Akhir nya kami setuju akan janjian bertemu kembali pukul 16.00.


"Kamu menghancurkan hati ku..." Aku mendengar lirik kan lagu yang sayu sayu.


"Kau masih mempermainkan aku...." Lagu itu berlanjut.


"Ku kehilangan diri mu....Ku kehilangan cinta dan juga hati ku......." Lagu itu semakin menjadi jadi.


Akhir nya aku mendatangi asal suara itu. Lalu aku melihat seorang laki laki sedang sangat putus asa.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya ku khawatir.


"pergi..." Kata nya sayu.

__ADS_1


"Apakah kamu berpikir aku akan meninggalkan mu yang sedang down ini?" Aku semakin khawatir.


"Untuk apa?" Dia mulai marah.


"Dari lagu dan getaran suara mu seperti nya kamu sedang di putusin cinta ya?" aku menebak.


"Buat apa kamu tahu? bukan urusan mu!" Bentak nya lagi.


"Aelah! Apa susah nya sih berbagi suasana?" Aku bertanya heran.


"Hmmm." Dia tidak menjawab.


"Jika memang kamu suka sama dia tapi dia gak suka kamu ya udah ikhlas kan saja! Apa sih susah nya! kalau misal kamu itu memaksakan kehendak mu Dan Dia terpaksa bersamamu bukankah itu malah membuatnya menderita?" Aku memberi pernyataan.


"Sudahlah! kenapa kamu ikut campur terus sih bikin muak aja!" Bentak nya lagi.


"Dih! laki laki semacam kamu enak nya memang ku bunuh!" Geram ku kesal.


"Cih! Sesama pembunuh jangan gitu lah!" Balas nya.


"Kamu lebih burik! pembunuh tapi menangisi cewek yang gak bisa di gapai!" Aku menyindir nya.


"Serah serah aku lah!" Balas nya.


"Maka serah serah aku juga mau nasihat in kamu apa gak!" Kata ku tak mau kalah.


"Dih! nyebelin banget sih!" Gertak nya.


"Dih nyibilin bingit sih!" Ledek ku.


"Apa an sih!" Teriak nya mulai sebal.


"Ipi in sih!" Aku tertawa.


"Dih!" Dia mulai kesal.


"Eh! Sorry jangan ngambek lah.... Gitu aja ngambek! Cemen kau!" Gertak ku.


"Ya..." Dia berkata pelan.


"Mau ice cream gak?" Aku bertanya pelan.


"Cokelat dan sepuluh ice cream ya?" Dia tersenyum tipis.


"Oke good boy." Aku menggandeng tangan nya.


"

__ADS_1


__ADS_2