
"Wah,kau kalah lagi ya." Ejek Rhea sambil terkekeh. Yeira malah merotasikan matanya. "Itu hanya keberuntungan. Kau ini sombong ya." Jawab gadis elf itu.
Kedua gadis beda jenis itu memang sering berdebat hal kecil. Setiap hari mereka selalu bertaruh sesuatu. Contohnya sekarang,mereka sedang bertaruh siapa yang bisa memanah tepat sasaran paling banyak harus membelikan apapun yang diminta.
Rhea mengambil anak panahnya dan mengarahkannya pada papan sasaran. Wush…panahnya menancap tepat ditengah. Rhea tersenyum mengejek kepada Yeira,"Lihat,panahku tepat loh."
Yeira,menatap malas dan menembakan panahnya. "Berisik kau. Dasar manusia."
Wush…Panah itu menancap hampir di tengah sasaran. Hanya berbeda beberapa centimeter saja. Pundak Yeira turun lemas. Sementara Rhea tertawa puas sambil membereskan alat panahnya yang menancap di papan sasaran. "Aku ingin buku catatan harian baru. Harus berwarna coklat dan lengkap dengan penanya. Jangan beralasan habis karna inikan taruhan yang kau buat sendiri." Ucap Rhea santai.
Yeira mengacak rambutnya sambil cemberut. "Nanti akan ku balas. Lihat saja. Dan juga kau yakin permintaanmu hanya itu? Maksudku itukan terlalu mudah." Tanya Yeira tak habis pikir. Jika yang menang adalah dirinya,dia pasti akan meminta agar Rhea menari seperti orang gila,memintanya memasak,atau membantunya menjahili orang-orang. Tapi orang itu malah meminta buku harian. "Manusia memang berpikir aneh ya." Pikirnya.
"Ah,aku tidak punya keinginan lain. Aku juga tidak bisa keluar dari sini. Aku hanya ingin menuliskan sesuatu yang aku pikirkan. Kau ini sudah kalah banyak tanya lagi." Balas Rhea.
Setelah membereskan semuanya,mereka berdua berjalan kearah taman yang didepannya terdapat danau lumayan luas. Airnya jernih dan disekitarnya ada bungan teratai membuat danau itu makin terlihat indah. Mereka kemudian duduk ditanah dibawah pohon besar. Menyenderkan punggung mereka melepas lelah setelah berlatih memanag hari ini dilanjut taruhan yang dimenangkan Rhea. "Benar cuma itu? Kalau aku pasti akan meminta yang lain." Tanya Yeira lagi memastikan.
Rhea menatap wajah Yeira disampingnya beberapa saat. Yeira yang ditatap merasa aneh dan bertanya. "Apa? Mata beda warnamu itu sakit hah?"
Rhea malah menggeleng dan menatap ke arah danau didepannya. "Kau ada keinginan lain ya. Ada kan. Bilang saja pasti akan aku penuhi." Ucap Yeira lagi.
"Ada yang ingin aku lakukan. Tapi aku yakin kau tak akan setuju. Jadi lebih baik tetap aku simpan sendiri saja. Dan juga mataku ini alami tau. Namanya heterochromia." Ucap Rhea. Iya,matanya Rhea berwarna hitam satu dan wana biru di satunya lagi. Walaupun aneh tapi dia sangat meyukai matanya itu.
"Iya,iya. Matamu itu langka. Aku mengerti. Ah tunggu." Yeira seakan menyadari sesuatu.
Yeira menegakkan tubuhnya. "Apa?Sejak kapan kau rahasia-rahasian begitu. Kita kan sudah bersahabat lama."
"Ah,ada lah. " Ucap Rhea tak ingin membicarakan lebih jauh lagi.
Yeira menatap bingung. "Kau mau jalan-jalan lagi ya. Kalau kau mau kita bisa pergi. Kau pasti bosan selalu di rumah." Ajak Yeira bersemangat.
"Kau ini." Rhea menepuk kepala Yeira pelan."Aku ini kan manusia. Mana bisa berkeliaran bebas disini. Dokkalfar seperi kalian akan memakanku nanti." Ucap Rhea sambil berbaring di rerumputan dan menjadikan tangannya sebagai bantal.
"Tidak semua. Aku,ayah,ibu tidak memakanmu. Kalau kami jahat kau pasti sudah dimakan dari dulu." Elak Yeira. Dia sendiri tahu kalau manusia itu makanan favorit bagi dokkalfar sepertinya. Tapi dia tidak seperti itu. Orang tuanya bahkan menyayangi Rhea. Itu yang dia tahu.
Rhea malah memejamkan matanya tak menanggapi. Melihat itu Yeira merasa kesal lalu dia menggelitik pinggang Rhea. Merasakan seauatu Rhea tertawa sambil menggeliat. Mereka berdua tertawa keras. Yeira yang puas menjahili dan Rhea tertawa tersiksa karna digelitiki tanpa ampun. "Hahaha,berhenti kau.....hahaahha. Aku ...bilang hahhaa berhenti." Teriaknya.
Yeira malah makin bersemangat dan terus menggelitiki tubuh teman manusianya itu. Rhea yang sudah tak tahan berguling ke sisi lain lalu berdiri. Melihat itu Yeira berlari dengan dikejar Rhea yang ingin membalas dendam padanya. Mereka berdua berlari mengelilingi danau sebanyak beberapa kali. Akhirnya,Rhea yang sudah kelelahan kembali ke bawah pohon dan menyender disusul Yeira.
__ADS_1
"Hah...aku lelah karnamu dasar. Hah hah,setelah ini aku harus ke pesta ulang tahun temanku tau. Kalau lelah aku jadi malas." Ucap Yeira dengan napas terengah-engah karna lelah.
"Kau yang mulai ka...hah aku juga lelah tau." Balas Rhea yang sama lelahnya."Bukanya dokkalfar sepertimu itu staminanya lebih bagus daripada manusia,kau kenapa bisa lelah seperiku?" Tanya Rhea tak habis pikir.
"Itukan untuk dokkalfar yang pernah makan manusia. Aku tidak bisa seperti itu. Manusia kan sepertimu. Mana bisa aku memakan bangsa temanku kan." Jelas Yeira. Dia kemudian berdiri. "Sudahlah,aku harus bersiap. Kau bisa disini jika mau atau masuk kerumah. " Pamit Yeira.Dia membuka sayap hitam besarnya kemudian terbang menjauh ke arah rumahnya.
"Huh dasar."
Rhea menghela napas. Entah kapan hidupnya akan berakhir. Di dunia elf yang dia diami sekarang tak ada jaminan besok dia akan selamat. Memang benar Yeira adalah Dokkalfar yang baik. Sangat baik sampai dia lupa kalau mereka berdua adalah mahluk yang berbeda. Semenjak 11 tahun yang lalu dia tinggal di dunia ini karna percaya Yeira akan melindunginya. Beberapa kali dia hampir dimangsa Dokkalfar jahat saat sendirian dan Yeira selalu menolongnya dan melindunginya. Tempat dia berada sekarang adalah rumah Yeira dan sudah dilindungi sihirnya agar tak ada dokkalfar yang jahat bisa masuk. Di dunia ini ada dua jenis elf yang hidup. Pertama,Lyosalfar atau light elf. Ini adalah jenis elf baik yang selalu membantu manusia. Kedua,Dokkalfar atau dark fey. Ini adalah jenis elf jahat yang menjadikan manusia sebagai makanan. Kedua jenis elf ini berada di dunia yang sama namun wilayah yang berbeda. Dokkalfar berada di bagian timur,sementara Lyosalfar berada di bagian barat. Para Dokkalfar berambut hitam,bermata hitam pekat,juga mempunyai sayap hitam besar kuat dipunggung mereka. Berbeda dengan Lyosalfar yang memiliki rambut perak dan mata biru.Rhea kembali menghembuskan napas. "Aku tidak bisa." Gumannya sendiri.
"Dia bilang orang tuanya baik? Wah aku akan memeriksa apakah matanya berfungsi." Ucap seseorang di atas pohon.
Rhea mendongkak melihat orang itu. Ah,ternyata itu hanya Niyaz. Laki-laki dari jenis Lyosalfar yang entah kenapa selalu bisa menyelinap kesini. Orang ini pintar menyamar. Dengan wujud menyerupai Dokkalfar dia bisa dengan mudah berbaur.
"Sejak kapan kau disana?" Tanya Rhea. Dia mengambil batu dan melemparnya ke atas bermaksud kearah Niyaz. Tapi batu kerikil itu ditankapnya lalu dibuang sembarang oleh Niyaz. "Kau menguping ya?"
"Bukan menguping,tapi mendengar sesuatu." Elaknya.
"Sama saja dasar." Rhea mendengus. "Kau ngapain kesini?
"Aku bukan adikmu. Kau ini elf dan aku manusia. Sama sekali tidak mungkin." Ucap Rhea.
"Aku tau." Ucap Niyaz terkekeh.
"Aku kesini untuk menanyakan keputusanmu. Kapan kau akan meninggalkan tempat ini. Kau juga sudah mengerti situasinya kan. Kau ini tidak aman." Lanjut Niyaz. Mereka berdua duduk sambil memandangi air danau jernih dan sesekali melempar batu ke danau itu.
"Ah soal itu aku masih bingung. Yeira itu baik. Walau hanya Yeira tapi aku tak mau meninggalkannya." Jelas Rhea.
Niyaz membuka tas kecil di pinggangnya dan mengeluarkan camilan yang dia beli di pasar sebelum kesini. "Ini,aku bawakan karna tau kau menyukainya." Mereka lanjut mengobrol sambil memakan camilan itu.
"Kau benar. Yeira gadis cantik,baik,walau kelakuannya itu minus tapi aku akui hanya dia yang benar-benar melindungimu disini. Lalu bagaimana kedepannya? Kau pikir dokkalfar itu akan menyerah hanya karna kau berteman dengan Yeira. Tentu saja tidak kan. Sulit untuk mereka melepaskanmu begitu saja. Yeira juga akan mengerti kalau kau pergi kalau untuk alasan keamanan." Jelas Niyaz. Dia mengerti posisi Rhea di tempat ini bagaimana. Karna itulah sejak setahun lalu dia mengajak Rhea pergi.
"Aku hanya ingin terus bersama Yeira. Tapi aku juga ingin merasa aman. Ucapanmu juga benar. Tapi setelah itu aku akan kemana? Kedunia manusia? Aku tidak punya siapa-siapa disana." Rhea menatap langit di kejauhan. Seperti apa dunia manusia sekarang?
"Kau ini dasar." Niyaz menjitak dahi gadis manusia itu lumayan keras. "Ah,dasar. Itu sakit" Ucap Rhea kesal. "Aku kan ada disini. Aku akan membawamu ke wilayah kami. Disana juga ada banyak manusia sepertimu. Kau tau tapi seakan-akan tak tau." Lanjut Niyaz
"Tapi mereka kan tetap orang asing." Balas Rhea.
__ADS_1
"Kau pikir aku orang asing?" Tanya Niyaz.
"Bukan seperti itu. Kau itu seperi kakakku. Hanya saja aku merasa....aah aku tidak bisa menjelaskannya." Ucap Rhea.Dia mengacak rambutnya bingung. Disini ada sahabatnya tapi wilayah ini tak aman. Jika ikut ke wilayah lyosalfar dia akan merasa asing. Jika ke dunia manusia,dia tak tau harus kembali pada siapa.
"Ibuku meninggalkanku,ayahku entah kemana. Hidupku beruntung bertemu denganmu dan Yeira. Tapi entah kenapa aku merasa ada yang kosong. Aku tidak mengerti." Keluh Rhea.
"Kalau begitu kita buat saja rumah di wilayah bangsaku. Rumahnya akan jauh dari dokkalfar ataupun dari lyosalfar. Rumahnya dekat dengan pemukiman manusia disana. Kau bisa bertemu dan berteman dengan bangsamu sendiri. Kalau begitu kau tak akan merasa berbeda kan." Bujuk Niyaz lagi.
"Itu..." Ucap Rhea terdengar ragu.
Melihat itu Niyaz menghela napas lelah menjelaskan. Tak habis pikir. Sebenarnya apa yang diinginkan oleh gadis manusia dihadapannya. "Kau masih ragu? terserah lah. Aku hanya ingin membantumu. Dengar,aku tidak tau dengan pasti tapi orang tuanya Yeira sudah membuat rencana untuk membunuhmu dan membuatnya seoerti kecelakaan." Jelas Niyaz.
"Bagaimana kau tau?" Tanya Rhea.
"Karna aku mendengar tak sengaja. Lyosalfar itu punya pendengaran yang bagus." Jawab Niyaz.
"Aku tahu."
"Pendengaranku memang bagus,akhirnya kau mengakuinya." Niyaz tersenyum percaya diri dengan tubuh membusungkan dada makin menunjukan kepercayaan dirinya.
"Tahu mereka mau membunuhku" Jelas Rhea membuat senyum percaya diri Niyaz turun digantikan dengan wajah kesal sekaligus gemas dengan perilaku Rhea.
"Jika kau sudah tau lalu kenapa kau masih ragu hah?"
"Aku kan sudah bilang mau bersama Yeira." Ucap Rhea teguh pada keinginan konyolnya.
"Cemilannya habis. Kau bawa apalagi untuku?" Tanya Rhea saat memasukan camilan terakhir kedalam mulutnya.
"Tak ada lagi. Aku kesini untuk mengajakmu pergi ingat." Gerutu Niyaz.
Rhea mendengus. Dia melempar batu kerikir ke arah danau dengan kesal.
"Hey,aku punya rencana." Ucap Niyaz tiba-tiba.
"Rencana apa?" Tanya Rhea sambil menatap lurus ke mata Niyaz.
"Sebelum mereka membunuhmu kenapa tidak membunuh mereka terlebih dahulu?"
__ADS_1