UNEARTH

UNEARTH
3. Tak bisa mundur lagi


__ADS_3

Saat Yara mendekatkan mulutnya ke luka itu tiba tiba terdengar suara Yeira datang.


"Barangku ketinggalan" Teriaknya sebelum masuk. Dia melotot saat memasuki ruangan dan disuguhi tangan Rhea berdarah sampai menetes ke lantai. Dia terlihat panik lalu mendekat.


"Kau ngapain kenapa bisa terluka?!!" Paniknya.


Yara tertawa."Ah,dia tak sengaja tergores panah bawaannya. Dia ini memang ceroboh."


"Benarkah? Kau ini bagaimana sih! Ayo aku akan mengobatimu." Ucapnya membawa Rhea ke kamarnya. Sesampainya di kamar Rhea,Yeira langsung mengambil kotak obat di lemari kecil disamping tempat tidur.


Sebelumnya,dia menutup hidungnya. Lalu mengeluarkan perban dari kotak obat itu. Dia mengeluarkan kapas untuk membersihkan darah itu. Dia kemudian mengeluarkan obat tetes tradisional untuk luka seperti ini. Tanganya terlihat gemetar saat meneteskan obat itu ke luka Rhea.


Rhea merasa bersyukur karna Yeira datang di saat yang tepat. Seperti biasa Yara bertingkah seolah-olah dia tak melakukan apapun. Tapi tak apa. Yeira sudah disini sekarang.


Rhea kemudian buka suara."Kau yakin akan disini. Lukanya tidak besar jadi-" Ucapan Rhea terhenti saat Yeira meletakan kapasnya.


Dia menutup hidungnya lalu mundur beberapa langkah. "Maaf,darah manusia terasa harum. Aku tidak mau seperti itu. Kau itu temanku. Aku takut tak bisa menahannya jadi maaf,aku ingin keluar"


Rhea tersenyum." Tidak apa-apa. Aku mengerti. Terimakasih karna mau melindungiku. "


Yeira mengangguk lalu keluar. Gadis itu akhirnya bernapas bebas saat diluar. "Aku akan melindungimu. Dari bangsaku juga dari diriku sendiri." gumannya. Dia melihat ada bekas darah di tangannya. Dia menelan ludah. Itu darah Rhea. Bahkan dia masih bisa mencium wangi harum dari darah itu. Yeira menggeleng lalu berjalan cepat ke arah kamarnya yang ada disebelah kamar Rhea. Dia langsung ke kamar mandi dan mencuci tangannya.


Sementara itu Rhea yang dikamar berusaha menahan nyeri dari luka itu. Darahnya tak mau berhenti mengalir. "Ah" Ringisnya saat tak sengaja menekan lukanya itu.


Sebuah ketukan terdengar dijendela kamarnya. Dia melihat Niyaz menatapnya khawatir apalagi melihat darah darinya. Dia kemudian membuka paksa jendela itu.


"Kau kenapa lagi hah? Baru kutinggal sebentar sudah seperti ini." Ucapnya sambil mulai mengeluarkan sihirnya untuk mengobati.


"Dia bilang sakit kepala dan mau darahku. Tapi Yeira datang jadi tak apa." Ucapnya. Dia meringis saat lukanya terasa perih.


Rhea melihat lengannya. Matanya menatap tak percaya. "Lukanya,kenapa tidak sembuh."


Niyaz yang duduk didepannya merasa heran sekaligus kesal."Lukanya tak sembuh. Padahal biasanya langsung sembuh."


Niyaz kembali mendekatkan tangannya ke luka dengan darah yang masih mengucur itu. Dia kemudian mendecih melihat lukanya tak kunjung sembuh.


"Sialan,kenapa tak bisa?!" Erangnya.


Terdengar percakapan di luar pintu. Suaranya seperti suara Yeira dan Yara ibunya.


"Kau harus pergi,kalau kau terlambat kau akan malu kan " Ucap Ibunya.


"Mana bisa aku pergi. Rhea. Aku ingin menemaninya. Lagipula bagaimana kalau ada yang mencium bau darahnya dan masuk." Balas Yeira dengan nada sungguh-sungguh.


"Ada ibu disini untuk melindunginya kan. Ibu bisa menahan diri seperti kau. Apa kau masih khawatir" Ucap Yara membujuk Yeira.


"Tapi...." Ucap Yeira masih tak mau pergi.


"Sudahlah. Kau pikir rumah ini bisa dimasuki dengan mudah. Kau bisa percaya pada ibu" Ucap Yara.

__ADS_1


Terdengar suara langkah kaki menjauh. Sepertinya Yeira pergi menuruti ibunya. Niyaz mendecih sebal.


"Melindungi apa katanya. Mau aku sumpal dengan batu mulutnya itu." Ucap Niyaz.


"Kau sudah beberapa kali mengalami hal seperti ini tapi kau masih mau disini? Hanya untuk Yeira,kau mau menahan selama ini." Lanjutnya.


Rhea melihat luka dilengannya tak kunjung sembuh. Entah apa yang membuatnya begitu. Niyaz bahkan terlihat kesal dan heran. "Sudahlah,aku akan mengobatinya dengan obat saja"


"Aku tak tau apa yang terjadi tapi aku akan berusaha lagi." Ucapnya sambil berusaha mengeluarkan sihirnya.


"Ah,tidak bisa." Kesalnya lagi. Saat lagi-lagi lukanya tak menutup.


Rhea kemudian mengelap luka itu dengan handuk setengah basah yang dibawa Yeira tadi. Membersihkannya lalu dibantu dengan Niyaz meneteskan obat ke luka sepanjang lima centimeter itu. Dilihat setelah darahnya dibersihkan. Niyaz kemudian menlilitkan perban dilengannya.


"Aw,jangan menekannya!" Ucap Rhea sambil menginjak kaki Niyaz.


"Mana ada aku menekan. Lukanya memang akan terasa seperti itu saat diperban. Dasar" Jawab Niyaz.


"Nanti malam kita akan pergi. Tak ada yang perlu dibicarakan lagi. Kita akan pergi setelah bicara pada Yeira sekaligus pamit." Tukasnya.


***


Malam pun datang. Matahari tergantikan oleh bulan yang bersinar terang di temani bintang indah disekelilingnya. Rhea dan Niyaz duduk di balkon kamar. Memandangi langit malam. Udara yang mendingin terasa menyelimuti tubuh Rhea. Entah kenapa dia jadi merasa tak enak badan. Dia menyentuh dahinya. Hangat. Tidak,ini lumayan panas.


"Kau kenapa?" Tanya Niyaz.


"Aku tidak peduli. Pokoknya kau harus pergi ke daerah lyosalfar. Tak ada yang akan menyakiti apalagi memakanmu." Ucap Niyaz tak mau tahu.


Sebuah langkah terdengar mendekat. Rhea berdiri lalu berjalan ke kamar. Dia yakin itu adalah Yeira yang sudah pulang. Langkahnya terhenti melihat siapa yang datang. Yara dan Yardan. Dua Dokkalfar yang menjaganya untuk menjadi makan mereka.


"Aku mau menagih. Serahkan tanganmu." Yara maju lalu menarik lengan yang diperban itu lumayan kencang. Luka yang belum mengering itu kembali mengeluarlan darah. Perban itu berubah warna dari putih jadi merah.


"SIALAN!!" teriakan umpatan itu datang dari Niyaz. Dia mendekat dengan wajah marah. Mata yang biasanya jahil itu diganti dengan tatapan melotot seakan akan keluar. Melihat itu Yardan menarik Rhea kebelakang tubuhnya.


"Wah,wah. Kau kesini mencium darahnya ya. Tapi kau tidak bisa. Dia milik kami." Ucap Yardan.


Mendengar itu Niyaz langsung mengubah penampilannya menjadi wujud aslinya yaitu Lyosalfar. "Siapa yang mau memakannya? Aku bukan bangsa menjijikan seperti kalian sialan." Dia maju sambil mengeluarkan sihirnya.


Wujud Lyosalfar Niyaz memiliki rambut perak,mata biru,juga warna sayap putih. Tubuhnya mengeluarkan cahaya hangat.


"Kau?! Bagaimana seorang elf seperti dirimu masuk kesini?!!" Geram Yardan.


Yara menarik tangan Rhea keluar kamar dengan paksa. Rhea merasakan kepalan itu makin mengencang dan berusaha melepaskan. "Lepas"


Rhea menginjak kaki lalu menendang lutut Yara dan berlari seketika saat Yara mengaduh dan melepaskan tangannya. Rhea berlari kembali menuju kamarnya. Di belakang Yara melebarkan sayap hitamnya dan terbang mengikuti Rhea. "Akan kuhukum kau setelah ini!!"


Rhea masuk ke kamar dan melihat Niyaz terbaring di lantai dengan kepala berdarah dan di todongi pedang tepat dilehernya. "Sialan!" Geramnya.


Rhea mengambil busur panah dan mengarahkan panah itu ke arah Yardan. Dengan napas terengah-engah dan jantung berdegup kencang dia menatap tajam ke arah Yardan.

__ADS_1


"T-tunggu Rhea. Aku tak bisa membiarkanmu" Ucap Niyaz.


"Aku tidak apa-apa. Ini karna aku lengah saja" Lanjutnya.


"Jangan sok kuat. Manusia itu lemah. Kalian bahkan tak mempunyai sayap atau kekuatan sihir. Dan gadis kecil sepertimu mau menyerangku?" Ejek Yardan dengan senyuman menjengkelkan.


Rhea tidak mengira akan terjadi hal seperti ini. Jika dia memanah,dia akan dibenci oleh Yeira. Jika tidak memanah,dia akan membenci dirinya sendiri karna membuat Niyaz terluka.


"Kau pikir panah seperti itu bisa membunuhnya hah?" Ucap Yara yang bersender di ambang pintu melihat perasaan bimbang Rhea sebagai kesenangan. Menikmatinya sebagai sebuah tontonan menarik.


"Ah,sudahlah. Bangsa Lyosalfar sepertimu harus MATI!!" Tekan Yardan sambil mengangkat pedang itu ke atas. Sebelum menusukkan pedang itu panah Rhea terlebih dahulu menembus dada pria berusia 37 tahunan itu. Rhea menatap tak percaya apa yang dia lakukan. Tangan gemetarannya tak bisa ditahan lagi. Yardan menatapnya marah,"Gadis sial-" Darah keluar dari mulutnya sendiri membuat kata-katanya terhenti.Tubuh pria dewasa itu ambruk. Niyaz lalu bangun dan berdiri di depan Rhea,melindunginya. Yara melihat itu langsung berlari ke arah suaminya. Menggoyangkan badan pria itu yang bahkan tidak merespon apapun.


'sudah mati?apa dia mati?' pertanyaan yang terus terputar di kepala Rhea.


"ANAK SIALAAANNNN!!! DASAR TAK TAU DIRI!! BERANINYA KAU MEMBUNUH SUAMIKU!!" Yara meraung dengan keras. Menangis sejadi-jadinya dan memeluk erat tubuh suaminya.


Rhea merapatkan gigi. Apa dia baru saja membunuh seseorang?


Rhea?


Kemarin dia bahkan menyelelamatkan semut yang tenggelam di air dan hari ini dia membunuh seseorang.


Rhea menelan ludah tak percaya matanya berkilat tak percaya.


"I-ibu?" Celetuk seseorang di ambang pintu.


Rhea mencelos. Itu suara Yeira. Dia menoleh putus-putus ke arah suara itu dan mendapati Yeira yang berdiri dengan tatapan melotot. Dia berlari dengan cepat ke arah Orang tuanya.


"A-ayah. Kenapa? Si-siapa yang berani melakukan ini?" tanyanya dengan nada datar. Ah salah itu adalah nada marah yang ditahan.


"Rhea. Dia membunuh ayahmu!" ucap Yara dengan terisak.


"T-tunggu Yeira. B-bukan seperti i-itu." Ucap Rhea berjalan mendekat.


"Ibu bicara apa? Mana mungkin-eh? Panah ini,Rhea?" Air mata mengucur dari mata kiri Yeira menuruni pipi halus nan lembutnya.


"Dia membunuhnya!dia membunuhnya!" Yara meraung kembali dan menangis terisak lebih kencang sambil terus memeluk tubuh suaminya.


"Ti-tidak. Dengarkan aku dulu. Aku-"


"AAAAAAAAAAAAAAAAHHHH" Yeira berteriak menyela ucapan Rhea.


Rhea merasakan kemarahan juga rasa kecewa dari suara Yeira. Dia berjalan selangkah tapi ditahan oleh Niyaz. Dia menggeleng ke arah Rhea. Seolah-olah mengatakan 'Tak ada yang bisa dijelaskan lagi'.


Memang benar. Memang benar Rhea yang membunuhnya. Apa lagi yang harus dijelaskan.


"Ini panah yang aku buatkan untukmu untuk jaga-jaga kalau ada Dokkalfar yang mau menyakitimu." Ucap Yeira. Dia berdiri kemudian berbalik ke arah Rhea dengan tatapan lurus tanpa berkedip.


Dia tersenyum pahit. "Aku membuatkanmu panah beracun ini bukan untuk membunuh keluargaku."

__ADS_1


__ADS_2