
Suasana hening seketika saat Niyaz mengatakan itu. Pandangan Rhea beralih dari danau ke wajah pria berumur 21 tahun itu. Dia menatap wajahnya. Tidak ada kebohongan,Niyaz sepertinya memang berniat seperti itu.
"Kau pikir mereka akan tinggal diam. Mereka sudah menunggu bertahun-tahun untuk memakanmu. Siapa yang tau mereka bisa tahan berapa lama lagi kan" Lanjutnya.
Rhea menunduk. "Aku mengerti. Rasanya memang akan sulit. Tapi aku akan mengikutimu. Malam ini aku akan bicara pada Yeira. Haha,dia mungkin akan marah karna mengira aku menuduh orang tuanya jahat."
Niyaz menepuk kepala Rhea lalu mengacak rambutnya. "Dia akan mendukungmu. Dia juga mengerti sifat bangsanya. Tidak perlu khawatir." Ucap Niyaz lagi makin meyakinkan.
Rhea tersenyum sendu. Ah,Yeira pernah berjanji akan melindunginya dan tidak akan membiarkan ada bangsanya memakan Rhea,mungkin dia akan berpikir Rhea tak mempercayainya. Tidak,sangat mungkin Yeira akan kecewa.
"Kau memakai baju lengan panjang lagi. Apa ada luka yang disembunyikan?" Tanya Niyaz. Menyadari baju yang dikenakan Rhea memiliki lengan yang panjang. Biasanya gadis itu memakai baju tanpa lengan.
Rhea melihat lengannya lalu tertawa ringan. "Aku tidak bisa membohongimu ya. Kemarin aku jatuh saat berlari dan Yeira menggendongku sampai ke kamar. Orang tuanya melihat itu dan 'menghukum'ku karna membuat Yeira kesulitan." Jelasnya.
"Benarkah? Ah,aku ingin membalas mereka. Mana lukamu aku akan obati" Gerutu Niyaz sambil melipat lengan baju Rhea. Dilihatnya ada lebam biru yang lumayan besar.
Rhea hanya diam saja sambil mendengarkan ocehan Niyaz mengutuk kedua orang tua Yeira. Tangan Niyaz menyentuh lebam itu dan cahaya emas terlihat dari sana. Setelahnya luka lebam itu hilang seperti tak ada sebelumnya tanpa menyisakan sisa.
"Terimakasih" Ucap Rhea bersyukur karna memiliki pria itu.
"Ngomong-ngomong,aku tidak pernah mendengar tentang keluargamu. Kakak tau semuanya tentangku,tapi selain tahu kakak lyosalfar aku tidak tau apa-apa lagi." Ucap Rhea berusaha mengalihkan pembicaraan. Niyaz biasanya menggunakan sihirnya untuk mengubah warna rambut dan sayapnya agar bisa masuk ke wilayah ini. Saat ini pun dia berwujud seperti Dokkalfar pada umumnya. Bahkan Rhea hanya pernah melihatnya sekali saat berwujud lyosalfar. Itupun saat mereka masih kecil.
Niyaz terlihat meliriknya sekali lalu kembali memandang danau. Dia tertawa renyah sebelum berbicara."Aku hidup bersama ibuku sampai umurku 10 tahun. Selama itu aku tak mengenal ayahku. Lalu...." Ucapan Niyaz terhenti.
"Kenapa?" Tanya Rhea meminta kelanjutan ceritanya.
__ADS_1
"Bukan apa-apa. Lebih baik kita membicarakan tempat tinggalmu nanti. Aku sudah membuatkan rumah dengan taman dan kebun di belakangnya. Tanamannya belum ada tapi kita bisa menanamnya" Ucap Niyaz mengalihkan pembicaraan.
"Tapi nanti aku tinggal sendiri. Yeira tidak akan bisa kesana dan kau tidak bisa setiap hari disana. Akhirnya aku akan selalu sendiri." Nada tak semangat dari Rhea membuat Niyaz merasa gemas.
"Itu lebih baik dari pada disini jadi cadangan makanan" Ucap Niyaz langsung menohok.
"Haha,benar juga" Ucap Rhea dengan tawa datar.
Niyaz lalu bangun dari duduknya kemudian menepuk-nepuk celananya. "Baiklah,aku akan kembali nanti malam. Awas saja kalau kau tidak berani lagi. Yeira akan pergi kerumah temannya kan. Jadi kau akan sendiri sampai malam. Hati-hati." Ucap Niyaz.
"Eh,sekarang kau mau kemana?" Tanya Rhea penasaran. Apa dia punya teman disini yang ingin ditemuinya? Seorang Dokkalfar? Ah mana mungkin.
"Tidak kemana-mana. Mana mungkin aku membiarkanmu sendirian disini. Aku akan mengawasimu karna Yeira tak ada. Tapi,aku tak ingin terlihat oleh dua bedebah itu." Setelah mengatakan itu dia melebarkan sayapnya lalu terbang ke arah balik tembok tinggi taman.
"Dua bedebah? Siapa yang dia maksud?" gumannya sendiri.
"Wah kau kembali. Bagaimana penampilanku?" Tanyanya sedikit bersemangat.
Rhea mengerutkan dahi. Tadi gadis itu bilang sangat malas pergi tapi sekarang dia lumayan bersemangat.
"Kau sangat cantik. Bajunya juga cocok. Kau juga jadi bersemangat ya." Puji Rhea dengan senyum cerah diwajahnya.
"Baju ini dibeli di dunia manusia. Ayahku membawanya barusan. " Jelas Yeira. Dia berputar sekali dengan senyum diwajahnya memperlihatkan indahnya gaun dari ayahnya.
"Anak ibu dan ayah memang cantik memakai apapun. Benarkan,Rhea?" Tanya Yara mengelus kepala putrinya itu sambil menatap ke arah Rhea.
__ADS_1
Pundak Rhea merinding. Dia kemudian tersenyum." Tentu saja."
"Baiklah,Yeira akan pergi sekarang. Takutnya terlambat." Ucap Yardan buka suara.
Yeira langsung menggerutu."Oh yaampun aku malas sekali. Kenapa aku harus bergaul dengan mereka? Aku sudah mempunyai teman terbaik didunia kenapa aku harus bergaul dengan mereka." Gerutu Yeira.
Ayahnya kemudian menepuk pundak Yeira sambil tertawa. "Jangan begitu. Kau memang punya teman tapi kau harus tetap bergaul dengan bangsamu sendiri agar kau belajar."
"Ha? Belajar apa? Aku sudah cukup pintar. Rhea juga sering mengajariku" Tutur gadis itu.
Rhea hanya diam melihat kehangatan keluarga ini. Dia tak pernah mengharapkan dirinya merasakan keluarga. Memiliki teman dan kakak seperti Yeira dan Niyaz sudah cukup untuknya.
"Dengan segala kemalasan aku pergi." Pamit Yeira membuka sayapnya dan terbang menjauh menuju keluar.
Rhea merasakan hawa aneh dipunggungnya. Dia kemudian pamit kekamarnya. Sebelum melangkah ucapan Yara-ibunya Yeira- Menghentikannya.
"Kau mau kemana?" Tanyanya.
"Aku mau ke kamar." Jawab Rhea dengan suara rendah dan kepala menunduk.
"Kepalaku pusing sekali. Jadi aku mau darahmu." Ucap Yara sambil mendekat. Rhea tentu saja mundur beberapa langkah.
"Tidak,aku tidak mau" cicitnya menatap takut ke arah wajah Yara yang memandangnya dengan tatapan lapar.
"Aku tidak memintanya. Aku tak butuh persetujuanmu." Ucapnya lalu merobek lengan bajunya.
__ADS_1
Matanya terlihat terkejut. "Mana lukamu. Harusnya tak sembuh secepat ini. Apa kau memang punya penyembuhan sangat cepat. Kalau begitu baguslah. Aku yakin rasanya pasti akan enak." Ucapnya sambil mengeluarkan kuku tajam panjangnya dan menggores legan gadis itu.
Rhea menahan sakit sebisanya. Mulutnya tak bersuara karna terlalu takut. Rasanya luka itu lumayan dalam sampai darah yang menetes lumayan banyak.