UNEARTH

UNEARTH
Apa yang dia inginkan?


__ADS_3

"Jadi apa syaratnya? Kau ini jahat juga ya mengambil kesempatan di dalam kesempitan. Kau tidak ikhlas menolong kami" Tanya Rhea dengan kata-kata sarkas.


Honora mendengus. "Tidak ada yang gratis didunia ini tau." Ucapnya. "Kalau aku jelaskan justru aku yang meminta tolong pada kalian"


"Apa maksudmu? Ah sudahlah. Katakan saja,biarkan kami istirahat disini. Kenapa orang-orang sangat pelit memberikan bantuan." Wajah kesal Niyaz sudah terpampang jelas. "Begini saja. Kami tak butuh bantuanmu. Rhea,ayo kita pergi."


Niyaz menarik tangan Rhea keluar rumah sederhana itu. Rhea sangat ingin beristirahat begitupun dengan Niyaz,tapi mereka tak yakin syarat yang akan diberikan Honora adalah hal yang mudah dilakukan.'Semua mahluk di wilayah sini memang pamrih' Begitu pikir Niyaz. Mereka sudah tiba halaman dan terus maju sampai suara Honora terdengar.


"Apa aku sudah memberitahu kalian kalau hutan ini luas. Binatang disini juga tidak ramah. Selain itu memangnya kalian tau jalan ataupun arah mata angin?" Honora tersenyum santai sambil menyender di ambang pintu.


Rhea dan Niyaz memandangi sekitar. Pepohonannya terlihat sama. Namun senyum di wajah Niyaz malah tampak. Walaupun pohonnya terlihat sama tapi masih ada penunjuk jalan. Langit sangat cerah hari ini,bintang bisa jadi penunjuk. Rasi bintang selalu bisa diandalkan.


"Maaf ya. Kami tidak mau membantumu." Ucap Niyaz melenggang pergi kedalam hutan. Ah,rasanya mereka memang sudah di hutan. Lebih tepatnya kembali menyusuri hutan.


Honora menatap datar sambil mendengus melihat dua orang itu pergi. "Aku jadi sendiri lagi,"


"Aku jadi sendiri lagi,kata si gadis itu. Aku mendengarnya." Ucap Rhea membuka pembicaraan.


"Ah,biarkan saja. Kita memang sudah mengantuk tapi kita tak bisa asal mengambil janji membantu dia. Apalagi dia ada di wilayah sini. Jujur saja,selain Yeira aku tak mempercayai mahluk lainnya diwilayah ini." Jelas Niyaz. Laki-laki itu menghidup matikan cahaya alami tubuhnya seakan memainkannya dengan sengaja.


"Hey,hentikan itu. Itu menyebalkan tau. Kau seperti lampu kerlap kerlip saja." Ucap Rhea. Niyaz mendelik lalu menghentikan itu. Tubuhnya tak mengeluarkan cahaya lagi.


Mereka berdua terus berjalan semakin jauh menuju ke perbatasan. Sampai saat mereka sampai di sebuah sungai. Mereka kemudian berhenti sambil memperhatikan sekitar. Melihat apakah ada Dokkalfar atau binatang yang bisa menyerang mereka. Setelah beberapa saat kemudian mereka memilih duduk di tepi sungai sekaligus mencuci wajah mereka yang terasa lengket karna keringat. Entah berapa lama mereka berjalan. Menyegarkan muka sangat dibutuhkan saat ini.


Niyaz menghela napas. Laki-laki itu duduk di batu besar di samping sungai. "Hey,aku boleh sesuatu?"


Rhea mengangkat satu alisnya. "Apa?"

__ADS_1


Niyaz terlihat menimbang-nimbang. "Apa kau merasa menyesal telah membunuh si sialan itu?"


Rhea terdiam beberapa saat. Baru saja dia melupakan hal itu. Tapi Niyaz malah mengingatkannya kembali. Rasanya aneh saat Rhea merasakan senang dan merasa bersalah dalam waktu bersamaan. Pandangannya jatuh kebawah. "Aku tidak tau. Aku benar-benar membenci mereka. Tapi mereka orang tuanya Yeira. Sekarang dia pasti sangat sedih juga kecewa. Ah,rasanya aku ingin melupakan kalau aku dan dia bersahabat agar aku bisa merasa lega telah terbebas dari mereka."


Niyaz menghampiri Rhea lalu memeluknya. "Kau tidak salah. Kalau ada keajaiban,aku yakin Yeira akan mengerti."


"Kalau ada keajaiban,katamu?" Rhea tersenyum pahit. Dia selalu berpikir terus menerus kira-kira apa yang akan Yeira lakukan padanya setelah ini. Membunuhnya? Menyiksanya? Atau mungkin dia akan membunuh orang didekatnya seperti yang Rhea lakukan pada gadis itu. Rhea mendongkak. Jika kemungkinan terakhir terjadi maka yang akan menjadi korban adalah Niyaz. Yeira sudah mengenal Niyaz sejak kecil,dia juga mempercayainya. Bukan sebagai Dokkalfar,melainkan sebagai seorang Lyosalfar. Iya,dia tahu semuanya. Yang tidak dia ketahui hanya perlakuan orang tuanya sendiri pada Rhea.


"Tenagaku sudah pulih,ayo kita terbang lagi dan menuju perbatasan. Sudah ada temanku yang menunggu disana." Ajak Niyaz diangguki Rhea.


Niyaz tersenyum lalu menggendong gadis itu dan melebarkan sayapnya. Cahaya alami tubuh Elf bersinar dari Niyaz. "Tidak apa-apa aku kira jika membiarkan seperti ini. Menahan cahaya itu lumayan menguras energi. Lagipula aku tak melihat Dokkalfar satu pun. Kecuali si gadis suara berat itu pastinya."


Rhea hanya menanggapi dengan tawa datar. "Berhentilah menyebutnya seperti itu. Dia bukan orang jahat." Ucap Rhea"Sepertinya" Lanjut dia lagi.


"Aku lapar sekarang. Jika saja tadi kita mengambil beberapa buah dari Honora mungkin itu bisa mengganjal perut. Tapi aku takut ada sesuatu di buahnya." Ungkap Rhea.


Sebuah panah tiba-tiba melayang hampir saja menembus kepala Niyaz. Mereka lalu melihat ke arah panah itu datang. Kedua mata mereka melotot. Sekelompok Dokkalfar tiba-tiba sudah ada di belakang mereka. Jumlah mereka hanya 5 orang tapi kalau melawan itu sangat sulit. Kedua tangan Niyaz memegang tubuh Rhea didepan. Jika Niyaz mengeluarkan bola cahaya untuk menyerang itu akan lumayan sulit.


"Ada manusia!!! Tangkap dia!!!" Seru salah satu dari mereka.


Niyaz menggertakan gigi. Saat ini dia hanya bisa terbang menghindari panah dari mereka. Rhea melirik kebelakang. Mereka seperti ingin melahapnya sekarang juga. "Kita tidak bisa terus menghindar. Ayo turun dan hadapi nereka di bawah. Sulit bagimu jika rerus terbang sambil membawaku." Saran Rhea.


Niyaz kemudian menolak. "Apa kau gila? Mereka bisa terbang dan kau tidak. Kau mau apa?"


"Aku punya panah yang dibuat Yeira. Kita bisa membunuh mereka sekarang." Ucap Rhea tak mau mengalah.


Saat perdebatan itu terjadi sebuah panah melesat melukai sayap Niyaz membuatnya langsung kehilangan kendali. Mereka berdua kemudian jatuh beberapa meter dari permukaan tanah. Tanpa berlama-lama sesaat setelah jatuh Rhea mengarahkan panahnya dan merupakan sakit di punggungnya akibat jatuh.

__ADS_1


Panah Rhea melesat menancap tepat di dada Dokkalfar itu. Sesaat kemudian Dokkalfar itu langsung menjadi debu.


Sekelibat bayangan saat dia membunuh Yardan melintas dikepalanya. Rhea membatu ketika mengingat tangis Yeira dan wajah kecewa Yeira. Matanya sekarang benar-benar tak berkedip.


Niyaz melihat itu,langsung menyadari. Dia melempar bola cahaya dan langsung tepat di dada Dokkalfar lainnya. Tiga Dokkalfar menjadi korban dari Niyaz. Dia kemudian melihat sekeliling mencari satu lagi. Tapi nihil. "Bukan saatnya melamun. Hey!"


Ucapan Niyaz seakan menyadarkan Rhea kembali ke dunia nyata. Dia sudah membunuh orang tua sahabatnya dan itu tidak bisa di ubah. Yang bisa dia lakukan sekarang adalah menghadapi musuh didepannya. Niyaz benar. Bukan saatnya melamun. 'Sadarkan dirimu sendiri Rhea' Rhea menanamkan itu dalam kepalanya mulai sekarang.


Sebuah suara gersakan semak-semak terdengar di telinga mereka berdua. Rhea mengangkat busur panahnya bersiap. Dia menunggu-nunggu apa yang akan keluar dari semak didepannya. Niyaz memegangi bahunya merasakan panah dokkalfar itu lumayan melukai sayapnya. Tapi matanya masih tajam bersiap jika harus terus bertarung.


"Wah,wah. Kalian kesulitan ya"


Suara berat itu datang bersamaan dengan tubuh Honora yang melempar badan salah satu Dokkalfar yang menyerang mereka berdua. Padahal badan Honora terlihat kecil tapi dia bisa melempar begitu saja seorang Dokkalfar dewasa yang tentu saja lebih besar dari tubuhnya.


Rhea dan Niyaz menatap aneh juga kebingungan. Bagaimana orang ini bisa ada disini?


Honora kemudian menginjak lengan Dokkalfar itu sampai terdengar suara tulang retak. Rhea bergidik. Apa-apaan gadis ini? Tenaganya kuat sekali.


"Akukan sudah bilang untuk tetap dirumahku." Ucapnya dengan santai.


"Kenapa kau disini?" Tanya Niyaz.


"Apa itu penting? Berterimakasihlah padaku. Orang ini mau pemanah jitu. Dia sudah menargetkan si manusia loh." Jelas Honora.


Niyaz kemudian mendesis merasakan lukanya makin parah. Rhea melihat sayap kiri Niyaz berubah warna. Sayap putih itu berubah menjadi warna merah karna darah yang mengucur dari luka Niyaz. "Kakak,lukamu parah sekali." Panik Rhea. Walaupun disekitaran ini gelap tapi sudah jelas kalau luka Niyaz lumayan parah.


"Ah,aku tau. Si sialan itu memanah sayap kiriku. " Ucap Niyaz kesal.

__ADS_1


Honora kemudian bertepuk tangan sekali. Dengan wajah tersenyum dia maju. "Nah,bagaimana kalau kita kerumahku sekarang?"


__ADS_2