
Yeira mendekat lalu mengguncang bahu Rhea dengan kencang. "Dasaaar!!! Padahal aku kembali karna mau merawat lukamuu!! Kenapa kau melakukan ini? Kupikir kau teman!!!"
Tangan Yeira yang memengang lengan terluka Rhea dengan kencang membuat darah itu merembes dan kembali mengalir. "Ini bukan salahku. Ini salah paham. Kau harus mendengarkan aku dulu!" Ucap Rhea berusaha membuat Yeira mengerti. Rasa sakit dilengannya tak dirasakannya. Air mata membanjiri wajah keduanya.
"Aku mohon. Aku benar-benar tak bersalah" Ucap Rhea lagi.
"BAGAIMANA KAU TIDAK BERSALAH HAH?! AKU BAHKAN MENAHAN DIRI SAAT MELIHAT DARAHMU TAPI INI BALASANMU PADAKU?! JIKA AKU MAU AKU PASTI SUDAH MEMBUATMU JADI MAKANAN SEJAK DULU!!! AH SIALANN" Bentak Yeira.
Dirinya terasa dikhianati. Padahal mereka sudah berteman sejak lama. Bahkan setiap kali Rhea terluka,dia tak pernah sekalipun merasa tergoda. Tapi perbuatan gadis manusia itu tidak bisa dimaafkan. Panah yang menancap di tubuh ayahnya adalah panah beracun. Dia membuatnya sendiri untuk digunakan oleh Rhea jika dia sedang tidak ada dan agar Rhea bisa melindungi dirinya.
Yeira mengacak rambutnya frustasi. Dadanya terasa bergemuruh dan terasa panas. Rasa kemarahan aneh yang merasuki tubuhnya tak bisa dia terima. Dia masih tidak percaya dan tidak terima.
Melihat situasi jauh tak terkendali Niyaz menggendong Rhea yang masih mematung menerima cacian Yeira padanya. Dia melebarkan sayapnya dan terbang melalui balkon kamar menjauh dari rumah besar itu.
Yeira mengeluarkan bola hitam dari tangannya dan mengarahkannya ke arah seorang Lyosalfar dengan tubuh bercahaya itu.
Tangannya kemudian turun lagi.
"Tidak,aku tidak bisa. Dia sahabatku" Lirihnya. Dia jatuh terduduk. Padahal kalau bisa mengejar. Dia juga mempunyai sayap kuat. Sihirnya pun tak bisa dianggap remeh tapi kenapa dia bahkan tidak bisa mengeluarkan kekuatannya. Sekarang dia hanya ingin menangis. Ayahnya tiada,itu pun karna sahabatnya.
Yeira melihat ke telapak tangannya. Darah Rhea membekas di tangan gadis Dokkalfar itu. "Apa yang terjadi hari ini pada kita? Aku tak tahu."
***
Niyaz dan Rhea duduk di sebuah dahan pohon besar di hutan Dokkalfar. Mereka diam di dahan yang lumayan tinggi. Cukup untuk membuat seseorang mati jika terjun ke bawah.
Rhea menekuk lutunya dan bersandar. Dia menangis terisak. Apa yang sudah dia lakukan hari ini?
Apa yang terjadi padanya hari ini?
"Sudahlah. Aku mengerti perasaanmu. Kita tidak bisa kembali untuk menjelaskan. Kau sudah lihat sendiri kan bagaimana reaksinya. " Ucap Niyaz menenangkan.
"Sudahlah? Kau pikir semua ini bisa selesai begitu saja. Yeira pasti sangat membenciku sekarang." Keluhnya.
Rencana Rhea untuk pamit hilang seketika. Ini mah bisa disebut perpisahan. Jantung Rhea berdegup kencang. Dia kembali mengingat perbuatannya hari ini. Ah,rasanya sangat aneh. Rhea merasakan sesuatu yang tak bisa dia deskripsikan.
"Menurutku kita harus pergi sekarang ke wilayah Lyosalfar. Aku tidak bisa berubah lagi dan kau tidak bisa diam disini terus. Aku tak mengerti tapi aku takut darahmu tercium dan membuat mereka datang." Jelas Niyaz.
"Tapi kau sedang terluka. Lihat dahimu berdarah. Aku tak bisa melihat dengan jelas tapi kau pasti tak hanya memiliki satu luka saja." Ucap Rhea khawatir.
Niyaz pikir apa yang dikatakan Rhea tidak perlu. Dia adalah seorang Lyosalfar. Elf s lebih kuat secara fisik dari manusia. "Kau terlalu khawatir. Terimakasih. Aku baik-baik saja. Ayo kita pergi."
"Kau yakin? Bukannya tubuh Lyosalfar selalu bercahaya,tapi cahayamu redup." Ucap Rhea sambil memandang lurus ke arah pria itu.
"Ah,aku sengaja. Biasanya ini bukan sesuatu yang bisa dikontrol sesuka hati. Tapi beberapa elf bisa melakukannya." Jelas Niyaz lagi. "Lagi pula kalau cahayanya dilihat Dokkalfar bisa berbahaya kan"
Rhea mengangguk. Dia kemudian digendong dan bersama Niyaz dia terbang di bawah langit malam. Angin dingin terasa menusuk. Rhea bertanya-tanya apakah Elf juga merasakan dingin. Mereka harusnya lebih kuat kan?
__ADS_1
"Kakak,kenapa kakak begitu baik padaku?" Tanya Rhea tiba-tiba.
Niyaz melirik sekilas lalu menyunggingkan senyum kecil. "Bagaimana ya. Kau anak menyedihkan 11 tahun yang lalu."
Rhea memukul bahu Niyaz membuatnya sedikit oleng. "Hey,jangan seperti itu. Bahaya tau" Kesal Niyaz.
Rhea malah nyengir tak merasa bersalah. "Tapi serius ya. Aku heran kenapa kau seperti ini. Kalau kau tak bertemu denganku,kau tak perlu bermasalah dengan Dokkalfar. Tidak perlu memasuki wilayah sini yang berbahaya untuk elf sepertimu. Juga tidak perlu mengurus orang sepertiku. Kau bisa bahagia hidup di wilayah bangsamu sendiri. Aku dengar wilayah Lyosalfar sangat indah"
Niyaz malah tertawa renyah. "Yah,karna kau seperti adikku saja. Aku akan membawamu ke sana agar kau bisa melihat sendiri keindahan wilayah kami."
Lagi-lagi jawaban yang sama. Dia selalu bilang hal sama saat ditanya. Karna kau seperti adikku. Selalu seperti itu.
Rhea memperhatikan sesuatu di wajah Niyaz. "Wajahmu pucat. Apa tak apa jika kau memaksakan dirimu? Apa terjadi padamu sampai rasanya energimu terkuras habis?"
Terlintas apa yang terjadi malam ini. Mungkin Yardan melakukan sesuatu pada Niyaz sampai energinya terkuras habis.
"Kenapa kau bilang begitu? Aku ini kuat butuh waktu satu hari dengan terbang untuk kita sampai. Karna aku tidak bisa berpindah tempat seperti biasanya kita akan mengebut malam ini agar pagi hari kita sudah sampai" Jelas Niyaz panjang lebar.
"Tidak,kau sedang tidak baik. Ayo kita turun dan beristirahat dulu." Ajak Rhea.
"Tidak,berbahaya jika kita tetap diwilayah ini. Setidaknya kita harus sampai di perbatasan dulu." Putus Niyaz tak mau mengalah.
***
"Sialan...sialan...kepalaku pusing." Keluh seseorang.
"Eh,kau terbangun ya. Sebentar lagi kita sampai." Ucap Niyaz dengan suara lelah.
"Kita turun saja. Keadaanmu makin memburuk. Bukannya berbahaya jika tetap melanjutkan. " Bujuk Rhea kembali.
"Tanggung,sebentar lagi-" Ucap Niyaz seaaat sebelum dirinya oleng. Sayapnya terasa tak sanggup lagi melanjutkan. Mereka berdua jatuh walaupun tak terlalu tinggi karna Niyaz berusaha menstabilkannya sedikit sebelum mereka benar-benar jatuh.
Brukkk
Mereka berdua terjatuh di atas rerumputan. Rhea mendongkak menatap langit. Malam masih panjang. Dia melirik Niyaz yang terlihat sudah lelah. Dia membantunya bangun. Mereka berdua akhirnya hanya duduk sambil menatap langit.
Tak ada yang mau berbicara. Rhea masih mengingat kejadian itu membuatnya tak mau berkata apa-apa lagi. Sedangkan Niyaz,Lyosalfar itu sangat kelelahan juga terluka.
Dia malam yang panjang ini mereka berdua diam dalam keheningan. Niyaz memilih berbaring diikuti Rhea. Mereka berdua berbaring sambil menatap langit. Sepanjang jalan dia tak melihat ada Dokkalfar membuatnya merasa aman. Mungkin sebentar. Biarkan mereka beriatirahat sejenak. Sebentar saja sampai mereka mempunyai kekuatan untuk terus maju. Apalagi Rhea yang entah akan menjalani hidupnya seperti apa. Dia sudah tidak bisa kembali pada Yeira. Dia hanya bisa terus maju.
Sebuah suara dari semak-semak membut kedua orang itu bangun dan menegakkan tubuh mereka. Seorang muncul dari balik semak-semak itu sambil membawa lentera dari kumpulan kunang-kunang yang bercahaya terang.
Rhea dan Niyaz tak tau harus berkata apa. Yang mereka lihat membuatnya bingung menentukan apakah dia itu kawan atau lawan.
"Siapa kau?" Tanya Niyaz berdiri di depan Rhea.
Seseorang itu memiliki tubuh seperti Dokkalfar. Tapi yang membuatnya aneh adalah dia tak memiliki sayap. Tubuhnya tertutupi jubah hitam dengan tudung dikepalanya.
__ADS_1
"Aku bukan orang jahat. Aku hanya ingin lewat" Ucap orang itu. Mereka berdua tak bisa menebak dia ini perempuan atau laki-laki. Suaranya sedikit berat tapi tubuhnya sedikit lebih tinggi dari Rhea.
Niyaz mengeluarkan bola cahaya emas di telapak tangannya. "Kau ini apa? Dokkalfar? Apa kau mau menyerang kami?"
"Whoa,santai saja bung. Aku...emm. bisa disebut Dokkalfar tapi aku juga manusia seperti perempuan itu. Ah,begitulah." Jelas orang itu.
"Tidak ada jaminan kau baik. " Ucap Niyaz sambil mengarahkan tangannya ke arah orang itu. Namun sebelum menghempaskan sihirnya tubuh pria itu oleh kebelakang. Rhea menahan tubuh jangkung pria itu.
"Kau kenapa memaksakan diri. Sudahlah. Dia sepertinya orang baik." Ucap Rhea.
"Kau butuh bantuan. Rumahku di dekat sini. Kau bisa kerumahku untuk beristirahat dan juga makan." Ajak orang itu.
Rhea dan Niyaz menimbang-nimbang sesaat. Akhirnya mereka setuju. Dia akhirnya menunjukan jalan kerumahnya. Memang benar rumahnya tak jauh dari tempat mereka. Sesampainya mereka,orang itu menyalakan lilin dan menggelar karpet untuk duduk.
Rhea memperhatikan rumah ini. Rumahnya terbuat dari bambu bahkan karpetnya sudah lusuh termakan usia. Tapi rumah ini terasa nyaman karna bersih. Hanya ada ruangan kosong disini,tak ada kursi,meja,ataupun hiasan. Benar-benar polos.
Orang itu kemudian menyuguhkan buah-buahan dan makanan kecil untuk mereka. Niyaz dan Rhea masih terlihat ragu.
Melihat keraguan mereka orang itu mengerti."Tenang saja,aku tidak menaruh racun disini." Dia mengambil satu makanan lalu memakannya. Membuktikan bahwa kecurigaan mereka salah.
"Kenapa kau menolong kami? Kita kan tidak saling kenal." Ucap Niyaz buka suara.
"Tadinya aku cuma mau lewat,tapi kalian sepertinya sedang butuh bantuan" Jelas orang itu. "Ah,aku hampir lupa. Namaku Honora" Lanjutnya memperrkenalkan diri.
Honora membuka tudungnya memperlihatkan wajahnya. Ah,dia seorang perempuan.
"Ah,ternyata kau seorang perempuan." Ucap Niyaz dengan polosnya.
"Maksud?" Tanya Honora.
Rhea menyikut lelaki itu yang malah dibalas tatapan mengatakan 'apa salahku?'
"Kalian tidak bisa lihat fisikku? Sudah jelas aku ini perempuan kan. " Ucap tak terima Honora.
"Suaramu tidak seperti perempuan tuh" tambah Niyaz lagi.
"Apa?!" Honora memperlihatkan wajah kesalnya.
Rhea kemudian berdehem berusaha menghentikan obrolan aneh ini. "Sudahlah,kakak. Aku Rhea,ini bisa dibilang kakakku namanya Niyaz. Salan kenal honora" Ucap Rhea dengan nada biasa. Dia bahkan tidak bisa tersenyum karna masih memikirkan kejadian tadi. Dia jadi sedikit merasa tak enak. Bisa saja Honora merasa dia orang jutek.
"Ah,tadi aku tidak bisa menebak kau apa" Tambah Niyaz lagi.
Honora menghela napasnya. "Lupakan saja. Kalian sepertinya tidak tidur semalaman,sebentar lagi matahari terbit. Beristirahatlah disini. "
"Terimaka-"
"Dengan satu syarat" Lanjut Honora menyela.
__ADS_1
Rhea mengerutkan dahi. Apa-apaan orang ini? Dia pikir orang ini baik,ternyata ada maksud tersembunyi. Ha,pikiran orang lain memang sulit ditebak.