
Pemandangan negeri tanah di pagi itu sangat memukau. Ke empat negara telah tiba, mereka bermunculan dari 4 arah mata angin yang berbeda. Mereka kemudian dengan serempak berjalan bersama-sama menuju kerajaan Terra yang merupakan pusat dari pemerintahan negeri tanah. Mereka akan berdiskusi di tempat itu, lebih tepatnya di sebuah ruangan besar melingkar yang tersembunyi di balik dinding kerajaan tersebut.
Mereka menempati kursi yang sudah ditandai untuk masing-masing negara. Di utara, terdapat sisi negeri tanah selaku penyelenggara. Barat laut, ditempati negeri api. Barat daya di isi negeri petir. Tenggara negeri air, dan timur laut diduduki oleh negeri angin.
Feng Lian, sebagai Apotheosis ke-5 juga perwakilan dari negeri air mulai menceritakan sudut pandangnya dan kejelasan cerita mengenai kiamat ular, di bantu dengan rekannya Hong Eunchae yang merupakan Apotheosis ke 8 negeri air.
Satu ruangan menyimaknya, walau sesekali ada yang menginterupsi dengan bertanya. Mereka kemudian mulai membahas dari berbagai titik yang berkemungkinan, lalu mencari penyelesaian paling cocok untuk seluruh pihak. Semua nampak antusias, kecuali perwakilan dari negeri api yang terlihat angkuh.
"Kau tidak akan bicara apa-apa, Gongzun Yuan?" Tanya Exori, Apotheosis ke-1 negeri tanah.
Pria berbadan besar yang disinggung Exori tadi menjawab: "Negara api datang kesini bukan untuk bicara."
"Lalu, kenapa kalian disini?"
"Kami datang untuk mendeklarasikan perang."
Seisi ruangan nampak tercengang, mereka tidak menyangka kalau pernyataan itu akan keluar dari mulut Yuan. "Negeri angin dan negeri air sudah kami serang beberapa jam yang lalu. Negeri tanah pun akan segera terbakar menjadi abu."
"Apa maksud dari semua ini?!" Tanya Feng Lian, emosi.
Inei memerintahkan Vaas agar segera kembali ke negeri angin untuk mengecek kenyataannya. Sementara yang lainnya diminta oleh Inei untuk bersiap bertarung disisinya
"Negeri api adalah negeri penguasa. Tidak bisa kalian pungkiri lagi." Jawab Yuan.
Alarm tanda bahaya tiba-tiba berdering kesepenjuru negeri, para tentara kerajaan mulai membuat kegaduhan dilorong-lorong istana. "Ini adalah sebuah peringatan, dari Gongzun Han, raja terakhir kita semua."
Tanpa melakukan banyak perlawanan, Gongzun Yuan ditangkap dan di jatuhkan kepenjara bawah tanah milik negeri tanah atas segala perbuatannya pada malam itu. Api yang menyelimuti negeri tanah juga telah berhasil dipadamkan dengan kerja sama ke empat negara, seluruh pasukan negeri api yang dilapisi zirah anti sihir telah di sapu bersih, tetapi semuanya masih belum berakhir bagi negeri air dan negeri angin.
Vaas tak kunjung kembali, menandakan kalau negeri angin sudah jatuh kepada pasukan negeri api. Keadaan pun semakin kacau, semua pihak menjadi sangat khawatir ketika pengendali sihir ruang dan waktu, yang merupakan salah satu sihir terkuat di muka bumi, telah ditaklukan oleh lawan dengan begitu mudahnya.
Negeri tanah mengakhiri pertemuan, Mereka kemudian meminta seluruh anggota dari pertemuan itu untuk kembali ke negaranya masing-masing saat pagi hari tiba.
Mereka memberikan ruang tinggal semalaman untuk masing-masing negara. Inshun nampak tertekan dikamarnya, ia masih tidak percaya kalau kuil kokufuji di nara telah dihanguskan oleh api.
__ADS_1
Inshun kemudian mendengar suara batuk dari luar ruangan, ia menghampirinya dan mendapati Inei yang tengah tertunduk dengan segumpal darah ditelapak tangan.
"Waktuku sudah tidak banyak." Ungkap Inei dengan suara serak. "Seharusnya tidak berakhir begini."
"Guru!" Inshun memegang kedua bahu Inei, lalu merebahkannya.
"Bantulah negeri air, Inshun. Mereka membutuhkan pertolongan kita." Ucap Inei.
"Tapi bagaimana dengan negeri angin?"
"Kita membutuhkan aliansi ini, Inshun. Jangan ragukan kata-kataku lagi." Tegas Inei. "Bawa yang lain bersamamu, karena sekarang, kau adalah warisan hidupku."
Nafas terakhir Inei telah dihembuskan, bersamaan dengan energi jiwanya yang berpindah ketubuh muda Inshun.
Sambil menahan tangisannya, Inshun memeluk tubuh dingin Inei. Beberapa menit kemudian, Apotheosis lain dikabarkan atas kepergian Inei di malam itu. Mereka lalu menyempatkan sebuah acara duka singkat di pagi harinya, tepat sebelum berpisahnya keempat negara.
Selama acara duka tersebut berlangsung, Inshun tidak henti menatapi wajah Feng Lian. Inshun harus menawarkan bantuannya pada wanita itu agar sebuah aliansi bisa tercipta.
Saat mereka mulai bubar, Inshun beserta Apotheosis negeri angin lainnya menghampiri Feng Lian juga Eunchae.
Feng Lian dan Eunchae menoleh, lalu menerima ajakan bicara tersebut. "Kami akan membantumu dalam mempertahankan negeri air."
"Kalian serius? bukankah negeri kalian juga sedang diserang?" Tanya Feng Lian.
"Aku juga tidak terlalu mengerti, tapi ini adalah permintaan terakhir guruku." Balas Inshun.
Feng Lian tercengung sebentar. ia teringat dengan mendiang gurunya yang tewas di peperangan 5 tahun lalu. Ia sangat mengerti perasaan Inshun yang ingin menyelesaikan permintaan terakhir itu, maka karenanya, ia menerima tawaran Inshun.
Bersama-sama mereka pergi meninggalkan negeri tanah dengan menaiki sebuah kapal menuju negeri air yang membutuhkan bantuan.
Jantung Inshun berdegup kencang. Dari dulu dia memang sudah berkeinginan untuk pergi menjelajahi dunia, dan sekarang dia mendapatkan sebuah kesempatan yang jarang sekali ia dapatkan.
"Terimakasih, guru." Gumamnya. Angin laut tiba-tiba bertiup kencang, menyentuh kulit Inshun secara perlahan. Seolah-olah Inei datang kembali untuk berpisah dengannya.
__ADS_1
Mata Inshun mengikuti hembusan angin itu, Mata Inshun lalu tidak sengaja menemui Feng Lian yang tengah berjalan anggun kearahnya.
"Ada apa?" Tanya Inshun.
"Saat sudah sampai di negeri air, apakah kau memiliki sebuah rencana?"
Inshun menggeleng. "Tidak, kau?"
"Bagus. Aku dan Eunchae berencana untuk membentuk tiga tim. Satu akan pergi berperang, dan satunya lagi akan pergi mencari bantuan, tim terakhir bertugas untuk mengevakuasi." Jelas Feng Lian. "Bagaimana?"
Inshun memberikan jempolnya. "Negeri angin akan membantumu."
"Baiklah, tolong koordinasikan tim mu malam ini, Inshun."
Inshun diam, lalu menempelkan dagunya ke atas telapak tangan. Lelaki itu bersandar di dinding kapal sambil bersiul, ia mengira kalau Feng Lian sudah pergi. Namun kenyataannya, wanita itu masih berdiri disampingnya, menatapi lautan biru dekat tanah airnya.
"Ceritakan tentang dirimu, nona." Celetuk Inshun.
Feng Lian melirik, lalu ikut bersandar. Wanita itu nampak tersenyum sebelum menceritakannya. Inshun turut senang akan itu, karena senyuman tadi menandakan bahwa Feng Lian menikmati hidupnya.
Hidup yang begitu singkat, namun jarang sekali di hargai tiap detiknya.
Inshun sesekali berdeham ketika mendengarkan kisah Feng Lian. Wanita dewasa itu telah melalui masa-masa sulit. Latar belakang mereka tidak jauh berbeda, hal tersebut membuat mereka jadi mudah akrab. Mereka menertawai hal-hal memilukan yang dulu mereka tangisi. Rasanya seperti mengkhianati masa lalu.
Tak terasa, mereka sudah kembali berjumpa dengan malam.
Kini Inshun duduk didepan ketiga Apotheosis negeri angin. Mereka akan dibagi menjadi 3 tim.
"Aku akan pergi berperang." Cetus Honda, dengan senyuman khasnya yang terlihat mengerikan. Lelaki itu sebenarnya berwajah tampan, tapi kebiasaan buruknya itu membuatnya ditakuti oleh banyak orang.
"Kalau begitu, Yuki, tolong evakuasi para warga. Shin, aku membutuhkan keahlianmu." Ujar Inshun.
"Apa yang akan kita lakukan?" Tanya Shin.
__ADS_1
"Sepertinya... Mencari legenda hidup."