
Sesampainya di pelabuhan Qinhuangdao, terlihat kobaran api menjalar tinggi dilengkapi dengan asap yang menebal hitam menghiasi lautan biru di atas negeri air.
Bala bantuan yang baru tiba mulai berpencar. Feng Lian ikut berperang bersama dengan Honda, Yuki dengan puluhan pasukan lainnya pergi mengevakuasi warga. Sementara Inshun, Shin, dan Eunchae akan pergi mencari bala bantuan terkuat yang dimiliki oleh negeri air.
Shin membentuk sebuah segel dengan tangannya (keempat jari diluruskan, dibuat berpotongan, sehingga membuat refleksi bayangan di atas tanah yang menyerupai seekor burung) lalu dari balik bayangan itu, muncul seekor hewan gaib yang bernama Nuri. Hewan gaib itu adalah seekor burung raksasa yang di anghao terkuat di negeri angin. Shin bisa mengendalikan hewan itu sepenuhnya.
"Dimana legenda ini berada?" Tanya Inshun.
"Desa Jiangsu. Desa terpencil dekat lautan selatan."
...----------------...
Agni, anak angkat dari Gongzun Han, menatap wilayah peperangan dengan dagu yang terangkat tinggi. Gerbang kerajaan Sean sudah berhasil di jebol oleh pasukan garda depannya, kemenangan yang lain akan segera ia raih. Kekuasaan ayahnya akan semakin merajarela.
Namun, tiba-tiba saja sebuah berita buruk menghampiri telinganya. Sebuah ledakan besar baru saja menyapu bersih ratusan pasukan negeri api.
"Apa-apaan?!" Agni menatap ledakan berulang itu dengan mata yang memicing kesal. "Kenapa zirah anti sihirnya tidak berfungsi?"
"Perhatikan pertarungan itu baik-baik. Lawan tidak membunuh dengan semua ledakan itu, tuan muda." Koreksi Benimaru, pelayan setia Agni. "Ledakan hanyalah pengalihan. Sihir telekinesis lah lawan kita yang sebenarnya."
"Apa maksudmu? Telekinesis 'kan juga sihir!"
"Pasukan kita mati dalam kondisi tertusuk kayu. Lawan sudah beradaptasi dengan kekuatan kita." Ungkap Benimaru. "Kita mundur sekarang. Bala bantuan dari negeri angin akan segera datang, kita serang kembali saat mereka tiba."
Agni mengangguk, lalu memerintahkan pasukannya yang tersisa untuk kembali ke tepi pantai utara yang sudah dijadikan sebagai markas utama sementara milik mereka.
Melihat kemunduran itu, Honda tertawa girang lalu menepuk tangan Feng Lian dengan gembira. Mereka telah berhasil memberikan serangan kejutan, sekarang mereka harus bisa mempertahankan posisinya sambil terus memukul mundur sedikit demi sedikit pasukan negeri api.
Di sisi lain, Yuki dengan kekuatan esnya telah membuat sebuah dinding tinggi perlindungan untuk para warga kerajaan Sean yang tidak bisa bertarung. Ia juga membuat jalur evakuasi untuk para warga sekitar dan mengumpulkannya di kerajaan Sean.
Mereka telah berhasil menjalankan tugasnya. Tinggal menunggu kabar dari Inshun, dan mereka akan siap untuk membasmi seluruh pasukan negeri api yang tengah berada di negeri angin.
...----------------...
Saat sudah memasuki kawasan desa Jiangsu melalui jalur udara, puluhan jarum sihir berwarna merah darah tiba-tiba tertembak ke arah Inshun dengan cepat.
__ADS_1
Shin refleks menarik kembali burung raksasanya untuk menghindari serangan mematikan itu. Mereka bertiga kemudian terjatuh dari langit, lalu mendarat dengan sempurna karena Inshun telah menciptakan tiga buah bola udara untuk menetralkan kecepatan jatuh mereka.
"Manipulasi darah?" Tanya Inshun.
"Benar. Tapi dia bukan target kita. Habisi saja." Ucap Eunchae.
Inshun mengangguk, lalu berlari kencang untuk mendekati lelaki tinggi berkulit hitam yang berpakaian serba eksotis itu. Inshun mengayunkan tombaknya, lalu dihindari oleh lawan dengan hanya menunduk.
Di tengah udara, Inshun mengubah laju serangannya, kemudian menghajar pria tadi tepat di atas punggungnya. Lelaki itu terjatuh, Inshun menaruh ujung tongkatnya di belakang tengkuk lawan sebagai bentuk ancaman. "Siapa namamu?"
Lelaki tadi mendecih kesal. "Ken." Jawabnya.
Inshun tersenyum, lalu membantu Ken berdiri. "Kalian ada perlu apa disini?" Tanya Ken.
"Kami mencari seseorang--"
Sebuah Hocrux pedang suci melesat ke arah Inshun, namun serangan dari titik buta itu berhasil ditepis oleh Shin yang lebih dulu menyadarinya. Ken kemudian kembali menjaga jarak dan bersembunyi dibalik hutan.
"Energi jiwa ini..." Eunchae membulatkan matanya, tubuhnya bergemetar hebat.
Ketika hawa mengancam dari sosok pria itu terdeteksi, Shin refleks memanggil salah satu hewan gaib terkuatnya untuk menyerang lelaki itu. Namun naas, hewan gaibnya sudah lebih dulu terbelah menjadi dua.
Tanpa bisa dilihat oleh mata, pedang katana yang tadi diselimuti selongsong kini sudah dipenuhi bercak darah.
Lelaki dihadapan Inshun itu adalah si legenda.
"Aku sudah berhenti bertarung. Pergilah dari rumahku."
Inshun meneguk ludahnya. Tubuhnya seketika merinding dan kaku tidak bisa bergerak. Ia terkagum-kagum dengan keahlian yang dimiliki oleh pria berpakaian lusuh tersebut. "Jadi kau yang bernama Ling?"
"Kumohon. pergilah." Usir Ling sekali lagi.
6 Hocrux tiba-tiba terlontar kearahnya, Ling menghindari itu semua termasuk Shin dan Inshun. "Eunchae, kenapa?!" Tanya Inshun.
Eunchae menatap Ling kesal. Perempuan itu ingin membunuhnya.
__ADS_1
"Eunchae?" Ling membalas tatapan kebencian itu dengan senyuman. "Kau banyak berubah, ya?"
Merasakan kehangatan di lubuk hatinya, Perempuan itu tiba-tiba saja menangis lepas. "Dimana Nero?" Tanya Eunchae.
Ling berjalan mendekati Eunchae, lalu menyentuh bahunya pelan. "Nero sudah mati."
Mendengar ucapan itu, jantung Eunchae melewati satu detakkan. Nafasnya semakin sesak, dan dia semakin tertekan. Saat Eunchae hendak memberikan serangan lain kepada Ling, Ken membuatnya jatuh pingsan dengan memanipulasi darah didalam tubuh wanita itu.
"Kau tidak membunuhnya, kan?" Tanya Ling, memastikan.
Ken menggeleng.
Aksi tersebut membuat Shin dan Inshun tersadar akan betapa lemahnya kekuatan mereka dibandingkan dengan dua lelaki misterius ini.
"Baguslah. Sekarang, tolong antar mereka ke menara iblis, aku yakin Qi Feng ada di sana."
Ken mengangguk, lalu mengajak Shin dan Inshun pergi.
"Bagaimana dengan tubuh nona Eunchae?" Tanya Inshun.
"Serahkan padaku." Shin membentuk sebuah simbol dengan jarinya untuk mengeluarkan sesosok hewan serigala dari refleksi yang dibuatnya. Tubuh Eunchae lalu di taruh diatasnya, mereka kemudian berjalan dengan serempak menuju sebuah menara tinggi yang disebut-sebut sebagai menara para iblis.
Sebelumnya, Inshun melakukan beberapa percakapan dengan Ling. Lelaki berambut panjang itu selalu menolak ajakannya karena sebuah alasan mulia.
Inshun pun menghargai alasan itu, dan melakukan perpisahan dengannya karena mungkin mereka tidak akan kembali bertemu untuk selama-lamanya. Punggung mereka yang saling berhadapan perlahan semakin jauh.
"Pria bernama Qi Feng ini... sebenarnya siapa?" Tanya Shin, penasaran. Lelaki berambut hitam ini memang pendiam namun observatif.
"Dia adalah saudara dari Ling." Jawab Ken.
"Saudara? Apakah itu berarti kekuatan mereka serupa?" Sahut Inshun.
Ken terkekeh. "Mereka memang saudara, tapi mereka adalah hitam dan putih."
"Siapa yang hitam, dan siapa yang putih?" Tanya Shin.
__ADS_1
"Kalian sudah bertemu dengan si putih." Jawabnya.