
..."Jadilah manusia."...
Pria berambut putih itu sedang berdiri di hadapan ratusan iblis. Pedangnya telah menebas ribuan kulit dan masih akan menebas satu ribuan lagi. Dia ingin menjadi yang terkuat, dia akan menjadi yang terkuat, dia adalah yang terkuat.
Sudah 8 bulan ia tidak melihat matahari, tidak berkomunikasi dengan sesama manusia, tidak bertemu dengan orang yang dikasihi, tidak mendapatkan rasa kasih dari siapapun. 8 bulan penuh membunuh. Hidupnya tidak utuh.
Namun ia percaya bahwa inilah jalan pedang sejati. Demi menjadi yang terkuat, dia akan bertransformasi dari manusia, menjadi iblis.
...----------------...
Shin menatap menara didepan matanya dengan dahi yang berkerut. Menara itu sangat tinggi, mengingat kalau pria yang mereka cari sudah 8 bulan menghilang, bukankah ini akan menjadi pencarian yang begitu lama?
Inshun menaruh kelima jemarinya merapat didepan kening untuk mendapatkan penglihatan yang lebih jelas. "Jadi di dalam menara tinggi itu ada jutaan hewan gaib?" Tanya Inshun.
"Ya. Mereka adalah hewan gaib kelas tinggi." Terang Ken.
"Kelas tinggi?" Shin tiba-tiba saja menjadi sangat bersemangat ketika nama itu disinggung. Dia memiliki ambisi untuk mengoleksi banyak hewan gaib kelas atas agar bisa menjadi pengendali hewan terkuat di negeri angin.
"Baiklah kalau begitu, saatnya kita bersih-bersih!" Seru Inshun, sebelum berlari masuk kedalam menara. Disusul oleh Shin dan Ken.
Mereka menerobos pintu masuk, menciptakan kerusuhan yang luar biasa di sekitar menara, memancing perhatian dari seluruh hewan gaib. Inshun terus memutar tongkatnya sambil berlari melewati puluhan iblis. Sementara Shin, lelaki itu mengeluarkan hewan gaibnya, Orochi, yang berupa ular raksasa. Ular itu menggigit sebuah pedang suci yang mampu menebas banyak benda, membuatnya menjadi salah satu hewan gaib terfavorit milik Shin.
Shin berdiri diatas moncong ularnya, dan tepat disampingnya ada Ken yang sedang memanfaatkan darah-darah milik hewan gaib yang terbelah menjadi sebuah jarum.
"Memangnya kau tidak bisa membuat benda lain selain jarum?" Tanya Shin.
"Kekuatanku ini sangat boros energi jiwa, jadi sebisa mungkin aku harus meminimalisir penggunaannya agar bisa bertarung sampai akhir." Jelas Ken.
Shin mengangguk mengerti, lalu mengeluarkan hewan gaib lainnya yang berupa rusa. Hewan gaibnya yang satu ini, memiliki peran berupa support, kekuatannya adalah memberikan sekitarnya energi jiwa tak terbatas. "Sekarang kau tidak perlu khawatir. Mengamuklah."
Ken tersenyum kecil, karena pada akhirnya hari ini datang.
__ADS_1
Hari dimana ia bisa menggunakan jurus "itu."
"Explode." Rapal Ken setelah membentuk sebuah segel dengan jari tengah dan telunjuknya. Dengan tiba-tiba, suhu di ruangan itu turun drastis menjadi dingin, dan seluruh hewan gaib yang sedang berada di lantai itu tiba-tiba saja meledak dan mengeluarkan lebih banyak darah di sekitar mereka. Ken kemudian memanfaatkan darah-darah tadi untuk menciptakan sebuah gerigi tajam yang berputar. Mereka berencana untuk membersihkan menara iblis.
"Kita harus terbang keatas!" Teriak Inshun, sambil menunjuk lubang diatas kepalanya yang menuju ke lantai paling atas. "Kita harus mempersingkat waktu!"
"Benar juga." Shin kembali mengeluarkan Nuri (hewan gaib berbentuk burung milik Shin). Lalu terbang pergi meninggalkan Ken diatas ular. Lelaki hitam itu akan naik keatas melalui daratan, sementara Shin harus menjemput Inshun untuk mempercepat pencarian mereka.
Saat sudah terbang melewati banyak lantai melalui lubang besar yang berada di tengah-tengah menara, tiba-tiba saja burung milik Shin cidera akibat luka tebas di lehernya. Mereka pun terpaksa mendarat di 3 lantai sebelum lantai paling atas.
"Sial!" Umpat Shin, ketika menyadari bahwa tangannya cedera berat akibat luka jatuh. Sementara Inshun masih baik-baik saja karena sihir anginnya.
"Siapa?" Tanya Inshun, sembari mengintip ke lantai-lantai sebelumnya. Ia melihat seorang pria di dua lantai di bawah mereka, tengah membelakanginya sambil berjalan menjauh entah kemana.
"Tinggalkan aku, kejar dia!" Sergas Shin.
Inshun mengangguk, lalu melompat ke lantai tadi untuk menyusul pria misterius itu. "Tunggu!" Cegat Inshun.
"Apa benar... kalau kau adalah Qi Feng?" Interogadi Inshun.
Tanpa menjawab, lelaki itu melesatkan sihir kegelapannya ke wajah Inshun, mendorongnya pergi dari lantai yang sama, lalu kembali berjalan pergi meninggalkan semua kekonyolan ini.
"Hei, tunggu!" Inshun kembali melompat dengan bantuan sihir anginnya, mengarah ke lantai yang sama. "Aku membutuhkan bantuanmu!"
"Jangan halangi aku." Jawabnya ketus.
"Negeri air sedang diserang."
"Jangan halangi aku!"
"Tapi--"
__ADS_1
"Kubilang, jangan halangi aku!!!" Qi Feng mengayunkan pedangnya, menciptakan sebuah percikan sihir kegelapan tertembak kearah Inshun.
Kali ini Inshun berhasil menangkisnya, namun serangan dari Qi Feng tadi tidak berhenti sampai situ. Qi Feng menebas raga Inshun dengan ayunan paling cepat sejagat raya.
Inshun kemudian terjatuh, tapi belum kalah. Ia kembali bangkit, lalu menyerang Qi Feng dengan tongkat tumpulnya.
Beberapa serangan berhasil Inshun beri ke tubuh Qi Feng, namun itu semua belum cukup untuk mengalahkannya. Pria berkepala gundul itu kemudian mengincar titik vital Qi Feng, bertujuan untuk melumpuhkannya terlebih dulu.
Tapi sayang, pertarungan kali ini tidak semudah pertarungan di kuil. Qi Feng telah menebas Inshun dengan tebasan paling menjijikan di muka bumi.
Inshun terjatuh, karena kakinya tertebas, ia tidak bisa lagi bertarung.
Saat Qi Feng hendak pergi, gempuran energi jiwa dari satu titik mengejutkannya. Ternyata, selama pertarungan mereka berlangsung, Shin telah berhasil mengendalikan hewan gaib terkuat di menara ini.
"Bertarunglah bersamaku, Mahoraga!"
Mahoraga, hewan gaib itu sendiri adalah sosok humanoid yang menjulang tinggi dan berotot kekar dengan empat sayap yang menonjol dari rongga matanya dan beberapa pelengkap seperti ekor tajam yang menjulur dari belakang kepalanya. Melayang tepat di atasnya adalah roda besar bergagang delapan yang akan berputar saat Mahoraga merespons rangsangan baru.
"Apa-apaan?" Qi Feng menatap pemandangan itu tak percaya. Seisi menara tiba-tiba saja berguncang, seolah penopang terkuatnya telah dirubuhkan oleh pemuda misterius itu.
"Mahoraga! Tembak!"
Sebuah laser tertembak dari jemari Mahoraga, membuat Qi Feng dan Inshun terlempar keluar dari dalam menara. Mereka terjatuh ke dalam sebuah sungai. Namun hanya Qi Feng yang berhasil keluar dari sana.
"Dia memerintah hewan gaib? bukankah itu kekuatan Haerin?" Batin Qi Feng.
Inshun yang baru sampai ke tepian, kemudian berjalan dengan pincang ke arah Qi Feng. "Pertarungan kita belum berakhir!"
Inshun menghajar Qi Feng dengan tongkatnya, namun berhasil Qi Feng tahan. Guncangan dari menara yang terjatuh membuat keduanya sempoyongan.
Lalu tiba-tiba saja, seekor ular raksasa datang dan menelan utuh-utuh keduanya. Kemudian membawa mereka pergi ketempat yang lebih jauh untuk menghindari gempa berkelanjutan.
__ADS_1
...----------------...