
Viola An, seorang remaja yang tidak diketahui identitasnya. Orang-orang hanya tahu ayah Viola yang lenyap karena gelombang salju di negara mereka, Snowfall.
"Sang rembulan t'lah tiba. Ia tinggalkan kirana gemilangnya. Jangan takut tiada yang bisa melukai Si bunga. Tidurlah, Sang rembulan menjagamu..."
"Ayah, itu lagu apa?" tanya gadis cilik. Matanya bersinar menanti sebuah jawaban dari ayahnya.
"Ini lagu pengusir mimpi buruk. Jadi tidurlah, ayah harus bekerja." balas pria itu, ia mengecup kening anaknya.
Si anak menggeleng, "Ayah tidak boleh bekerja! Temani Viola!" protes Viola dengan mata memelasnya.
Pria itu tertawa kecil, "Baiklah. Kamu menang, ayah akan menemanimu!"
"Tidak boleh pergi ya? Janji?"
"Iya, ayah tidak akan pergi. Ayah janji. Jika melanggarnya maka seorang peri akan menghukum ayah."
"Wah, kalian berdua akrab sekali. Sampai melupakanku~"
"Mama! Mana mungkin Viola melupakan mama Hazel!" ucap gadis itu riang, ia berlari memeluk Hazel.
"Anak baik dan manis. Apakah mama boleh ikutan bermain?"
"Tentu saja boleh!"
"Hey, hey, hey. Jangan lupakan ayah!"
Mereka bertiga menghabiskan malam dengan bersenang-senang, hingga Viola terlelap. Ayahnya memindahkannya ke tempat tidurnya. Ia lalu meletakkan sepucuk surat. Menatap dalam Viola, anak semata wayangnya dan Hazel.
"Aku harus pergi, aku tidak bisa berlamaan disini."
"Aku paham, tapi apakah tidak terlalu cepat untukmu pergi? Hari ini hari ulang tahun Viola lho."
"Iya aku tahu, tapi bagaimana lagi. Fenfen akan mendeteksi kematian palsuku."
"Ah. Pada awalnya kenapa semuanya bisa seperti ini? Kenapa semuanya menjadi salah begini?"
"Ini salahku terlalu dekat denganmu. Ketularan sial deh."
"Apa-apaan maksudmu? Mau ku hajar ya?"
"Ampun!"
"Jika rencanamu tak berjalan lancar, aku harus bagaimana?"
"Ya, relakan aku."
"Aku sudah rela lahir dan batin."
"Kejaam!"
"Siapa yang lebih kejam? Meninggalkan anaknya yang masih berumur 8 tahun?!"
“Maaf... Tapi keselamatan dunia berada ditanganku.”
"Dasar, sok dramatis. Sudah sana pergi keburu fajar."
"Aku diusir... Hiks, hatiku sakit."
__ADS_1
Hazel lalu memberikan pria itu sebuah jitakan.
"Itu beneran sakit!"
"Makanya cepat pergi."
"Hah... Baiklah, ini untukmu. Simpan baik-baik." ujarnya lalu keluar melalui jendela.
"Si bodoh itu, ada pintu malah lewat jendela... Selalu saja begitu. Menyusahkan saja..."
Berbeda dengan perkataannya, Hazel sebenarnya menangis.
...
"Hah, sebenarnya siapa aku? Kenapa tidak ada yang mengenalku? Kenapa aku tak memiliki sekepingpun memori tentangku dan ayah?" gumam Viola, ia baru saja terbangun dari tidurnya.
Viola An, kini berumur 18 tahun dan tinggal bersama ibu tirinya. Tinggal bersama ibu tiri tidaklah seburuk seperti yang dikatakan banyak orang. Ibu tirinya sangat mencintai dan menyayanginya. Bahkan mengajarinya berbagai sihir.
10 tahun yang lalu, tepat dihari ulang tahunnya ayahnya meninggalkan surat tentang kepergiannya. Naas, kepergiannya bertepatan dengan serangan gelombang salju. Pencarian telah dilakukan, namun tidak berbuah apapun...
Menyedihkan lagi, dua hari setelah berita menyedihkan itu Viola mengalami kecelakaan dikala ia mencari tahu tentang ayahnya. Viola kehilangan semua memorinya termasuk namanya. Anehnya, orang di desanya juga tidak mengenal Viola. Kecuali, Hazel Grove, sosok yang mengaku ibu tiri Viola.
Viola lalu keluar dari kamarnya menuju ruang makan, disana berdiri seorang wanita yang tersenyum kepadanya. Rupanya elok dan muda ketimbang umurnya. (jangan dibilang langsung ke Hazel, nanti ditabok.😃)
"Pagi sayang!"
"Pagi bu."
"Apa saja yang ibu masak."
"Anak baik. Ini, ibu memasakkan makanan kesukaanmu. Habiskan ya! Ibu mau ke kebun." Viola mengangguk mendengar pernyataan ibunya. Ah tidak, Ibu tirinya.
Selesai makan, ia lalu membereskan piringnya dan membersihkan rumah, aktifitas sehari-harinya. Setelah itu, ia membantu Hazel di kebun. Kebun mereka cukup luas dan dipenuhi berbagai macam jenis bunga. Terlebih bunga Violet.
"Ibu." panggil Viola, Hazel yang sibuk menyiram bunga memandangnya.
"Ya?"
"Dari dulu aku penasaran..."
"Penasaran tentang apa?"
"Kenapa banyak sekali bunga Violet disini?"
"Oh, itu karena ayahmu sungguh mencintaimu, sama seperti mama dan ibu."
"Mama?"
"Kamu tahu, namamu Viola diambil dari bunga Violet yang berarti kasih sayang, kerendahan hati dan cinta. Namamu dibentuk dari situ. Harapan kedua orang tuamu adalah agar kamu menjadi anak yang penuh cinta dan rendah hati." celoteh Hazel sengaja mengabaikan perkataan Viola.
"... Begitu..." balasnya, Viola dan Hazel lalu fokus terhadap pekerjaan mereka masing-masing.
Selesai berkebun, Viola lalu berbaring di ruang keluarga. Membuka novel barunya, hadiah dari Hazel.
__ADS_1
"Viola! Viola!!" teriak seorang wanita, ia berlari menuju Viola.
"Ada apa, bu?" ia memperhatikan sosok ibu tirinya dengan wajah heran. Mengapa wanita ini berlarian padahal ia tahu tubuhnya tidak kuat?
"Pes... Hah... Pesann..." ucapnya masih dengan nafas tersendat.
"Pesan? Pesan apa bu?" wanita itu memberikan sebuah kristal bening kepada Viola, Viola memandang bingung. Sekerjap kristal itu memancarkan sosok pria.
"Dia siapa bu? Kenapa rasanya familiar?" tanyaku, Hazel menatapku sedih.
"Viola An, dia ayahmu. Kamu ingin mencari tahu tentang peristiwa itu bukan? Kristal ini merupakan penemuan ayahmu, ini bisa membantumu mencari tentang dia. Pergilah ke Northumberland, kristal itu akan menuntunmu ke tempat ayahmu. Ini adalah keputusannya sebelum kepergiannya itu. Jadi..." Hazel mengeluarkan sebuah tas dan memberikannya ke Viola.
"He? Untuk apa ini?"
'Sejak kapan ibu mempersiapkan ini?'
"Tentu saja mengusirmu dari rumah~" canda Hazel
"Haruskah..." belum sempat melanjutkan perkataannya, Hazel telah menggunakan sihir berpindah tempatnya.
"Hati-hati dan jaga diri! Ibu telah memasukkan semua keperluanmu di tas itu! Cara menggunakan kristal itu sebutkan mantranya!" ujarnya lalu menutup pintu. Meninggalkan Viola yang keheranan.
"Hah... Baiklah, mau tak mau..." Viola pun berjalan menjauh dari rumahnya, ia mengambil kristal bening itu lalu, "Dona mihi hanc gratiam, in quo mihi..." Kristal itu lalu memunculkan sebuah peta, menunjukkan lokasi Viola sekarang.
"Redran, Dryquak, Wortumn lalu terakhir Vensprin. Hah, perjalanan menyebalkan..." Viola memutuskan berjalan ke tujuan awalnya, Redran.
Viola terus berjalan ke utara, lalu ke timur dan terakhir ke barat. Di sepanjang perjalanannya ia sering berpapasan dengan Lynx. Beberapa kali Viola menaiki kereta kuda yang ada disekitarnya.
Waktu berlalu dengan cepat, Viola bahkan belum keluar dari Snowfall. Masih berada di perbatasan Snowfall - Evches. Ia masih harus menaiki kereta kuda selama seminggu.
"Ah, sudah malam..." ucap Viola, "Maaf pak, apakah didekat sini ada penginapan?" tanyanya kepada kusir kuda.
"Ada. Apakah Nona mau menginap?"
"Iya, karena hari sudah malam. Bukankah lebih baik beristirahat?"
"Hahaha, Nona benar juga. Baiklah saya tahu salah satu penginapan bagus disini." kusir itu mempercepat kudanya.
"Hip!! Zhei ayo cepat!" ucap kusir itu
Viola mengobrak-abrik tasnya, ia menemukan buku yang pernah ditunjukkan Hazel padanya. Buku mantra perlindungan.
Tuk tik tak tik tuk, bunyi tapal kuda itu dan suara hewan-hewan malam yang menghibur Viola.
Bum!
Terdengar suara ledakan di dekat mereka, Viola langsung menengok keluar.
"Darimana sumber bunyi itu pak?"
"Dari depan sana." kusir itu menunjuk ke depan mereka, "Sepertinya para dwarf berbuat ulah lagi."
"Disini banyak dwarf ya?"
"Iya, karena tempat ini dipenuhi witch licik."
Boom!
__ADS_1
Ledakan terjadi tepat disebelah mereka, menyebabkan kereta kuda tak seimbang dan terjatuh.
"Ah bagus. Aku bahkan belum sampai di Redran. Menyedihkan..." ucap Viola sembari berdiri dan membersihkan debu yang berada di bajunya.