
Bagi ras-ras penyihir tingkat atas tongkat bukanlah apa-apa. Mereka tak perlu tongkat untuk menyalurkan, memamerkan kekuatan mereka. Lain hal dengan tingkat terbawah.
Penyihir tingkat terendah takkan bisa menyalurkan kekuatan mereka tanpa media tengah, media penghubung antara kekuatan aslinya dan jiwanya.
Mereka takkan pernah bisa menggunakan kekuatannya jika dahulu tidak menjadi salah satu tingkat terendah. Penentuan elemen diawali dari penggunaan tongkat, media tengah yang menentukan elemen apakah yang cocok untuk jiwa seorang penyihir.
Jika baik jiwanya, maka elemen yang akan ia gunakan adalah air, udara, tanah, alam, penyembuhan dan yang paling langka bagi tingkat rendah adalah cahaya. Seiring mereka melakukan pelatihan di klan mereka, akan terus berkembang.
Lain lagi jika jiwa seorang penyihir itu buruk, elemen api, bayangan, ilmu hitam, ilusi dan yang langka adalah kegelapan. Lawan dari cahaya, biasanya pemilik elemen ini cenderung membenci elemen cahaya.
Pelatihan, penyihir harus bergabung terlebih dahulu ke suatu klan dan mengikuti pelatihan. Agar mereka bisa naik tingkat. Bagaimanapun berbahaya atau lemahnya elemen mereka dan sesering apapun mereka berlatih, jika tidak bergabung ke klan manapun dan mengikuti pelatihan tetap saja akan sia-sia.
Begitulah informasi dari Hazel, yang hobi menjelaskan tentang apapun yang menurutnya penting diketahui Viola.
"Menyerah saja. Kalian takkan bisa membunuhku dengan tingkat kalian saat ini."
Bagaimana bisa tiba-tiba Viola mengalahkan kedua warlock malang itu? Mari kita putar ulang kejadian yang kita lewati sebelumnya.
"Huft... Sudahlah," ucap Viola, "Kalian tak pernah mau mendengarkanku. Menyebalkan sekali." sambung Viola lalu mengontrol lapis lazulinya—air yang telah menggunung di lapis lazuli milik Viola kini dimantrai.
"Tidak akan ku biarkan!" serunya. Ia melesat dengan cepat. Lebih tepatnya, api hitam yang menyerupai warlock jakung itu.
"Jangan menyerangnya!" ujar temannya, ia langsung mengeluarkan tongkatnya dan bergumam, "Frange quarum sacra fero!"
Api yang melesat pesat itu hancur sebelum mengenai lapis lazuli Viola, warlock yang lebih tinggi menatap temannya tidak percaya. Viola juga sama tidak percayanya. Bagaimana bisa ia menyelamatkan seorang musuh yang menyebalkan seperti Viola?
"Sera? Demi dewi kehancuran!!! Kau gila ya? Kenapa merusak rencana?!"
"Maafkan aku Fraig. Tapi, sihir air itu sungguh keren! Apalagi jika dia bisa menggunakannya padahal tidak ada air disekelilingnya!" ujarnya histeris, ia langsung mendekati Viola dan berlutut, "Mohon maaf telah mengancam untuk membunuhmu dan tidak mendengarkanmu Nona. Saya benar-benar tidak sopan dan tidak tahu diri. Katakan apa yang Anda inginkan. Akan saya lakukan semuanya, sesuai dengan perintah Anda. Anda bisa juga menyuruh saya untuk memusnahkan teman saya. Semua terserah Anda."
__ADS_1
"Sinting! Kini kau berkhianat? Sera! Sadarkan dirimu! Dia hanyalah seorang demi-demon! Makhluk rendahan yang harus dimusnahkan! Seperti yang dikatakan Nona, kedamaian yang kita dambakan takkan terpenuhi kal-"
"Tutup mulutmu! Demi-demon apanya! Jelas dia seorang manusia yang bisa menggunakan sihir! Pada awalnya aku tak pernah berniat mengikutimu di misi bodoh kali ini. Nona memang menjanjikan kedamaian tentang itu, tapi dia bilang keputusan ada ditangan kita! Terserah mau mengikuti atau tidak! Lagian plan yang telah dirancang itu belum tentu berguna!" teriaknya.
'Kenapa mereka berdua malah bertengkar. Aish. Aku hanya ingin melanjutkan perjalanan...'
Viola, diam dan memperhatikan kedua warlock bodoh yang sedang bertengkar. Berfikir bahwa inilah saatnya—senyuman muncul diwajahnya, Viola mengarahkan lapis lazulinya ke tempat kedua warlock sedang berdebat.
"Ah! Nona! Apakah Anda akan menyerang Fraig? Silahkan! Saya akan membantu Anda!" ujar warlock bernama Sera itu. Ia dengan segera menahan Fraig. Jubah Fraig terjatuh, membuat wajahnya kelihatan Viola.
"Oi Seraphine Azusa! LEPASKAN AKU! Kita berdua dalam bahaya!"
"Aku rela dalam bahaya demi membantu Nona itu!"
'Wa... Sebentar... Kenapa malah ngedrama?'
"Blucesinx memang klan yang setia. Tapi kesetiaan itu tiada artinya kalau tidak dapat membantu meningkatkan sihirmu!" ujarnya dengan bangga—senyumnya lebar.
'Ternyata cara berfikirnya tak lebih dari otak seekor burung onta.'
"Kenapa begitu tergila-gila? Sihir takkan meningkat jika pola fikirmu seperti ini." ujar Viola, "Sininen aalto, piirittäkää heidät!!!"
Dan gelombang air mulai berkumpul menjadi pusaran air yang begitu kencang. Mendekati kedua warlock.
"KENAPA SERA JUGA DISERANG?!" Teriak Sera. Temannya, Fraig menjitak kepala Sera dengan keras.
"Bodoh! Sekarang baru kau tahu! Dia itu tidak baik sama sekali! Hanya Nona yang baik kepada kita! SERAPHINE AZUSA BODOH! *****, ****!" serapah Freig, sementara Sera yang daritadi dijitak terdiam di tempat.
"..."
__ADS_1
"Kenapa kau tidak berbicara?! Kau berpura-pura atau Nona telah mencabut suaramu?!"
"Hey! Jangan kasar seperti itu!" ujar Viola, ia mengguncangkan lapis lazulinya—yang juga membuat pusaran air itu berputar dengan cepat.
"Ajzjusjauaus!!! Ajauauuwaaa!!!" Seraphine bersuara, membuat Fraig heran. Apalagi yang dikatakan teman tololnya ini?
"Apa yang kau maksud?"
"Zuahahawuyushh!!! Adiehaiwksufue!!!"
"NGOMONG YANG JELAS!" ujarnya dengan setiap penekanan nada.
"Aku... Tidak tahan lagi... Huekk..." Seraphine muntah—mengeluarkan cairan menjijikkan dan isi perutnya. Ia langsung tumbang—dalam keadaan masih berputar dipusaran milik Viola. Viola memperhatikan mereka. Daritadi asyik memperhatikan. (ga bosen-bosen ya mba?😅)
"Menjijikkan!" ia berusaha menjauhi temannya beserta muntahan menjijikkan itu. Yang hanya membuat Viola tertawa.
"Hahaha!!! Hahaha!!!" Viola tertawa lepas—ia memegangi perutnya, perempatan muncul dikepala Fraig, wajahnya merah padam.
"LEPASKAN AKU!"
Dan begitulah ceritanya, itulah kejadian yang kita lewati sebelumnya. Mari kembali ke masa depan.
"Kalian tingkat terendah di ras penyihir... Kalian belum melakukan pelatihan khusus itu... Kasihan sekali. Tadi kenapa berlagak kuat sih? Kalau lemah ya mengaku saja, kita bisa bicara. Kenapa memilih kekerasan. Dasar B-O-D-O-H. Bodoh!"
"Demi-demon rendahan sepertimu tak berhak menghinaku! Terkutuk sihir air dan batu lapis lazuli mu itu! Semua ini pasti hanya ilusi! Kau tak lebih dari jiwa kotor!"
"Demi-demon apanya? Aku manusia lho! Sejak lahir aku adalah seorang manusia. Aku tak pernah menghinamu~ hanya mengatakan sebuah fakta menyakitkan. Dan lapis lazuli ku ini asli. Lihat bagian tengahnya! Bersinar indah seperti bimasakti~" tutur Viola, "Jika ini ilusi lapis lazuli ku tidak akan bersinar setiap kali aku menggunakannya. Are? Kini kau telah berani mengatakan jiwaku kotor? Mohon berkaca."
"Grrr!!! Tidak ada ras rendahan yang bisa menggunakan sihir! Demi-demon hanya bisa menggunakan sihir ilusi dan sihir hitam karena jiwa kotornya! Apalagi manusia! Mereka sama rendahnya dengan rasmu! Mereka bahkan kebanyakan lebih lemah dan tak berguna!"
__ADS_1