
Sihir adalah kekuatan yang dimiliki oleh orang-orang tertentu dan ras tertentu. Mereka adalah orang-orang terpilih. Mereka yang terpilih bisa mendapatkan segala elemen sihir tanpa perlu membuat kontrak. Beda dengan beberapa ras. Seperti Demi-demon, manusia dan beberapa ras lainnya.
Magician, wizard, sorcerer, shaman, warlock, enchanter, druid, summoner, necromancer, shapeshifter, alchemist, angel, pixy, demon, deanel, beberapa jenis peri, incubus dan succubus yang bisa mendapatkan sihir tanpa kontrak. Mereka bisa bersatu dengan sihir. Malahan, kebanyakan dari merekalah yang menciptakan kontrak untuk ras yang tidak bisa menggunakan sihir.
Ras yang tidak bisa menggunakan sihir apabila melakukan kontrak dengan ras terpilih itu akan mendapatkan sihirnya. Kebanyakan membuat kontrak dengan pemilik elemen-elemen jahat—hanya ras itu yang mau melakukan kontrak.
Aneh, semua ini begitu aneh. Viola masih keheranan, di kepalanya terngiang perkataan warlock.
"Demi-demon. Demi-demon rendahan."
Apa maksud perkataannya itu? Viola jelas seorang manusia sejak lahir, begitulah yang dia dengar tentangnya dari Hazel.
Jadi mengapa? Mengapa warlock itu berkata seperti itu? Dia tahu seharusnya dia tidak percaya ocehan kosong warlock itu, tapi kenapa...
Kenapa yang dikatakan mereka sepertinya benar... Tak pernah tersadari olehnya bahwa salah satu anggota Blucesinx yang pingsan tadi telah berdiri tepat dibelakangnya.
"Matilah!" ujarnya sembari berusaha menusukkan pedang kecilnya ke Viola.
"Avreetrum! Ryanchellio zavtrum!"
Klang!
Petir kecil muncul dan membuat si penyerang kesakitan. Petir merah itu telah mengagetkan si penyerang—membuatnya menjatuhkan pedangnya. Pedang itu terpelanting jauh dari genggamannya, Viola tidak tinggal diam—Viola langsung menendang pria itu—si penyerang tepat dibagian perutnya.
"Eh? Si bapak yang tadi pingsan! Wah sudah sadar rupanya." ujar Viola tersenyum manis—yang membuat pria itu memerah wajahnya karena amarah.
"Sialan! Terkutuk kau!" ucapnya, ia memegangi perutnya yang sakit akibat tendangan dari Viola.
"Berhati-hati. Jangan lengah. Kau bisa berada dalam bahaya seperti tadi." Viola terus mendengar suara-suara itu. Yang dari tadi terus memberinya peringatan.
'Kau siapa? Kenapa membantuku? Apa kita pernah kenal atau kau hanya ingin memanfaatkanku? Yah siapapun kau, jika tujuanmu hanya memanfaatkanku. Menyerah lah. Aku bukan orang lemah.' pikirnya, berharap bahwa perkataannya tersampaikan.
Ternyata tersampaikan! Karena setelah perkataan Viola itu, terdengar olehnya suara cekikikan seseorang. Yang pastinya seorang pria.
'Kau bisa mendengarku?' pikir Viola lagi.
"Ya..."
'Kau siapa sih?'
"Kita akan bertemu lagi... Mungkin saat itu kau bisa tahu siapa aku." lalu Viola tak lagi mendengar bisikan itu.
__ADS_1
Benar-benar hening, kecuali suara ribut yang ditimbulkan oleh Blucesinx yang marah, mungkin saja dia masih kesal dengan Viola karena telah menendangnya atau karena sengaja mengejeknya tadi—sebelum dia pingsan. Mulutnya komat-kamit seperti merapal mantra—lebih tepatnya mengutuk.
Viola menghela nafas, "Ada apa lagi pak? Kenapa harus menggerutu gitu? Ga baik lho..."
"AKU BENCI MELIHAT WAJAH PURA-PURA PEDULIMU ITU! DASAR DEMI-DEMON SAMPAH! LAWAN AKU DENGAN TANGGUH, JANGAN HANYA BISA MENGANDALKAN IBLIS KECILMU!"
OK, aneh. Yang ini juga mengatakan Demi-demon. Iblis kecil?
Tapi, Viola terlalu lelah menanggapi omongan orang itu. Viola melesat maju dan menerjang pria tidak sopan itu. Hingga ia tumbang.
"Banyak ngomong bisa membunuhmu." tutur Viola.
Begitu selesai membuat ketiga orang itu tidak sadarkan diri, Viola memperhatikan wajah mereka dengan teliti. Satu-persatu, siapa tahu ia memang pernah bertemu dengannya.
Sayangnya, tidak. Viola tak mengenali mereka sedikitpun, Viola merasa asing...
Viola langsung membereskan ketiga orang itu, mengikatnya dengan sebuah tali.
"Ibu memang mengerikan. Bagaimana dia tahu aku akan membutuhkan ini?"
Selain mengikat mereka dengan ketat, Viola juga mengambil semua senjata mereka.
"Tampaknya aku melupakan sesuatu... Apa ya? Apa?"
"Buku?" ucapnya, lalu menggeleng pelan.
"Ini
"Ah!"
Viola teringat. Masih ada 2 anggota Blucesinx, assassin yang kabur tadi!
"Tapi sebelumnya, aku harus menghancurkan barrikade ini. Baiklah, semangat Viola An!" ujar Viola, dia mengeluarkan sebuah buku berwarna jingga, cukup norak untuk sebuah buku novel.
Tapi, itu bukan novel. Buku itu adalah mantrus, sebuah buku mantra pemberian Hazel.
"Apakah disini ada mantra pembatalan ya?"
Pembatalan? Sihir jenis apa? Serangan? Perlindungan?
Sebuah suara wanita membalas Viola. Suaranya serak basah dan itu berasal dari buku itu. Jika kamu adalah orang biasa, kamu akan benar-benar kaget bahkan takut dengan buku ini. Mungkin sebagian akan mengira buku itu aneh dan cukup lucu, dan sebagiannya akan berteriak ketakutan dan membanting, merusak bahkan membakar buku itu, tepat seperti yang dilakukan Viola pertama kali mendengarnya bicara—kecuali, Viola tidak membakar atau merusak buku itu.
__ADS_1
"Mantry, apakah barikade itu sejenis sihir perlindungan?" tanya Viola.
Penyihir elemen apa yang menciptakan barikade itu? —tanya buku bernama Mantry itu.
"Aku kurang tahu."
Bagaimana ciri-cirinya? Putih transparan? Merah darah dengan sebuah rekah?
"Hmmm... Transparan tanpa rekah atau apapun yang aneh."
Menurut Zhou Shute, barikade transparan tanpa rekah merupakan sihir dari elemen api. Tingkat rendah, mantra pembatalannya terletak pada halaman 267, bagian tengah kiri. Sebelum mantra pembatalan serangan dan sesudah mantra penunda lapar. —jelas Mantry. Buku itu menjelaskan sambil mengganti lembarnya sementara Viola termangu.
"Mantry, kamu adalah buku yang sungguh keren!" puji Viola, buku itu tidak menjawab.
Saya menemukannya. Apa ada lagi yang Anda perlukan? Ada lagi yang bisa saya bantu?—tanya Mantry lagi, Viola menggeleng pelan.
"Tidak. Terima kasih telah membantu."
Dengan senang hati. Saya izin pamit.— dan berakhirlah pembicaraan mereka berdua. Viola membaca mantra itu, mencoba menghafalnya.
Mantra, kalimat sakti atau kalimat—suku-suku kata yang dapat menyebabkan perubahan, terlebih pada perubahan spiritual.
Efek mantra—sihir akan berfungsi dengan baik apabila mantra yang disebutkan tidak melihat buku atau menghafal kalimatnya luar kepala. Meski kau tak menghafalnya sihirmu tetap akan berfungsi selama memiliki media penghubung.
Bagaimanapun, mungkin karena Viola adalah seorang manusia. Ia harus menghafalkan mantra itu, kalau ia hanya menyebutkannya. Sihirnya takkan bekerja. Tidak bekerja sama sekali.
"Magna Velment, dona mihi... Haec... Inti... Inrita? Saepem coici... Hoc?" Ucap Viola setelah beberapa kali melihat kalimat itu.
"Masih salah..."
"Magna Velment, dona mihi haec intira... Inrita... Saepem coici hoc?" ulangnya sekali lagi, tapi tetap terdapat keraguan dan kesalahan.
"Magna Velment, dona mihi haec inrita saepem coici hoc!" ulang Viola, kali ini lebih jelas.
"Magna Velment, dona mihi haec inrita saepem coici hoc!" setelah ia mengatakan mantra itu terdengar bunyi seperti kaca yang retak.
Krak Krak
Krak
Krak
__ADS_1
Suara itu terus terdengar. Hingga semua barikade itu hancur dan Evitches terlihat lagi. Viola menyeret ketiga orang yang pingsan itu dan mengikatnya ke pohon besar yang ada di sana. Sebelum ia pergi mencari dua orang lagi anggota Blucesinx.