
Di depan Viola terlihat orang berjubah biru sementara di kanan Viola terbaring lemah seekor kuda bahkan keretanya hancur. Tapi, si kusir tidak terlihat.
'Dimana pak kusir itu?'
Orang berjubah itu mendekati Viola perlahan begitu juga sebaliknya. Viola mundur perlahan. Suasana disekitar Viola terasa berbahaya. Orang ini berbahaya.
"Apa maumu?" tanya Viola
"Kau." ujarnya sambil menunjuk Viola.
"Maaf?"
"Kau 'kan ku bawa." Viola memandang aneh pria itu.
'Dia mau aku? Apa dia gila? Pasti dia gila nih. Ga kenal malah mau membawaku. Hah...'
"Maaf, apa kita pernah mengenal sebelumnya? Apa aku pernah membuat kesalahan sehingga harus dibawa? Kalau iya, tidak bisakah kita membicarakan ini baik-baik?"
"Tidak peduli jika kita saling kenal atau tidak. Yang penting kau akan ku bawa... Nona akan bangga denganku!!" teriaknya dengan bangga. Ia mengeluarkan sebilah belati kecil.
'Ini namanya orang sinting. Pakai bawa-bawa belati segala. Emang aku salah apa sih?' batin Viola
Swish
Pria itu maju dengan cepat, belatinya diayunkannya ke leher Viola. Viola yang kaget kemudian menghela nafas.
"Hah. Apa sih? Nakut-nakutin pakai belati segala? Tidak ada perempuan yang suka lelaki kasar sepertimu! Kita bisa membicarakan semua dengan baik-baik. Tidaklah keren menggunakan kekerasan kepada wanita." ucapnya dan mengambil belati itu, pria itu terkejut.
Pertama kali ini ada orang yang tidak takut seperti Viola. Bahkan dengan berani mengambil belatinya.
...
Sementara, di suatu tempat.
Seorang pemuda sedang fokus pada 'mainan' nya.
"... Tidak bergerak?" ucapnya sambil mengoyangkan makhluk kecil malang itu.
"Mo... Hon... Mohon... Henti... Mohon... Hentikann... Tuann... Blerghh..." Pemuda itu menjatuhkan makhluk kecil itu.
"Kukira kau mati." ia kemudian memasukkan makhluk itu ke sebuah lentera. Bentuknya aneh, seperti teko teh dengan cahaya hijau terang.
"Lakukan pekerjaanmu."
"Ehhh???! Tapi... Aku... Masih... Pusing..." ucapnya memelas, "Lagian ini semua salah Anda. Anda sendiri yang tak mau menguji alat itu! Kenapa malah Zuey yang dihukum? Zuey ini pixy bukan peri perang!"
"..." pemuda itu hanya diam, mengabaikan celoteh pixy bernama Zuey itu.
__ADS_1
Mengamati towernya, fokusnya lalu kepada benda yang bersinar. Sebuah gelang dengan ukiran bunga. Gelang pemberian 'orang itu'. Si mainan yang paling menarik. Tanpa disadarinya, ia tersenyum.
"Tuan? Tuan?" pixy kecil itu terbang tepat di depan matanya, membuat pemuda itu sedikit heran.
"?"
"Anda tidak mendengar apa yang saya bilang ya?!" pemuda itu dengan santainya menggeleng, Zuey tampak kesal.
Sinar pada gelang itu berubah warna, penasaran menggerogotinya.
"Aku pergi. Jaga tempat ini... Punaista verta, sinne..."
"Eh, bentar-bentar? Tuan mau ke-"
"Missä hän on!" dan pemuda itu menghilang.
"Mana? Baiklah, sudah ke berapa kalinya ini? Dan tuan selalu begini... Kenapa sih aku mau memberinya berkah?"
...
"Hey! Santai saja pak. Kita bisa membicarakan semua ini dengan baik. Jangan menyerang begitu." ucap Viola, daritadi gadis itu menghindari serangan bertubi pria berjubah itu.
Yang kini terlihat kelelahan. Bagaimana tidak lelah, sudah sejam menyerang Viola dengan pisaunya. Viola malah dengan santainya menghindari semua serangannya.
"Sudahlah, menyerah saja. Belatimu masih samaku, lho!" Ketika Viola sibuk mengamati pria berjubah itu, ia merasa ada yang mengganjal dihatinya.
"Ini yang ke-38! Semangat pak!! Saya mendukung Anda sepenuh hati!" mendengar perkataan Viola, perempatan muncul dikepalanya, wajahnya merah menahan amarah.
'Banyak sekali senjatanya. Dan semuanya...' gumam Viola
"Ups, meleset lagi... Ini yang ke-39, sudah ku katakan lebih baik berbicara. Kekerasan takkan menyelesaikan masalah." Viola menyikut pria itu hingga tumbang.
"Membawa senjata beracun itu berbahaya. Akan ku simpankan untukmu."
Viola memeriksa pria itu, mencari semua senjata yang mungkin ia sembunyikan dan petunjuk lain yang bisa ia dapatkan.
Tak lama, orang-orang berjubah itu datang lagi. Kali ini 4 orang dan 2 diantaranya adalah warlock. Terlihat dari tato api merah yang terukir jelas di wajah mereka.
Warlock, ras penyihir yang menguasai ilmu hitam dan pandai berpedang. Di Evitches, mereka memiliki tato api merah yang menandakan sumpah mereka.
Sumpah takkan pernah bergabung dan direkrut oleh kerajaan manapun. Karena suatu alasan yang begitu tidak jelas. Tak ada yang tahu pasti apa alasannya. Selain ras mereka sendiri.
"Aiya, tunggu! Aku bisa menjelaskan ini."
Tak menggubris Viola, keempat orang itu menyerang Viola.
"Dark magi, kutsun sinut ja tuhota hänet!"
__ADS_1
Api hitam keluar dari tongkat warlock dan menuju Viola.
"Wah! Api itu berbahaya lho!"
Viola berhasil menghindari api itu. Beberapa kali menghindarinya, perasaan mengganjal mendatanginya lagi.
Ia merasa ada yang mengamatinya dari jauh, karena lengah sebilah belati hampir mengenai lehernya.
"Wah... Ini berbahaya!!! Aku cuma sendirian! Ini tidak adil!!!"
"Berisik!" ujar salah satu orang berjubah. Ia menyerang Viola lagi.
"Hee... Aku capek menghindar... Tak bisakah berbicara saja? Apa klan kalian selalu menggunakan kekerasan dibanding pembicaraan?"
Masih tak mendengarkan Viola, orang-orang itu terus menyerang. Viola menghela nafas panjang.
"Aku menyerah." ucapnya, "Bu, dimanapun kamu berada. Jika sedang mengawasi gerak-gerikku tolong, jangan salahkan aku karena menggunakan kekerasan. Mereka duluan yang mulai."
Lalu, Viola mengeluarkan Lapis lazulinya ungunya. Kedua warlock sedikit terkejut.
"Lapis Lazuli?" ucapnya tak percaya, yang dua lagi terheran.
"Memangnya kenapa dengan lapis lazuli? Toh Blucesinx takkan takut karena hal kecil begini!"
'Blucesinx? Kurasa aku pernah mendengarnya di suatu tempat...'
"Blucesinx adalah klan berisi assasin dengan jubah biru. Mereka biasanya membunuh dengan belati."
Ah! Hazel pernah menceritakan hal ini kepadanya. Ketika Viola menanyakan apa itu sebuah klan.
Klan, sebuah perkumpulan diantara para makhluk yang memiliki tujuan sama atau memiliki hubungan kekerabatan.
Viola memperhatikan keempat orang yang kini sedang berdiskusi.
'Sempat-sempatnya berdiskusi ketika bertarung.'
"Ehem... Diskusinya... Sudah selesai?" tanya Viola, dua dari keempat orang itu pergi, sementara warlock tinggal.
"Tenebris magicae, angustos ei potestas!" ucap warlock itu. Percikan api hitam muncul dan mendatangi Viola.
Viola berusaha menghindar, tapi tak mempan. Api hitam itu tetap mengejarnya. Tak peduli seberapa banyak Viola menghindar. Warlock lainnya juga melakukan hal sama.
'Kemana pun aku pergi tetap diikuti ya? Menyebalkan juga.'
"Hentikan! Ini tidak adil..."
"Kalau mau nyawamu selamat. Serahkan Lapis lazuli itu!" ujar warlock.
"Pada awalnya untuk apa kalian mengincarku? Apakah aku pernah menyinggung tuanmu atau semacamnya? Jika pernah, lebih baik dibicarakan dulu! Jangan asal serang saja. Hah... Hahh.." ucap Viola dengan nafas terengah-engah. Para warlock hanya tertawa.
"Mana ada Blucesinx yang akan berbicara kepada target-target Nona! Itu sama saja bunuh diri. Kami harus mengeliminasi penganggu sepertimu."
__ADS_1
"Benar! Kau hanya akan membangkitkan mimpi buruk Nona! Musnahlah dan kami akan mencapai tujuan akhir. Kedamaian..." Kedua warlock yang tampaknya sudah gila membuat Viola menatap aneh mereka.
'Omong kosong apa lagi yang mereka lontarkan?'