
'Omong kosong apalagi ini?'
"Kedamaian adalah mimpi bagi semua ras di semesta ini. Bahkan kami para Blucesinx juga mendambakannya. Untuk itu, ikut kami secara hidup-hidup atau musnah lah!"
'Ini merekanya yang gila atau akunya yang salah pemahaman ya?'
"Pilih! Ikut atau musnah?!"
"Tidak kedua-duanya. Terima kasih telah bertanya. Aku sungguh menghargai apa yang kalian tawari, tapi tawaran itu sungguh berbahaya. Apalagi bagi gadis manis sepertiku."Viola lalu berjalan menjauh dari warlock itu, mencoba kabur. Tapi tak bisa... Langkah Viola terhenti. Sebuah barikade transparan mengelilingi mereka.
'Jadi ini alasannya mengapa suasananya terasa sunyi dan lebih panas. Menyebalkan...' gerutu Viola dalam hati.
"Baiklah, sebenarnya apa tujuan kalian melakukan hal bodoh ini?"
"Bodoh? Kau?! Berani-beraninya mulut kotormu mengatakan misi suci ini sebagai hal bodoh?! Kau yang hanyalah demi-demon!"
'Huh? Sinting. Demi-demon? Apalagi yang mereka celotehkan...'
"Karena aku adalah orang baik, kalau kalian mencari demi-demon, silahkan berjalan ke barat daya kerajaan Urnst. Disana banyak sekali demi-demon. Berpuluh-puluh dari mereka. Bahkan ratusan. Mungkin juga ribuan... Jangan mencariku. Aku hanya seorang manusia, terlebih seorang gadis lemah." ucapnya, mata Viola berkaca-kaca seperti mau menangis.
Padahal nyatanya Viola sedang menggunakan teknik ke-23 milik Hazel, berpura-pura menangis. Banyak lelaki yang lemah terhadap air mata perempuan. Bukan seperti yang ia harapkan, kedua warlock itu malah menunjukkan wajah yang seolah berkata 'kau sinting ya?'
"Air mata takkan mempan. Menyerah dan ikut! Kau takkan bisa keluar dari sini!" ucap warlock yang tinggi dengan bangga. Yang satu lagi diam saja, memperhatikan gerak-gerik Viola. Viola menyadari hal itu.
"Tampaknya ini akan sangat tidak menyenangkan sama sekali." Viola mengambil posisi menyerang. Lapis lazuli ditangan kirinya bersinar seolah mengerti tugasnya, menyerang kedua warlock yang mengganggu perjalanan Viola.
"Jangan gegabah dalam menyerang. Kau akan celaka." ujar sebuah suara, Viola langsung mencari asal suara itu. Tidak ada siapapun selain 2 warlock dan dirinya. Hawa keberadaan makhluk hidup lain saja tidak ada.
'Apakah ini karena barricadenya? Sudahlah... Aku harus fokus. Aku bisa mencari suara itu nanti.'
Kedua warlock terus menyerang Viola tanpa henti. Dengan sihir mereka yang berelemen api.
__ADS_1
"Zuli O magne, placet, dona mihi velle ceani ... hyacintho!!" seketika itu lapis lazuli milik Viola terang seperti sebuah lampu dan air mulai bermunculan.
Tetes demi tetes hingga menjadi sebuah ombak. Gelombang ombak raksasa. Salah satu warlock termangu melihat itu.
"Bagaimana bisa menghasilkan ombak padahal tidak ada air yang masuk?!" teriaknya, badannya gemetar. Matanya menunjukkan perasaan senang bercampur takjub seperti orang gila saja.
'Oh, apakah ombak ini membuatmu ketakutan? Atau malah membuat kau terpukau?' ucap Viola dalam hati, ia menyeringai usil.
"Bukankah lebih baik kita berbicara?" diam-diam Viola berencana untuk menipu mereka yang tampaknya diketahui salah satu warlock yang lebih tinggi. Si obsevator yang daritadi mengamatinya dengan seksama.
"Kau tau kami tak akan sebodoh itu bukan?" tukas salah satu warlock.
"Huft. Sudahlah..."
Sementara di lain tempat tak jauh dari barikade itu, seseorang yang daritadi mengamati, di'kunjungi' oleh dua orang. Ah tidak, dia didatangi oleh kedua penyerang Viola yang menghilang tadi.
"... Kalian menyadari keberadaanku."
"..." pemuda itu tak mengacuhkan perkataan kedua orang itu. Matanya mengeksplor ke bawah. Tempat barikade itu berdiri, suasana disekitar barikade itu tenang. Bukan hanya disekitar saja.
Bahkan Evitches ini terlalu tenang malam ini, seperti sebuah kuburan. Padahal tadi ledakan itu membuat ricuh tempat ini. Seharusnya. Seperti mengetahui sesuatu. Dia berdiri. Bangkit dari posisi mengamatinya, membuat dua assassin itu heran.
"Semua ini sudah direncanakan Fenying. Mulai dari berangkatnya gadis itu hingga ledakan yang terjadi. Benar begitu?"
"Memangnya apa urusanmu?"
"Jawab pertanyaanku."
"Kau makhluk tidak sopan! KURANG AJAR! Makhluk rendah sepertimu menyebut nama NONA tanpa embelnya! Kau dan mulut kotormu akan ku bersihkan!" sumpahnya, yang disumpahi bertingkah tidak peduli—berjalan dengan santai. Hal ini membuat kedua assassin itu naik pitam. Mereka berdua bertukar pandang—saling memberi kode siapa yang akan menyerang duluan. Sepakat, si pemegang sabit menyerang.
Sabit itu ujungnya berwarna merah, sangat pekat hingga kau akan mengira itu berlumuran darah. Ukurannya lebih tipis dari ukuran sabit pada biasanya. Tajam dan tipis, dengan sebuah Ruby merah di bagian tengah pegangan sabit itu. Indah dan mematikan.
__ADS_1
Sabit merah darahnya yang tajam dilemparkannya ke arah orang itu. Seolah-olah sabit itu adalah sebuah boomerang. Sabit itu melesat cepat ke orang itu, tak kalah cepat orang yang dilempari sabit itu menghindar. Sehingga yang terluka hanyalah lengannya.
Terluka, tapi ia malah tersenyum mengejek. Sabit itu berputar kembali ke arah pemiliknya.
Tidak sampai disitu saja, yang satu lagi, si pemegang senjata katar juga menyerang dengan katar kecilnya, gerakannya gesit. Ketika katarnya hendak mengenai wajah pemuda itu, pemuda itu hilang! Kaget dan lengah, di belakangnya orang yang ia coba lukai berdiri. Menatap kosong.
"Jawab pertanyaanku." bisiknya dari belakang si pemegang katar, memegangi katar itu tanpa takut terluka.
"Khek. Bocah tengik sepertimu sok-sok kuat menahan katarku!"
"Jawab pertanyaanku!" ucapnya. Kali ini nadanya serius dan hawa hitam mengelilingi mereka... Membuat kedua assassin bergidik ngeri. Orang ini berbahaya! Kita harus kabur!
Bum!
Lagi-lagi ada ledakan. Disekililing pemuda itu dipenuhi asap hitam menyesakkan. Dan penyebabnya adalah si pemegang katar yang kini, menghilang. Kabur, bersama dengan temannya.
"Aku tak pernah melepaskan orang lain sebelum mendapatkan sebuah jawaban..."
Lalu ia lenyap ditelan asap hitam<°>
Viola merasa malas. Malaaas sekali berlawanan dengan kedua warlock. Ingin rasanya mulut itu mengumpat. Sayang, teringat janjinya kepada Hazel. Takkan mengumpat mau bagaimanapun menyebalkannya situasi itu.
"Sampai kapan kalian terus menghindar? Bukankah tadi kalian yang memintanya? Aku sudah bilang lebih baik berbicara, bukan dengan kekerasan. Kenapa meng-"
"TERKUTUK KAU DAN KEKUATAN SIALANMU!" potongnya dengan marah, bagaimana tidak marah. Mereka berdua masih berada diatas pusaran air milik Viola, tak bisa bergerak dan terus berputar. Temannya saja sudah pingsan karena dari tadi terus berputar.
"Duh, dikutuk..." seringai Viola semakin lebar, "Kalau aku jadi kau, aku takkan berani berkutik lagi setelah dikalahkan seorang perempuan yang lemah. Dan seorang demi-demon rendahan." sambung Viola, ia masih menyeringai.
"DASAR SIALAN! KEMBALIKAN TONGKATKU!"
"Tongkat? Wah, tebakanku benar berarti. Kalian hanyalah orang terendah dari Klan Blucesinx. Kalian belum mengikuti pelatihan. Berlatih lagi dengan tekun barulah kembali mencoba menyerangku. Kekuatan kalian bukan apa-apa."
__ADS_1