
Rania seorang wanita biasa yang pernah berkarier tapi harus melepaskan itu semua untuk menjaga perasaan suaminya.
Aku Rania usiaku baru genap 21 tahun,orang suka memanggilku Rani ,tadinya aku bekerja d sebuah perusaahaan garmen.Di situ aku sebagai kepala pabrik.
Aku cukup akrab dengan semua karyawan di sana.Banyak yang segan terhadapku.Ya,karena aku bisa di bilang sebagai orang ke dua yang di percaya oleh bosku .
Bosku bernama Yunny dia blasteran Indonesia,Cina dan Inggri,bosku itu seorang janda dengan 2 orang anak yang sudah beranjak dewasa.Dia sangat baik terhadap semua orang,tapi jika ada kesalahan sedikit saja Ia tidak akan lupa pada orang yang berbuat salah,dan apa kesalahannya.
Mungkin Ia orang yang tegas menurutku.Aku selalu melakukan tugas- tugasku dengan baik,itu menurutku.Sampai suatu hari aku bertengkar dengan Mas Dodi suamiku.
Mas Dodi berusia 23 tahun,ya hanya beda 2 tahun denganku.Kami sudah menikah selama 3 tahun,dan tahun kedua kami di karunia seorang anak laki- laki,Namanya Alfatih.
Mungkin ini kemarahan Mas Dodi terbesarnya karena melihat aku yang selalu pulang larut malam.Bukan lembur karena pekerjaan,tapi karena bosku selalu mengajak aku mengobrol entah hanya obrolan ringan atau masalah pribadinya.Semua Ia ceritakan padaku.Aku selalu pulang di atas jam 11 malam,pernah suatu ketika aku pulang hingga pukul 01.00 malam.
Sampai Mas Dodi membuatku harus memilih pekerjaan atau pernikahan kami.Sangat kalut aku waktu itu,karena menurutku itu pilihan terberatku.Karena menurutku karierku sekarang cukup bagus,dengan gaji yang lumyan untuk membantu kebutuhan sehari-hari.
Dari awal aku bekerja tentu dengan izin dari Mas Dodi suamiku,karena pekerjaan Mas Dodi yang belum mapan.Tapi,dengan keadaanku sekarang yang membuat Mas Dodi menentangku habis-habisan untuk tidak bekerja.Bukan karena aku lalai memenuhi kewajibanku sebagai seorang istri,tapi karena aku yang sedang jadi omongan para tetanggaku.Mungkin tadinya Mas Dodi bisa tutup telinganya untuk tidak menggubris omongan orang- orang itu.
Lagi- lagi entah ada masalah apa tetanggaku yang satu itu selalu menjadikan aku topik untuk di bahas bersama tetangga lainnya.Dia wati ,justru dia adalah orang yang sejak kecil kenal bagaimana aku.Mungkin karena aku menikah dengan Mas Dodi,orang yang justru pernah jadi incarannya saat kita masih sama- sama sekolah dulu.
Bertubi- tubi masalah datang padaku,dengan tanpa berfikir panjang aku memutuskan berhenti bekerja.Mas Dodi pun tidak mengizinkanku untuk berpamitan pada bos yang baik itu.Dan akupun tidak di perbolehkan menulis surat pengunduran diri.Ya Allah aku harus apa sekarang?.
Waktu berlalu begitu cepat,sampai aku bertemu dengan Rina,dia adalah anak buahku di pabrik tempatku dulu bekerja.
"Ran !!!", Rina memanggilku.
" Ya,",aku menjawab sapaan Rina
"Kamu kemana aj?di cari tuh sama si bos,katanya kamu bawa kabur uangnya!!",
Aku tercengang ,bingung tak percaya,bos yang ku puja- puja justru memfitnah aku.
" Kamu di suruh datang ke pabrik,bos berpesan pada setiap karyawan,siapa saja yang bertemu kamu,suruh bilang seperti itu".
Entah apa maksud bosku itu,yang selama ini aku bangga-banggakan.
Berkecamuk dalam pikiranku,apa yang harus aku lakukan,apa aku harus bicara pada Mas Dodi tentang masalahku ini.
Berhari-hari aku memikirkan hal ini dan aku masih belum bisa menceritakan hal ini pada Mas Dodi.Sampai terbersit dalam hatiku,apa perlu aku datang ke pabrik lagi dan menemui bosku itu.
__ADS_1
Beberapa hari setelah aku bertemu Rani,ku putuskan mendatangi pabrik tempatku bekerja kemarin.
"Pak Aldi?!", sapaku pada satpam pabrik itu.
"Mba Rania,apa kabar ,mba?"
"Mau ketemu bos ya mba?",balas Pak Aldi bertanya padaku.
" Ia Pak,tolong ya Pak!",
"Sebentar ya Mba!"
Pak Aldi pun meninggalkanku yang duduk di bangku tunggu tamu.
Sambil menunggu,akupun mengamati sekelilingku,tidak ada yang berubah,semua masih sama,Apa karena aku hanya meninggalkan pabrikku itu hanya beberapa bulan saja,entahlah.
Selang tidak bepara lama Pak Aldi mendekatiku.
"Maaf ,Mba!",
" Ya ,Pak!",
" Oh,gitu ,ya sudah Pak tidak apa-apa,saya pamit ya Pak Aldi",
"Ya ,Mba,hati- hati di jalan ya mba".
Akupun melangkah keluar dengan pikiran yang sama sekali aku tidak pahami,kemarin bos menyuruh siapapun yang bertemu aku,untuk menyuruhku datang.
Sapaan Mba Melisa membuyarkan lamunanku,
" Mba Rani,Mba Rani,tunggu!",
"Ia Mba Melisa ,ada apa?,"
"Mba apa kabar?",
" Aku baik mba",
"Boleh kita bicara sebentar!", pinta Mba Melisa padaku.
__ADS_1
Ya aku dapat informasi dari beliau,Bos ternyata menyebar fitnah karena dia kecewa padaku,karena aku meninggalkan dia dan pabriknya.Sehingga Dia membuat berita bohong agar aku tidak lagi di terima di pabrik manapun jika aku ingin bekerja lagi.
Sebegitu dendamkah Bosku padaku,padahal dia yang selama ini jadi panutan buatku.Yang ku pikir Dia wanita hebat yang mampu menjalankan usahanya sendiri seorang diri dan mampu mendidik putra putrinya dengan baik.Ternyata aku salah.
Setelah sampai rumah aku pun mampir ke rumah ibu untuk mengambil Fatih.
" Ran!",
"Ya,Bu!"
"Fatih cari-cari kamu terus,kamu abis dari mana si?,
" Aku dari pabrik bu",
"oh!"
Ya itu ibuku yang tidak terlalu mau ikut campur urusan anak-anaknya,karena Ibu pikir anak-anaknya sudah berumah tangga berarti sudah dewasa dan mampu membedakab baik dan buruk.
Akupun menggendong Fatih ,dan membawanya pulang.
Aku memang tidak tinggal bersama karena Mas Dodi takut kalau-kalau aku selalu merepotkan ibu.
Esok harinya,Mas Dodi telpon.
"Dek,siapkan baju-baju kita ya,nanti sore kita pulang ke kampung!!",
Tanpa ingin mendengar pendapatku,Mas Dodi langsung menutup telponnya.
Ada apa pikirku.
Apa bapak mertuaku sakit.
Memang mertuaku sudah menginjak kepala 7 ,aku berpikir positif saja ,dan berdoa mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa.
Mas Dodipun sampai,diapun langsung bertanya soal baju yang akan di bawa.aku pun menjawab ya sudah Mas.
Sore itu ,kita bertolak dari Depok ke Semarang,ke tempat tanah kelahiran Mas Dodi.
Keesokan harinya kita tiba di Semarang.Mas Dodi langsung berlari mendekati bapak,ya bapak mertuaku ternyata sedang sakit.Ku acungi jempol pada Mas Dodi jika soal berbakti,ia selalu mengutamakan orang tunya di banding apapun.Ya itu dulu yang menjadi pertimbnganku menikah dengannya.Tapi,justru setelah menikah sikapnya sangat arogan terhadapku.
__ADS_1
next'