
Setelah tersadar dari pingsan,entah mengapa air mataku jatuh begitu saja.Sampai semua terheran padaku,tak ku tanggapi pertanyaan yang datang padaku.
Ku abaikan mereka semua yang menemaniku saat aku terlelap dalam sakit yang begitu hebat.Sakit karena di khianati.
Aku pamit pada bapak mertuaku.
Kukemasi baju-bajuku dan Fatih,yang memang dari awal aku tidak membawa banyak baju ganti.
Keesokan harinya aku berangkat pagi-pagi sekali.Jam menunjukkan pukul 4 pagi.Fatih yang masih terlelap tidur ku gendong,ku pamit pada bapak mertuaku.
"Kenapa,pagi-pagi sekali kamu berangkatnya nduk?!",
" Tidak apa-apa Pak,sengaja biar cepet sampai di Jakarta!",seruku.
"Hati-hati ya!".
Tanpa kuhiraukan apa bapak mertuaku masih bertanya atau cukup pertanyaannya padaku
Air matapun tak terasa menetas saat ku tatap Fatih dalam gendongan.Entah salah apa aku...
Sampai stasiun masih sepi sekali,ya jelas sepi karena aku terlalu pagi sampai di sana.Saat loket di buka aku segera berlari menghampiri,dan bodohnya aku kartu identitaspun lupa ku bawa.Aku memohon pada penjaga loket agar mengijinkanku -membeli tiket.Tapi usahaku sia-sia,alasan apapun di tolak.
Ku tatap Fatih yang masih terlelap.
"Kasihan kamu ,nak!".
Sudah pukul 08.00 pagi,ku ingat Fatih belum sarapan dan belum ganti pakaian.Ku bawa ke toilet dan ku gantikan pakaian dan diapers yang sudah tidak lagi bisa menampung air seninya.
Ku dudukan Fatih di bangku kantin yang bersebelahan denganku.Ku suapi Fatih bubur ayam yang masih hangat,lahap sekali ia makan,mudah-mudahan Fatih bisa mengerti keadaan ibunya ini.
Entah mengapa aku tetap tidak merasakan lapar atau haus sedikitpun tenaga yang ada di tubuhku malah semakin kuat,apa karena rasa kesal,sakit hati,marah,benci yang teramat sangat ,yang membuatku seperti ini.
Ku susun rencana lagi,setelah selesai Fatih menghabiskan buburnya.
Ku tanya setiap orang yang ku jumpai,aku mencarai informasi apakah ada bis yang berangkat ke Jakarta pagi ini.
Setelah ku temui seseorang ,lagi-lagi aku terlalu percaya pada orang lain meski aku baru berjumpa,ya entah siapa bapak itu.Mungkin saja ia calo tiket yang mungkin juga sedang berniat membantu orang yang sedang kebingungan seperti aku,atau hanya mencari keuntungan dari kesusahan orang lain.
Bapak yang mungkin usianya sekitar 45 tahun itu mendekatiku.
" kenapa bu?!,sepertinya ibu sedang bingung?!"tanya beliau padaku,dan entah siapa nama orang itu,akupun tidak terlalu menghiraukannya.
__ADS_1
"Ya ,Pak,Saya ingin ke Jakarta,tapi tidak dapat tiket kereta," jawabku.
"Naik bis saja,nanti saya carikan tiketnya!!",
" Ya ,Pak boleh,trima kasih sekali pak !",
Ya dengan mudah justru bapak itu mendapatkan tiket bis untukku.
Ya lagi-lagi aku di timpa kemalangan,ternyata bis yang aku tumpangi justru berbeda dengan tiket yang ku beli.
Entah bepara kali aku harus naik turun bis,karena harus di oper sana sini tanpa ada kejelasan,dan yang aku terima justru alasan yang selalu tak masuk akal menurutku.
Supir dan kernet selalu bersikap buruk bila aku bertanya kenapa kami harus di oper sana sini,dan mereka hanya menjawab yang penting sampai jakarta bu.Ya aku hanya bisa diam,dan berdoa agar cepat sampai di Jakarta.
"Maafkan ibumu ini nak!!"
Lagi-lagi ku cium Fatih dalam gendonganku.
Jam menunjukan pukul 01.00 dini hari.
Ku peluk erat Fatih ,karena dingin yang ku rasa menusuk tulangku.
Sampai di depan rumah kakak iparku,aku sangat-sangat bersyukur,ya akhirnya kami sampai di Jakarta.
Tak di hiraukannya panggilan dari ku,harus apa aku sekarang dan cuma doa yang bisa kuungkapkan pada Sang Khalik.
Aku di persilahkan masuk oleh kak Dari,di raihnya Fatih dari gendonganku.
Ku letakkan tas bajuku di samping sofa.
"Fatih sudah makan Ran?!" tanyanya padaku,
"Belum kak!?", jawabku,
"Kamu kenapa??", tanya kakak iparku Dari.
Ya kakak iparku itu Sundari namanya.
Kujelaskan semuanya pada kakak iparku itu,mungkin karena aku selalu merasa dekat dengannya walau hanya komunikasi lewat telephone.
Dan tentunya dengan deraian air mata yang tidak bisa ku bendung lagi.
__ADS_1
Aku dan Fatih membersihkan diri,setelah itu kusuapi Fatih,dengan lahapnya Fatih makan makanannya.
Lagi-lagi derai air mata seakan sejalan dengan apa yang aku rasakan saat ini.Tidak ada satupun chat,sms,wa yang aku kirim ke mas Dodi di balasnya.
Pikiranku mulai menjelajah,apakah tidak ada sedikitpun simpati mas Dodi padaku lagi,sampai-sampai anaknya pun di biarkan begitu saja,hebat sekali wanita jahat itu merasuki pikiran suamiku.
Keesokan harinya Mas Dodi menemuiku dan berkata jujur,wanita itu lebih baik dari aku,ya dari aku yang selalu menemaninya dari nol,aku yang merawat Mas Dodi saat sakit,saat kecelakaan,saat aku papah Dia ke kamana pun,sampai ke kamar mandi,saat dia tidak bisa berjalan,sampai seperti sekarang ini justru itu tidak tampak di matanya.Seakan-akan justru akulah wanita yang paling jahat,karena tidak membiarkan Mas Dodi bahagia.
Apa aku sudahi saja,aku sudah terlalu sakit jika harus bertahan.
Saat bertemu justru Mas Dodi seperti orang yang kerasukan,yang selalu mengagung-agungkan wanita itu,yang entah kapan Mas Dodi mulai di racuni pikirannya.Seakan-akan hanya wanita itu yang terbaik buat dia.
Seperti muak melihatku,tak sedikitpun saat berbicara padaku Mas Dodi menatapku,justru dia lebih banyak mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Ya Allah sakit hatiku di buatnya,ingin rasanya aku menyerah.Tapi justru Allah memberiku kekuatan yang luar biasa untuk menyadarkan Mas Dodi.
"Dek!!",
" Ya,Mas!!",jawabku
"Kamu,masih ada uang??",
" Masih,kenapa Mas?!",
"Aku mau pakai 200 ribu saja dek,buat beli martabak sama buah kesukaan Desti".
Ya ternyata wanita itu namanya Desti,orang yang menghancurkan rumah tanggaku.
Aku berpura-pura bersikap baik,agar Mas Dodi setelah ini mau ikut aku pulang ke kampung tempat kelahirannya.
Kuberikan uang itu,ya uang hasil jual kebun yang justru di pergunakan untuk selingkuhannya.
Mas Dodipun pamit,dan akan datang menemuiku esok harinya,ya esok harinya karena ia harus menemani Desti wanita ****** itu di rumah sakit.
Tidak lama handphoneku berbunyi,pesan singkat dari Mas Dodi,yang isinya membuat hatiku hancur.
" Makasih ya dek,Mas sudah bilang ke Desti buah tangan yang Mas bawa itu dari kamu".
Entah hilang kemana pikiran waras Mas Dodi.Sampai tega berkata seperti itu padaku,ya lagi dan lagi air mata ini menetes tanpa di suruh,mengalir begitu saja dengan derasnya.
Mungkin ini jalanku,ku pasrahkan sudah semuanya pada yang Maha Kuasa.
__ADS_1
Ku pasang wajah ceria saat di depan Fatih,aku tidak ingin Fatih ikut dalam penderitaan yang sedang aku rasakan,cukup sudah ku buat Fatih menderita saat perjalanan menuju Jakarta kemarin.