
Di sana lagi Mas Dodi melangkah.
Entah aku harus apa dan bagaimana,bukan aku tidak menginginkan Mas Dodi mencari nafkah lagi di sana,yang Ia bilang nafkah untuk kami.Ya kami aku dan Fatih,entahlah.
Setelah keberangkatan Mas Dodi dengan di iringi niatnya yang akan mengakhiri hubungannya dengan Desti,Apa mungkin??!!,pertanyaan itu yang sekarang ada di benakku.
sebelum pergi ke Jakarta memang Mas Dodi berjanji tidak akan bermain api lagi,dan akan serius membangun rumah tangga kita dari awal lagi,ya dari awal lagi.
Setelah beberapa hari,kulihat gawai untuk mengakses beberapa media sosialku yang sudah Mas Dodi kembalikan padaku,yang Ia bilang di gunakan Desti atas persetujuannya.
Mungkin seperti itu orang yang sedang di mabuk cinta,cinta buta.
Ku lihat gawaiku,aktifitas Mas Dodi dengan teman-teman menurutku mulai biasa,meski masih ada satu dua orang yang membahas tentang wanita yang telah jahat padaku.
Hari berganti hari,bulan pun beralalu,Mas Dodi selalu tepat waktu saat mengirim uang untuk kebutuhan ku dan Fatih,walau tetap sama ,ya 200 ribu rupiah untuk 1 minggu.Kalau di bilang tidak cukup sudah pasti,tapi sebisaku ku kerahkan tenaga agar cukup sampai saat Mas Dodi mengirim uang kembali padaku.
__ADS_1
Saat di luar rumah aku sudah mulai terbiasa walau kadang rasa takut,rasa malu yang harus aku hadapi berkecamuk di dalam diri ini.
"Mm...masih betah aja di sini padahalkan suaminya udah gak mau tuh sama dia!". banyak dan ada saja entah siapa yang berucap seperti itu,tapi aku sudah terbiasa.Mungkin aku di luar bisa tegar tapi setelah malam entah aku masih saja menyesali apa yang aku lakukan ini adalah jalan terbaik.
Aku hanya berpikir,mungkin hari ini aku yang tertimpa masalah,mungkin juga mereka,atau orang - orang yang mencemoohku.Ku biarkan mereka berimajinasi dengan pandangan mereka masing-masing terhadapku.
" Cling...dret..dret...",gawaiku membuyarkan lamunanku.
"Dek,Mas besok pulang ya!", pesan singkat dari suamiku ah',entah apa aku masih bisa memanggilnya dengan sebutan itu.
Ku sibukkan hari-hariku dengan Fatih,yang sudah mulai beranjak besar,bobot badannya pun mulai naik,ya mungkin karena hatinya juga sudah tidak bimbang gara-gara masalah yang aku hadapi dengan ayahnya.
Aku tidak pernah mencari informasi apapun itu,pada orang yang selalu mengejekku,menghina atau merendahkanku,ku pasrahkan semua pada Sang Pencipta.Tapi satu persatu justru orang yang pernah menghinaku mereka mendapat cobaan justru lebih berat,dari pada yang aku hadapi.Mungkin jika aku benar-benar jahat aku akan balas menertawakan mereka,tapi tidak aku lakukan.Aku lebih suka mengurusi masalah yang aku punya dari pada mengurusi masalah orang lain.
Esok harinya Mas Dodi sampai,ku biarkan ia beristirahat dahulu,sambil ku siapkn makanan untuknya.
__ADS_1
"Dek!,Sini sebentar", panggilnya
" Ia Mas!",ku berjalan menghampiri Mas Dodi.
"Aku akan tinggal di kampung dek,aku mau mulai lagi dari awal,gak apa-apakan?", tanyanya padaku.
" Gak apa-apa Mas",gembira hatiku,ya aku merasa senang,karena setidaknya tidak ada lagi orang yang akan menghinaku di sini,di kampung yang aku juga masih asing.
Mas Dodi menjelaskan kalau masalah Dia dan Desti sudah selesai,Desti kembali ke suami,ke anak dan kluarganya,dan Mas Dodi juga begitu.
Mungkin Mas Dodi juga belum bisa menerima atau bahkan melupakan kisah cinta singkatnya itu.
Ah,kupikir itu urusan belakangan,yang penting Mas Dodi berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.
Setiap hari aku lewati tapi tetap masih ada yang tersisa jejak-jejak wanita itu di media sosial,sampai semua yang terlintas dan ku lihat buru-buru aku hapus,semua foto-fotoku yang Desti edit dan di ganti dengan fotonya tidak terlewat untuk aku hapus.
__ADS_1
Ku lihat Mas Dodi masih menyimpan kontaknya,aku pun meminta ijin untuk melenyapkan semua kenangan buruk yang ada di gawai Mas Dodi,Ia pun membolehkannya,tapi mungkin belum bisa mengiklaskannya.