Wanita Bodoh

Wanita Bodoh
Di Semarang Aku Sekarang


__ADS_3

Tanpa mendengar pendapatku Mas Dodi menyuruhku untuk tetap d Semarang bersama bapak mertuaku.


Bapak mertuaku tinggal sendiri di rumah yang memang cukup besar,karena ada empat kamar di dalamnya.Entah kenapa bapak mertuaku lebih senang tinggal sendiri,dan pernah sewaktu lalu keponakan Mas Dodi sempat menemani bapak mertuaku dan tinggal di sana tapi beliau justru menyuruhnya pulang ,dan bilang kalau David itu terlalu berisik untuk tinggal bersamanya.Mungkin karena David masih anak SMA yang senang mendengarkan musik keras-keras.


David adalah anak Mba Darti yang tinggal di sebelah rumah yang bapak tempati.Sesekali Mba Darti menengok bapak di rumah,untuk mengecek keadaanya.


Seminggu berlalu,Ibuku pun sudah memberi kabar kalau barang-barang di rumah kontrakan yang aku tinggali sudah di pindahkan semua kerumah ibu,


Lagi- lagi aku menghela nafas dalam,karena benar saja Mas Dodi langsung pulang k Jakarta.Dia seakan-akan tidak memikirkan bagaimana ibuku,padahal Mas Dodi tau bagaimana keadaan ibuku.


Ibuku seorang janda yang berjualan lauk matang kecil-kecilan.Ibuku tinggal bersama adikku yang juga janda dengan anak satu,tapi kadang Mas Dodi egan untuk membantu ibuku bila ibuku sedang sakit atau apapun itu.


Mas Dodi memberikan kabar setelah satu minggu.


"Dek,sudah Mas transfer ya uang 200 ribu,untuk keperluanmu!".


" Humm!!",aku hanya bisa menghela nafas.


Mas Dodi hanya memberiku uang satu minggu dengan besarnya hanya 200 ribu,padahal ia tahu kalau aku juga harus membelikan susu untuk Fatih.


Sebulan kemudian Mas Dodi mengabarkan bahwa ia akan pulang ke Semarang.Aku senang bukan kepalang,aku membayangkan apakah Mas Dodi mau menjemputku untuk kembali ke jakarta.


Entah hanya perasaanku saja atau hah' tidak bisa kuungkapkan karena justru itu awal bagaimana kisah sedihku di mulai.


Mas Dodi pulang hanya tiga hari saja itupun tanpa menyentuhku.Dia justru terkesan menjauhiku,tapi ya karena aku memang bodoh,aku tidak pernah curiga akan sikapnya.Aku hanya berfikir mungkin Mas Dodi lelah karena perjalanan jauh.


"Dek,,!!"

__ADS_1


"Ya,Mas"


"Mas mau jual kebun yang di utara ya buat beli sepeda motor,biar Mas bisa samperin kalau ada konsumen jauh yang mau service Ac".


Ia dan lagi-lagi setuju atau tidak ,Mas Dodi menjalankan rencananya itu


Kebunpun sudah terjual dengan harga 15 juta rupiah.Esoknya Mas Dodi membeli sepeda motor dengan harga 11 juta rupiah,sisanya dia berikan padaku 3juta rupih untuk pemasangan listrik,dan yang 1 juta ia pakai untuk ongkos kembali ke Jakarta.


Sore itu pun Mas Dodi kembali ke jakarta,tanpa memberikanku nafkah batin.


Sudah tiga hari Mas Dodi kembali ke Jakarta tapi ia belum memberiku kabar.Smoga suamiku baik-baik saja gumamku dalam hati.


Akupun menyiapkan buku laporan balitaku,ya hari ini jadwal Posyandu untuk Fatih.Aku bergegas,sampai di sana sudah banyak yang mengantri untuk menimbang bayi mereka.Setelah selesai aku pun masih bercengkrama dengan tetanggaku yang seusia denganku,diapun sama sepertiku ,seorang pendatang.


Handphoneku berdering,aku bergegas mengangkatnya .Ku kira Mas Dodi,tapi ternyata teman dunia mayaku,ya teman aku dan Mas Dodi yang hanya akrab saat online di sosial media.Dia Ira,aku dan Mas Dodi menganggap dia adik kami.Dia kerja menjadi Tenaga Kerja Wanita di Taiwan,sudah tahun keempat ia mengadu nasib di sana.


"Aku baik!"jawabku


" Masa si mba ,masih baik -baik aja",


Apa maksut dari ucapannya??,


"Mba ,kenapa sosmetnya gak pernah on?"


"Ia ,mba gak tau kenapa ,aku udah coba tanya Mas Dodi,ia hanya menjawab mungkin perlu di instal lagi".


" Mba yang sabar ya!!",

__ADS_1


Apa maksut ucapannya lagi penasaran aku di buatnya.


"Mas Dodi selingkuh mba!!",


" Kamu tahu dari mana?,sedangkan kamu saja sekarang sedang di luar negri",


"Mba coba buat akun baru,nanti mba buka sosmednya Mas Dodi,nanti mba akan tahu ada apa sebenarnya".


Berakhir sambungan telponku dengan Ira,bukan karena aku tidak senang dengannya,tapi karena kabar yang ia sampaikan padaku.


" Ran...Ran...bangun...Ran...!!!",ku dengar banyak orang yang memanggilku penuh rasa khawatir.


"Kamu kenapa ,nduk sudah berjam -jam kamu pingsan??" tanya bapak mertuaku.


Sebegitu lamakah aku tak sadarkan diri.


"Bapak sudah mengabari Dodi,kalau kamu pingsan,tapi Dodi bilang sudah biasa kamu seperti ini".


Tanpa aku sadari,air mataku menetes dengan sendirinya,suami yang aku temani selama ini justru mulai bermain api dan mengacuhkanku.


Aku menguatkan diri,untuk menyusul Mas Dodi ke Jakarta.Entah dapat kekuatan dari mana,setelah mendapat kabar tak setetes airpun ku teguk,tak sesuap nasipun ku telan.


Aku baru ingat mengapa akhir-akhir ini aku bermimpi Mas Dodi bergandengan tangan,entah dengan siapa karena dalam mimpiku terlihat samar-samar.


Ku buka laci di dalam lemariku,Allah memang Maha Adil,inikah jalanku untuk menyadarkan Mas Dodi,ku ambil uang yang di tinggalkan olehnya untuk biaya penasangan listrik.


Tanpa pikir panjang aku meminta ijin sama bapak mertuaku untuk ke Jakarta menyusul Mas Dodi.Tanpa aku memberitahu apa alasanku menyusul Mas Dodi,aku ingin menyelesaikan semuanya sendiri semampuku.

__ADS_1


next'


__ADS_2