
Rika akhirnya tiba di rumah sakit dan berlari tunggang langgang menuju resepsionis dengan air mata yang terus mengucur. Bahkan dia tidak sanggup lagi berkata-kata dan itu membuat orang-orang yang melihatnya merasa keheranan. Untung saja Tom datang lalu memberi tahu siapa Rika sebenernya.
"Ayo nona, akan aku antarkan ke ruangannya." Ajak Tom.
Rika hanya mengangguk lalu mengikuti Tom ke ruangan dimana Alica beranda. Tibalah mereka di depan kamar yang dimaksud, Rika ingin masuk tapi tiba-tiba Dokter Ririn datang untuk mencegahnya.
"Mohon maaf, anda belum boleh menjenguk pasien karena baru saja melakukan operasi jika Ingin masuk anda harus menggunakan pakaian sanitasi." Ucap dokter Ririn.
"I-iya Dokter aku sangat ingin menemui adikku." Rika setuju yang kemudian dokter Ririn meminta dirinya untuk ikut bersamanya.
Kini Rika sudah berada di dalam ruangan Alica, ia kembali menangis melihat kondisi adik yang sangat ia cintai itu. Rasa sesak di dadanya membayangkan apa yang sudah Alica lalui hingga berakhir seperti itu.
"Maafkan kakak, dek. karena kecerobohan ku, kau sampai mengalami hal ini... Hiks." Rika merasa sangat bersalah karena telat menjemput adiknya tadi malam.
Rika hanya bisa menangis di depan adiknya yang koma. Rasanya sangat hancur dengan kenyataan yang menyakitkan itu.
*****
Kejadian yang menimpa Alica membuat geger seluruh kota, dan menjadi trending nomor satu di koran dan berita nomor satu di televisi. Tom, terus menjalankan investasi atas kasus ini dan satu persatu pelakunya mulai tertangkap.
Satu Minggu berlalu, tapi Alica tak kunjung sadar. Setiap hari Rika menemani adiknya dan kadang-kadang di gantikan oleh Wendi saat Rika di panggil ke kantor polisi untuk melihat proses hukuman para pelaku.
Polisi masih menahan para pelaku sampai Alica sadar untuk dimintai keterangan agar sidang bisa dilakukan. Rika diberikan kesempatan menemui para pelaku yang telah melecehkan adiknya.
"Bajing*n, setan, plak...plak.." Rika yang dikuasai amarah menampar satu persatu pelaku. Dia tidak henti-hentinya mengutuk mereka. Rasa sakit hatinya membuatnya ingin menghabisi mereka semua.
"Kalian semua akan membayar apa yang terlah kalian lakukan pas adikku, Arggg...." Ucap Rika yang tak terkendali.
Mendengar kutukan serta umpatan dari Rika, para pelaku hanya bisa menundukkan kepala. Setelah puas, Rika pergi dengan perasaan yang sedikit lega karena dia bisa melampiaskan rasa sakit hatinya.
Sama akan meninggalkan kantor polisi, handphonenya berdering dan itu telpon dari Wendi.
"Halo Wen, ada apa Alica baik-baik saja kan?" Rika memulai percakapan.
"Halo kak, ada kabar baik kak, Alica mulai memberikan respon dan tadi tangannya bergerak." Jawab Wendi terdengar senang.
"Benarkah, syukurlah kalau begitu aku juga tidak lama lagi sampai. Terima kasih yah Wen." Rika ikut senang mendengar kabar itu.
__ADS_1
Saat Rika tiba, Wendi duduk di luar karena dokter sedang memeriksa Alica. Rika mendekatinya dan turut menunggu dokter keluar. Saat Dokter Ririn keluar dari ruangan, Rika dan Wendi buru-buru mendekat. .
"Selamat, kondisi Alica makin membaik dan alat-alatnya sudah bisa di pindahkan." Ucap dokter Ririn.
Rika dan Wendi semakin senang mendengar kabar itu.
"Apakah dia sudah membuka mata Dok?" tanya Rika.
"Kalau itu masih butuh waktu, kita terus berdoa semoga saja dalam waktu dekat ini dia bisa membuka matanya." Jawab Dokter Ririn.
"Tentu Dok, terimakasih." Ucap Rika.
****
"Bagaimana kak, apa kata pihak polisi tentang pelakunya?" Tanya Wendi pada Rika yang kala itu mereka sudah ada di dalam ruangan.
"Mereka masih menunggu Alica sadar untuk meminta keterangan agar proses hukum bisa berlanjut." Jawab Rika yang tengah membersihkan tangan adiknya dengan tissue basah.
"Kenapa mesti menunggu, sudah jelas mereka salah ini tidak adil namanya." Wendi kesal.
Disaat Rika dan Wendi tengah sibuk berbincang, perlahan-lahan mata Alica terbuka tanpa di sadari oleh dua wanita yang ada di sampingnya.
"Pokoknya saya kurang setuju dengan keputusan polis, bagiamana jika para pelaku itu mencoba melarikan diri." Kesal Wendi.
Pada saat Alica sudah sadar sepenuhnya, ingatan kejadian malam itu langsung terlihat di pikirannya yang kemudian membuat gadis itu berteriak seperti orang ketakutan.
"Jangan.... jangan." Alica memberontak hingga membuat Rika dan Wendi panik seketika.
"Ya tuhan Alica tenang!" Rika mencoba menahan tubuh adiknya.
"A-aku akan panggil dokter!" Segera Wendi berlari untuk mencari dokter Ririn.
Beberapa saat kemudian Wendi dan Dokter Ririn tiba di ruangan dengan tergesa-gesa. Setelahnya Dokter Ririn mengambil suntik obat penenang untuk Alica yang masih terus memberontak. Dalam beberapa detik saja Alica akhirnya tertidur kembali.
"Kenapa dia bisa seperti itu dokter?" tanya Rika dengan cemas.
"Sepertinya Alica mengigau tentang kejadian yang menimpanya dia kira masih ada di waktu yang sama." Jelas Dokter Ririn.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dokter, apakah adikku akan baik-baik saja." Rika bertanya lagi.
"Kita tunggu saja sampai dia sadar kembali, tolong awasi dia selalu dan jika terjadi sesuatu kabari aku segera." Jawab Dokter Ririn kemudian pergi.
Rika terduduk lemas di sofa memikirkan kondisi sang adik, sedangkan Wendi turut duduk sambil mengucapkan pundak Rika dengan lembut.
"Apa kesalahan Alica, sehingga dia mengalami kejadian keji itu." Ucap Rika dengan nada sedih.
"Kakak yang sabar, kita bantu dia keluar dari trauma ini." Ucap Wendi menguatkan.
"Terima kasih ya Wen." Ucap Rika.
*****
Malam pun tiba, kini hanya Rika yang menjaga Alica sebab Wendi sudah pulang tadi sore karena besok dia harus masuk kerja. Seperti biasa, Rika memberikan tubuh adiknya dengan tissue basah setelah itu ia pergi keluar sebentar mencari makanan.
Pada saat Rika meninggal Alica, gadis itu bereaksi dan langsung membuka matanya. Tapi kali ini dia tidak memberontak seperti tadi siang. Tatapan matanya sayu melihat kesegala ruang.
"Dimana aku?" ucapnya lirih.
Disaat dia ingin bergerak rasa sakit yang teramat langsung ia rasakan hingga membuatnya menetaskan air mata.
"Arghh... apa yang terjadi padaku, kenapa seluruh tubuh sakit?" ucapnya tak mau lagi bergerak.
Beberapa menit kemudian, Rika datang dan terkejut melihat adiknya sudah sadar.
"Kakak..." Alica menatapnya dengan mata berkaca-kaca begitu pun sebaliknya.
Rika menaruh makanannya di atas meja dan langsung menghampiri adiknya.
"Maafkan kakak, hiks." Ucap Rika sambil mencium tangan Alica.
"Ada apa dengan ku kak, kenapa tubuh sakit?" tanya Alica seolah lupa dengan apa yang telah ia alami.
"Jangan bergerak dulu, biar Kakak panggil dokter." Rika tidak menjawab pertanyaannya justru dia pergi memanggil dokter Ririn.
Alica diam menunggu sambil mencoba mengingat apa yang telah terjadi kepadanya. Tak tahu kenapa tiba-tiba saja di mendadak lupa padahal tadi siang dirinya memberontak.
__ADS_1