Wanita Pembunuh

Wanita Pembunuh
05. Tenyata hanya pura-pura


__ADS_3

Rupanya Alica cuma berakting dengan berpura-pura lupa tentang kejadian itu. Alica melakukannya karena memiliki alasan dimana dia sendiri yang ingin menghukum para lelaki itu. Dirinya mengapa jika hukuman penjara tidak pantas untuk orang seperti mereka, sehingga ia sendiri yang akan turun tangan sebagai bentuk pelajaran agar kejadian ini tidak terulang untuk kesekian kalinya.


Tok..tok...tok...


"Dek, apakah kamu sudah tidur?"


Secara tiba-tiba Rika mengetuk pintu sehingga membuat Alica terkejut dan segera menyembunyikan pisau dan buah apel di bawah meja lalu memperbaiki penampilannya.


"Iya kak, aku belum tidur ada apa Kakak kesini?" tanya Alica yang telah membuka pintu.


"Hmmm... kakak sebenarnya tidak bisa tidur jadi kakak kesini untuk melihat mu yang ternyata belum tidur juga, ohh iya apakah kakak bisa tidur bersamamu!" Ucap Rika menjelaskan maksud kedatangannya.


"O-ohh tentu saja beloh kak, aku tadinya mau siap-siap tidur dan kakak tiba-tiba datang." Jawab Alica mengijinkan.


Terlihat jelas kecanggungan antara kakak beradik itu, pasalnya itu pertama kalinya mereka tidur bersama setelah dewasa. Dan juga Alica dan Rika sebelumnya sangat jarang bicara karena sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


******


Pagi pun datang, setelah menyiapkan sarapan Rika ingin berangkat kerja. Disaat ia ingin memberi tahu Alica, dia terkejut saat melihat adiknya juga terlalu rapi.


"Dek, kamu mau kemana kok sudah rapi?" Rika yang penasaran bertanya.


"Loh, kok kakak kaget gitu sih bukannya aku juga harus ke kantor karena ini hari pertama ku kerja bukan." Jawab Alica heran.


Rika pun baru teringat jika sang adik amnesia. Rika hanya tersenyum tak tahu harus mengatakan apa pada Alica. Jadi ia pun hanya mengikuti apa yang diinginkan oleh Alica.


"Ayo kak, ini sudah jam setengah delapan, nanti kita telat."


"Hemmm... tapi sebelum berangkat kamu sarapan dulu, kakak tadi buat sarapan." Pinta Rika pada sang adik.


Alica menyetujuinya kemudian bergegas kemeja makan untuk sarapan. Rika segera pergi ke sudut ruangan untuk segera menghubungi Wendi. Sekitar sepuluh menit berlalu mereka pun akhirnya berangkat, Rika tidak terlalu cemas karena tadi dia sudah bicara dengan Wendi agar nantinya dia bisa menangani Alica nantinya.

__ADS_1


"Kak aku sungguh gugup, bagiamana jika nanti aku tidak profesional dalam pekerjaannya." Ucap Alica cemas.


"Tidak perlu khawatir, kakak tau kemapuan mu dan Kakak yakin kau bisa melakukanya." Rika mencoba menenangkan adiknya.


Setelah tiba di kantor Wendi telah menjemput Alica di depan kantor, setelah berpamitan Rika akhirnya melanjutkan perjalanan ke tempat kerjanya.


"Selamat datang Alica, perkenalkan aku Wendi yang akan membantu mu da...."


Belum sempat Wendi melanjutkan ucapannya Alica seketika menyela.


"Tidak perlu seperti itu Wen, aku tahu kau adalah teman ku." Ucap Alica kemudian berjalan masuk kedalam kantor dengan santainya.


Wendi yang melihatnya pun merasa bingung dengan tindakan Alica. Sejenak Wendi mematung di tempatnya sambil terus memandangi Alica yang kini sudah agak jauh darinya.


"Hey, apa yang kau lakukan di sana ayolah nanti jika bos melihat mu akan terjadi masalah." Alica menegurnya kemudian pergi sambil tersenyum. Wendi segera menyusulnya.


Singkat waktu, jam istirahat datang. Wendi yang masih penasaran dengan Alica dengan ragu-ragu mendekati gadis itu karena kebetulan meja mereka berdekatan.


"A-alica, apa kau benar-benar mengenalku bukannya kamu...?" tanya Wendi dengan hati-hati.


Wendi terpaku dan sungguh tidak percaya dengan semuanya.


"Tenang saja, aku tidak akan mungkinkah melupakan sahabatku, heheh." Sambung Alica tertawa receh.


"Tunggu maksudnya apa, apakah kau berpura-pura?" Wendi seketika penasaran.


"Sudahlah nanti saja aku ceritakan, lebih baik kita makan siang dulu." Ucap Alica kemudian menarik tangan sang sahabat pergi.


*****


Di Cafe, Wendi masih terlihat bingung sekaligus penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Alica. Setelah memesan makanan Alica pun duduk berhadapan dengan sahabatnya itu.

__ADS_1


"Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan, kau benar aku tidak amnesia apa lagi sampai melupakan kejadian itu." Ucap Alica sedikit menekan kata terakhir.


"Apa, tapi kenapa kau melakukan ini?" tanya Wendi sedikit syok.


"Aku memiliki alasannya, dan aku harap jangan beritahu kak Rika tentang ini aku mohon." Jawab Alica.


Wendi kembali bertanya apa alasannya tapi Alica menolak untuk memberi tahu karena hanya dialah satu-satunya orang yang akan mengetahui apa yang akan di lakukan.


Ditengah makan siang, tiba-tiba beberapa pria masuk kedalam Cafe itu dengan mengancam beberapa pengunjung untuk meninggalkan meja mereka, para pria itu adalah mereka yang telah melecehkan Alica. Alica menata mereka dengan tajam sedangkan para pria itu sama sekali tidak menyadari keberadaan Alica sebab mejanya terletak di paling ujung.


"Bukannya mereka itu anggota gangster PB?" Ucap Wendi.


"PB, apa itu?" Alica penasaran.


"Yah, Nama gangster yang cukup terkenal di kota, masa kamu tidak tahu sih." Ucap Wendi.


"Aku sama sekali tidak tahu kalau di kota ini ternyata ada gangster." Ucap Alica.


"Gangster ini memang masih baru, ketuanya bernama Pablo dan PB itu singkatan dari namanya. Meraka sangat kurang ajar dan sudah banyak merugikan orang-orang hanya saja para polisi sangat Cemen dan takut dengan neraka." Jelas Wendi.


Alica hanya mengangguk-angguk terlihat polos. Tapi yang sebenarnya dia akhirnya merasa sangat karena mendapat sedikit informasi tentang PB.


"Sebaiknya kita segera pergi jangan sampai mereka melihat kita, ayo." Ajak Wendi kemudian buru-buru meninggalkan Cafe itu


"Jadi meraka adalah anggota gangster!" Batin Alica tersenyum licik


*******


Tak terasa malam pun datang, Alica sibuk mencari informasi tentang gangster PB di internet. Tak hanya itu Alica yang memang pandai dalam IT tahu cara meretas web terlarang yang tidak sembarang orang bisa mengaksesnya.


"Akhirnya... setelah ini akan aku jalankan rencanaku mulai dari kau!!" Alica menunjuk sebuah gambar di layar monitor di mana itu adalah foto seorang pria yang merupakan anggota dari Geng PB.

__ADS_1


Alica tersenyum sinis sambil menatap layar monitor komputernya. tatapan matanya yang tajam seperti harimau yang dihadapkan dengan mangsanya. Kemudian Alica beranjak lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam lemarinya sebuah bungkusan hitam yang di dalamnya ada terdapat beberapa benda tajam yang mengkilap. Semua itu baru ia beli dari sebuah tokoh online ilegal di internet.


"Sungguh indah!" Ucap Alica sambil mengelus benda tajam itu dengan senyuman yang mengerikan. Setelah itu ia kembali menyimpannya ke tempat semula . Setelahnya dia duduk di depan meja riasnya memandangi dirinya dan sesekali tersenyum aneh seolah memikirkan sesuatu yang membuatnya merasa senang


__ADS_2