
Cahaya mentari yang hangat menembus dinding kaca dari balkon hingga membuatku terbangun karenanya. Saat pandanganku yang masih kabur dan buram, aku melihat sesesorang yang sedang merapikan tirai jendela penthouse-ku itu.
"Auhh...silau sekali! Irene, apa kamu berniat untuk merusak mataku?" Ucapku ketus.
"Jika aku tidak membuka semua tirai dan membiarkan semua menjadi gelap gulita, mungkin kakak akan berpikir ini masih malam. Bangunlah, Princess Hollywood! Ini sudah jam delapan! Kemarin kakak baru saja menyelesaikan syuting film baru, tapi bukan berarti hari ini kakak boleh bersantai - santai. Aku memeriksa jadwalmu barusan dan hari ini setidaknya kamu punya tiga tempat yang harus kamu hadiri. Salah satunya, fanmeeting cast film Unforgetting You. Jadi, segeralah bangun dan bersiap! Aku akan membuat sarapan untuk kakak!" Ucapnya yang lebih ketus lagi.
"Dasar kamu, Irene! Malam ini aku baru tidur empat jam! Aku masih benar - benar ngantuk.
Beri aku waktu lima belas menit lagi untuk tidur!" Ucapku memohon pada sahabat sekaligus managerku itu.
"Ya, sudah! Tapi, hanya lima belas menit, ya! Pokoknya, pukul setengah sembilan, kakak harus sudah sarapan! Oke, aku keluar dulu!" Ucapnya sembari keluar dari balik pintu itu.
Aku berpikir sejenak dan baru menyadari sesuatu.
"Yaa...Irene! Berarti waktuku untuk bersiap - siap hanya lima belas menit! Itu tidak cukup!" Ucapku sembari turun dari ranjang dan berlarian ke kamar mandi.
Aku langsung mandi secepat mungkin.Setelah mandi, aku pergi ke kamar pakaian untuk berpakaian.
"Mari lihat, apa yang bisa aku pakai hari ini?" Ucapku.
Aku mencoba banyak pakaian dan tidak menemukan satupun yang cocok.
"Perasaanku, semua pakaian ini sudah pernah aku pakai sebelumnya. Aku tidak bisa keluar dengan pakaian yang sama! Tidak Boleh!" Ucapku.
Aku meraih baju kaus putih dan celana legging panjang lalu memakaikannya ke tubuhku. Aku langsung keluar dan berusaha menemui asisten rumah tangga.
"Bi, apakah ada orang dari sponsorku mengantarkan pakaian hari ini?" Tanyaku pada Bibi Amy, asisten rumah tangga di penthouse-ku.
__ADS_1
"Sama sekali tidak ada, Nona!" Ucapnya.
"Baiklah! Lanjutkan pekerjaanmu, Bi! Malam ini tolong masakkan sup ayam untukku, ya! Sudah lama aku tidak memakannya! Sup ayam buatan Bibi yang paling enak sedunia!" Ucapku bersemangat.
"Baik, Nona! Tentu saya akan buatkan untuk Nona!" Ucapnya sambil tersenyum.
"Asyik! Kalau begitu aku mau menemui Irene dulu, ya, Bi! Sampai jumpa!" Ucapku sembari pergi.
Aku berjalan menuju meja makan dan melihatnya yang sedang asyik menonton televisi.
"Irene, Aku tidak tahu harus pakai pakaian apa karena sponsorku belum mengantarkan pakaian untukku." Ucapku padanya sambil mencicipi tiramisu di atas meja makan.
"Ohh, iya, aku lupa memberikan ini untukmu!" Ucapnya sembari memberikan sebuah kotak.
"Apa ini?" Ucapku sambil membuka kotak itu.
"Sepertinya kamu fokus sekali dengan tayangan hari ini!" Ucapku sambil melirik tayangan televisi itu.
Ternyata, dia sedang menonton serial dari film baru yang aku perankan dan baru tayang seminggu ini.
"Aku tidak pernah menyangka bahwa Kak Vanetta akan sesukses seperti sekarang! Aku bisa melihat bahwa kemampuan aktingmu semakin baik dari waktu ke waktu. Aku dengar dari produser serial film "Wonderwall of Love" ini mengatakan bahwa rating filmnya akhir - akhir ini sangatlah tinggi. Wah...aku benar - benar kagum padamu! Aku yakin Kak Giselle juga pasti bangga dan bahagia dengan pencapaian kakak hingga saat ini!" Ucapnya sambil tersenyum cerah.
"Ohh... benarkah? Terima kasih pujiannya, Irene! Tapi, tentu saja kalau yang memerankan itu adalah Giselle, mungkin film itu akan sepuluh kali lipat lebih sukses dari pada aku yang memerankannya." Ucapku agak sendu.
"Kak Vanetta, apa yang kamu pikirkan? Ini juga impian kakak dan sekarang kakak sudah berhasil mencapainya! Kakak tidak perlu merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Kak Giselle. Aku yakin dia pasti sangat bahagia di surga karena melihat Kakak berhasil mencapai impian Kakak! Selain itu, ini juga impiannya untuk melihatmu berhasil menjadi seorang bintang!" Ucapnya yang berusaha menghiburku.
Irene memberikan pelukannya yang hangat untukku. Aku tidak tahu alasannya mengapa dia masih saja terus bersamaku hingga sekarang. Padahal, kami dulu hanya bersepakat untuk terus bersama hingga aku debut menjadi bintang. Tapi, ini sudah masuk tahun ketiga sejak aku debut sebagai aktris. Meski begitu, aku merasa senang memilikinya di sampingku karena sedikit demi sedikit bisa mengobati luka yang selama ini inginku lupakan. Jujur, aku merasa sangat jahat karena tindakanku ini seperti mengekangnya untuk tetap di sisiku. Mungkin suatu saat aku akan mencoba melepasnya pergi karena dia juga pasti memiliki impian yang ingin dicapainya.
__ADS_1
Selagi kami berpelukan, dia kemudian sadar dan langsung menatap layar handphonenya.
"Gawat, Kak! Sekarang sudah pukul delapan lebih empat puluh menit! Cepatlah sarapan dan segera pakai dress-nya! Kalau dandanannya nanti di lokasi saja! Aku akan menelepon supir untuk menyiapkan mobil! Cepat, ya, Kak!" Ucapnya tergesa - gesa.
"Santai saja, Irene! Lagipula acara itu hanya akan dimulai kalau aku sudah hadir!" Ucapku santai.
"Tidak baik membuat orang menunggu, Kak! Para penggemarmu pasti sudah menunggu bahkan sebelum kamu bangun tadi! Ayo, cepatlah!" Ucapnya sambil mendorongku yang masih menyeruput jus melonku.
"Iya, iya, aku akan cepat! Kamu pergi telpon supir saja sana, Dasar Bawel!" Ucapku.
"Oke, aku pergi dulu!" Balasnya sambil pergi untuk menelepon.
Aku juga bergegas menghabiskan sarapanku dan langsung ke kamar untuk berganti pakaian. Aku menyempatkan untuk berdandan sedikit agar mata pandaku tidak terlalu kelihatan. Takutnya ada jurnalis yang sedang berkeliaran dan memotretku tanpa riasan sama sekali lalu mengepostnya menjadi berita yang merusak image-ku sebagai si pemilik wajah yang selalu bercahaya. Tentu saja itu tidak boleh sampai terjadi. Aku menepuk - nepuk bedak pada wajahku dengan tipis lalu memakai lipgloss warna merah muda untuk melembabkan bibirku. Setelah semua siap, aku bergegas keluar kamar dan menuju ke lift untuk turun. Saat aku baru saja mau menekan tombol lift, langsung keluarlah Pak Marion dari private lift yang menghubungkan penthouse-ku dengan lantai dasar hotel ini. Pak Marion selaku manager Vanette Suite Hotel,sudah seperti kebiasaannya, dia akan memberikan laporan mingguannya mengenai perkembangan bisnis di hotel ini sekaligus meminta tanda tanganku sebagai pemilik dari hotel ini. Selama bertekun di bidang karir aktingku, aku juga melakukan investasi di beberapa bidang bisnis. Awalnya, aku memulai bisnis dengan membuat spa kecantikan lalu membuat sebuah restoran dan sekarang sebuah hotel bintang lima yang sangat terkenal di Los Angeles ini. Aku sangat bekerja keras dan juga teliti dalam menjalankan semua bisnisku disela - sela kesibukanku di depan layar lebar. Bahkan, aku membangun penthouse di atas hotel ini agar aku bisa memonitor usaha ini dengan baik. Jika dipikir - pikir ini memang suatu pencapaian yang sangat gemilang dalam kurun tiga tahun ini.
Pak Marion pun menyapa dan memberikan laporannya padaku.
"Selamat pagi, Nona! Saya ingin memberikan laporan mingguan dan meminta tanda tangan Nona untuk event hotel sabtu ini! Silakan dibaca dulu!" Ucapnya sambil memberikan draft pendapatan dan lembar persetujuan event hotel yang selalu diadakan setiap minggunya.
Aku pun membacanya secara keseluruhan dan langsung menandatanginya.
"Baiklah, Pak Marion! Anda benar - benar bekerja keras akhir - akhir ini! Saya benar - benar mengapresiasinya! Terima kasih atas kerja kerasnya, Pak Marion! Saya harus segera pergi karena ada jadwal hari ini! Saya percayakan hotel ini kepada Anda, ya!" Ucapku sembari memberikan draft-nya dan masuk ke dalam lift.
"Baik, Nona! Semoga hari ini semuanya lancar untuk Nona!" Ucapnya sambil memberi hormat.
Aku hanya melambaikan tangan padanya lalu pintu lift pun tertutup dengan rapat. Di dalam lift, aku sejenak melihat refleksi diriku yang terpantul dari dinding lift yang terbuat dari cermin itu. Setiap harinya, aku selalu memikirkan semua perjuanganku hingga saat ini. Aku yang berhasil meninggalkan masa laluku dan kini sukses dengan impianku. Aku sadar, diriku yang sekarang tentu tidak ada tanpa diriku yang dulu. Jadi, seberat apapun yang kurasakan di waktu dulu, tetap hal itu masih dan akan terus menjadi bagian dariku meski aku berusaha menghapusnya. Dalam hatiku yang paling dalam, aku hanya berharap itu semua akan menjadi kenangan dan mesin pendorong untukku melangkah maju. Hanya itu yang kuinginkan!
"Aku yang sekarang sangat berbeda dari diriku yang dulu dan karenanya aku puas, tapi tanpa diriku yang dulu, aku tidak bisa menjadi diriku yang sekarang. Diriku yang dulu adalah bagian dari diriku yang sekarang dan untuk selamanya."
__ADS_1
--- Vanette (Umur 23 Tahun) ---