
Cahaya kilau ruang lobi hotel yang dindingnya dilapisi emas lima belas karat itu benar - benar berhasil menyilaukan mataku yang baru saja bangun dari lamunanku saat di dalam lift. Irene yang sudah menunggu sejak tadi, kini menyambut dengan memberikan kacamata hitam padaku.
"Kak, ini pakailah! Aku tidak tahu mengapa ada banyak sekali wartawan di luar sana! Padahal, aku sudah pastikan kemarin kalau tidak ada satupun informasi jadwal hari ini yang bocor!" Ucapnya agak gelisah.
"Mungkin mereka sudah dengar soal acara fanmeeting itu! Jadi, anggap saja mereka sedang membuag karpet merah untukku!" Ucapku percaya diri.
"Kupikir kakak tidak akan suka kalau terlalu banyak memotret apalagi kakak, kan belum berdandan!" Ucapnya sambil terperangah melihat dandananku yang tipis.
"Siapa bilang aku tidak berdandan? Aku sudah tahu akan terjadi hal seperti ini! Jadi, aku usahakan untuk berdandan meski tidak sempurna." Ucapku hingga sudut bibirku pun naik.
"Wah... Kakak memang peka! Kalau begitu, kita berangkat sekarang!" Ucapnya sambil menggandeng tanganku.
"Oke, tapi kita tidak perlu bergandengan juga, Irene!" Ucapku merasa kurang nyaman.
"Baiklah, Kakakku yang Bawel!" Ucapnya sambil tersenyum cerah.
Akhirnya, kami pun keluar dari hotel dan di sambut puluhan wartawan yang sudah menunggu untuk menagih wawancara denganku. Tapi, tentu saja ada aturannya kalau ingin mewawancaraiku. Seperti biasa, Irene yang akan maju untuk menghentikan kerumunan wartawan itu. Dia benar - benar tameng yang luar biasa berbakat yang pernah kumiliki. Dia mengantarkan aku masuk ke dalam mobil kemudian melayangkan narasinya pada wartawan itu.
"Princess Vanette, tolong wawancara dengan kami sebentar!" Ucap salah seorang wartawan yang ambisius.
"Saya dari pihak manager dari aktris Vanette menyatakan bahwa aktris kami tidak bisa memberikan wawancaranya disini! Jika kalian mau wawancara, sebaiknya lakukan di acara resmi seperti fanmeeting cast yang sebentar lagi akan berlangsung. Kurang lebihnya tolong dimaafkan! Terima kasih dan selamat pagi!" Ucapnya sembari berjalan dan masuk ke mobil lewat pintu lain.
Aku melihatnya mendengus dengan penuh emosi.
"Haahhh.... Mereka itu benar - benar tidak pengertian! Ini masih pagi, tapi mereka sudah membuat orang lain jadi darah tinggi!" Keluhnya.
Aku menaikkan kacamata hitamku ke atas kepala dan mengambil majalah di saku mobil lalu membacanya sambil meladeni ucapan Irene itu.
"Mereka mau bagaimana lagi? Itu pekerjaan mereka! Kalau mereka tidak melakukannya, maka mereka tidak akan mendapat berita. Jika tidak ada berita, ujung - ujungnya mereka tidak akan mendapat gaji dan lebih parah lagi mereka akan dipecat. Semua pekerjaan itu mempunyai resiko. Tapi, selama kamu menyukai pekerjaanmu, maka resiko itu bukan apa - apa untukmu! Kamu akan melakukan segala sesuatu untuk mempertahankannya. Disitu kamu akan dituntut untuk keluar dari zona nyaman.Semua orang harus merasakan namanya keluar dari zona nyaman, bukan?" Ucapku.
"Kamu benar, Kak! Mungkin ini namanya zona tidak nyamanku! Hehe..." Ucapnya sambil tertawa kecil.
"Akhirnya, kamu menyadarinya juga, Gadis Kecil! Padahal, aku hanya menggunakan kata - kata diplomasi untuk menyinggungmu. Sepertinya kamu semakin pandai saja sekarang!" Ucapku sambil mengelus rambutnya.
__ADS_1
"Ahh...Kakak! Jadi, tadi kakak menyinggungku, ya! Awas saja, nanti malam aku akan mengelitikmu hingga kakak memohon ampun padaku!" Ucapnya.
"Irene, maaf, itu hanya bercanda! Jangan lakukan hal itu lagi! Membayangkannya saja sudah membuatku geli!" Ucapku dengan ekspresi merinding.
"Hahaha... Makanya jangan cari masalah denganku, Kak!" Ucapnya sambil tertawa melihat tingkahku.
Setelah dua puluh menit perjalanan, akhirnya kami pun sampai di Jasmine Hall Center, tempat fanmeeting hari ini. Sebelum ke panggung acara, Irene mengarahkanku untuk pergi ke ruang rias. Akhirnya, kurang lebih lima belas menit, aku sudah selesai berdandan lengkap dan siap untuk fanmeeting -nya.
"Wah... Kak Vanette memang yang paling cantik dan hari ini juga benar - benar mengagumkan!" Ucapnya terpesona dengan kecantikanku.
"Terima kasih pujiannya, Irene!" Balasku dengan senyumanku yang merona.
"Kalau begitu, kita segera ke panggung saja! Daripada ditunggu, lebih baik menunggu, kan?" Ucap Irene dengan semangatnya yang membara.
"Kenapa kamu bisa begitu bersemangat setiap harinya, Irene? Baiklah, ayo, kita segera ke panggung, Dasar Anak Keras Kepala!" Ucapku sambil menggelengkan kepalaku karena sikapnya yang begitu bersemangat.
Kami segera keluar dari ruang rias dan langsung menuju panggung acara. Aku melihat lautan penggemar yang sudah hadir untuk melihat fanmeeting hari ini. Jujur, aku benar - benar kagum sekaligus tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Mereka menyoraki namaku berkali - kali. Orang yang datang sepuluh kali lipat dari biasanya.
"Princess Vanette! Princess Vanette!" Sorak - sorai dari lautan penggemar yang berada di depanku.
"Kak, berjalanlah sekarang! Aktor dan aktris yang lain juga akan menyusul nanti!" Ucap Irene yang mendorongku.
"Oke, Irene! Santai saja! Aku jalan sekarang!" Ucapku sambil berjalan masuk.
Aku langsung berjalan di atas karpet merah dan menyapa beberapa penggemar serta wartawan yang ingin memotretku. Beberapa penggemar juga membawa poster dengan gambar diriku dan meminta tanda tanganku di atasnya. Aku menandatanginya dengan senang hati dan sedikit berinteraksi dengan mereka sebelum akhirnya aku duduk di atas panggung acaranya. Setelah menunggu sekitar tiga puluh menit, akhirnya semua cast film itu hadir dan dimulailah sesi tanya jawab bersama seorang pembawa acara di atas panggung.
Pembaca acara itu pun menanyakan segala sesuatu mengenai peran masing - masing cast dan semua kaitannya dengan film ini.
Aku cukup beruntung menjadi peran utama dalam film ini sehingga aku yang pertama diwawancarai oleh pembawa acara itu. Aku menjelaskan semua dengan baik dan penuh percaya diri tanpa kesalahan sedikitpun.
Selagi aku asyik diwawancarai oleh pembawa acara itu, tiba - tiba muncul keributan dari tengah - tengah banyak orang. Aku mendengar suara terompet yang sangat keras dan saling bersahut - sahutan
Kemudian aku melihat pasukan orang berpakaian seperti pengawal istana yang membuat barikade sepanjang karpet merah itu dan di sela - sela kerumunan orang. Yang menbuatku lebih terkejut lagi adalah ketika salah satu pengawal itu mengibarkan bendera yang tidak asing lagi bagiku. Seketika itu, aku tidak bisa berkata - kata lagi dan seluruh tubuhku menjadi panas dingin tidak karuan. Kemudian muncullah sebuah mobil yang sangat mewah dan keluarlah seorang wanita yang memakai busana kerajaan dan sebuah mahkota di kepalanya.
__ADS_1
"Beri hormat untuk Yang Mulia Ratu Kerajaan Berdine, Ratu Victoria!" Teriak seorang pengawal.
Wanita itu pun berjalan mendekati panggung acara dan kemudian menatapi satu persatu orang yang berada di atas panggung hingga akhirnya dia berhenti tepat di depanku.
"Maaf, jika saya mengganggu acara ini! Saya hanya ingin membawa putri saya kembali pulang ke kerajaan Berdine!" Ucapnya dengan nada yang sedikit angkuh.
"Maaf, Yang Mulia! Tidak mungkin disini ada seorang putri kerajaan! Mereka semua adalah aktor dan aktris di negeri ini! Mungkin Anda mendatangi tempat yang salah!" Ucap pembawa acara itu.
"Jadi, maksudmu saya tidak bisa mengenali putri saya sendiri? Dia yang sekarang berada tepat di hadapanku, dia adalah Putri Mahkota Kerajaan Berdine, Vanetta Cerelia, putriku!" Ucapnya sambil menunjuk ke arahku.
Semua orang yang menyaksikan terlihat kebingungan dan membuat suasana menjadi sangat ramai dan tidak kondusif. Aku sendiri masih terpaku di tempat dan tidak berani mengatakan apapun.
"Putriku, Vanetta! Akhirnya ibu berhasil menemukanmu! Sekarang mari kita pulang bersama! Sudah cukup pelarianmu selama delapan tahun ini! Kamu pasti sudah merasakan susahnya hidup di dunia luar, bukan? Sekarang waktunya kamu untuk bertakhta dan menjadi ratu kerajaan Berdine!" Lanjutnya sambil tersenyum.
Kemudian, seluruh pengawal itu pun berseru - seru menyebut namaku.
"Hidup Putri Mahkota Vanetta, hidup kerajaan Berdine!" Sorak mereka yang lama - kelamaan menjadi sangat keras.
Aku tidak bisa menerima ini. Aku tidak mau kembali dan tidak ingin pernah kembali menjadi putri boneka lagi. Aku harus segera kabur dari sini. Tapi, aku tidak tahu harus melakukan apa. Kakiku tidak bisa bergerak dan terasa kaku. Tiba - tiba, seseorang menarik tanganku dari belakang.
"Kak Vanette, tunggu apa lagi? Kita harus segera pergi dari sini! Ayo, jangan buang - buang - buang waktu lagi!" Ucap Irene yang naik ke atas panggung untuk menarikku keluar dari situasi itu.
Masih separuh aku berjalan pergi, wanita itu yang adalah ibuku kemudian mengatakan sesuatu yang membuatku tertegun.
"Putriku, Vanetta, kali ini kamu benar - benar harus kembali! Ayahmu tidak akan bertahan lebih lama lagi! Beliau ingin sekali melihatmu untuk terakhir kalinya!" Ucapnya sedikit sendu.
Aku berhenti sejenak dan mencoba memikirkannya. Namun, Irene kembali menarikku untuk pergi.
"Kak Vanetta, jangan menjawab satupun dari yang dia katakan! Jangan tertipu dengan kebohongannya lagi! Bukankah kakak sudah berjanji pada diri kakak sendiri untuk meninggalkan segalanya yang berhubungan dengan masa lalu kakak dan memulai semuanya dari awal? Sekarang kakak cukup ikut denganku seperti dulu! Kita akan mengatasinya bersama - sama!" Ucap Irene yang membuatku teringat dengan janji dan dendamku.
Akhirnya, aku memilih pergi bersama Irene dan berusaha menghindari ibuku. Ibuku lalu menyuruh pengawalnya untuk mengejarku. Namun, mereka tidak berhasil mengejar kami karena kami langsung naik ke mobil lalu pergi secepat mungkin.
Aku tidak pernah menyangka hari ini pun datang ke dalam hidupku yang sudah susah payah aku bangun dengan kerja keras selama bertahun - tahun. Aku tidak percaya mereka akan menemukanku di sini. Untuk kedua kalinya, aku berusaha kabur dari masa laluku. Ya, aku harus melakukannya. Aku tidak bisa kembali terjebak dalam masa laluku yang mengerikan itu. Aku harus memperjuangkan hidupku yang sekarang dan mempertahankannya hingga detik terakhir dalam hidupku ini.
__ADS_1
"Semua orang terkadang harus mengambil suatu resiko untuk keluar dari zona nyamannya karena jika tidak, maka mereka tidak akan pernah mengalami perubahan dalam hidupnya dan tetap berada di titik awal mereka memulainya."
---Vanette ( 23 tahun)---