
Cahaya matahari yang begitu terang itu perlahan masuk melewati tirai jendela yang mulai terbuka. Tampak samar aku melihat seseorang membuka tirai itu hingga membuat mataku silau.
"Selamat pagi, Tuan Putri! Anda harus segera bangun sekarang karena hari ini ada kelas kerajaan!" Ucapnya.
"Beri aku waktu lima belas menit lagi, Bu Hannah! Aku masih ngantuk sekali!" Ucapku sambil menarik selimut lagi.
"Tuan Putri, anda harus bangun sekarang, kalau tidak, nanti Yang Mulia Ratu akan marah!" Ucapnya yang khawatir.
"Ibu? Apa dia masih peduli padaku? Semenjak kakak dilantik menjadi putra mahkota, perhatiannya tertuju sepenuhnya hanya untuk kakak. Lagipula, apa pentingnya aku ikut kelas kerajaan yang sama sekali tidak ada gunanya bagiku. Akhirnya, aku akan menjadi senjata politik!" Ucapku ketus.
"Tuan Putri tidak boleh berbicara seperti itu! Yang Mulia Ratu sudah menyiapkan yang terbaik untuk Tuan Putri. Tolong jangan disia - siakan!" Ucapnya.
"Kalau bukan karena Bu Hannah, aku tidak ingin bangun sekarang!" Ucapku sembari turun dari ranjang.
"Syukurlah, Tuan Putri! Mari saya bantu bersiap!" Ucapnya sambil tersenyum.
Bu Hannah adalah kepala pelayan yang khusus melayani Tuan Putri, yaitu aku. Tapi, bagiku, dia sudah seperti ibuku sendiri. Bahkan, aku sempat percaya bahwa dia adalah ibu kandungku karena dia sangat baik dan pengertian kepadaku sejak aku kecil daripada Yang Mulia Ratu.
"Tuan Putri, ayo, segera berpakaian!" Ucapnya.
"Apakah tidak ada pakaian lain selain itu? Aku tidak suka model yang seperti itu lagi! Pakaian seperti benar - benar tidak nyaman!" Ucapku.
"Tapi, Tuan Putri, ini memang pakaian yang seharusnya anda pakai sebagai seorang wanita bangsawan! Saya mohon, anda segera memakainya, Tuan Putri! Anda akan terlambat sebentar lagi!" Ucapnya sambil membujuk.
"Biar saja aku terlambat! Lagipula, mereka tidak akan mulai sebelum aku datang!" Ucapku.
Selagi aku sibuk berdebat dengan Bu Hannah, tiba - tiba masuklah Yang Mulia Ratu yang merupakan ibuku itu.
"Tuan Putri Vanetta, apa kamu masih saja mau membuat mereka menunggumu lebih lama lagi? Dan kalian para pelayan, mengapa hanya mengurus ini saja, kalian tidak bisa melakukannya dengan cepat? Apa kalian masih mau menerima upah kalian bulan depan?" Ucapnya yang ketus.
"Maaf, Yang Mulia Ratu!" Ucap Bu Hannah.
"Mengapa ibu memarahi mereka? Ini adalah salahku! Oleh karena itu, cukup aku saja yang dimarahi. Lagipula, aku tidak ingin mengikuti kelas itu lagi! Rasanya semua orang hanya membicarakan aku saja." Ucapku.
Belum sempat aku menyelesaikan perkataanku, Ibu pun langsung menamparku dengan keras.
__ADS_1
"Plaaaakkkkk....."
"Apa kamu pikir bisa bermain - main lagi, Tuan Putri Vanetta? Untuk apa kamu memikirkan perkataan mereka yang sangat jauh lebih rendah daripada dirimu itu! Kamu harusnya bersyukur karena sudah dilahirkan sebagai putri dari raja dan ratu negeri ini. Banyak orang di luar sana yang menginginkan posisimu sekarang dan itu termasuk Putri dari Selir Raja, Putri Caroline. Tahukah kamu kalau posisimu sekarang terancam karenanya?" Ucapnya.
"Aku tidak tahu tentang itu dan aku memang tidak mau tahu soal itu! Sejak awal, aku tidak pernah menginginkan posisi ini! Kalau dia mau, aku akan berikan dengan senang hati!" Ucapku dengan ekspresi marah.
"Kamu benar - benar anak tidak tahu diri! Pokoknya kamu harus mempertahankan posisimu itu bagaimanapun caranya! Sekarang kamu pergi dan ikuti kelas kerajaan itu! Kalau tidak, ibu tidak akan mengizinkanmu keluar istana lagi! Kepalaku sekarang jadi pusing, jadi lakukan saja apa yang ibu minta padamu itu" Ucapnya sembari pergi.
Aku masih mengelus pipiku yang masih merah bekas tamparan. Aku tidak mengapa ibu begitu membenci Putri Caroline dan ibunya. Padahal, mereka begitu baik padaku. Bahkan, mereka lebih peduli padaku daripada ibuku sendiri. Semua apa yang aku lakukan adalah salah baginya. Dia hanya ingin aku hidup seperti yang dia inginkan.
Dengan perasaan marah, aku memakai pakaian itu dan langsung bergegas ke ruang belajar kerajaan. Sepanjang perjalanan, aku terus saja bergumul dalam ocehanku yang tidak terima diceramahin pagi ini. Tanpa sadar, akhirnya aku menabrak orang yang berjalan di depanku.
"Dukkk....."
"Aduhhh...maaf...maaf!" Ucapku sambil mendongak ke atas.
"Hmm...Tuan Putri Vanetta sepertinya tidak fokus hari ini! Bahkan, dia tidak bisa melihat jalannya dengan baik." Ucapnya sambil tersenyum.
"Kak Vincent! Maksudku Putra Mahkota! Sedang apa anda di sekitar sini? Bukankah ruang belajar pribadi anda ada di istana utara?" Ucapku.
"Kakak, aku juga merindukanmu! Aku ingin menemuimu, tapi ibu mengatakan bahwa kamu sibuk. Oleh karena itu, aku disuruh mengikuti kelas kerajaan setiap hari. Itu benar - benar membosankan. Kakak kan tahu aku tidak suka itu!" Ucapku manja sambil memeluknya.
"Iya, itu kan memang kewajiban seorang putri untuk mengikuti kelas kerajaan! Dasar kamu ini, Anak Nakal! Tapi, bolehlah sekali - sekali kamu bolos dan pergi menemani kakak berkeliling istana! Bagaimana?" Ajaknya.
"Tentu saja aku mau, Kak! Tapi, ibu nanti marah!" Ucapku cemberut.
"Kalau aku yang bicara padanya, pasti dia tidak marah! Lagipula sesuatu yang berlebihan juga tidak baik dan harus diselingi dengan istirahat. Bukankah begitu?" Ucapnya.
"Setuju, Kak! Hari ini kita bermain - main saja. Ayo, Kak!" Ajakku sambil menarik tangannya.
Aku menarik tangannya dan membawanya ke taman istana. Aku pun menunjukkan sesuatu padanya.
"Kak, coba lihat pohon ini! Apakah kakak masih ingat dengan pohon ini?" Tanyaku padanya.
"Ini Pohon Apel! Sejak kapan ada disini?" Ucapnya bingung.
__ADS_1
"Ahh...Kakak jangan bercanda! Ini pohon yang kita tanam bersama tiga tahun lalu dan sekarang sudah berbuah!" Ucapku menjelaskan dengan ekspresi kesal.
"Haha...menggoda adikku ini benar - benar sangat menyenangkan! Jangan marah begitu! Iya, tentu saja kakak ingat! Terus apakah buahnya enak?" Ucapnya dengan senyumannya yang indah.
"Aku belum pernah memakannya! Tentu saja aku ingin memakannya bersama dengan kakak!" Ucapku.
"Adikku memang tuan putri yang baik hati dan juga setia! Terima kasih sudah menungguku! Aku sungguh merasa terhormat bisa memakannya bersama Tuan Putri!" Ucapnya.
"Ahh... Jangan begitu, aku kan jadi malu!" Ucapku.
"Kalau begitu, tunggu apa lagi! Kepala Pelayan, tolong ambilkan buah apelnya untuk kami!" Ucapnya memberi perintah.
"Ahh...Tidak perlu, Kak! Rasanya akan lebih enak jika kita ambil sendiri! Aku yang akan ambil! Jadi, tunggu disini, ya!" Ucapku.
"Vanetta, kamu tidak perlu.." Ucapnya terhenti sambil menggeleng - gelengkan kepalanya.
Aku mengambil galah yang diberikan pelayan lalu berusaha mengambil apelnya. Setelah hampir lima belas menit, akhirnya aku bisa menjatuhkan tiga apel. Aku pun langsung membawanya kepada putra mahkota yang sedang duduk di bangku taman.
"Ahh...ternyata lumayan sulit juga memetik apelnya!" Ucapku sambil mengusap dahiku yang penuh keringat.
"Begitu saja kamu sudah kelelahan, Dasar Keras Kepala! Harusnya biar kepala pelayan yang ambilkan! Mari duduk dan kita nikmati roti sandwitch dan jus jeruk ini! Anggap saja kita lagi piknik!" Ucapnya sambil menyuruh pelayan untuk menyajikannya.
"Tunggu dulu! Berikan padaku semuanya! Bukan begini caranya kalau mau piknik! Piknik itu harus di tempat terbuka di padang rumput dan sebuah pohon sebagai peneduh. Kalau begitu, akan kutunjukkan, Kak! Ayo!" Ucapku sambil menariknya ke padang rumput di tengah taman itu.
Aku kemudian membuka tikar di atas rumput dan meletakkan makanan piknik di atasnya.
"Nah, ini baru namanya piknik! Duduk di bawah langit dan menikmati makanan sambil melihat pemandangan yang indah!" Ucapku sambil berbaring di atas tikar itu.
"Selera adikku memang yang terbaik! Kepala pelayan, tolong tinggalkan kami sendiri!" Ucapnya.
"Kak, kemarilah! Berbaringlah di sampingku!" Ajakku.
"Oke, tentu saja!" Ucapnya sambil berbaring di sampingku.
Dia hanya bisa tersenyum melihat tingkahku. Kakakku adalah satu - satunya orang yang selalu mendukung keinginanku. Dia tidak pernah berusaha mengaturku dengan apapun juga. Dia hanya ingin aku menjadi diriku yang apa adanya saja. Hal itu sangat berbeda dengan apa yang ibu dan ayah lakukan kepadaku. Mereka hanya tahu untuk menuntut hasil yang mereka inginkan. Tapi, mereka tidak pernah mendengarkan keinginanku sama sekali. Aku sadar bahwa itu semua bertentangan dengan kondisiku sekarang sebagai seorang putri kerajaan. Tapi apakah takdir hanya akan menjadi seperti itu? Tidak dapat diubah? Aku berharap bila suatu saat dia menjadi raja, dia akan mengabulkan satu permintaan yang selalu aku inginkan, yaitu mengizinkan aku untuk menjadi diriku sendiri seperti burung yang terbang bebas di angkasa.
__ADS_1