
Dia tidak henti - hentinya mondar - mandir dengan ekspresi paniknya. Matanya hanya tertuju pada layar handphone yang tidak pernah lepas dari tangannya. Sesekali dia juga mengertakkan giginya yang membuat merasa terganggu. Aku malah berpikir dia yang lebih panik daripada aku. Padahal, sebenarnya hal ini adalah masalahku. Seharusnya aku yang merasa sangat cemas dan gelisah daripada dia.
"Irene, apakah kamu bisa berhenti mondar - mandir? Kepalaku pusing melihatmu seperti itu! Duduklah dan tenangkan dirimu!" Ucapku menghentikan langkahnya.
"Ahh...maaf, Kak! Aku hanya sedikit khawatir kalau mereka akan kesini dan berusaha membawamu pergi. Oleh karena itu, aku ingin memastikan keamanan di lantai bawah benar - benar aman." Ucapnya sembari duduk di sebelahku.
Sudah sejam yang lalu, aku sampai di penthouse-ku setelah berhasil kabur dari kejaran para pengawal istana itu. Aku tidak tahu harus berbuat apa jikalau saja tidak ada Irene yang menolongku tadi. Sekarang pikiranku benar - benar gundah dan sedikit takut pada apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah kali ini aku bisa bertahan? Apa karirku sebagai artis akan berakhir seperti ini? Pertanyaan itu yang selalu terngiang - ngiang di kepalaku. Ditambah lagi dengan perkataan ibu mengenai ayah yang tidak bisa bertahan lebih lama lagi membuatku sedikit khawatir dan merasa bersalah. Tapi, jujur dalam hati, aku benar - benar tidak ingin kembali ke tempat yang sudah menghancurkan diriku itu.
Tiba - tiba, telepon di atas meja pun berdering. Mata kami pun tertuju pada telepon yang berdering itu. Lalu, Irene pun berdiri untuk mengangkatnya.
"Irene, biar aku saja yang jawab!" Ucapku menarik tangan Irene supaya dia tidak menjawab telepon itu.
"Baiklah, Kak!" Balasnya.
Aku pun berdiri dan langsung bergegas mengangkatnya dengan perasaan tak menentu.
"Kring....kring....kring..."
"Halo! Siapa ini?" Ucapku menjawab telepon itu.
"Vanette, kamu ada di atas? Ini aku, Disa, manager agensimu! Ada hal penting sekali yang ingin kusampaikan! Aku mau naik lift
VIP, tapi kata resepsionis kalau lift itu sudah dimatikan sejak sejam yang lalu. Bisakah kamu menyalakannya dan membiarkan aku naik?" Balasnya.
"Ohh...Manager Disa, maaf, apakah kakak sendiri?" Ucapku untuk memastikan dia tidak membawa siapa - siapa.
"Iya, aku sendiri! Kalau tidak percaya, kamu cek CCTV lift saja!" Ucapnya.
Aku pun menyuruh Irene menyalakan layar LCD dan mengecek CCTV yang ada di penthouseku untuk melihat ruang lobi. Aku melihat dia benar - benar datang seorang diri. Aku langsung melanjutkan percakapanku di telepon.
"Kak, aku akan nyalakan liftnya sekarang! Sebaiknya kakak langsung menunggu di depan lift saja dan masuk dengan cepat! Aku tutup teleponnya sekarang, ya!" Ucapku langsung menutup teleponnya.
__ADS_1
Aku bergegas pergi menyalakan daya liftnya dan menunggunya naik. Tidak berselang lama, akhirnya dia pun keluar dari lift itu. Aku langsung menyambut kedatangannya.
"Vanette, kamu tidak apa - apa, kan?" Ucapnya cemas sambil memelukku.
"Iya, aku tidak apa - apa untuk saat ini!" Ucapku.
"Apakah kamu sudah melihat berita hari ini?" Tanyanya.
"Belum, Kak!" Ucapku bingung.
"Kalau begitu, kamu harus melihatnya langsung! Irene?" Ucapnya.
"Iya, Kak Disa?" Balas Irene.
"Nyalakan TV-nya sekarang!" Pintanya.
"Baiklah!" Ucap Irene seraya meraih remote dan menyalakan tvnya.
"Kak Vanette, jangan menangis! Kita pasti bisa menemukan solusinya!" Ucap Irene berusaha menghiburku dan memelukku.
"Meski aku tidak mau berhenti berharap, tapi kali ini sepertinya aku akan benar - benar hancur untuk kedua kalinya dan semua ini karena orang yang sama!" Ucapku sambil menangis.
"Kak Disa, sebenarnya Kak Vanette tidak salah apa - apa! Aku selalu bersamanya sejak dulu dan aku tahu semua yang terjadi di masa lalu.Kalau kamu tidak percaya, aku akan menjadi saksi hidupnya dan menjelaskan pada mereka semua!" Ucap Irene.
"Tidak semudah itu, Irene! Kamu mungkin bisa membelanya, tapi kamu tidak bisa memberikan keterangan secara langsung seperti itu. Yang harus menjelaskannya adalah Vanette sendiri. Aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu di masa lalu, Vanette? Tapi, sebagai pihak agensimu, kami akan berusaha membantumu keluar dari masalah ini! Jika kamu benar, kami akan mendukungmu sepenuhnya! Oleh karena itu, kali ini aku butuh kerjasama denganmu, Vanette! Jangan menyerah sebelum berperang, ingat itu!" Ucap Kak Disa.
"Iya, baiklah, Kak! Aku akan mendengarkan apapun darimu sekarang!" Balasku.
"Jadi, begini ,aku baru saja melihat beberapa komentar dari beberapa berita dan channel pribadimu! Dan aku menemukan suatu yang menarik! Aku akan tunjukkan padamu!" Ucap Kak Disa sambil membuka isi handphonenya.
Dia pun memperlihatkan kumpulan komentar - komentar yang benar - benar tidak mengenakkan hati.
__ADS_1
"Komentar mereka benar - benar jahat dan pedas sekali! Bagaimana bisa mereka mengatakan hal seperti itu? Padahal, awalnya mereka kan juga menyukai Kak Vanette!" Ucapnya Irene.
"Itulah namanya publik figur. Jika kamu tidak punya masalah, maka kamu akan disanjung! Tapi, ketika ada saja satu kesalahan yang kamu buat, hal itu akan langsung menjadi bumerang bagimu! Mereka akan langsung menyerangmu dengan segala cara agar kamu jatuh dan tidak berdaya lagi! Oleh karena itu, kita harus pintar - pintar mengambil langkah penyelesaiannya agar tidak memperburuk situasinya. Namun, tentu pasti masih ada orang yang berpikiran lebih rasional, meski itu hanya satu orang. Contohnya orang ini!" Ucap Kak Disa sambil menunjuk sebuah komentar yang menarik perhatiannya.
Dalam komentar itu tertulis sebuah pesan yang isinya adalah "Aku tidak tahu mengapa semua orang langsung menyalahkan Princess Vanette atas apa yang terjadi? Bukannya awalnya kalian mendukungnya? Kenapa sekarang kalian malah menyerangnya? Jujur, aku tidak akan percaya dengan omong kosong itu jika bukan Vanette sendiri yang mengatakannya. Kita tidak boleh mendengar dari satu pihak lalu menghakiminya dengan berat. Tapi, kita juga harus mendengar penjelasan darinya yang pasti memiliki alasan mengapa dia melakukannya. Aku adalah penggemar sejatimu, Princess Vanette! Aku akan selalu mendukungmu meski dunia membencimu. Aku hanya ingin memberi saran yang sekiranya bisa sedikit membantu meredakan kesalahpahaman ini. Tunjukkan dan buktikan bahwa kamu tidak bersalah dan ini hanyalah kesalapahaman. Tolong buktikan dalam sebuah novel biografi mengenai kisahmu yang sebenarnya. Salam dari seorang penggemar yang selalu mengharapkan kebahagiaanmu". Itulah isi dari komentar itu. Hatiku merasa tersentak dengan perasaan penuh haru. Aku tidak menyangka bahwa masih ada yang percaya dan berusaha mendukungku. Aku benar - benar bodoh karena sudah mulai menyerah tadi. Sekarang aku menyadari apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Penggemar itu adalah jawabannya. Dia adalah cahaya yang tersisa dari hidupku dan aku tidak akan menyia - nyiakan kesempatan ini.
"Kak Disa! Mari kita lakukan seperti yang dia harapkan! Aku akan membuat novel biografiku dan menceritakan segalanya tentang masa lalu, perasaan, dan impianku kepada dunia! Aku tidak peduli apa yang akan dunia katakan setelahnya, tapi, yang paling penting adalah aku sudah berusaha mengejar impianku ini!" Ucapku.
"Aku suka semangatmu, Vanette! Penggemar ini memang sebuah berkat yang menjadi penolong hidupmu! Jadi, ini adalah kesempatan yang baik untuk menunjukkan segalanya secara terang - terangan. Kalau begitu, aku akan memanggil seorang penulis untuk membantu membuat biografimu, Vanette!" Ucap Kak Disa yang langsung berdiri dan memakai mantelnya.
"Baiklah, Kak! Terima kasih atas bantuannya! Maaf, sudah merepotkanmu!" Ucapku.
"Untuk apa kamu berlebihan seperti itu? Lagipula, ini memang tugasku dan sudah seharusnya aku melaksanakannya! Jadi, persiapkan dirimu dan aku akan membawa penulis itu ke sini besok! Kalau begitu, kamu istirahat saja dulu dan jangan terlalu berpikir yang tidak - tidak! Sekarang aku pamit karena aku akan langsung mengurusnya! Daaahh..." Ucap Kak Disa yang langsung meninggalkan kami.
"Hati - hati di jalan, Kak Disa!" Ucap Irene yang mengantarnya masuk ke dalam lift.
Akhirnya, aku benar - benar memutuskan untuk melakukannya. Aku rasa ini adalah sebuah kesempatan untuk memperbaiki benang yang kusut itu
Keesokannya harinya, penulis itu pun datang.
"Selamat pagi, Nona Vanette! Perkenalkan nama saya Mia, penulis yang akan membantumu. Saya akan membantu semampu saya. Tolong kerjasama yang baik dengan anda!"Ucapnya.
"Baiklah, silakan duduk di sini!" Balasku.
Dia pun duduk lalu mengeluarkan alat tulisnya dan siap mendengarkanku.
"Baik, Nona Vanette! Saya sudah siap mendengarkan kisah anda sekarang!" Ucapnya antusias.
"Baiklah! Ini akan menjadi cerita yang akan sangat panjang! Semua ini berawal dari....." Ucapku memulai cerita panjang tentang masa lalu yang sebenarnya ingin kulupakan.
Kisah masa laluku yang sudah lama kusembunyikan dalam hati kecilku ini, akhirnya akan terkuak semuanya. Kisah masa lalu yang panjang itu akan dimulai sekarang juga dan aku harap kalian siap untuk mendengarkannya.
__ADS_1