
Tahun ini kami masuk semester baru atau semester ganjil. Wali kelas kami di ganti, karena wali kelas kami sudah berhenti di karenakan masalah keluarga atau bisa di bilang suaminya tidak memberi izin lagi. Kebetulan ada guru yang baru masuk, langsung di suruh sama kiyai menjadi wali kelas kami. Guru barunya adalah perempuan masih gadis lagi, tambah lagi dia sangat cantik dan pintar.
Sering kali para santri terbengong melihatnya, termasuk aku sih. Dia tidak pernah menghiraukan kejadian seperti itu, karena sudah biasa mungkin. Tapi memang wajar jika lelaki terbengong melihatnya, sungguh ia sangat cantik. Jadi seperti biasa, kalau ada guru baru akan perkenalan dulu. Setelah guru perkenalan, giliran kami lagi memperkenalkan diri. Satu persatu kami maju untuk perkenalan sama ustazah baru itu. Guru baru itu membawakan pelajaran SENI BUDAYA DAN KETERAMPILAN.
Pelajar usai dan kami salaman sama ustazah baru tadi, kemudian kembali ke kamar dan siap-siap untuk sholat Dzuhur. Selesai sholat Dzuhur, para santri dan santriwati kembali ke kamar dan mengisi waktu masing-masing. Ada yang menghafal, bermain, masak dan ada juga yang tidur siang. Sebagian dari kami juga masih ada yang di mesjid, cerita punya cerita dan tidak sabar lagi menunggu waktu besok.
Keesokan harinya, seperti biasa kami masuk sekolah dan ustadzah cantik pun masuk. Pelajaran di mulai, Ustazah cantik memberikan pelajaran kepada kami dan menjelaskan nya. Setelah di jelaskan, Ustazah cantik pun memberikan kami tugas atau PP (pekerjaan Pondok). Aku sendiri yang kurang paham tentang pelajarannya minta bantuan kepada si putri, gadis yang selalu aku perhatikan itu.
Syukurnya dia mau bantu aku, dengan syarat aku harus mengatakan yang sejujurnya. Maksudnya aku cinta atau tidak sama dia. Dengan terpaksa aku jawab iya, dan memang itulah yang sebenarnya. Dengan senang hati dia mau membantuku, memberikan contekan dan sempat juga menjelaskannya padaku. Rasanya seperti mimpi, ketika semua orang keluar dan tinggal kami berdua dalam ruangan kelas. Awalnya kami cuma bicara tentang tugas, cuma dia malah mengalihkan pembicaraan.
Putri : Rasanya seperti mimpi, aku bisa berduaan sama kamu dan tidak ada yang mengganggu. Memang ini nyata, tapi aku masih belum percaya juga.
__ADS_1
Aku : Mungkin sudah rezeki kita, hingga kita masih dapat kesempatan seperti ini.
Putri : Oh iya ,,,, kalau boleh tahu, di pesantren mu dulu kamu punya pacar tidak?
(Mendengar pertanyaan ini rasanya sangat berat untuk aku jawab, hingga aku jawab dengan jujur)
Aku : Sebelumnya aku minta maaf, bukannya aku tidak mau mengatakannya pada mu. Tapi memang ini pertama kali kita ngobrol berdua dan pertama kali kamu tanyakan. Sebenarnya aku punya pacar juga di sana, dia anak pak kiyai teman satu kelasku. Aku meninggalkan pesantren itu tanpa sepengetahuan dia, dan aku tidak berharap lagi kembali ke sana, kecuali takdir yang akan membawaku.
Putri : Kenapa kamu begitu tega meninggalkan dia? apa kamu tidak mencintainya? atau memang kamu mau mempermainkan hatinya?.
Putri : Dasar playboy kamu...!
__ADS_1
Aku : Kamu jangan langsung menilai ku seperti itu, aku belum siap bicara, dan kamu belum tahu apa sebenarnya yang aku jaga dari dia.
Putri : Terus apalagi ?
Aku : Aku meninggalkannya karena takut nanti dia tidak fokus dalam belajar.
Putri : Setelah kamu tinggalkan dia gimana?, apa kamu bisa jamin dia bakalan tenang dan bisa melupakanmu begitu saja?.
Aku : Aku tidak bisa jamin, tapi setidaknya aku sudah berusaha.
Putri : Sudah lah, malas aku ngobrol sama kamu.
__ADS_1
(Dia pergi tanpa kata)
Pikiran ku seketika tidak nyaman, merasa bersalah banget sama si putri.