Wasiat Bapak

Wasiat Bapak
BAPAK BERPENYAKIT


__ADS_3

Setahun sudah aku di pesantren ku yang baru, rasanya sudah terbiasa dan nyaman. Hingga ketika takdir buruk mendatangi keluargaku, pada akhirnya membuat hatiku bergoyang. Satu ketika belanjaan ku terlambat datang hingga dua Minggu, aku terus menunggu dan menunggu, Hingga akhirnya datang juga. Namun setelah belanjaan ku sampai, aku merasa tidak karuan, karena yang Bawanya bukan bapak aku. Biasanya bapak yang selalu mengantarkan belanjaan ku, tapi kali ini di titip kan sama paman ku yang anaknya juga satu sekolah denganku


Setelah paman pergi, aku langsung siap-siap untuk balik ke kampung. karena perasaanku sudah tidak enak dan merasa ada yang aneh. Tanpa pamrih aku langsung pulang ke rumah dan tidak memikirkan resiko lagi. Selama perjalanan, hatiku masih terus jengkel dan kesal, "Kenapa bukan bapak yang mengantar belanjaku?, apa aku tidak berarti lagi buat dia hingga dia tidak mau menjengukku ke pesantren?" dalam hatiku.


Sampai depan rumah aku langsung terdiam, lemas seakan tak berdaya lagi. Karena aku melihat pandangan yang tidak pernah aku lihat. Yang aku pikirkan hanya satu, "itu bapak ku atau bukan". Depan halaman rumah, aku melihat bapak duduk di atas kursi warna biru. Dia melihatku dari jauh, hingga air matanya menetes melihat kedatanganku. Aku terus berjalan menghampirinya, kemudian aku salam tangan bapak yang tidak berdaya itu. Aku mencoba menyapa dan ngobrol sama bapak, namun percuma saja.


Aku : Bapak kenapa?


(Sambil menahan air mata)

__ADS_1


Aku : Bapak kenapa pak?


(Namun jawaban yang aku terima hanya air mata dari bapak)


Akhirnya aku masuk kedalam rumah lalu bertanya sama ibu yang lagi masak.


(Berulang kali aku tanya jawabannya sama juga, tetap air mata)


Rasanya sangat sakit ketika melihat itu semua, hingga aku masuk kamar menangis dan meratapi kejadian ini. Semua keluarga ku sudah tahu, bahwa aku sudah balik dari pondok. Dengan rasa sayang mereka padaku, mereka semua berkumpul di rumah dan memberi nasihat kepada ku. Termasuklah paman dan bibi adik bapak kami. Mereka memanggilku untuk bicara dan menjelaskan semuanya.

__ADS_1


Paman : Sebelumnya kami minta maaf nak, karena kamu tidak bisa memberi tahu kamu. Ini semua adalah permintaan bapak mu.


(Aku hanya terus diam dan menangis)


Paman : Kami punya niat untuk memberi kabar kepada mu, namun bapakmu tidak mengizinkannya. Dia hanya ngomong sedikit, "Jangan ganggu dia, dia lagi sekolah, nanti sekolahnya terganggu karena ku" kata bapakmu. Makanya kami tidak memberi tahu mu nak, kami minta maaf.


Rasa itu belum juga bisa membuat aku tenang dan masih terus-terusan menangis, lal aku masuk kamar lagi. Semalaman aku tidak bisa tenang, air mataku terus mengalir hingga aku tertidur dengan sendirinya. Keesokan harinya, aku duduk di samping bapak. Aku peluk dia sambil terdiam, menangis dan masih belum percaya dengan kejadian itu. Selama aku duduk sama bapak, dia hanya mengatakan satu kata "Sekolah".


Aku yang mendengar itu pun bilang "Iya pak", namun hati ku sudah mengatakan tidak lagi mau sekolah. Melihat semua ini memang sangat sakit, seakan takdir buruk memihak kepadaku, membuatku tidak lagi niat untuk sekolah, pikiranku hanya terisi dengan keadaan bapak ku yang sekarang ini. Aku ingin selalu berada di sampingnya dan menemaninya.

__ADS_1


__ADS_2