Wasurenagusa

Wasurenagusa
Part 01


__ADS_3

“Terima kasih banyak, silakan datang kembali.”


Aku membalas dengan senyum simpul kepada kasir yang melayaniku dengan ramah itu. Tanpa membuang banyak waktu, aku keluar dari toko dan melanjutkan perjalanan menuju ke tempat tujuan utamaku.


Aku memandangi buket bunga yang kugenggam saat ini. Warnanya biru, bentuk kelopak bunganya sederhana dan ukuran setiap bunganya kecil. Sekilas terlihat seperti bunga liar biasa di jalanan, jadi kuyakin tak banyak orang yang tertarik dengan bunga ini. Pasti mereka akan memilih bunga yang lebih cantik seperti mawar, tulip atau anggrek untuk dihadiahkan kepada seseorang yang berharga. Namun bagiku, bunga inilah yang paling sempurna untuk kuhadiahkan kepadanya. Ungkapan perasaan terdalamku untuknya.


Aku melihat jam tangan perak yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Masih ada cukup banyak waktu jadi aku putuskan untuk tetap berjalan kaki. Yah, aku memang suka berjalan kaki bahkan saat aku masih tinggal di Bandung. Berjalan kaki membuatku bisa menikmati pemandangan kota lebih leluasa. Gedung-gedung yang beraneka ragam gaya arsitektur dan ukuran, berbagai kendaraan yang melintas, orang-orang di sepanjang jalan dan juga pohon-pohon. Semuanya memiliki keindahan dan daya tarik tersendiri. Termasuk di kota ini, Kyoto.


Sudah empat bulan aku tinggal di kota ini, tepatnya sejak awal Januari di mana saat itu masih musim dingin. Aku kesulitan beradaptasi selama sebulan pertama di Kyoto karena hawanya yang begitu dingin menusuk hingga ke tulang. Namun sekarang sudah memasuki bulan Mei. Di sepanjang jalan yang kulalui ini, bunga-bunga Sakura masih bermekaran dengan indahnya. Hawanya pun terasa hangat dan nyaman. Kupikir aku sudah mulai bisa beradaptasi di sini.


“Kenapa kamu meninggalkan Bandung? Bukankah kamu bilang kalau kamu cinta Bandung? Jika kamu ingin melanjutkan sekolah, bukankah di sini ada universitas yang sangat bagus? Lanjutkan saja S2 di kampus itu. Ataukah kamu ingin mencari pekerjaan? Dengan kemampuanmu itu, aku yakin kamu akan diterima dengan mudah di perusahaan-perusahaan besar di Bandung. Lagipula ada aku di sini. Apa kamu tega meninggalkanku sendiri di Bandung?”


Kata-kata itu kembali terngiang di dalam kepalaku. Alyssa, sahabat karibku sejak masih sekolah dasar. Apa kabarnya ya sekarang? Terakhir kali aku melihat wajahnya ketika mengantarku ke bandara, dia terlihat begitu kacau. Dia menangis terisak-isak sampai-sampai kedua matanya merah dan bengkak, ingusnya meler ke mana-mana. Aku tahu dia tidak merelakanku pergi, namun demi mewujudkan keinginan egois sahabatnya ini, dia terpaksa melepasku. Sampai sekarang aku masih merasa bersalah kepadanya. Namun aku sudah bulat dengan keputusanku, tak bisa kutarik kembali.


Tempat tujuanku sudah tepat di depan mataku. Aku bisa melihat deretan vertikal huruf-huruf Kanji yang tercetak jelas di papan nama gerbang. Akhirnya sebentar lagi aku akan bertemu dengannya. Jantungku mulai berdegup kencang. Pipi dan kedua mataku memanas. Tidak boleh, aku tidak boleh menangis. Aku sudah berjanji kepadanya. Setelah menarik napas dalam beberapa kali untuk menguatkan diri, aku mulai melangkah masuk.


Sejauh mata memandang, aku melihat hamparan tanah yang sangat luas dengan ribuan batu nisan beraneka bentuk dan ukuran. Sepertinya akan memerlukan waktu yang lama untuk mencarinya. Aku kembali melihat jam tanganku.

__ADS_1


“Maaf, apa ada yang bisa saya bantu?”


Aku kaget setengah mati karena suara pria yang tiba-tiba terdengar dari arah kanan. Hampir saja aku menjerit.


“Apa Anda baik-baik saja, Nona?”


“Eh?” aku menoleh ke kanan dan mendapati seorang pria paruh baya berpakaian kimono hitam. Sepertinya dia pendeta pengurus pemakaman ini.


“Anda pasti kaget sekali ya. Maafkan saya, Nona. Saya benar-benar minta maaf.” pria itu sekarang membungkuk. Cara membungkuk yang benar-benar anggun.


“Ah, tidak apa-apa, Tuan Pendeta. Tidak perlu sampai membungkuk begitu.” aku menggunakan bahasa Jepang dialek Kansai seperti halnya pendeta itu.


“Terima kasih, namun saya masih perlu banyak belajar.” Aku membalas senyum. “Tuan Pendeta, bolehkah saya bertanya?”


“Tentu saja boleh.”


“Umm… apa Tuan Pendeta tahu letak makam Kirishima Haruto-san?”

__ADS_1


“Saya tahu. Mari ikuti saya.”


Aku mengikuti ke mana pria itu berjalan. Syukurlah aku bertemu dengannya. Aku mendongakkan kepalaku sedikit dan menatap langit. Ada barisan burung yang terbang membentuk formasi yang unik. Kualihkan pandanganku ke arah barat. Sang surya semakin dekat dengan horizon. Semburat merah jingganya begitu mempesona.


Jadi disaat seperti ini ya…


Aku tersenyum getir. Menahan perih di dalam hati.


“Sudah sampai, Nona.”


Kedua mataku sekarang menatap lekat batu nisan di hadapanku. Tertulis ‘Kirishima Haruto-sama’ dalam huruf Kanji di batu nisan itu. Benar, ini tempatnya. Akhirnya aku benar-benar bertemu dengannya sekarang.


“Kalau begitu saya tinggal. Tetap berhati-hati di sini, lekaslah pulang setelah selesai berdoa ya, Nona.” pria itu membungkuk hormat.


“Terima kasih banyak, Tuan Pendeta. Ya, saya akan berhati-hati dan segera pulang setelah selesai berdoa.” aku membungkuk sebagai tanda terima kasih.


“Baiklah, saya permisi dulu.”

__ADS_1


Pendeta itu berlalu meninggalkanku sendiri. Aku mengeratkan genggaman tangan kananku pada buket dan mengambil napas.


“Akhirnya kita bisa bertemu ya, Haru-san…” Aku berjalan perlahan mendekati batu nisan di depanku. “… aku merindukanmu.”


__ADS_2