Wasurenagusa

Wasurenagusa
Part 03


__ADS_3

Wanita itu berjalan mendekatiku, “Kebetulan sekali kita bertemu di depan makam Kakak. Salam kenal, aku Kirishima Hanako, adik kembar dari Kirishima Haruto.” dia sedikit membungkukkan badannya.


“Saya Renata Sanjaya. Saya berasal dari Indonesia, salam kenal.” Aku sedikit membungkukkan badanku.


“Aku sudah tahu kok. Kakak sudah pernah menceritakannya kepadaku.” Dia memasang senyum penuh arti. “Ah, panggil aku Hana saja ya.”


“Ah, begitu ya.” Aku memasang senyum malu-malu. Aku tak menyangka Haru-san akan menceritakan tentangku kepada salah satu kerabatnya.


“Sudah selesai berdoa?”


Aku mengangguk. “Iya.”


“Kalau begitu, bisa tunggu di sini sebentar? Aku ingin menyapa Kakak sebentar.” Hana-san berjalan mendekati makam.


Aku melirik buket bunga yang dibawa oleh Hana-san. Sebuket besar mawar putih yang cantik sekali. Dia meletakkannya di sebelah kanan kotak kadoku. Kemudian dia berdoa.


Aku memperhatikan gerak-geriknya dengan sesekali melihat ke arah lain. Keren, dia tidak menangis sama sekali. Berbeda sekali denganku yang sampai menangis terisak. Hana-san begitu tenang dan anggun.


“Ayo, Nata.”


“Eh? Ayo ke mana, Hana-san?”


“Restoran. Ini sudah hampir malam ‘kan? Kita makan malam bersama. Aku yang traktir.” tawarnya dengan ramah.


“Tidak perlu, Hana-san. Saya langsung pulang ke asrama saja. Anu, bukannya saya tidak mau makan bersama, saya hanya tidak ingin merepotkan.” Aku berusaha menjelaskan dengan agak gugup.


“Tidak apa-apa. Anggap saja aku mewakili Kakak menyambutmu di sini, jadi aku harus memperlakukanmu dengan istimewa. Lagipula hari ini adalah hari ulang tahunnya. Aku ingin kita bersama-sama merayakannya. Meski hanya makan bersama di restoran sih.” Hana-san tertawa kecil. “Aku memaksa lho. Mau ya. Ya?”


“Ummm… anu…”


“Sudah, ikut saja.” Hana-san meraih tangan kiriku dan menarikku, “Nanti aku antar ke asramamu.”

__ADS_1


“Baiklah kalau Hana-san bilang begitu.”


Akhirnya dengan pasrah aku menurut. Baru kali ini aku bertemu dengan orang seperti ini. Padahal baru pertama kali bertemu, namun sikapnya sudah agresif seperti ini. Agresif dalam arti yang baik maksudku. Kutebak Hana-san pasti memiliki banyak sekali teman. Dia cantik, anggun, ramah serta baik hati. Mungkinkah Haru-san semasa hidupnya juga seperti dirinya?


“Silakan naik.”


Aku sempat terpesona melihat mobil berukuran sedang berwarna merah marun itu. Memang ukurannya tidak besar, namun desainnya elegan. Aku duduk di kursi penumpang tepat bersebalahan dengan Hana-san yang duduk di kursi kemudi. Ia menyalakan mesin mobilnya, kemudian kami melesat meninggalkan area pemakaman dengan kecepatan sedang.


“Hey, Nata. Bunga biru itu… kamu yang meletakkannya?”


“Iya.” aku mengangguk.


“Termasuk kotak kado itu?”


“Iya.” aku mengangguk lagi.


“Apa isinya?”


“Kue cokelat.”


Aku ikut tertawa kecil, “Hanya kebetulan, Hana-san.”


“Kebetulan katamu? Terlalu banyak kebetulan. Yang benar saja.” dia tertawa lagi, “Bagiku kalian terlihat seperti ditakdirkan satu sama lain. Maksudku, jodoh.”


“Ah, begitu ya.”


Ditakdirkan? Kenapa aku merasa sangat sedih mendengarnya?


“Ah, maafkan aku, Nata. Sudah, jangan dipikirkan ya.”


Aku mengangguk.

__ADS_1


“Kuatkan dirimu. Bukankah itu yang diinginkan Kakak? Jadi, tersenyumlah.”


Aku menghela napas lalu mengangguk, “Iya, Hana-san.”


“Kapan kamu tiba di sini?”


“Sejak awal Januari, Hana-san. Tanggal 5 Januari."


“Wah, sudah lama juga di sini ya. Ada urusan kuliah? Ataukah kerja?”


“Kuliah. Aku melanjutkan S2 Arsitektur di Universitas Kyoto.”


“Wah, hebatnya. Universitas Kyoto ya, sama seperti Kakak. Bedanya, dia di jurusan Manajemen. Sedangkan aku, di Universitas Tokyo. Jurusan Sastra Inggris.”


Aku semakin kagum dengan Hana-san. Bukankah Universitas Tokyo adalah universitas terbaik di Jepang? Luar biasa, selain wajahnya cantik dan kepribadiannya yang baik, dia juga memiliki otak yang cerdas. Kata ‘sempurna’ pantas disematkan untuknya. Yah, walau kutahu tidak ada manusia yang sempurna. Hana-san sudah mendekati definisi ‘sempurna’ menurutku.


“Hebat sekali, Hana-san. Keren!” pujiku, “Teman-temanku di Bandung banyak yang mencoba untuk mengikuti ujian masuknya, namun hanya dua orang saja yang berhasil lolos.”


“Terima kasih. Ya, kuakui tes masuknya luar biasa susah. Dulu aku sampai muntah-muntah mempelajari semua kisi-kisinya.” Hana-san meringis. “Kudengar tahun ini malah makin parah tes masuknya.”


“Ah, begitu ya.” aku mengangguk-angguk sambil membayangkan betapa ngerinya ujian masuk Universitas Tokyo.


Suasana menjadi hening. Aku menatap lurus ke depan melihat kendaraan-kendaraan lain yang berlalu-lalang. Sesekali aku melirik Hana-san yang berkonsentrasi menyetir.


Aku memperhatikan wajahnya melalui pantulan cermin kecil di atas. Benar-benar mahakarya Tuhan yang indah. Dilihat dari dekat seperti ini, semakin aku yakin bahwa Hana-san adalah wanita yang cantik. Beruntungnya aku bertemu dengan seseorang yang cantik seperti dirinya. Lalu aku membayangkan Haru-san yang memiliki wajah seperti Hana-san. Oh tidak, jantungku…


“Ada apa, Nata? Mukamu merah lho. Kamu demam?” tanya Hana-san khawatir.


“Ah, tidak kok, Hana-san.” aku mengalihkan pandanganku. Ya ampun, apa yang sudah kulakukan?


“Begitu? Ya sudah. Kalau kamu ada apa-apa, langsung bilang saja padaku.”

__ADS_1


“Iya.”


Suasana kembali hening. Rasanya begitu lama. Kapan sih kita sampai di tujuan?


__ADS_2