Wasurenagusa

Wasurenagusa
Part 02


__ADS_3

Kurentangkan tangan kiriku dan menyentuh tulisan nama yang terukir elegan berwarna emas itu. “Akhirnya aku benar-benar bisa menemuimu sekarang. Kamu tahu, sudah lama aku menunggu saat-saat ini…”


Tangan kiriku bergetar. Kenapa bisa begini? Padahal aku hanya menyentuh namanya saja. Aku menarik tanganku kembali.


“Selamat ulang tahun, Haru-san. Semoga umurmu panjang. Ah, salah. Kamu takkan bertambah umur lagi ‘kan? Terhenti di umur 24 tahun…” Aku tersenyum pahit. “… bodohnya aku.”


Aneh sekali aku ya. Mengucapkan selamat ulang tahun kepada seseorang yang sudah meninggal di depan makam seperti ini.


“Ini kado untukmu.” aku mengeluarkan kotak kado yang berisi kue cokelat buatanku sendiri dari dalam tas tanganku. Aku membuatnya kemarin sore sepulang dari kampus.


Di altar makam terdapat cawan tembaga keci berisi dupa, kemudian di sebelah kanannya terdapat beberapa karangan bunga yang sudah agak layu. Sepertinya banyak yang berziarah ke makam ini. Tak mengherankan karena dia adalah orang yang sangat baik semasa hidup. Kuyakin banyak orang yang menyayanginya.


Aku berlutut dan meletakkan buket bunga ke tanah untuk sementara. Kugeser ke kiri dengan tangan kananku barang-barang yang ada di atas makam itu supaya aku bisa meletakkan kado dan buket bungaku.


Apa ini? Kenapa rasanya aku ingin meledak? Kenapa kedua mata dan pipiku terasa begitu panas?


Tes… tes… tes…


Itu bukan hujan, melainkan bulir-bulir air mata yang jatuh membasahi pipiku. Aku sudah tak kuat lagi. Padahal aku sudah bertekad takkan menangis.

__ADS_1


Aku sudah melanggar janjiku. Haru-san mungkin benci padaku sekarang. Aku yang lemah, aku yang bodoh. Aku tak ingin ia melihatku seperti ini. Tapi luapan emosi ini tak bisa kuhentikan.


“Maafkan aku… maafkan aku…” Isakku. “… aku tak kuat menahannya. Jadi biarkan aku seperti ini. Hanya untuk kali ini saja…”


Mesin pemutar film di dalam otakku mulai memutar kilas balik hidupku kembali ke saat-saat penuh kenangan itu. Kami bertemu di suatu komunitas pecinta bahasa Jepang di dunia maya. Ada banyak sekali anggota di dalam komunitas itu dari berbagai penjuru dunia. Aku cukup sering bergabung dalam obrolan. Mereka semua baik dan mau mengajariku yang saat itu masih pemula, termasuk Haru-san. Ia selalu memperbaiki ejaanku yang salah.


Awalnya kami hanyalah teman biasa. Tak ada yang spesial. Lama kelamaan kami semakin dekat. Ternyata kami memiliki beberapa kesamaan. Kami sama-sama menyukai kucing, cokelat, dialek Kansai dan warna biru. Hubungan kami yang semula hanya teman biasa kemudian naik tingkat menjadi sahabat. Sebenarnya aku menganggapnya lebih dari sekedar sahabat. Kakak laki-lakiku, aku menganggapnya seperti itu.


Aku memang tak pernah melihat wajahnya ataupun bertemu langsung dengannya, namun entah kenapa aku sangat mempercayainya. Setiap aku menemui kesulitan dalam belajar ataupun masalah di kehidupan nyataku sehari-hari, aku selalu menceritakan kepadanya. Dengan sabarnya dia menyimak kisahku dan memberiku nasehat. Benar-benar sosok kakak lelaki yang hangat dan mengayomi. Berkatnya aku bisa menghadapi hari-hariku yang berat. Dia seperti matahari yang tercipta hanya untukku.


Aku menyayanginya seperti aku menyayangi kakakku sendiri. Meski terpisah jarak dan waktu, aku merasa dia begitu dekat denganku. Sangat dekat, bahkan lebih dekat dari adik-adik kandungku maupun Alyssa. Aku tak pernah mengatakan hal ini kepada siapapun. Aku tak bisa mengatakannya, terutama kepada Alyssa. Bisa-bisa dia terbakar api cemburu, hahaha…


Tiba-tiba suatu hari dia berkata seperti itu kepadaku ketika dia meneleponku. Aku sangat terkejut mendengarnya. Tentu saja, siapa yang tidak terkejut mendengar pernyataan terang-terangan dan mendadak seperti itu?


Ternyata Haru-san memiliki perasaan yang sama denganku.


Lidahku kelu tak bisa berkata apa-apa. Jantungku berdegup hebat. Pipiku memanas. Seperti orang lain pada umumnya yang menerima pernyataan cinta, aku benar-benar bingung apa yang harus kulakukan. Aku bahagia, sekaligus malu. Sejak kapan perasaan sayangku kepadanya sebagai saudara berubah menjadi perasaan cinta? Yang lebih mengejutkan, ternyata perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan.


Tapi kemudian aku sadar bahwa kami dibatasi dinding tak terlihat. Kami hanya bisa berhubungan melalui dunia maya. Aku rasa kalau seandainya aku menjalin hubungan yang lebih serius dengannya, itu takkan bertahan lama. Sudah banyak sekali kasus hubungan jarak jauh yang akhirnya harus berakhir menyedihkan. Aku tak mau hubungan yang seperti itu. Aku tak mau menyakiti Haru-san maupun diriku sendiri nantinya. Akhirnya aku menolaknya dengan halus. Aku menyesal sekali apalagi ketika aku mendengar desah pasrahnya. Sepertinya aku telah membuatnya kecewa. Namun inilah yang terbaik untuk kami. Itulah yang kupikirkan saat itu.

__ADS_1


“Waktu itu kenapa aku menolakmu? Harusnya aku menerimamu.” Isakku. Aku memandang kembali namanya di batu nisan. Benar-benar kabur. Kedua mataku berselimut air mata. Aku menyekanya dengan punggung tangan kananku.


Aku mengambil tisu dari dalam tas tanganku dan membersihkan ingus dari hidungku. Aku yakin aku terlihat sangat kacau dan mengerikan sekarang. Benar-benar memalukan menangis seperti ini di hadapannya. Raganya mungkin telah mati, tapi aku yakin jiwanya masih hidup. Jiwa Haru-san mungkin saja ada di depanku sekarang dan melihatku yang menyedihkan ini.


Aku mengambil napas pelan dan dalam beberapa kali sampai aku merasa lebih baik. Saatnya aku berdoa untuknya. Hari sudah mendekati malam, aku tak boleh berlama-lama di sini. Aku meraih buket bunga di tanah dan meletakkannya di atas makam. Tak lupa aku menaruh kado kue cokelatku di sebelahnya. Setelah itu aku menangkupkan kedua tanganku membentuk posisi berdoa, lalu memejamkan mataku.


Haru-san, maafkan aku yang baru bisa menemuimu. Hari ini adalah hari ulang tahunmu ‘kan? Semoga kamu selalu bahagia di sana. Terima kasih atas cinta dan kasih sayang yang telah kamu berikan kepadaku. Semoga Tuhan membalas semua kebaikanmu. Semoga Tuhan memberimu tempat terbaik di sisi-Nya. Karena aku sudah ada di sini, di kota tempat kelahiranmu, aku akan sering-sering mengunjungimu.


Aku membuka kedua mataku. Perlahan aku bangkit berdiri. Rasanya sayang sekali kalau aku harus meninggalkannya. Baiklah, sentuhan terakhir ini akan menjadi penutup.


“Anu… maaf… mungkinkah kamu adalah Renata…?”


Lagi-lagi aku dibuat terkejut. Sekarang siapa lagi? Kali ini suara perempuan. Aku menoleh ke arah kiri dan mendapati seorang wanita berambut pendek sebahu. Wanita yang sangat cantik.


“Ya, saya Renata.” jawabku.


“Sudah kuduga.” Wanita itu tersenyum. “Akhirnya aku bertemu denganmu.”


“Eh?”

__ADS_1


__ADS_2