Wasurenagusa

Wasurenagusa
Part 04


__ADS_3

“Yosh, kita sudah sampai.” Hana-san mematikan mesin dan mencabut kunci mobil. “Yuk kita keluar.”


Kami keluar dari mobil kemudian langsung masuk ke dalam restoran. Kelihatannya restoran keluarga biasa. Syukurlah bukan restoran mewah.


“Pesanlah apapun yang kamu mau.”


“I-iya.”


Aku mengamati satu per satu nama-nama makanan dan minuman yang tertera di situ. Hana-san juga melakukan hal yang sama.


“Sudah kamu putuskan?”


“Um.” anggukku, “Saya pesan satu porsi okonomiyaki dan segelas ocha.”


“Hanya itu saja?”


“Iya.”


“Baiklah.”


Hana-san lalu mengangkat tangan kanan dan berteriak memanggil pelayan. Dia menyebutkan semua pesanan kami sementara pelayan itu mencatatnya dengan patuh.


“Oke, sambil menunggu kita berbincang-bincang yuk.”


Hana-san benar-benar lucu. Bukankah dari tadi kita sudah berbincang-bincang sejak pertemuan di makam sampai sekarang?


“Pertanyaan pertama, kenapa kamu menyukai Kakak?” todongnya.


“EH?! Bagaimana bisa Hana-san berpikir begitu?” aku langsung gelagapan namun mengusahakan tingkahku tetap normal.


“Kalau kamu sampai menangis seheboh itu, siapapun pasti mengira bahwa kamu memiliki perasaan khusus terhadapnya ‘kan? Ditambah lagi kamu memberinya bunga biru itu, wasurenagusa. Forget-me-not. Artinya kamu selalu memikirkannya dan berharap dia juga selalu mengingatmu ‘kan? Sekarang, ayo jawab.” Hana-san memasang tatapan penuh selidik kepadaku layaknya seorang detektif yang sedang menginterogasi seorang terdakwa agar mau mengakui kejahatannya.

__ADS_1


Jadi ini ya tujuan sebenarnya Hana-san memaksaku untuk makan bersamanya. Menggunakan alasan bahwa dia ingin menyambutku dengan spesial mewakili Haru-san dan fakta bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya, benar-benar licik. Tunggu, tadi dia bilang melihatku menangis. Jangan-jangan dia melihat dan mendengar semuanya? Ya Tuhan… aku ingin menghilang sekarang juga.


“Ummm… bagaimana ya? Haru-san itu… orang yang baik. Sangat baik malah. Dia mengajari saya bahasa Jepang. Bukan hanya bahasa Jepang, dia juga mengajari saya hal-hal lain. Dia juga pendengar yang baik…”


“Hanya itu?”


“Ummm… dia orang yang keren. Walaupun saya belum pernah bertemu langsung dengannya sih. Tapi saya rasa… Haru-san adalah orang yang keren dan mengagumkan.”


“Begitu? Jadi kamu ingin melihat wajahnya?”


“T-tidak, bukan begitu maksudku.”


“Aduh aduh… wajahmu merah lho.” Hana-san memasang senyum penuh arti. “Baiklah, aku mengerti. Sekarang pertanyaan kedua, kenapa kamu menolaknya waktu itu?”


Eh? Kenapa aku langsung dihajar dengan pertanyaan seperti ini? Hatiku belum siap. Bukankah ini sedikit keterlaluan?


“Karena saya tidak ingin melukai Haru-san…” jawabku akhirnya setelah agak lama berpikir.


“Sulit untuk dijelaskan.” Aku menunduk sejenak. “Banyak orang yang gagal menjalani hubungan jarak jauh. Rata-rata berakhir dengan bermusuhan, saling mencaci-maki dan akhirnya mereka bertingkah seolah tak pernah saling mengenal sebelumnya. Saya tidak mau hubungan yang seperti itu… dan juga… jujur saya masih memiliki keraguan.”


“Ragu bagaimana? Bukankah dia jelas mengatakannya waktu itu?”


“Saya mempercayainya. Saya sangat menyayanginya. Justru karena itulah saya ragu.” Aku menghela napas. “Saya ragu… apakah orang biasa seperti saya bisa ini membuatnya bahagia?”


“Ya ampun, kukira apa.” Hana-san terlihat bernapas lega, “Kenapa kamu tidak mengatakan yang sebenarnya waktu itu?”


“Mana mungkin aku bisa mengatakan hal memalukan seperti itu kepadanya.”


Hana-san tertawa kecil, “Kamu memang bodoh ya.”


“Iya, saya memang bodoh.” jawabku lemas.

__ADS_1


“Aku hanya bercanda. Ceria dong.”


“Ah, begitu ya.” aku tertawa masam.


“Pertanyaan terakhir, apa kamu marah kepadanya karena dia tidak memberitahumu apa-apa selama ini?”


Ini pasti soal penyakit yang diderita Haru-san. Aku baru mendengar cerita soal ini dua bulan setelah kematiannya. Kado-san, sahabatnya yang tinggal di Tokyo, yang menceritakan semuanya. Ternyata Haru-san menderita penyakit jantung sejak lahir. Setahun yang lalu, tepatnya pada bulan Februari, tiba-tiba aku kehilangan kontak dengannya. Aku sama sekali tidak bisa menghubunginya. Lalu pada bulan Juli, tiba-tiba Kado-san mengirimiku e-mail. Di situ dia menceritakan detail penyakit dan kematiannya. Haru-san meninggal pada 2 Mei pukul empat sore di salah satu rumah sakit di Kyoto, bertepatan dengan hari ulang tahunnya. Ya, yaitu hari ini.


Jujur saja aku sangat marah dan kecewa sekaligus terpukul waktu itu. Kenapa Haru-san tidak mau terbuka kepadaku menceritakan kesusahannya? Kenapa dia tidak mau berbagi sakit yang dideritanya kepadaku? Kenapa dia harus menghilang tanpa kabar? Kenapa tak ada seorangpun yang memberitahuku soal ini? Kenapa baru sekarang?


Lalu aku berpikir, mungkin aku yang terlalu egois. Aku tidak membuka kesempatan untuknya agar bercerita. Selalu, selalu aku yang mengeluh kepadanya. Aku tidak peka. Seharusnya aku berinisiatif bertanya kepadanya.


Namun nasi telah menjadi bubur. Sudah tidak ada gunanya lagi penyesalan.


“Sudah tidak lagi kok, Hana-san. Justru saya merasa bersalah kepadanya. Harusnya saya lebih peka, lebih peduli kepadanya…”


“Tidak apa-apa. Bukan salahmu kok.” Tatapan Hana-san melembut. “Kakak memang dari dulu seperti itu. Dia tidak mau membuat orang lain mengkhawatirkan dirinya. Kamu tahu? Di dalam kepalanya, dia selalu memikirkanmu.” Hana-san lalu mengeluarkan sebuah ponsel dari dalam tas tangannya. “Ini ponsel milik Kakak. Kamu boleh memilikinya. Tenang saja, sudah aku hapus password-nya. Bacalah diarinya di situ.”


Aku menerima ponsel itu. “Ah, iya. Terima kasih. Tapi, kenapa Hana-san memberikannya kepadaku?”


“Memang agak disayangkan untuk menyerahkan benda yang berisi kenangan Kakak yang paling berharga, tapi orang yang membuat kenangan terindah bersamanya adalah kamu.” Hana-san mengambil jeda sejenak. “Kamu yang paling berhak memilikinya. Aku yakin Kakak juga ingin seperti itu. Setidaknya, inilah yang bisa kulakukan untuknya sebagai adik.”


Tak lama kemudian pesanan kami tiba. Aku memasukkan ponsel itu ke dalam tasku.


“Ayo, kita makan sekarang. Itadakimasu.” Hana-san mulai menjepit potongan sushi dengan sumpit.


“Itadakimasu.” Aku mengambil pisau dan garpu kemudian memotong okonomiyaki. Enak sekali. Rasanya berbeda dengan okonomiyaki yang biasa kubeli di dekat asramaku. Saking enaknya sampai-sampai aku ingin menangis.


Aku menatap ke depan. Terlihat Hana-san sangat menikmati makanannya. Potongan demi potongan sushi dilahapnya dengan cepat. Aku tak menyangka wanita secantik dan seanggun dia memiliki cara makan yang sedikit ‘liar’.


Seandainya yang di depanku sekarang adalah Haru-san, apakah dia juga memiliki cara makan yang sama dengan Hana-san?

__ADS_1


__ADS_2