
Akhirnya setelah setengah jam lebih sedikit di dalam restoran, kami keluar dan kembali masuk ke dalam mobil. Tujuan kami selanjutnya yaitu asramaku. Tadinya aku sempat menolak diantar oleh Hana-san, namun lagi-lagi dia memaksaku. Apa Hana-san orangnya memang seperti ini ya? Suka memaksakan kehendak.
“Kalau ada apa-apa, telepon aku ya. Tidak perlu sungkan.”
“Iya. Terima kasih banyak, Hana-san.” Aku sedikit menundukkan kepalaku sebagai tanda terima kasih.
Aku keluar dari mobil dan membungkukkan badanku sekali lagi. Aku sangat berterima kasih kepada Hana-san. Aku beruntung sekali bertemu dengannya hari ini. Berkatnya aku bisa menikmati okonomiyaki yang sangat enak. Lalu yang terpenting, aku menerima ponsel milik Haru-san.
Setelah mobil merah marun itu pergi, aku masuk ke dalam kamar. Aku langsung duduk di kasur dan mengambil ponsel milik Haru-san di dalam tas. Begitu kunyalakan layarnya, aku langsung disambut dengan foto seorang pria muda yang tersenyum lebar. Astaga, senyumnya manis sekali. Dia tampak bahagia dengan kucing putih yang dipeluknya. Sangat menggemaskan, Haru-san terlihat seperti pemuda yang masih polos. Akhirnya aku tahu sosok yang selama ini selalu ada dibenakku.
Sekarang bukan saatnya untuk mengagumi wallpaper ponselnya. Jempol kananku menari lincah di atas layar mencari diari yang dimaksud Hana-san. Ah, ini dia diarinya. Tanpa pikir panjang, aku langsung membuka diari itu.
Banyak sekali. Tidak mungkin aku membaca semuanya malam ini. Akhirnya aku memutuskan untuk membaca dari tanggal di mana kami pertama kali bertemu di dunia maya.
Tulisan demi tulisan aku baca dengan teliti. Aneh, kenapa dia tidak menuliskan rasa sakit yang dia derita di sini? Kebanyakan tentang aku yang mengeluhkan masalahku kepadanya. Setelah kupikir-pikir, ternyata aku benar-benar merepotkan. Aku tersenyum miris mengejek diriku sendiri yang bersikap seolah akulah orang yang paling menderita di dunia waktu itu, tanpa menyadari bahwa Haru-san jauh lebih menderita. Seharusnya aku yang menjadi sandarannya, bukan malah sebaliknya.
Jariku kemudian terhenti di salah satu tulisan di diarinya. Tanpa sadar air mataku menetes. Lagi-lagi aku menangis.
Aku mencintaimu dari lubuk hatiku, Nata. Sampai kapanpun, bahkan sampai di saat terakhirku. Selamanya, kaulah harta yang paling berharga bagiku. Terima kasih karena terlahir di dunia ini untukku. Terima kasih telah memberiku sedikit harapan untuk hidup lebih lama. Aku bahagia meski aku tak bisa memilikimu. Maafkan aku yang egois ya. Sepertinya aku terlalu sombong, berpikir bahwa kamu memiliki perasaan yang sama denganku.
Ingin rasanya aku berteriak memaki diriku. Ternyata Haru-san sampai berpikir seperti ini. Bodohnya aku.
Akhirnya aku sampai di tulisan terakhir. Tanggal 1 Mei, sehari sebelum hari kematiannya.
Besok pagi aku akan melakukan operasi seperti yang sudah disarankan Harada-sensei. Jujur aku sangat takut sekarang, namun demi bisa bertemu denganmu langsung aku harus melakukannya. Setelah aku sembuh nanti, aku akan menemuimu di Bandung. Aku akan muncul di hadapan dirimu sebagai lelaki normal yang sehat. Lihat saja, kamu pasti akan terpesona denganku nanti. Tunggu aku.
Kalau Haru-san memiliki waktu untuk menuliskan semua ini, kenapa dia tidak mau memberitahuku secara langsung, malah menghilang begitu saja? Apa dia tidak tahu bahwa aku mencemaskannya? Aku tak bisa menghubunginya sama sekali, itu membuatku hampir gila.
__ADS_1
Bodohnya aku. Lagi-lagi aku egois berpikir seperti ini. Selama ini Haru-san pasti menderita, menahan rasa sakitnya seorang diri. Namun dia selalu berusaha membuatku bahagia, tak mempedulikan dirinya sendiri. Bahkan melakukan operasi pun, dia melakukannya untukku.
Di awal pelaksanaan operasi memang berjalan lancar, masih sesuai perkiraan awal. Tetapi di pertengahan jalan, tiba-tiba kondisi Haru-san memburuk dengan cepat. Para anggota tim operasi mengerahkan segalanya untuk menyelamatkan nyawanya. Setelah berkali-kali dilakukan resusitasi namun gagal, akhirnya Haru-san dinyatakan meninggal. Tentu saja keluarga besar Kirishima sangat terpukul. Ibunya sampai tidak sadarkan diri selama seharian penuh. Itu yang dikatakan Kado-san padaku melalui e-mail yang dikirimkannya.
Jujur saja, aku merasa semua ini adalah salahku. Seandainya Haru-san tidak melakukan operasi, mungkin dia masih hidup sekarang. Seandainya dia tidak bertemu denganku di komunitas itu, tentu dia tidak perlu mengalami penderitaan yang lebih berat dan akhirnya meregang nyawa seperti itu. Aku justru menambah beban untuknya. Aku menyusahkannya.
“Haru-san…”
Kembali aku meneteskan air mata. Ah, aku benci ini. Lagi-lagi aku melanggar janjiku.
Tingtong… tingtong…
Ada yang menekan bel di depan pintu. Siapa sih malam-malam begini datang ke kamarku?
“Ya? Siapa?” aku buru-buru menyeka air mataku dan meletakkan ponsel itu di atas nakas.
“Saya petugas pos. Ada paket untuk Anda,” jawab suara di balik pintu itu.
“Ini paket untuk Anda. Silakan tanda tangan di sini,” ujar petugas paket itu begitu aku membuka pintu. Dia menyodorkan kotak ukuran sedang berbungkus karton cokelat. Mataku lalu tertuju pada nama pengirim di pojok kiri atas. Kado Itsuki?
Aku segera membawa masuk paket itu dan membukanya begitu selesai menandatangi tanda terima dan mengunci pintu. Yang benar saja Kado-san mengirimiku paket? Kenapa?
Aku memang masih berhubungan dengannya sampai sekarang lewat e-mail. Dia sudah tahu kalau sekarang aku tinggal di Kyoto. Rencananya kami akan bertemu empat mata pada bulan Juni nanti ketika liburan musim panas. Kenapa dia tidak memberikannya langsung kepadaku saat itu saja ya? Kenapa harus repot-repot mengirimkannya kepadaku sekarang?
“Ini…”
Aku terperangah menatap sebuah kotak kaca kecil bening di dalam paket. Ini ‘kan kotak cincin. Tiba-tiba aku merasa geli. Jangan-jangan… Kado-san menyukaiku?
__ADS_1
Gila. Mana mungkin.
Pandanganku lalu tertuju pada kartu di sebelah kanannya. Sebuah postcard dengan gambar menara Tokyo di belakangnya. Aku membaca pesan yang tertulis di situ.
Aku harap kamu menyukainya. Aku tak tahu apa seleramu, tapi aku sudah menghabiskan lumayan banyak waktu sebelum akhirnya memilih.
Tertulis inisial ‘H.K.’ di pojok kanan bawah kartu itu. Haruto Kirishima. Seketika wajahku memanas.
Aku meletakkan kartu itu dan mengambil kotak kaca. Cantik sekali. Selera Haru-san benar-benar tinggi. Cepat-cepat aku membuka kotaknya. Sebuah cincin perak tanpa mata berhiaskan ukiran sederhana yang anggun. Aku mengambilnya dan membolak-balik cincin itu. Apa yang kucari? Tak ada tulisan apapun disitu.
Aku memakaikan cincin itu ke jari manis kiriku. Pas sekali. Bagaimana Haru-san tahu ukuran jariku? Aku tersenyum mengagumi cincin yang kupakai. Rasanya seperti… aku sudah menikah dengan Haru-san. Aku bahagia, namun di sisi lain juga merasa sedih mengingat kenyataan bahwa ia sudah pergi sangat jauh ke tempat yang takkan bisa kujangkau.
Aku melirik ke kotak paket. Ternyata ada sepucuk surat yang terbungkus amplop biru muda. Aku mengambil dan membaca isinya. Surat dari Kado-san.
Bagaimana? Apakah kau menyukai kadonya? Semoga saja iya. Kau tahu, dia sampai berkeliling ke setiap toko perhiasan di Tokyo. Aku yang tak ada hubungannya jadi ikut terlibat. Agak menyebalkan, namun karena dia teman baikku, kuturuti dia. Sesampainya di apartemen, seluruh otot tubuhku terasa kaku. Ah, sialan Haru itu…
Aku tertawa kecil membaca curahan hatinya itu. Kasihan sekali, Kado-san.
Sebenarnya dia ingin menghadiahkan ini ketika dia datang menemuimu di Bandung. Namun apa boleh buat, kau sudah tahu ‘kan? Akhirnya aku yang mengirimkannya kepadamu. Aku bertaruh, kau sempat berpikir kalau ini adalah kado dariku ‘kan? Haha, mana mungkin. Ya, memang benar sih aku yang mengirim namun isinya, Haru yang menyiapkannya. Khusus untukmu.
Jangan menyalahkan dirimu sendiri lagi, ok? Semua ini kehendak Tuhan. Percayalah, Haru tak pernah sekalipun membenci ataupun menyalahkanmu. Karena dia tulus mencintaimu.
Tetaplah semangat, Renata-san. Ingatlah, Haru ingin kita semua bahagia. Karena itu, tetaplah tersenyum dengan kepala tegak.
Tetap tersenyum ya…
Aku menatap cincin yang masih kukenakan. Benar, aku tak boleh terus bersedih. Demi Haru-san yang sudah memberikan segalanya untukku, aku akan mengerahkan segalanya. Untuk hidup lebih baik dan bahagia mulai dari sekarang.
__ADS_1
Takkan pernah kulupakan dirinya. Meski hanya sebentar, namun dia telah menjadi bagian kisah hidupku yang berharga. Darinya aku belajar berbagai hal. Darinya pula, aku mendapatkan cinta. Semua itu akan kujadikan kekuatan untuk melanjutkan hidup.
Aku mencintaimu, Haru-san. Aku akan selalu mengingatmu. Takkan pernah melupakanmu…