With Love Cosmo

With Love Cosmo
Chapter 1


__ADS_3

"Tak selamanya langit selalu cerah, akan ada masa nya ia bersedih, biarlah hujannya turun. Mewakili luka karena tak dapat bertemu sang mentari"


- Putri -


Title: With Love Cosmo


Genre: Romace


Rate: T+


Author: Putri Dwinata S


happy reading...


Breaking News


"Kecelakaan beruntun itu menyebabkan banyak korban tewas, akibat nya banyak tenaga medis yang kewalahan dalam.."


Perkataan reporter itu terhenti karena seorang pemuda mengganti channel tv nya, kebosanan jelas terpahat manis diwajah tampan nya.


"Membosankan..~, kenapa hari ini ngebosenin sih, ga ada gitu yang asik". ujarnya kesal.


Jelas terlihat pemuda itu dilanda badai kegabutan yang parah, hingga melampiaskan kebosanan nya dengan mengganti ganti channel tv dikantin fakultasnya.


Sampai sebuah suara bass mengalihkan kegiatan tak berguna nya.


"Yo what's up Mel..?, gabut bener sampe remote tv kantin loe otak atik". sapa suara itu.


Pemuda yang dipanggil itu Mel, lengkap nya Himmel Caelo Stella, sibungsu dari keluarga Stella yang terkenal akan kekayaan nya dalam bidang perhotelan.


"Yeah.., gue bingung mau ngapain, jadwal kuliah gue udah selesai hari ini. So gue free sampe sore. Yahh.. asli gabut bangetlah". jawab Himmel ketus dengan nada bosan nya.


"Ikut gue keperpus mau ga loe..?, daripada loe gabut trus dimarahin sama bu kantin, remote tv nya rusak loe bikin". sahut suara bass itu lagi, gemas dengan tingkah pemuda didepan nya ini.


" Tapi Fil, masa gabut gabut gini loe ajak gue ke perpus?, yang bener aja.., seneng kagak, mati bosen iye". cibir Himmel.


Fil, pemuda yang dicibir hanya memasang senyuman sinisnya, sepertinya Himmel mulai tak menganggap Fil sebagai senior nya dengan bertingkah tidak sopan.


Tentu saja sebagai senior yang baik Fil akan menunjukkan cara yang benar ketika seorang junior berbicara pada seniornya, meskipun dengan adanya perbedaan jurusan.


Ya, Minas Filius Nacht, yang kerap disapa Fil adalah senior Himmel di kampus nya yang berbeda jurusan dengan nya.


Himmel adalah mahasiswa jurusan sastra bahasa, sedangkan Filius merupakan mahasiswa jurusan teknik permesinan. Mereka pertama kali bertemu secara tidak sengaja, saat itu mobil milik Himmel mogok ditengah hujan deras. Karena penasaran Filius pun menghampiri dan membantu Himmel mempebaiki mobil milik Himmel.

__ADS_1


Setelahnya hubungan keduanya berangsur kian dekat, seolah satu sama lain menganggap saudara kandung. "ya udah terserah loe deh, gue sih ogah diamuk bu kantin". setelah mengatakan hal itu Filius pun beranjak pergi meninggalkan Himmel.


Karena Himmel mulai merasakan aura hitam yang membuat suasana kantin mendingin, berdehem sebentar Himmel pun beranjak menyusul Filius.


Sebenarnya itu adalah efek dari tatapan mata bu kantin yang sedari tadi memperhatikan kegabutan Himmel.


"Ekhem.. kenapa suhu mendadak sejuk ya..?, mungkin gue nyusul Filius ngangetin badan diantara tumpukan buku diperpus". memasukan bukunya secara asal, Himmel pun beranjak pergi meninggalkan kantin.


Sesampainya diperpustakaan, Himmel mengedarkan pandangannya dan menemukan sosok Filius sedang serius membaca sebuah buku di sudut rak dengan judul 'peralatan mesin'.


"Ngeselin amat sih, dikutuk sama siapa gue sampe harus beneran ngikutin loe". jelas saja kita tau ini suara siapa.


"Gue ga tau, dan gue ga mau tau. So, mending loe diem". mencoba acuh dengan omelan tak jelas Himmel, Filius tetap serius membaca. walaupun tak bisa.


"Lagian loe sih Fil, ngapain coba ke perpus, ga kayak loe yang biasanya aja".


"Lusa gue ada ulangan. Gue ga mau nilai gue turun trus buat adek kesayangan gue ngamuk ga jelas". sebenarnya Filius sudah malas meladeni percakapan tak jelas ini.


Ia takut konsentrasi nya buyar karena keluhan Himmel dan kegabutannya.


"Hah..!?, adek..?, loe punya adek..?, bukannya loe anak tunggal". heran Himmel, karena memang setau dirinya Filius adalah anak tunggal.


"Huhh.., bukan adik kandung, dia tuh junior gue difakultas. Gue suka dia cause tingkahnya yang nggemesin". raut penasaran semakin terlihat di wajah Himnel.


"Udahlah Mel, lebih baik loe diam, dan jadi anak baik. Nurutlah.. biar gue mau ngabulin satu permintaan loe". lanjut Filius.


Menganggukan kepalanya dengan penuh semangat, "Seriously..?, hounto ni..?, Est-ce vrai..?, Is het waar..?, sasil-ingayo..?, Ist es wahr..? ben-".


"Woy.., woy.., stop..?!!, iya gue tau loe mau mastiin kan, dan juga gue tau, foreign accent syndrome loe lagi kumat. Tapi plis stop gue harus belajar". potong Filius sebelum Himmel mulai berbicara dengan banyak bahasa hanya untuk menanyakan 'benarkah?' pada nya.


Ya, Himmel adalah salah seorang penderita foreign accent syndrome (tiba-tiba lancar seribu bahasa). syndrome ini dapat mengembangkan suatu kondisi yang menyebabkan penderita tiba-tiba fasih berbahasa asing dan tidak terkendali, bahkan jika penderita tidak pernah mempelajari atau mengunjungi daerah asal bahasa itu sebelumnya.


Seringkali, beberapa jenis aksen berbeda dapat diutarakan di waktu yang berbeda, atau dapat tercampur aduk dalam satu waktu.


Individu yang mengidap kondisi ini tidak hanya mengubah aksen dan nada suara mereka, namun juga mengubah penempatan lidah saat berbicara.


Karena hal itulah yang membuat Himmel berminat kuliah dijurusan sastra bahasa, ia akan mengembangkan hal yang ia dapat. Himmel tak menyebut syndrome yang menimpanya adalah sebuah penyakit ataupun kutukan.


Namun, Himmel merasa jika syndrome yang ia derita adalah anugerah yang kelak akan berguna baginya, jika ia manfaatkan dan latih dengan baik.


Mengabaikan apa yang Filius katakan. Himmel melanjutkan kata katanya.


"Ya maaf, gue cuma mau mastiin aja, thehehe. Loe ga usah khawatir, gue ga minta yang aneh aneh kok". ujar Himmel dengan tawa khasnya.

__ADS_1


"...". keheningan adalah balasan yang Himmel dapat dari Filius, menandakan Filius benar benar sedang serius dan tidak bisa diganggu.


Kebosanan itu kembali datang, hingga Himmel memutuskan untuk membaca beberapa buku yang mungkin akan menarik minat nya.


Mata setajam elang milik Himmel terus menjelajahi isi rak rak buku, melihat jika banyak buku yang disusun rapi. Tak pasti susunannya menurut abjad atau tidak.


Satu judul buku dengan ketebalan yang lumayan, menarik minat Himmel. Namun, ternyata tidak hanya Himmel seorang yang ingin mengambil buku itu. Ada tangan lain yang juga akan mengambil buku yang akan Himmel ambil.


Manik kembar nya membelalak kaget, minat untuk mengambil bahkan membaca buku itu hilang sudah, bahkan ia hanya bisa terpaku ditempat. Seolah olah lantai perpustakaan dilapisi lem yang paling kuat.


Kenapa?, kenapa Himmel bertingkah seperti itu?, jelas saja dia begitu. Didepannya berdiri sesosok manusia yang amat dibencinya.


Musuh bebuyutannya sedari Tk, sosok pemuda yang ingin selalu Himmel kalahkan yang pencapaiannya. Ciel O Fylakas, Si sulung Fylakas yang kekayaan nya hampir menyamai Stella.


Dan sialnya, Ciel merupakan teman baik Filius, mereka yang satu fakultas jurusan bahkan satu kelas, otomatis membuat Ciel sering memiliki waktu dengan Filius.


Bukannya Himmel cemburu, namun ia benar benar tak menyukai sosok Ciel. Mata hitam itu seolah menyimpan ribuan misteri, dan Himmel adalah tipe orang yang penasaran, sering kali jiwa keingintahuannya begitu menyiksa. Begitu ingin mengetahui apa yang disembunyika mata sekelam malam itu, Rahasia apa yang tersimpan dibalik kepekatan itu. Sungguh, jika bukan karena mereka bermusuhan. Himmel tak akan pernah merasa malas untuk mendekati Ciel.


Perlahan, tidak ingin memancing keributan sosok Ciel yang diam tanpa kata, mulai beranjak meninggalkan Himmel yang terpaku. Himmel merasa aneh karena Ciel tak mengolok oloknya setiap kali bertemu seperti biasanya.


Heiii..!!, Himmel harus nya merasa senang, tapi kenapa dia malah justru merasa sedih, seolah ada lubang menganga di hati kecilnya.


Ia ingin sosok Ciel berbicara atau minimal mengatakan sindiran dan kata kata tajamnya seperti biasa. Aneh ini sungguh aneh, dan Himmel membenci rasa penasaran ini.


.


.


.


.


.


TBC...


*hope you like it..


see y'll in next chap..*


silahkan tinggalkan keripik pedasnya..


luf y'll... 💚

__ADS_1


__ADS_2