
ini chapter 4 yak.. smoga aja masih ada.. yang nungguin.. mohon maaf kalo chapter 3 kemarin sangat mengecewakan..
"Tak selamanya langit selalu cerah, akan ada masa nya ia bersedih, biarlah hujannya turun. Mewakili luka karena tak dapat bertemu sang mentari"
- Putri -
Title: With Love Cosmo
Genre: Romace
Rate: T+
Author: Putri Dwinata S
happy reading...
"INI...!!!??". seru Himmel, Arash, dan El bersamaan. Karena seruan itu mereka kembali menjadi pusat perhatian, ingat mereka masih dikantin
"Jangan ngadi ngadi loe Ice..!!". desis El dengan penuh ancaman
"Informasi macam apa ini..?". Sarkasme Arash dengan tajam nya
"Loe pernah jatuh cinta kan Ice, loe harusnya tau rasanya diginiin, sakit Ice, sakit". perkataan Himmel 'tidak terlalu normal' sepertinya daripada kedua sobat nya ternyata
"Hn". balas Ice cuek, kembali menikmati jus favoritnya tanpa peduli akan berbagai macam tatapan yang mengarah penuh arti pada nya
"Astagah.., katanya loe hacker, apaan kalo gini..". keluh Arash dengan wajah yang begitu kesal
Meletakan kembali gelas berisi jus nya yang tinggal setengah, Ice melipat kedua tangannya dan menumpukan di depan wajahnya, setelahnya menaikan sebelah alisnya dan memberikan tatapan bertanya.
"Oke.., oke fine, iya gue yang salah okay, ga semua data bisa didapet dengan gampang.". seolah mengerti dengan gestur yang Ice perlihatkan Arash langsung mengatakan hal itu
"Jadi, sekarang kita tau kalo tuh nama cewek Haul Sol Filiae, anak jurusan teknik permesinan, and anak tunggal. Just that.., damn..!!, bahkan kita ga tau nama orang tuanya..!". ujar Himmel frustasi
Mereka tentu asing dengan nama keluarga milik gadis itu, tidak ada yang tau tentang nama keluarga 'Filiae'. Bahkan di internet pun tidak ada data yang pas.
"Aaarrrggghh..!!!!, kok bisa sih ada orang yang hidup dengan data seminim ini". lanjutnya
"Daripada loe marah marah ganje, mending loe samperin tuh cewek difakultasnya. Kalo perlu kita temenin". usul El
"Ide loe boleh juga El, tapi alesan Himmel kesana mau ngapain..?, kan ga mungkin tiba tiba nih bocah dateng dateng trus ngajak kenalan kan". ujar Arash mencoba memberikan pendapat
"Lah iya juga, bisa bisa gue dianggep orang kurang waras, jadi itu tugas loe Rash buat mikirin alesan gue". Himmel berkata seola olah diadalah kapten dan ketiga temannya adalah cunguk cunguk yang harus melayani dirinya
"Dihh.., kok gue sih. Loe yang mau pdkt kok gue yang repot". balas Arash kesal
"Percuma donk kita punya loe, kepintaran loe manfaatin dikit aja kenapa, buat kali ini". balas Himmel tak kalah kesal
Katanya tadi mau nemenin tapi giliran dimintai tolong buat cari alesan aja susahnya minta ampun, temen macem apa mereka. Batin Himmel jengkel
"Okey..!!, fine, gini aja Ice kan juga anak teknik, walaupun beda jurusan setidaknya mereka ada difakultas yang sama. Kita beralesan kalo kita mau...". ujar Arash memberitaukan rencananya
" Boleh juga, gue setuju, ga sia sia otak loe encer Rash, gimana loe semua ikut kan..? Harus donk..". ujar Himmel dengan senyum ala abang abang tamvannya
"Kita ga mau juga bakal loe paksa Mel, okey kita kan emang niat bantuin loe, jadi oke kita berangkat abis ini..?, mumpung masih jam segini". memperlihatkan jam rolex kesayangannya El pun memberitaukan jam berapa saat ini
Sementara itu Ice hanya mendengus dan kembali ber 'Hn' ria, menghadapi tingkah teman temannya. Bakalan panjang urusannya ini, ujarnya dalam hati.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari seseorang sedang menyeringai dengan kejamnya.
.
.
.
.
Saat ini Himmel, Arash, dan El sedang menuju fakultas teknik. Mereka akan segera menjalankan rencana mereka.
Lah kok cuman tiga orang yang keliatan, kan yang ada cuma Himmel, Arash, sama El doank, trus Ice mana..?. Nah itu dia rencananya.
Ice akan pergi ke fakultasnya lagi untuk berpura pura mengambil barang nya yang tertinggal lab kimia, tentunya dibagian ini Himmel harus ekstra memaksa sahabatnya yang katanya malas untuk balik lagi ke fakultasnya.
Setelah itu Himmel, Arash dan El akan mencari sosok Haul dan mencoba bertanya dimana letak lab fisika dengan alasan ingin menjemput Ice.
Lalu Arash dan El akan meninggalkan Himmel dan Haul, agar memudahkan Himmel melakukan pendekatan kepada Haul.
Kembali lagi saat ini Himmel dan kedua temannya sedang mencari keberadaan Haul, terutama Himmel yang harus berjuang karena ia sangat ingin berkenalan dengan gadis itu.
Lama pandangan mata mereka mencari akhirnya mereka menemukan gadis itu sedang berada di bawah pohon dekat kolam ikan.
Dengan modal nekat dan keberanian Himmel menghampiri Haul bersama kedua temannya, saat sampai didepan gadis itu.
Mereka bertiga terpanah dengan raut wajah milik Haul, gadis itu cenderung terlihat manis daripada cantik. Pipi chubby nya yang merah, hidung mungil yang bangir, bibir yang sewarna merah buah peach.
Sesaat Himmel dan kedua temannya menahan nafas, melihat gadis itu mendongak, memperlihatkan manik sewarna coklat madu yang menawan, dihiasi bulu mata yang terlihat lentik dan tebal, namun memiliki pandangan mata yang tajam.
Sementara Haul yang menjadi objek hanya menyiritkan kening nya, bingung mengapa ada lelaki asing difakultasnya.
"Ekhem.., maaf menggangu, tapi kami ingin bertanya apa nona yang manis ini mengetahui letak lab kimia karena kami ingin menjemput teman kami Ice". sejujurnya Himmel gugup setengah mati
Namun Himmel mencoba menguatkan diri, tapi itu tak bertahan lama, karena bukannya menjawab Haul malah memandang ketiganya dengan aura membunuh.
Dan sontak saja ketiga pemuda tampan ini merinding, mereka tidak menyangka gadis semanis Haul beraura seseram ini.
"Maaf nona, tapi teman saya bertanya pada anda". seru El yang merasa gemas sendiri
Tanpa mengindahkan ketiga pemuda itu Haul berdiri dan melangkahkan kakinya menjauhi mereka, semetara El, Arash, dan Himmel memasang wajah layaknya idiot, apa apaan ini. Mereka yang biasa dipuja difakultas sastra bahasa oleh banyak wanita, diabaikan oleh seorang Haul. Mendadak merasa pamor mereka jatuh.
Kaki mereka seolah terpaku, memandang kepergian Haul yang semalin lama semakin menghilang.
Sampai kedatangan Ice yang merasa kesal karena tidak dijemput oleh El dan Arash sesuai rencana, jadinya ia berjalan dari jurusan teknik kimia ke teknik permesinan, namun tertutupi oleh wajah datar nya.
Habis sudah rencana mereka berbuah gatot alias gagal total, Arash selaku pemilik rencana baru kali ini merasa sangat sedih dan kesal. Karena rencananya tidak berjalan sesuai ekspektasi.
Melampiaskan perasaannya Arash berjalan menuju pohon yang tadi diduduki Haul, ia mulai berjongkok dan pundung sendirian, mengambil ranting pohon yang letaknya tidak jauh dan mulai menggambar hal hal abstak diatas tanah. Lengkap dengan aura suram yang keluar dari tubuh nya.
Melihat hal itu Himmel, El, dan Ice bersweadrop ria, menurut mereka Arash terlalu lebay hanya karena kegagalannya yang pertama kali dalam hidupnya.
Rencana hari ini memanglah gagal namun Himmel masih memiliki banyak waktu, ia akan berusaha agar bisa mengenal sosok Haul lebih jauh, dengan bantuan teman temannya ia yakin bisa.
Merasa urusan mereka sudah selesai, mereka memutuskan untuk kembali ke fakultas sastra bahasa, diperjalanan mereka bertemu Ciel.
Saat itu Ciel kelihatan begitu repot, dengan banyaknya tumpukan buku yang ia bawa sendirian, melihat hal itu Ice membantu mengambil beberapa tumpukan buku dan membawanya.
__ADS_1
Sontak saja Himmel merasa terkejut dan marah, untuk apa sahabat baiknya membantu musuh bebuyutannya. Ciel sendiri merasa senang mendapat bantuan.
"Ice..!!, ngapain loe bantuin dia". seru Himnel
"Gue mau balik". ujar Ice cuek
"Gue bisa anterin loe, ga usah baik deh sama tuh manusia ga tau diri, nanti loe malah di pengaruhi hal hal yang ga bener".
"Gue bisa urus diri gue sendiri okey". Ice juga merasa kesal, meskipun Ciel adalah musuh Himmel tapi Ciel bukan musuh Ice
Dan Ciel juga termasuk bagian dari fakultas teknik, sesama teman satu fakultas sudah kewajibannya saling membantu. Karena anak teknik tak mengenal apa itu musuh, semua mereka anggap teman dan saudara.
Menahan amarah bukanlah kebiasaan Himmel, tapi kali ini ia akan melakukannya, karena hal ini berhubungan dengan sohibnya, Ice.
Menghela nafas kasar, Himmel mengambil beberapa tumpukan buku dari tempat Ice. Dan berjalan lebih dahulu menuju fakultas teknik lagi. Sementara itu ke empat orang yang melihat kepergian Himmel memasang wajah horor, bagaimana mungkin Himmel mau membantu Ciel, yang notabene musuh bebuyutannya.
Pusing memikirkan keanehan Himmel, mereka berempat memutuskan untuk menyusul bocah pengidap foreign accent syndrome itu.
Sesampainya mereka difakultas teknik. Mereka menuju kantor jurusan, membantu Ciel menyusun buku buku yang tadi dibawa keatas meja dosen.
Tanpa mengucapkan apapun lagi, Himmel dan ketiga temannya meninggalkan Ciel. Tanpa disadari seseorang menyeringai diantara mereka.
Diperjalanan mereka melihat Haul, lebih tepatnya Haul yang saat itu berjalan beriringan dengan orang yang sangat mereka kenal, Filius.
Mereka berjalan berdua dilorong gedung kampus yang cukup lenggang. Kelihatannya mereka begitu akrab, bercanda satu sama lain. Bahkan Haul mengeluarkan banyak ekspresi meskipun tidak terlalu ketara, seperti memukul pundak Filius dengan tasnya karena kesal dengan ketua team futsal fakultas teknik itu.
Nampaknya kedua orang itu tidak menyadari jika mereka diperhatikan oleh empat- ralat lima pasang mata, Haul dan Filius terlalu asik dengan dunia yang mereka bangun bersama.
Himmel memandang mereka dari kejauhan, pandangan matanya kosong dan menggelap, tanpa suara ia melangkahkan kakinya untuk segera menuju fakultasnya.
Teman temannya hanya mengikutinya dari belakang, mereka tidak tau harus berkomentar seperti apa, jika mereka berada diposisi Himmel, tentulah mereka merasa sakit hati.
Bagaimana mungkin, orang yang sudah kau anggap saudara kandung mu bisa terlihat begitu akrab dengan gadis pujaaan mu. Sementara kau hanya bisa memandang dari kejauhan dengan rasa sakit yang menggerogoti tepian hati mu.
Sesampainya mereka difakultas sastra bahasa, Himmel langsung melangkahkan kakinya menuju parkiran. Moodnya sangat buruk, ia ingin pulang dan langsung mandi untuk melupakan kejadian barusan.
Teman temannya hanya bisa melihat. Mereka tau jika suasana hati Himmel tidak dapat diganggu, jadi mereka juga memutuskan untuk pulang dengan mobil masing masing. Terkecuali Ice karena mobilnya sedang ada dibengkel, ia menumpang pada Arash yang jelas satu arah dengan rumahnya.
.
.
.
.
.
TBC...
*hope you like it..
see y'll in next chap..*
mohon maaf kalo chapter ini pendek banget yak.. doakan aja chapter depan bisa sampe 2k kata atau lebih..
silahkan tinggalkan keripik pedasnya..
__ADS_1
luf y'll... 💚