With Love Cosmo

With Love Cosmo
Chapter 5


__ADS_3

krik.. krik..


hai..


ini chapter 5 yak.. smoga aja masih ada.. yang nungguin.. mohon maaf kalo chapter 4 kemarin pendek kali dan sangat mengecewakan..


"Tak selamanya langit selalu cerah, akan ada masa nya ia bersedih, biarlah hujannya turun. Mewakili luka karena tak dapat bertemu sang mentari"


- Putri -


Title: With Love Cosmo


Genre: Romace


Rate: T+


Author: Putri Dwinata S


happy reading...


Mood Himmel masih belum membaik sejak kemarin sampai sekarang, ia merasa sangat kesal dengan Filius. Dari bangun tidur perasaan kesal masih melekat dihatinya.


"Aarggghhhh..!!!, males bat gue ngampus". ujarnya kesal


Lagipula saat ini orang tuanya sedang tidak ada dirumah, sepertinya ia akan memilih untuk bolos saja. Mengambil smartphone nya, ia menchat teman sejurusan nya untuk memberitau jika ia tidak bisa ngampus, tentu saja dengan alasan yang ia buat secara asal.


"Kelar dah.., mending gue mandi". mengambil handuk nya Himmel membersihkan dirinya


Seusai membersihkan dirinya, Himmel melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Ia sudah terbiasa makan sendirian. Jadi sudah tidak masalah saat saat seperti ini terjadi.


"Loh.., den Himmel gak ngampus atuh..?". tanya Bi Yanti selaku asisten rumah tangga Himmel


"Kagak Bi.., kepala ku pusing. Aku juga udah izin kok". jawab Himmel asal


Bi Yanti tak bertanya apa apa lagi, ia langsung pergi, membiarkan Himmel menikmati sarapannya sendirian.


Selesai sarapan Himmel kembali ke kamarnya, melihat Playstation 4 milik nya. Ia memutuskan untuk merefresh pikirannya dengan bermain game.


Beberapa jam kemudian, sampai hari mulai siang. Himmel mulai merasa bosan, banyak game telah ia mainkan dan rata rata hampir ia menangkan semua.


Rasa bosan itu datang, lalu membuatnya semakin bingung mau melakukan apa.


"Ya lord.., gila gue bosen bat..!". gumam nya cukup kuat dengan nada merengek


"Apa gue keluar aja bentar yak, lagian udah jam segini juga. Oke lah". sambungnya pada diri sendiri (author: kasian ganteng ganteng gila, ngomong sama diri sendiri)


Himmel pun mengganti baju nya. Mengenakan kaos longgar berwarna putih, dibalut dengan jaket kulit berwarna hitam, dan memakai celana berbahan jeans berwarna hitam juga.


Pakaian itu menambah nilai plus bagi Himel, ia kelihatan sangat tampan. Tak heran banyak gadis yang rela melakukan dan memberikan apa saja asalkan Himmel mau dengan mereka.


Tapi jelas itu hanya angan angan biasa, karena saat ini hati Himmel telah tertawan oleh pesona si gadis teknik, Haul.


"Uhh.., enaknya kemana yak, cafe..? ya kali nongkrong sendiri, taman ria..? emang gue anak kecil. Trus kemana sih.., ribet bat gue ahh.. , elahh..".


Gerutuan itu terdengar dari Himmel saat ia hendak mengeluarkan motor ducati merah kesayangan nya.


Daripada pusing sendiri akhirnya, Himmel memutuskan untuk berkeliling keliling sekitaran komplek rumah saja. Cukup lama ia berkeliling, bahkan sampai mengeksplore tempat yang belum pernah ia jalani.


Mengedarkan pandangan nya kesekeliling, sampai matanya memandang satu titik. Tepat nya ke keberadaan seorang gadis berambut pendek.


Gadis itu sepertinya sedang jalan santai sore ditaman komplek ini, terlihat dari pakaian nya. Hanya memakai sebuah hoodie hitam dan celana pendek ketat yang juga berwarna hitam.


Itu Haul, penampilannya sungguh sangat sexy, apa dia tidak takut menjadi korban pelecehan?. Himmel memutuskan untuk menghampiri gadis itu, namun sebelum Himmel beranjak dari motornya.


Haul dihampiri oleh 5 orang pemuda berbadan besar yang terlihat menyeramkan, sepertinya pereman daerah taman itu.


Emosi Himmel langsung naik ke titik tertinggi, ia berencana untuk menghajar para pereman itu untuk melindungi Haul.


Namun pandangan nya tiba tiba membelalak tak percaya, didepan sana ia melihat Haul sedang menghajar 5 pemuda itu dengan gesit.


Terlihat Haul sedang membanting pemuda kedua setelah pemuda pertama berhasil ia rubuhkan, dengan tinju yang cukup yang kencang dibagian ulu hati.


Setelah pemuda ke dua tumbang, Haul melemparkannya keatas tubuh pemuda pertama, mereka berdua meraung kesakitan.


Sementara itu pemuda ke tiga dan ke empat menyerang bersamaan bermaksud meninju Haul, tapi mereka terlalu lambat. Haul berhasil menahan serangan itu dan memelintir tangan pemuda ke tiga dan ke empat, setelahnya Haul menginjak kaki mereka dan membanting tubuh yang telah babak belur itu sekaligus.


Niat Himmel yang ingin ikut menolong tadi seketika buyar, melihat gadis pujaan nya dapat melawan para pereman itu dengan tangan kosong.


"Ganbatte Haul..!!, come on honey..!, awas itu dibelakang..!, iya banting terus sweetheart!!".


Himmel justru berbalik menyemangati Haul, dengan mengarahkan gadis manis itu untuk mengarahkan pukulannya ke arah mana.


"Ayo beb pukul..! bagian ulu hatinya tuh..!!, tangan kiri nya patahkan..!, jambak rambut nya..! fighting..!!". teriak Himmel


Haul bergerak dengan lincah, fokusnya tidak hilang. Dan tak lama ke lima pemuda itu tumbang, kemudian melarikan diri dari wilayah taman itu.


Dengan langkah tertatih tatih, dan wajah penuh luka pastinya mereka akan memerlukan waktu yang lama untuk sembuh. Sementara Haul sendiri hanya memandang datar kearah para. pemuda itu, tubuhnya bahkan tidak terluka sedikit pun.

__ADS_1


Himmel langsung menghampiri Haul, dan memasang senyum cool andalannya yang pastinya dapat membuat wanita wanita di kampusnya menjerit tidak jelas.


Tapi senyum itu jelas tidak mempan pada sosok Haul, gadis itu hanya menatap datar Himmel. Ia ingat jika Himmel adalah pemuda yang sebelumnya pernah menghampirinya difakultasnya.


"Ehh.., kamu gapapa kan?". ujar Himmel canggung


Haul hanya membalasnya dengan anggukan.


"Ga ada yang sakit atau luka kan..?, mau ke rumah sakit..?, aku temenin".


"Gapapa". khas cewek banget emang, kalo ditanya cowok mah, selalu jawabnya gapapa tapi kalo didiemin mah ngamuk ngatain cowok yang ga peka. (author: apaan sih curhat)


"Yaudah kamu mau kemana aku anterin yak?". tetap mencoba beramah tamah pada gadis cuek didepannya meskipun dalam hatinya Hinmel ingin menangis


"Loe siapa sih, sksd bat sama gue". sasrkas Haul


Wahhh..., ini pertama kalinya ada yang sejutek ini pada Himmel, biasanya para gadis justru akan mengejar ngejar diri nya.


"Oh.., iya kenalan dulu, aku Himmel, kamu Haul kan?".


"Iya kenapa?".


"Gapapa sih, boleh temenan gak?".


"Enggak".


"Kenapa?".


"Ya gapapa, kenapa emang nya?".


"Ya gapapa".


.


.


.


Setelahnya hanya kesunyian, sampai dering ponsel milik Haul berbunyi.


"Halo".


".....".


"Oh.., ya udah gapapa".


".....".


Himmel hanya memandang takjub pada Haul, kenapa ada gitu ya manusia bisa seirit ini buat ngomong aja.


Sadar diperhatikan, Haul balas memandang Himmel dengan sorot mata tajam. Himmel berdehem sebentar untuk menghilangkan gugupnya, karena ketahuan memperhatikan wajah manis itu .


"Err.., kalo kamu mau pergi gapapa pergi aja". ujar Himmel dengan senyum terpaksa


Haul yang mendengar hal itu hanya menunduk sekilas, lalu berjalan pelan. Berbalik arah, sementara itu Himmel hanya menatap sedih.


Kenapa ketika Himmel bersama Haul ia tak bisa bersikap keren, ini menyebalkan. Batinnya merana.


Saat hendak ingin melihat kearah kepergian Haul, mata Himmel kembali membola, terkejut akan apa hal yang ia lihat. Hal yang membuatnya merasa kalah dan sesak didada.


Didepannya terlihat Haul sedang bersama sosok pemuda yang ia kenal betul, dekat dengan nya dan merupakan orang kepercayaan nya.


Pemuda itu menaikan sedikit sudut bibirnya, sementara Haul hanya menatapnya dengan alis terangkat. Himmel memandang mereka sampai mereka pergi dari taman itu dengan menaiki motor ninja berwarna biru sipemuda.


Mengabaikan sakit dihatinya Himmel memutuskan untuk menghubungi ketiga teman nya, sayang nya diantara ketiga teman nya hanya Arash yang sedang senggang dan berada disekitar wilayah taman itu.


Ia membenci hal ini, tapi tetap saja. Kenapa orang yang justru begitu ia percayai begitu tega. Dibelakang nya orang itu begitu dekat dengan gadis incarannya, sebenarnya kenapa 'dia' melakukan hal itu.


Tak lama Arash datang dengan mobilnya, saat melihat Himmel ia langsung keluar dari dalam mobil.


Arash terpaku melihat betapa kacaunya keadaan Himmel. Bukan kacau secara fisik, namun secara mental. Pandangan mata yang biasanya memancarkan semangat itu kini redup.


Hanya ada pandangan kosong nan dingin yang terlihat, dan Arash tidak menyukai hal ini. Hanya karena seoarang gadis dan pengkhianatan orang yang 'dekat' dengan mereka, Himmel bisa sehancur ini.


"Mel.., balik yok tapi sebelum tuh cari tempat makan, gue laper bat serius". Arash berusaha menghibur sahabatnya yang paling berharga ini


"Hn". ya ampun..., bahkan tanggapan Himmel sekarang sama persis dengan Haul


"Loe mau makan dimana?, gue traktir deh".


"Terserah". sahut Himmel singkat


Ini sangat tidak baik, bagaimana pun hal ini harus segera berakhir. Arash harus menemukan cara dan membuat rencana bagaimana cara agar Himmel bisa kembali bersikap seperti sebelumnya.


Ia membutuhkan bantuan El dan Ice. Mereka harus cepat mengakhiri penderitaan Himmel, mereka akan melakukan apapun meskipun Himmel tidak menyukai rencana mereka.


Merasa jika Himmel tidak dapat diajak kompromi, Arash memutuskan untuk membawa Himmel ke sebuah cafe.

__ADS_1


Saat memasuki cafe itu, Arash cukup terpukau dengan dekorasi cafe yang unik. Suasana yang cocok untuk anak muda jaman sekarang menenangkan pikirannya, dari tugas tugas yang menumpuk. Mood nya sedikit naik.


Begitu menyejukkan mata, tidak salah Arash membawa Himmel kecafe ini. Lalu seorang waiter menghampiri mereka, dan menuntun mereka kesalah satu meja dekat dengan dinding kaca yang menghadap langsung kejalanan depan cafe.


Arash membaca nametag waiter itu, tertulis 'Arine', waiter itu seorang gadis yang terlihat masih sangat muda. Mungkin masih SMA, mungkin ini pekerjaan sampingan gadis itu.


"Ingin pesan apa tuan?". tanya Arine ramah dan memberikan daftar menu kepada Arash


"Lemontea ice 2 dan menu paket A 2". ujar Arash


Arash memesan juga untuk Himmel karena, sepertinya pemuda itu masih enggan untuk berbicara.


Arine mengulang lagi pesanan Arah untuk memastikan, setelahnya ia mengangguk singkat lalu pergi, untuk mengantarkan pesanan kepada bagian dapur.


Beberapa menit kemudian, Arine kembali dengan sebuah nampan berisikan pesanan Arash, ia meletakan pesanan itu diatas meja dan menunduk sebentar, lalu pergi untuk melayani pelanggan lain setelah mengucapkan 'selamat menikmati' pada Arash.


Arash hanya tersenyum membalas ucapan Arine, setelah gadis itu pergi. Fokus Arash kembali kepada Himmel, pemuda itu masih saja menundukan kepalanya dengan pandangan kosong.


"Mell.., makan dulu ntar perut loe sakit. Gue sih ogah nganter loe ke dokter". Arash benar benar berusaha memaksa agar Himmel mau makan


"Ayolah Mel.., masa loe tega sih udah gue yang traktir, gue yang mesenin, dan loe masih ga mau makan!?". Arash memang pantang menyerah dalam hal apapun, bahkan dalam hal membujuk teman temannya yang keras kepala seperti Himmel.


"Iya gue makan". dan berhasil, meskipun Himmel makan dengan ogah ogahan


Sampai makanan itu masuk kedalam mulutnya, Himmel merasa makanan yang Arash pesan begitu enak. Bahkan ia melupakan kesedihan nya.


Padahal menu pesanan Arash hanyalah, chiken steak with massed potato. Masakan ini terasa seperti masakan ibunya.


Tanpa aba aba Himmel menghabiskan makanannya dengan lahap, Arash yang melihat temannya makan dengan lahap, hanya tersenyum tipis. Ia harap makanan yang ia pesan dapat membuat mood pemuda pencinta olahraga basket itu naik.


Setelah selesai makan, dengan hati hati Arash bertanya apa yang terjadi hingga Himmel seperti ini. Meskipun ia sudah memprediksikan hal yang terjadi, namun ia hanya ingin memastikan.


Himmel menceritakan apa yang ia alami tadi, mulai dari alasan kenapa ia bolos kuliah, keluar mencari udara segar untuk mengusir rasa bosan, sampai pertemuannya dengan Haul.


Tapi Himmel tidak menceritakan bagian dimana Haul dihadang oleh pereman dan menghajar para pereman itu tanpa terluka sedikit pun.


Justru para preman itu yang terluka parah, bahkan tanpa bantuan Himmel. Ia punya alasan untuk tidak menceritakan hal itu.


Setelah puas bercerita, Himmel dan Arash memutuskan untuk pulang, Himmel diantar pulang Arash dengan mobil nya, tapi sepertinya mereka melupakan sesuatu. Tapi apa ya...?.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"motor milik ku masih ditaman kan ya?". ujar Himmel linglung pada dirinya sendiri setelah ia sampai dirumah


.


.


.


.


.


.


TBC...


*hope you like it..


see y'll in next chap..*


mohon maaf kalo chapter ini pendek banget yak.. doakan aja chapter depan bisa sampe 2k kata atau lebih..


silahkan tinggalkan keripik pedasnya..

__ADS_1


luf y'll... 💚


__ADS_2