
ini chapter 3 yak.. smoga aja masih ada.. yang nungguin.. mohon maaf kalo chapter 2 kemarin agak mengecewakan
"Tak selamanya langit selalu cerah, akan ada masa nya ia bersedih, biarlah hujannya turun. Mewakili luka karena tak dapat bertemu sang mentari"
- Putri -
Title: With Love Cosmo
Genre: Romace
Rate: T+
Author: Putri Dwinata S
happy reading...
Pagi ini begitu cerah, semangat baru milik Himmel terisi penuh. Siap menjalani hari hari nya.
"Pokoknya gue harus tau siapa tuh perempuan, kali aja jodoh". doanya dengan wajah mengharap
Hari ini juga ia memiliki janji dengan ke tiga teman nya, teman seperjuangan semenjak mereka berempat duduk dibangku sekolah dasar. Sayang nya mereka terpisah saat masuk sekolah menengah pertama, namun ternyata takdir kembali mempertemukan mereka saat mereka memasuki sekolah menengah atas sampai ke bangku perkuliahan.
Walaupun mereka berempat berbeda jurusan dan fakultas namun persahabatan mereka masih sangat kuat. Terkadang mereka akan menyisakan waktu untuk berkumpul ditengah kesibukan mereka sebagai mahasiswa, jelas saja tugas menjadi penyebab mereka jarang berkumpul.
Dan jika ada peluang untuk bertemu satu sama lain mereka tentu akan memanfaatkan nya dengan baik.
Setelah selesai membersihkan diri dan sarapan Himmel langsung menuju garasi tempat mobil nya berada. Menyalakan mesin dan berangkat menuju kampus nya.
Hari ini seperti kemarin, mata kuliah nya hanya sampai jam 11 siang, bedanya sisa waktu nya akan ia manfaatkan bertemu dengan teman teman nya.
Sampai di fakultasnya Himmel segera memarkirkan mobil sport kesayangan nya dan pangsung menuju kelas nya. Hari ini juga mata kuliah kegemaran nya yaitu Bahasa Jepang, Himmel pernah bercita cita ingin pergi ke Jepang bersama orang tua dan kekasih nya kelak.
Detik berlalu menjadi menit, menit berlalu menjadi jam. Akhirnya mata kuliah hari ini selesai, Himmel memutuskan untuk mengecek notif dari smartphone nya.
Beberapa berisi chat dari teman nya yang mengatakan dimana tempat mereka akan berkumpul.
Kantin Perpustakaan, Himmel sempat bimbang akan kah ia membawa mobil nya atau berjalan kaki saja. Namun akhirnya ia memutuskan untuk membawa mobil nya saja, jika sudah selesai ia bisa akan langsung pulang. Tanpa perlu repot kembali ke fakultas nya.
Perjalanan nya tidak terlalu lama, karena letak perpustakaan ada dibelakang gedung fakultasnya saja, sesampaimya dilokasi Himmel memarkirkan mobil nya dan langsung menuju kantin.
Memandang kesekitar dan menemukan ke tiga teman nya sedang asik bersenda gurau, meskipun ada seorang temannya yang pendiam tapi ia melihat jika temannya itu cukup menikmati waktu bertemu mereka.
"Hay guys, yo whats up..?". sapa Himmel sambil mengambil tempat duduk disamping El.
__ADS_1
"Yo, ga ada apa apa sih, kita kita kangen aja ngumpul bareng, emang loe ga kangen sama kita?". tanya tanya salah satu temannya yang bernama Arash
"Dihh.., ya kangenlah kapan lagi coba kita bisa kumpul gini, sok sibuk loe semua". ungkap Himmel dengan wajah kesal
"Kayak yang ngomong enggak sok sibuk aja". balas El yang duduk disamping nya
Sementara Ice teman mereka yang pendiam hanya ber 'Hn' ria, okay mari kita kenalkan teman teman Himmel satu persatu.
Yang pertama ada Arash San Castela, biasa dipanggil Rash merupakan anak tunggal dari keluarga Castela, ia dari jurusan Managemen & Bisnis dalam kelompok mereka ia adalah sipintar yang jago mengatasi semua masalah.
Yang kedua ada El Grande Carlos, biasa dipanggil El merupakan sisulung dari tiga bersaudara dalam keluarga Carlos, ia dari jurusan Pertanian karena hobby nya yang suka berkebun. Memiliki sikap bodoamatan dengan orang orang disekitarnya namun gaul dan asik diajak bercandaan, dalam kelompok mereka ia adalah si pembuat rencana, apapun kegiatan nya dia lah yang merencanakan nya.
Yang terakhir adalah Ice O Flawkess, biasa dipanggil Ice, merupakan anak tunggal dari keluarga Flawkess, ia dari jurusan Teknik Kimia Industri, dalam kelompok mereka ia adalah si pendiam yang bisa pengatur strategi, bahkan kehebatannya dalam mengatur strategi sudah diakui oleh pihak militer.
Itulah ke tiga sahabat Himmel, mereka adalah bukti dari persahabatan itu sendiri, sikap mereka yang dewasa membuat orang orang iri akan ikatan yang mereka miliki. Sudah tampan, kaya, pintar, apalagi yang kurang coba, kurang nya hanya satu mereka masih single alias jomblo (author :yuk yang minat sama mereka skuyy daftar jadi calon pacar).
Banyak hal yang mereka jadikan alasan agar tidak terikat dengan gadis manapun, contohnya 'masih ingin fokus belajar' alasan yang klise memang tapi itulah kenyataannya.
Nama keluarga menuntut mereka agar lebih unggul dari ekspektasi orang tua mereka, tentu saja mereka sudah dididik agar menjadi calon penerus pemimpin perusahaaan.
Itulah yang membuat mereka harus lebih fokus terhadap masa depan mereka, semua sudah ditentukan sedari mereka lahir. Akan kemanakah langkah mereka sudah digariskan keluarga masing masing.
"Eh loe loe semua pada denger ya gue ada berita baru nih". ujar Himmel dengan semangat, "kemaren gue ketemu sama cewek diparkiran, manis banget mukanya sumpah. Rambut nya pendek sih tapi itu yang bikin dia keliatan dewasa, bodynya beeuuuhhh sexy abis kati peri mah leuat".
"Anak mana nih?". tanya Arash singkat
"Nah itu dia masalah nya gue ga tau dia anak mana, soal nya gue ga pernah liat dia di fakultas sastra. Kayak nya sih dari fakultas lain.". kekecewaan jelas terdengar dari nada bicara nya
Himmel merasa itu salah nya, jika saja ia tidak terlalu terbawa suasana dan terpesona terlalu lama. Maka jelas ia akan dapat berkenalan dengan gadis yang ia cap sebagai milik nya.
"Tenang aja kan ada Ice. Percuma donk ada dia, kan dia pernah ngerentas sistem keamanan data sekolah pas SMA dulu". perkataan El sontak membuat kedua temannya yang lain langsung menatap penuh arti kepada sosok Ice yang sedang anteng minum jus tomat favoritnya.
Merasa diperhatikan ia pun melihat teman temannya, jelas apa yang mereka katakan itu benar, namun hal itu sudah lama sekali, kejadiannya sewaktu mereka masih kelas satu sekolah menengah atas.
Hal itupun mereka lakukan bukan karena mereka ingin mencuri atau mengetahui soal soal ujian, the hell mereka berempat tergolong orang yang pintar bahkan jenius.
Mereka melakukan itu karena ingin mengetahui data dari seorang anak yang membully Arash, karena menganggap kepintaran atau kejeniusan yang Arash miliki adalah suatu kemustahilan. Jelas anak itu merasa dialah yang paling jenius. Himmel, El, dan Ice merasa sangat marah dan kesal.
Hingga mereka memutuskan untuk mencari tahu siapa anak itu, dan setelah mereka mengetahui nama anak itu. Mereka meminta kepada pihak sekolah agar melakukan pengujian.
Pengujian itu berupa ujian yang dilakukan dengan sangat ketat, hingga akhirnya hasil ujian itu membuktikan jika Arash lulus dan berhasil secara bersih.
Semenjak saat itu Arash tak pernah lagi dibully, bahkan mulai memiliki banyak idola karena kepintaran dan kejeniusannya.
__ADS_1
Sekarang kembali ke topik awal, ketiga teman Ice memandang dirinya seakan dia adalah sebuah keajaiban, seolah tanpa dirinya ketiga temannya tidak akan menjadi apa apa. Apalagi sosok Himmel, mata hitam yang bisa memandang tajam itu tiba tiba menjadi bulat dan membesar, persis seperti mata anak kucing peliharaan Arash.
Menghela nafas perlahan, Ice perlahan meletakan gelas berisi jus tomat nya dan mulai mengambil laptop kesayangan nya dari dalam tas.
Menekan tombol power dan menunggu beberapa saat sampai laptopnya siap untuk ia gunakan, dalam diam perlahan namun pasti Ice mulai mengetik beberapa kode dengan fokus sampai tidak memperhatikan sekitar nya.
Sementara ketiga temannya yang lain hanya bisa melongo melihat teman mereka yang pendiam itu, tak menyangka jika sosok Ice yang terkenal cuek mau membantu.
Hey, meskipun Ice teman mereka namun Ice kadang suka mengabaikan mereka, karena Ice merasa apa yang ketiga teman nya lakukan adalah hal yang kurang bermanfaat.
Tersadar dari keterkejutan mereka, Himmel, Arash, dan El memutuskan untuk menunggu hasil apa yang akan mereka dapat.
Terutama Himmel, matanya menampilkan kecemasan namun ada semangat yang kuat untuk mengetahui identitas gadis pujaannya.
Detik berlalu, menit berlalu. Akhirnya mereka melihat Ice berhenti mengetik, mereka pun memandang Ice dengan harap harap cemas, namun Ice hanya menatap mereka dengan tatapan datarnya.
Sekilas Himmel merasa jika tatapan datar Ice mirip dengan tatapan gadis pujaan nya. Walaupun dengan warna manik mata yang berbeda.
Tanpa kata Ice mengarahkan layar laptopnya kepada ketiga temannya yang menatapnya dengan tatapan anak kucing yang terbuang, seolah bergantung pada nya agar ia mau memungut mereka bertiga sekaligus.
Perlahan mereka bertiga melihat ke layar laptop itu, membaca dengan teliti dan perlahan, mencerna setiap kata dan kalimat yang berisi data diri dari seorang gadis.
Tiba tiba mereka menahan nafas mereka, mata mereka membelalak lebar seolah akan keluar dari tengkorak mereka, mulut mereka mengaga seolah tak percaya atas informasi yang barusan mereka dapat.
"INI...!!!??". seru Himmel, Arash, dan El bersamaan
.
.
.
.
.
TBC...
*hope you like it..
see y'll in next chap..*
silahkan tinggalkan keripik pedasnya..
__ADS_1
luf y'll... 💚