Yang Tersakiti

Yang Tersakiti
Kenangan Indah


__ADS_3

Ketika semua telah berlalu tanpa ada kisah manis dalam sebuah cinta. Aku tak pernah berniat lagi untuk jatuh cinta, semua gairah dan hal yang beralasan untuk jatuh cinta sudah tidak terbantah lagi. Aku tak ingin mengenal seorang laki-laki untuk lebih jauh, sebatas sahabat itu sudah cukup. Bukan tanpa alasan, aku hanya takut ketika jatuh cinta lagi aku harus merasakan perjuangan yang hanya aku sendiri yang berjuang atau ketika dia yang aku cintai tak akan pernah membalas sebuah cinta.


Aku kira dengan sebuah niat itu, untuk saat ini aku tak akan merasakan jatuh cinta. Namun, niat hanyalah sebuah niat. Aku terjebak dalam sebuah perasaan yang tak pernah aku tau, aku sedang jatuh cinta atau sekedar mengaguminya semata. Kisah ku berawal dari…


CUP SATU


Malam ini adalah malam minggu, biasanya aku selalu menghabiskan waktu untuk sekedar membaca buku, tapi tak seperti biasanya aku merasa jenuh dan bosan di dalam rumah. Aku berfikir untuk keluar dengan sepeda yang biasa menemani kemanapun aku pergi. Melewati kota yang ramai oleh pemuda-pemuda yang tak asing lagi pasti sedang berpacaran. Sendirian berkeliling hanya ditemani ponsel mini, setelah lama berjalan-jalan mataku tertuju di sebuah kedai Ice cream.


Aku sempatkan untuk berhenti di tempat itu, memesan satu cup ice cream dan sibuk dengan ponselku yang tak menghiraukan di sekeliling bahkan dengan si penjualnya


“Mas, satu cup ice cream rasa coklat” ujar ku sambil terus bermain dengan ponsel


“Maaf mbak, ice cream rasa coklatnya habis” balas si penjual ice cream


Spontan aku lalu melihat si penjual ice cream itu dan tanpa aku duga hatiku merasa bergetar ketika melihatnya. Entah apa yang buatku salah tingkah, atau aku hanya mengagumi ketampanannya saja. Sepertinya dia seumuran denganku


“Oh, ya udah. Ada rasa vanilla?”


“Oke, tunggu ya mbak”


Saat itu pula kedua mataku terus saja memandangi si penjual es cream itu, sampai-sampai aku tak sadar jika aku juga diperhatikan karena keanehanku. Dan sekarang aku benar-benar tak mengerti akan perasaan ini.


“Ini mbak, ice creamnya” ujar si penjual ice cream


“Ohh, iya terimakasih” balasku


Ada perasaan penasaran di benaku, siapa dia? Siapa namanya?. Tak henti pertanyaan itu selalu membanyangi saat itu juga. Tapi saat aku sudah selasai memakan ice cream, dan harus kembali pulang aku tak henti memandangi si penjual ice cream tersebut. Malam ini adalah malam yang bagiku mungkin tak terlupakan, aku berniat untuk setiap saat meluangkan waktu untuk membeli ice cream disitu, bukan apa-apa hanya saja aku ingin melihat kembali si tukang ice cream tersebut. Aku kembali pulang dengan perasaan yang gembira


CUP DUA


Sesetelah minggu lalu aku datang ke kedai itu, kali ini aku datang lagi karena aku masih penasaran dengan penjual ice cream itu. Dan memesan satu cup ice cream


“Mas, satu cup ice cream rasa coklat” ujarku sambil tak henti memandangi si penjual ice cream


“Oh, iya tunggu ya mbak” saut si penjual ice cream


Kali ini aku benar-benar terpanah dengan ketampanannya, sampai-sampai aku tak sadar kalau dia telah di hadapanku


“Mbak, mbak” suara si penjual ice cream yang mengaketkan ku


“Eh iya” sautku kaget


“Ini cupnya”


“Ohh iya, makasih mas” sautku


Dan aku pun ditertawakan oleh laki-laki yang juga pelayan di kedai ice cream tersebut, karena keanehanku. Dan rasa malu pun ada di mukaku.


Aku harus bergegas pulang Karena sudah larut malam, dan membuatku merasa tak menentu jika harus meninggalkan tempat itu.


CUP TIGA


Ini minggu ketiga, setelah minggu lalu aku datang ke kedai ice cream itu. Dan aku pun kembali ke kedai itu untuk melihat si penjual ice cream tersebut. Masih dengan sepeda menemaniku mengelilingi kota sebelum menyempatkan ke kedai ice cream. Sesampainya aku di kedai itu, tapi aku tak menemukan laki-laki penjual ice cream yang aku temui minggu lalu. Yang kutemui hanya seorang laki-laki yang menemani orang yang aku cari kemarin.


“Mas, mau tanya. Mas yang minggu lalu jualan bareng masnya dimana ya?” tanyaku penasaran


“Oh, mbak yang minggu lalu datang ke sini ya?” Tanya si penjual ice cream


“Iya mas” jawabku penasaran


“Ini mbak ada surat dari Reno, dia titip surat ini ke mbak. Niatnya dia mau kasih ini minggu lalu tapi mbaknya keburu pergi” kata si penjual ice cream


“Reno?”


“Iya Reno, dia yang biasanya jualan bareng disini. Tapi kali ini dia gak masuk kerja. Kayaknya dia suka sama mbak” saut si penjual ice cream sambil menggoda

__ADS_1


“Ada-ada aja mas ini. Makasihnya mas”


Entah apa lagi, kali ini hatiku benar-benar berdebar ada perasaan bahagia ketika mendapat surat ini. Buru-buru aku pun membuka surat yang sudah aku pegang.


Dear…


Hay, kenalin namaku Reno. Aku pelayan yang biasanya di kedai ice cream disini. Aku tau kali ini kamu sedang baca surat ini. Dan aku hanya ingin menyampaikan sesuatu. Sebenarnya dari awal kamu dateng ke kedai ini, aku sudah memendam rasa. Tapi, setiap aku mau deketin kamu, kamu sudah buru-buru pulang. Kali ini, aku berharap kamu mau mengenal aku, gak berharap lebih sekedar cuma teman. Kalau mau besok aku mau ke taman samping kedai ice cream ini. Aku berterimakasih banyak jika kamu mau kesana.


Reno


Jantungku berdebar kencang, aku tak menduga jika dia juga memendam perasaan selama ini. Dan rasa penasaranku akan dia sekarang sudah terbanyar lunas, aku sudah mengetahui kalau namanya adalah Reno. Aku tak mau menyianyiakan waktu yang bahagia, aku akan datang ke taman yang dia tunjukan.


Waktu yang direncanakan tiba, sekarang aku sudah menunggu di sebuah taman yang direncanakan. Hampir lama aku menunggu, tapi dia tak kunjung datang. Aku menduga dia tak akan datang, dan aku hanya diberi harapan yang lebih. Tapi tiba-tiba ada suara yang mengejutkan ku dan membuyarkan lamunanku


“Hay” saut dari belakang


“Eh, hay” dan sepontan aku menoleh, ternyata dia memang datang


“Maaf, nunggu lama. Boleh duduk” kata Reno


“Bo..boleh. Silahkan”


“Boleh kenalan sebelumnya?”


“Iya, namaku Briel” jawabku gugup


“Oh, Briel. Akhirnya aku tau juga siapa nama kamu” katanya berseri-seri


“Maksudnya?”


“Iya, sejak kamu dateng ke kedai ice cream itu, aku penasaraan sama kamu. Aku berharap kamu datang lagi. Dan dugaan ku benar kamu datang, tapi aku belum berani untuk ngajak kenalan” katanya


Apa lagi sekarang, hatiku benar-benar bahagia. Aku tak menduga dia akan berkata begitu.


“Oh, iya boleh minta nomornya?” katanya


“Oh, ya udah sore. Pulang yuk, mau aku antar?” ajaknya


“Gak usah, aku udah bawa sepeda kok” jawabku malu


“Oh ya udah. Sampai jumpa lagi” katanya sambil melambaikan tangan meninggalkanku


“Sampai Jumpa”


Sore tadi mungkin pertemuan kami yang pertama dan yang berkesan. Mala mini aku duduk di atas kasur sambil bermain dengan handphone ku, dan tiba-tiba suara pesan masuk dan mengejutkanku


“Malem Briel”


“Malam juga. Ini siapa ya?” jawabku


“Ini Reno”


“Oh, Reno. Ada apa?”


“Gak papa kok Briel. Kalo mau malam minggu besok dateng ke kedai ya” ajak Reno


“Iya, biasanya kan kalo malam minggu kan dateng ke kedai” jawabku lewat sms


“Oke, aku tunggu ya”


CUP EMPAT


Kringg kringg kringg. Suara alarm jam berbunyi


“Apa? Udah jam 7 malem” teriakku kaget sambil bergegas menuju ke kamar mandi.

__ADS_1


Ternya aku nyenyak tertidur hingga lupa kalau ini adalah malam minggu yang aku janjikan akan bertemu dengan Reno di kedai ice cream. Dengan cepat aku membersihkan diri dan bergegas mengganyuh sepeda menuju kedai. Di sepanjang perjalanan, aku merasa bersalah karena sudah membuat Reno menunggu karena kita berniat janjian jam 4 sore. Tampa raut mukaku yang tak begitu gembira.


Sesampainya aku di kedai itu, aku tak menemukan adanya Reno disana. Dengan raut muka yang kelelahan dan kecewa aku duduk sambil mengatur nafas. Aku berniat untuk menghubungi Reno untuk menanyakan dimana dia sekarang, tapi aku takut dia tak akan membalas dan marah. Semua rasa bingung ada di raut muka ku, dan tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara dari belangkang.


“Briel” teriak seseorang membunyarkan lamunanku


“Reno?” jawabku kaget


“Aku kira kamu gak akan datang lagi disini” ujar Reno


“Ya enggak lah, malah aku kira kamu yang marah karena lama nungguin”


“Enggak kok, aku tau kamu datang terlambat pasti kelelahan, kan aktivitas seharian tadi padat” ujarnya sambil melemparkan senyum


“Eh, iya aku mau ngasih tau kamu sesuatu” lanjutnya


“Apa Ren?”


“Aku mendapat beasiswa ke luar negeri. Dan dua hari lagi aku akan pindah ke luar negeri untuk melanjutkan studyku” ujarnya sambil menundukan kepala


“Apa ren? Kamu serius?” jawabku kaget


“Iya el, aku serius” saut Reno dengan muka sedih


“Reno” kataku dengan lembut sambil memegang tangannya


“Jujur aku sedih, mendengar ini semua. Pertemuan kita memang singkat, tapi kebersamaan kita selama ini telah menyatukan kita dan membuat aku jatuh cinta ren” lanjutku sambil meneteskan air mata


“Briel, jangan nangis” kata Reno yang menghapus air mataku


“Briel, jujur aku juga merasakan hal yang sama selama ini. Kebersamaan kita yang singkat, membuat aku jatuh cinta el” ujar Reno dengan memeluk erat tubuhku


“Ren, kamu janji kamu bakal kembali kesini lagi?” Tanyaku


“Iya Ren, aku janji. Suatu saat nanti aku akan kembali untukmu el”


Tangis haru seketika meluap, aku tak sanggup melepas reno. Memang baru sebentar aku mengenalnya tapi aku merasa nyaman ketika dekat dengannya. Kebersamaan yang kita buat menjadi kenangan yang paling manis, sampai suatu saat nanti kita akan membuat kebersamaan lagi.


CUP LIMA


Sudah dua bulan Reno pergi, aku baru kali ini lagi untuk ke kedai ice cream. Ya hanya sekedar buat mengingat Reno.


“Eh, Briel” sapa si penjual ice cream


“Lo kok tau namaku?” jawabku bingung


“Iya, sebelum Reno pergi dia sering cerita tentang kamu”


“Gimana kabarnya Reno ya? Setelah dia pergi dia gak pernah buat ngabarin aku” Tanya ku


“Oh iya, ini ada surat dari Reno. Katanya suruh ngasih ke kamu setelah dia pergi, tapi baru sekarang kamu kesini lagi” kata si penjual ice cream sambil menyodorkan surat.


Apa ini? Kenapa dia gak ngabarin langsung, kenapa harus dangan surat. Aku langsung membuka surat itu dan terkejut dengan isi surat ini.


Dear My love


Kali ini kamu adalah orang special yang membaca surat ini. Ketika kamu mengetahui apa yang sedang kamu baca, aku harap kamu tidak akan merasa sedih dan kasihan terhadapku. Briel, aku pergi ke luar negeri bukan untuk melanjutkan study ku tapi aku pergi untuk berobat. Sudah lama aku mengalami kaker darah. Terima kasih sudah membuat waktu yang berharga selama ini menjadi lebih berarti dengan kehadiranmu. Aku tau tak ada yang tak mungkin, jika mungkin aku hidup lagi aku akan kembali untukmu. Tapi jika tidak mungkin, aku akan tetap mencintaimu Briel. Love you…


Untuk


Seseorang yang berarti Briel


Tanpa aku sadari air mataku mulai menetes, entah mengapa sepertinya aku akan kehilangan siapa kiriku, kaki lemah seperti tak ada tumpuan, rasanya nafasku berhenti detik itu juga. Seseorang yang aku cintai bukan tak mungkin akan meninggalkanku. Dan bukan tak mungkin aku akan tetap menunggu dia sampai dia kembali pada ku. karena aku percaya, cinta akan datang jika memang dia pasangannya.


__ADS_1


“Cinta ialah sebuah anugrah yang paling indah. Cinta tak pernah datang terlambat, Cinta juga tak pernah datang dengan cepat. Takdir tau apa yang akan terjadi, Tuhan telah menuliskan alur hidup seseorang dengan indah. Walau kadang pada akhirnya akan berakhir tak sesuai dengan yang diinginkan. Cinta hadir dalam waktu untuk melukiskan keindahan yang abadi.”


Kini aku menunggu kehadiran cinta yang aku percaya dia akan kembali lagi untuk mengukir kebersamaan.


__ADS_2