Yang Tersakiti

Yang Tersakiti
Cinta


__ADS_3

Hari ini genap setahun aku menyimpan perasaanku pada seseorang, oh iya namaku anto, aku seorang mahasiswa jurusan akuntansi di sebuah perguruan tinggi di Indonesia. Suatu hari seperti pada jurusan lainnya, jurusan akuntansi pun tak luput dari sebuah acara yang biasa kami sebut makrab atau malam keakraban, acara itu mempertemukan para senior sebuah jurusan kepada para juniornya, dan disitulah awal aku bertemu dengan seseorang itu, yaap… wanita itu seniorku dia anak yang manis jadi wajar bila beberapa seniorku mengharapkan balasan cintanya. Saat pertama kami bertemu tak pernah terpikirkan untuk mencoba mengikuti jejak beberapa seniorku untuk mengharapkan cintanya, waktu itu aku hanya melihatnya sama seperti yang lain, tidak ada yang istimewa meski harus ku akui bahwa wajahnya memang sangat manis dan menarik sebuah perhatian.

__ADS_1


Sebelum makrab di mulai setiap junior diberikan sebuah kelompok yang dipertanggung-jawabkan kepada satu orang senior yang biasa di sebut korkel atau koordinator kelompok, saat itu sebagai seorang senior dia memegang satu kelompok dan aku berada di kelompok yang lain, entah mengapa secara tiba-tiba dia datang dan meminta beberapa orang laki-laki di kelompokku untuk masuk ke dalam kelompoknya, dan tentu saja aku menerimanya, meskipun saat itu tidak ada perasaan padanya namun senyumannya seakan mematikan, waktu yang berputar di sekitarku dan itulah alasanku mengapa aku menerima tawarannya.

__ADS_1


Waktu terus berlanjut kesingkatan acara makrab tak mampu membuat perasaan tumbuh hingga akhirnya kami berjalan masing-masing bagai dua orang yang bertemu di supermarket untuk berjual beli kemudian selesai, hingga suatu hari aku sadari ada yang salah dari sikapku, yaa.. bodoh itulah di mana aku tak pernah menyadari dialah seseorang yang mampu membuatku melakukan sesuatu tanpa harusku berpikir. Tersadar akan kebodohan yang telah aku lakukan aku tak ingin mengulangi kebodohan-kebodohan yang lain, aku coba untuk menunjukan bahwa diriku pernah ada dihidupnya meski hanya sebatas bayangan, tanpa berpikir aku coba titipkan sebuah salam kepada seorang teman untuk disampaikan kepadanya, dan ini menjadi sebuah kewajaran dan kebiasaan hingga akhirnya dia sadar bahwa “aku pernah ada”.

__ADS_1


Batas waktu 2 hariku telah usai, hanya separuh yang mampu aku kumpulkan dan itu berarti aku kalah dalam pertaruhan ini, yap… Rambutku melayang, nomornyapun tak kunjung kudapatkan. Pertaruhan itu bukan akhir, kami menjadi jauh lebih dekat, bahkan tidak jarang seniorku yang lain merasa mendapat saingan baru, karena menurut ceritanya padaku tidak semua yang mendekatinya mendapat perlakuan sama sepertiku, dan jujur itu membuatku bahagia hingga akhirnya kudapatkan nomornya meski dari seorang temanku dan bukan dari dirinya, dan inilah yang menjadi titik balik ceritaku, aku mengerti dia bukan orang yang sombong sehingga ramah padaku, dia berbagi cerita karena aku temannya yang baik, bukan karena perasaan, bukan karena hati atau apapun kata yang ada untuk menggantikan kata cinta, karena dia takkan pernah ada untuk membalas perasaanku, karena dia tetap saja dia yang dulu, dia yang selalu menganggapku seorang anak kecil yang tak mungkin singgah dihatinya, dia yang selalu menganggap akulah adik kecil dihadapannya dan semua itulah alasan mengapa kami harus berjalan sendiri-sendiri bagai dua orang tetangga yang berjual beli, saling mengenal, saling membantu namun tidak saling terikat.

__ADS_1


__ADS_2