
Seorang pelayan pun datang.
"Jangan biarkan siapapun masuk dan perintahkan kepada semua penjaga untuk menjaga pintu masuk rumah ini"
"Baik pangeran! "
Seketika pelayanan itu langsung menghilang dengan sekejap mata. Kemudian Elias memasuki ruangan Lily, disana Lily duduk terdiam diatas ranjang. Kemudian bulan purnama menampakkan wujudnya dengan begitu terang. Seketika Lily menatap tajam ke arah Elias dengan netra mata yang berubah menjadi warna merah darah.Lily bersiap menerjang Elias. Tapi persiapan Elias sudah sangat matang, karena dia sudah memasang pelindung di sekitar ranjang.
Ketika tubuh Lily mengenai pelindung itu dia akan tersengat listrik dengan tegangan yang sangat besar. Lily lalu tidak sadarkan diri karena pelindung tersebut. Bulan purnama pun berakhir dan Lily sudah kembali normal. Elias segera menghilangkan pelindungnya, lalu menggendong Lily dan merebahkan nya diatas ranjang.
"Selamat malam"
Ucapnya kemudian meninggalkan kamar tersebut.
Esok paginya Lily terbangun seluruh tubuhnya terasa lemas tak bertenaga. Lalu Elias memasuki kamar dengan membawa makanan.
"Makanlah kamu pasti lapar"
Lily terdiam saja.
"Hei pelayan!"
Tak disangka Lily malah menjawab Kata-kata Elias.
"Aku bukan pelayanmu!dasar tuan muda yang jorok! "
Bukannya marah Elias malah tersenyum. Lily merasa terkena jebakannya pun langsung memalingkan mukanya yang berona merah karena malu.
"Akhirnya kamu kembali seperti sebelumnya"
Lily terdiam beberapa menit. Suasananya terasa sangat canggung.
"Kenapa tidak membunuhku saja?.. Seperti yang kau lakukan pada ayahku."
Elias menyodorkan sepotong roti sandwich yang dibawanya tadi.
"Makan dulu baru ku beritahu!"
__ADS_1
Lily awalnya menolak tetapi karena ia ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan ayahnya, akhirnya gadis itu memakan roti sandwich tersebut. Lily memakannya dengan sangat lahap sekali.
"Sepertinya kamu memang sangat lapar ya!"
Gadis bernetra emas itu merona.
"Kalau mau lagi bilang saja!"
Setelah usai makan Lily menanyai Elias tentang kejadian beberapa tahun yang lalu. Elias menceritakan semua hal yang ingin diketahui oleh Lily.
"Karena itu aku memintamu menjadi pelayanku, supaya aku bisa menjaga mu. Itulah janjiku kepada ayahmu"
Suasana kembali menjadi canggung dan sunyi. "Tidak apa-apa kalau kamu tidak mempercayainya" Elias lalu beranjak pergi. Lily Tiba-tiba menarik tangan Elias, gadis bernetra emas itu mulai menitikkan air mata dan menangis. Elias seger memeluk Lily untuk menenangkannya.
" Bersiaplah sebentar lagi kamu akan kembali kerumahmu"
Bisikan Elias membuat hati Lily menjadi sedikit tenang. Pria netra merah itu segera pergi keluar kamar.
Setibanya di rumah Lily segera keluar dari mobil Elias dan segera berlari masuk kedalam rumah. "bibi! Aku pulang! " Rumah itu sunyi sekali tidak ada seorang pun yang menjawab Lily. "Wah! Wah lihat siapa ini!" Suara seseorang terdengar dari lantai atas. Tanpa pikir panjang Lily lansung naik ke lantai atas. betapa terkejutnya Lily saat mengetahui bahwa pembantu dan ibunya terkapar di lantai dengan bersimbah darah."ini... Bohong.. Kan?". Tanpa disadari oleh Lily ada seseorang yang berdiri di depannya dengan tersenyum. "Jangan nangis dong! Toh ibumu juga tidak peduli dengan mu, aku sudah membantumu lo!" Kata orang tersebut dengan nada senang.
" Aku.. Sepertinya.. Sudah.. Tamat" Batinnya.
Zap!
"Dingin Tubuh ini dingin sekali" Batin gadis bernetra emas itu.
"Jika paman membenciku,paman bisa melawan ku! Gadis ini tidak ada hubungannya! "." Kalau begitu serahkan tahta ayahmu pangeran" Ucap orang yang tak lain adalah paman Elias, Nicholas. "Jangan harap! "
Pats!
"Dasar anak tidak sopan, sudah menghilang saja dia".sementara itu Elias dan Lily sedang pergi menuju tempat yang tersembunyi jauh dari kota.
" Kamu sudah sadar! Ada yang sakit tidak? "Elias begitu lega ketika melihat Lily sudah tersadar dari pingsannya.
Tik...
" Apa aku ini pembawa sial bagi keluargaku? " Ucap Lily sambil menangis. "Aku sudah tidak punya keluarga lagi sekarang.. Hiks..." Lily menangis sejadi jadinya. "Kamu masih punya aku! Dan aku akan selalu melindungi mu apapun yang terjadi! Jadi kamu tenang saja! ".
__ADS_1
" Sebaiknya aku mati saja" Lily amat sangat murung padahal Lily adalah anak yang selalu ceria sangat jarang di menjadi sedih dan murung seperti ini. "Jangan berkata begitu, kalau kamu mati aku tidak bisa menepari janjiku pada ayahmu jadi kamu harus tetap hidup ya?"
Ucap Elias sembari menggenggam tangan Lily yang dingin. Sekarang Muka gadis netra emas itu sedikit tersenyum, Elias lega melihat Lily yang sedikit tersenyum itu. "Ngomong-ngomong kita sekarang ada dimana? ".
" Kita sekarang ada di mansion ku yang sangat jauh dari kota".Lily kemudian bangun dari ranjang dan berjalan ke arah jendela. "Wah! Ternyata ada laut! Indahnya" Lily terkagum-kagum melihat laut yang berada tak jauh dari mansion itu. "Kalau begitu ayo kita kesana! " Elias lalu menggandeng tangan Lily.
Setibanya di tepi pantai raut wajah Lily seketika berubah menjadi bahagia dan senang. Lily juga berlari-lari di pinggiran pantai. "Dasar seperti anak kecil saja" Ucap Elias yang sedang mengawasinya dari jauh. "Pangeran ini semua hasil dari penyelidikan yang telah dilakukan" Elias mengambil beberapa lembar kertas yang diberikan salah seorang pelayannya. "Bagus! Sekarang kalian amati saja semua pergerakannya"." Siap pangeran! " Seketika pelayan itu langsung menghilang.
"ELIAS!!! " teriak gadis itu sambil melambai ke arah Elias. Elias pun tersenyum tapi dibalik senyuman itu dia menyembunyikan sesuatu yang di pendam dalam-dalam dan di sembunyikan.
"Baiklah! Makan malam aku yang masak! " Ucap Lily dengan penuh semangat. "He.... Nanti masakanmu aneh lagi kaya waktu itu" Elias meledek Lily. "Lihat saja aku pasti akan membuatmu terkejut dengan masakanku yang lezat ini! " Ucap Lily sembari mengarahkan spatula ke arah Elias.
Setelah beberapa menit Lily menghidangkan makanan yang telah di masaknya. "Kenapa sup ini berwarna ungu? " Lily hanya memalingkan wajahnya. "Sudah kuduga! " Batin Elias. Elias kemudian memakannya. "Gimana enak tidak? " . "Rasanya seperti ada kembang api di mulutku" Lily tampak murung. Tetapi juga kaget karena Elias tetap memakan masakan aneh miliknya itu. "Kalau tidak enak tidak usah dimakan lagi"." Maksudku tadi itu rasa masakanmu enak sekali, belum pernah aku makan masakan seenak ini!" Kedua mata Lily langsung berbinar-binar.
"Hei apa sekarang aku menjadi vampir sepertimu? " Ucap Lily sembari mencuci piring. "Tidak kamu belum sempurna kamu hanya setengah vampir, kalau ingin menjadi vampir sempurna seorang manusia harus meminum darah dari raja vampir " Jelas Elias. "Tapi bukannya waktu itu aku meminum darahmu? Kamu kan raja" Elias menggeleng. "Aku belum menjadi raja saat ini aku masih pangeran".
" Dan sebenarnya jika manusia digigit oleh vampir, manusia itu akan menjadi tak terkendali dan hanya menjadi seperti hewan buas"jelasnya lagi. "Tapi kenapa aku tidak begitu?"." Karena kamu sudah meminum darahku, tapi itu hanya berefek sementara jadi kamu harus meminum darah vampir bangsawan agar kesadaran mu bisa kembali seperti sekarang".
Lily kemudian berjalan ke arah ruang tengah dan duduk di sofa. " Sofa nya sangat nyaman aku jadi mengantuk ".Elias pun juga duduk didekat Lily. " Nyawa Lily dalam bahaya aku harus segera memikir kan cara yang lain" Tanpa disadari Lily sudah tertidur di pundak Elias.
"Jadi bagaimana?"." Sepertinya paman anda akan segera memulai pergerakannya" Elias terdiam sejenak. "Baiklah kalau begitu kamu sudah boleh pergi" Dengan segera pelayan itu langsung menghilang. "Aku harus segera mengambil tindakan" Gumam Elias.
Esoknya mereka sedang makan sarapan pagi bersama. "Lily hari ini kamu temani aku kencan ya?" Lily lalu tersedak. "Ke-ke-ke-kencan?! " Elias mengangguk sembari tersenyum. Elias mengangguk, wajah gadis bernetra emas itu kini dipenuhi rona merah. "Kalau begitu cepatlah bersiap ok? ".
Setelah beberapa menit Lily turun ke bawah dengan menggunakan sweater coklat dengan pita putih, mengenakan baret merah. " Sudah? " Lily mengangguk, Elias segera menggandeng tangan Lily. " Kalau begitu ayo berangkat! ".
Sesampainya di kota Lily merasa sangat senang karena sudah lama dia meninggalkan kota. " Ayo kita kesana! " Ucap Lily sambil menunjuk ke arah kedai crepe dekat situ. " Boleh ,tapi tujuan kita-" Tiba-tiba Lily langsung menarik tangan Elias. Ketika di kedai crepe mereka mengantri dan melihat beberapa menu crepe yang tertera di atas kasir. Tiba saat giliran Lily dan Elias memesan "selamat datang, mau pesan rasa apa? ".Lily terdiam sebentar lalu " Kalau begitu pesan ini,itu,dan itu! " Sembari menunjuk ke tulisan yang tertera di dalam menu. "Kamu serius mau makan sebanyak itu?! " Bisik Elias. "Tidak boleh ya? " Tanya Lily dengan membuat raut wajah imut. "Ugh! Boleh kok tapi gk keba-" Belum selesai Elias menjawab "bagus! Ayo cari tempat duduk! ". " Tidak dengar ya? " Batin Elias.
Ketika pesanan Lily sudah datang, Lily memakan crepe itu dengan lahap sekali. " Pfft.. " Elias mulai tertawa melihat tingkah laku Lily ketika memakan crepe itu. " Ah maaf... Aku terlalu senang sampai lupa kamu belum mencobanya" Ucap Lily lalu berhenti makan. "Sudahlah tidak papa, aku juga tidak suka makanan manis" Kata Elias sembari mengusap mulut gadis bernetra emas itu "pelan-pelan saja belepotan lo krimnya" Lanjutnya. Gadis berambut coklat itu seketika merona.
"Selanjutnya kemana ya? " Gumam Elias. " Hei!hei! Bagaimana kalau-". "Baik sudah kuputuskan! " Seketika Elias segera menarik Lily ke sebuah toko yang tak lain adalah toko baju. "Kenapa kesini? " Tanya Lily. "Kamu gak suka kah? " Lily menggeleng. Kemudian Lily mulai mencoba beberapa pakaian. " Kalau pakaianku begini gk cocok kan? " Ucap Lily ketika memakai dress putih pendek dengan mengenakan pita pada rambutnya. " Manis kok! Gimana kalau kita beli itu saja? "." Ta-tapi kan.. " Elias tak mendengarkan Lily dan segere membayar dress putih pendek itu. "Kamu tidak mendengarkanku ya?! " Teriak Lily sambil menggembungkan pipi. " Sudahlah ke tempat lain yuk!" Ajak pria bernetra merah itu. Lily mengangguk dan mereka melanjutkan perjalanan. Saat itu jalan sedang sangat ramai membuat Lily terkadang terpisah dari Elias " Elias tunggu! " Ketika Elias menengok Lily pasti sudah tertinggal dibelakang. "Ramai sekali sih! "." Kalau begitu begini saja" Ucap Elias sembari menggandeng tangan Lily. "A-a-a-a-apa yang-" Lily pun menjadi gagap. "Jangan salah sangka, kalau kamu tersesat kan akunya repot" Gurau Elias. "Kamu...! " Elias malah menggandeng tangan Lily dengan kuat "Becanda kok! Ayo! ". Mereka berjalan-jalan dengan bergandengan tangan layaknya pasangan. " Wah pacar anda cantik sekali! Bagaimana jika anda memakaikannya kalung ini pasti cocok! " Ucap salah satu pegawai tokok sembari menawarkan sebuah kalung liontin safir biru. " Tenanga saja, aku sudah menyiapkan yang lebih baik" Ucap Elias dingin. Kata-kata Elias sangat menusuk hati pegawai itu tapi Elias tak menghiraukan nya dan segera pergi meninggalkan tempat itu. "Kamu kejam sekali! Tidak usah bilang begitu kan bisa!" Bentak Lily. "Orang seperti itu kalau tidak dibegitukan pasti akan memaksa terus".
Hari sudah hampir sore. Lily dan Elias sudah mengunjungi banyak tempat, Lily tentunya merasa sangat senang sekali. Kemudian mereka pergi ke taman kota. Disana mereka melihat pohon-pohon rindang, sungai yang jernih, air mancur dan terdapat taman bunga di taman kota tersebut. Lily dan Elias memutuskan untuk duduk dibawah salah satu pohon yang agak jauh dari keramaian. " Wah.. Udaranya sejuk sekali di sini! " Ucap Lily ketika semilir angin datang. " Aku capek sekali mengikutimu jalan kesana kemari. Kamu ini suka sekali jalan-jalan ya? " Gurau Elias. " Dulu... Ayah selalu mengajakku jalan-jalan, ketika ayah meninggal aku sudah tidak pernah jalan-jalan seperti ini lagi" Jelas Lily. " Apa ibumu tidak-" Belum usai Elias berbicara " Ibuku mana peduli denganku, setelah ayahku meninggal dia menganggap penyebab kematian ayahku adalah aku" Balas Lily. " Kau tahu kami para vampir bangsawan tidak pernah mengenal siapa orang yang melahirkan kami" Lily terkejut. "Karena ketika kami lahir kamu akan diasuh oleh pembantu sampai dewasa dan ibuku entahlah aku juga tidak tau dia ada dimana" Jelas Elias. Lily kemudian menggenggam tangan Elias seraya berkata " Dimana pun ibumu pasti sekarang dia bangga melihatmu".Elias tersenyum kearah Lily " Kita pulang yuk! "Lily mengangguk.
Sesampainya di mansion. Elias mengajak Lily ke kamar yang berada di lantai atas. Elias membukakan jendela yang terletak di kamar itu, seketika angin berhembus dan menerpa rambut Lily yang panjang. " Lily kemarilah".Lily berjalan kearah Elias yang berdiri di dekat jendela. "Berbalik lah" Lily berbalik dan Elias mengangkat rambut panjang Lily yang terurai. "Ka-ka-kamu ngapain?! " Lily salah tingkah. "Sstttt" Elias memakaikan sebuah liontin berwarna merah. "Jadi... Ini yang kamu bilang lebih baik? " Ucap Lily sembari tersenyum licik. "Kalau tidak suka kembalikan saja! " Ucap Elias dengan sedikit gagap. "Aku suka, liontin ini cantik sekali Terima kasih! " Kata Lily sembari tersenyum ke arah Elias. Elias lalu membungkuk dan... Cup!. Dia mencium Lily. "Ka-kamu!!! " Ucap Lily dengan wajah merah merona. Elias malah tersenyum. Lalu mencium Lily lagi untuk kedua kalinya. Lily menitikkan Air mata bukan air mata kesedihan tetapi kebahagiaan. Elias melepaskan ciuman itu lalu memeluk Lily. "Hari ini hari yang sangat menyenangkan dan... Selamat tinggal" Lily terkejut saat Elias membisikkkan kata-kata itu di telinganya. "Apa maksudmu selamat tinggal?!! " Tanya Lily yang hampir menangis. Elias hanya menunduk "maaf tapi aku harus pergi" Lily menitikkan air matanya. "Tapi... Tapi... Kamu sudah berjanji!!! " Elias lalu mengarahkan jarinya ke dahi Lily "disparais juste" Seketika Lily pingsan dan Elias menggendongnya ke arah ranjang. Elias lalu pergi meninggalkan Lily.
catatan : mohon maaf klo ini nggak urut, episode sebelumnya saya jadikan satu dengan eps 1 & 2 jadi yang episode lainnya itu nggak bisa dihapus. jadi ini seharusnya episode 3.
__ADS_1