•{I'M THE VAMPIRE PRINCE'S MAID}•

•{I'M THE VAMPIRE PRINCE'S MAID}•
Arthur kecil


__ADS_3

Lily memasuki toko kue yang tak jauh dari kantornya. Gadis itu melihat-lihat kue yang ada di dalam menu selama beberapa menit.


" Pelayan! "


Lily melambaikan tanganya dan datang salah seorang pelayan dari toko tersebut.


" Anda sudah menentukan pesanan anda? "


" Saya mau pesan kue Black Forest dan Milkshake stroberi"


" Saya mengerti, mohon tunggu sebentar "


Pelayana itu pun pergi. Lily mengambil ponsel dari tasnya dan memainkan sebuah game sembari menunggu pesanannya datang.


5 menit kemudian~


" Ini pesanan anda "


Pelayan itu meletakkan pesanan Lily di meja. Pelayan itu kemudian pergi. Lily melahap kue black forest itu dengan lahap, karena itu memang kue favoritnya. Lily melahap kue yang penuh dengan coklat dan krim itu dengan sangat menikmatinya.


Bzzz... Bzzzzz


Ponselnya tiba-tiba begetar yang membuat gadis itu berhenti melahap kue black Forest dan mengangkat panggilan telepon tersebut.


" Halo.. Lily disini"


" Nona Lily ternyata anda sedang santai ya? "


~gawat! Inikan direktur sialan itu! ~


" Ti.. Tidak saya sekarang sedang mengerjakan beberapa dokumen "


" Kalau begitu.. Saat ini aku sedang melihat seseorang yang sangat mirip denganmu, ah! Tapi aku mungkin salah lihat. Aku tunggu dokumenmu hari ini ya MA-NE-JER "


Telepon terputus. Wajah gadis itu menjadi sedikit berkeringat. Sesegera mungkin Lily melahap kuenya dan segera meninggalkan cafe tersebut. Gadis itu berlari dengan secepat yang dia bisa. Lily kelelahan berlari sehingga tidak terlalu memperhatikan apa yang ada di depannya.


Bug!


Tak sengaja gadis bersurai coklat ituenabrak seorang anak kecil dan membuat eskrim yang berada ditangan anak tersebut jatuh ke tanah. Sontak anak itu menangis sekencang-kencangnya. Lily terlihat amat bingung, dia bingung harus melanjutkan berlari ke kantor atau menenangkan anak kecil tersebut dan mengganti eskrim yang telah dijatuhkannya. Gadis itu menarik nafas panjang dan memutuskan untuk membantu anak itu.


" Ssttt.. Adik kecil jangan menangis kakak akan mengganti eskrimu"


Tangis anak tersebut makin lama semakin tak terdengar lagi.


" Hiks.. Benarkah? "


" Ya! Kakak janji"


Lily menyodorkan jari kelingkingnya untuk membuat janji dengan anak tersebut. Anak tersebut tersenyum dan mereka saling mengaitkan jari kelingking lalu membuat janji kecil mereka. Lily melihat ke arah arloji yang dipakainya.


" Gawat! Sudah jam segini!? "


" Kakak ada apa? "


" Aduh...! Maaf ya kita beli eskrimnya nanti saja ya? Kakak sudah terlambat kerja, dimana ibumu ?kakak akan mengantarkanmu ke ibumu"


Anak itu menundukkan kepalanya kemudian menggenggam erat hoodie berwarna kuning yang dipakainya.


~ jangan-jangan kamu tersesat ya?! ~


" Adik kecil, kakak akan mengantarmu ke rumahmu saja ya? "


" Ta.. Tapi aku tidak tahu rumahku dimana"


" Ka.. Kali begitu kakak antar kamu ke kantor polisi ya? Pak polisi pasti akan membantumu menemukan ibumu"


" Tidak mau! Aku mau ikut kakak saja! "


Anak itu mulai menangis sembari memeluk kaki Lily. Gadis itu semakin kebingungan, bagaimana mungkin dia membawa anak itu ke kantor?. Lily sempat berpikir untuk membawa anak itu kerumahnya tetapi rumahnya sangat jauh dari daerah tersebut, sedangkan dia akan segera terlambat apabila tidak cepat-cepat ke kantor. Lily mengambil nafas panjang.


" Baiklah.. Kamu ikut kakak ke kantor, tapi tidak boleh nakal ya? "


Anak tersebut mengangguk. Lily segera menggendong anak itu dan berlari dengan cepat.


Setibanya dikantor Lily langsung masuk ke ruangnnya. Beruntung  manejer diberi ruangan pribadi. Lily segera menurunkan kecil tersebut dan segera menyambar tumpukan dokumen miliknya yang belum selesai.


" Ngomong-ngomong, nama kakak Lily, kalau kamu? "


" Namaku arthur"


" Baiklah Arthur sampai aku selesai dengan tugasku kamu duduklah di sofa dengan tenang dan juga jangan keluar dari ruangan ini"


Arthur mengangguk. Lily segera mengerjakan dokumennya. Arthur kecil yang bosan mengambil buku yang ada di rak ruangan Lily, kemudian dia duduk di sofa dan membaca buku tersebut.


15.00 PM


Lily menyandarkan tubuhnya ke kursi dan sedikit meregangkan tubuhnya. Lily melirik ke arah Arthur yang sedang duduk dan membaca buku.


~Arthur sangat tenang sekali.... ~


Lily beranjak dari kirain nya karena kini tugasnya sudah ia selesaikan. Gadis itu membawa seluruh dokumennya ke ruang direktur. Sebelum pergi dari ruangan Lily kerpesan ke Arthur.


" Aku akan mengantar dokumen ini setelah itu kita bisa membeli es krim, ingat! Jangan tinggalkan ruangan ini! "


" Baik"


" Anak pintar"


Lily kemudian menutup pintu ruangannya.


Ceklek!


Lily membuka pintu ruangan direktur. Disana tampak Elias sedang duduk dan memeriksa berkas-berkas yang lain.


" Direktur ini berkas-berkas yang Anda minta"

__ADS_1


Gadis itu meletakkan berkas tersebut ke atas meja Elias. Pria itu tampak tidak menyadari kedatangan Lily sehingga dia tetap diam dan melanjutkan memeriksa berkas lainnya.


" Saya izin pamit"


" Ya baiklah kau bisa pulang"


Lily membungkuk hormat dan pergi meninggalkan ruangan direktur.


~ tumben sekali dia tidak menjahili ku? Tapi,baguslah! Aku bisa segera membelikan Arthur eskrim!~


Gadis itu segera kembali keruangan nnya. Setibanya disana Lily segera mengemasi barang-barangnya.


" Ayo kita beli eskrim! "


Lily menggandeng tangan Arthur. Terlihat senyuman bahagia menghiasi wajah Arthur kecil, hal itu membuat Lily menjadi ikut senang.


Ketika di kedai es krim,Lily terkejut melihat antrian yang sangat panjang.


" Arthur kecil, kamu duduklah di sebelah sana! Kakak akan memesankan eskrim"


Lily menunjuk ke arah tempat duduk yang dekat dengan jendela. Arthur mengangguk dan segera pergi ketempat duduk yang dikatakan oleh Lily.


Akhirnya tiba juga saat giliran Lily memesan.


" Selamat datang! Anda ingin memesan apa nona? "


" Aku pesan es krim stroberi dan vanilla"


"Baiklah, satu es krim vanilla dan stroberi akan segera datang mohon ditunggu"


Seorang pelayan keluar dari dapur sambil membawa pesanan Lily. Usai membayar Lily mengambil es krim dan berjalan menghampiri Arthur.


" Ini es krim mu"


Lily menyodorkan segelas penuh es krim Stroberi. Arthur yang nampak menantikan es krim tersebut langsung melahap nya dengan senang.


" Setelah ini kakak akan membantumu mencari ibumu ya? "


Tiba-tiba Arthur yang tadinya makan dengan lahap menjadi sedikit murung. Gadis itu heran apakah dia sedang bertengkar dengan ibunya? Dia bertanya-tanya di dalam pikirannya.


" Kak, sebenarnya ibu... "


" ARTHUR! DARI MANA SAJA KAMU? "


Belum selesai Arthur berbicara terdengar suara teriakan seorang wanita. Lily segera menoleh ke arah asal suara tersebut. Terlihat seorang wanita paruh baya yang mengenakan kaos dan celana jeans yang agak sobek-sobek. Saat wanita itu hendak menghampiri mereka, Arthur mendadak bersembunyi di belakang Lily.


" Maaf, nona anak ini sudah menyusahkanmu"


" Ah tidak apa-apa"


" Arthur sekarang ayo pulang! "


Wanita paruh baya itu menarik tangan Arthur dengan sangat kasar, sehingga Arthur menangis kesakitan.


" AKU TIDAK MAU PULANG! AKU MAU BERSAMA KAK LILY! "


Lily yang melihat hal itu tidak bisa tinggal diam.


" Nyonya anda menyakiti tangan anak ini"


" kamu diam saja! Jangan ikut campur! "


Lily segera mengambil segelas es krim miliknya yang hampir meleleh dan menyiramkannya ke tubuh wanita paruh baya itu. Karena hal tersebut wanita itu melepaskan tangan Arthur untuk membersihkan bajunya yang kotor. Arthur segera berlari ke arah Lily dan bersembunyi di belakangnya.


" KAU DASAR KETERLALUAN! "


wanita itu mengangkat tangannya dan menampar Lily.


Tepat sebelum tangan wanita itu mengenai Lily ada seorang pria yang tak lain adalah Elias menahan tangan wanita paruh baya itu.


" Maaf saja tapi kamu tidak bisa menyakiti pegawai ku"


" DASAR! MEMANGNYA KAU SIAPA HAH?! "


Elias lalu  melemparkan wanita itu hingga ia tersungkur ke tanah. Dengan sigap para pelayan Elias yang lain memegangi tangan wanita itu.


" SIALAN!! MEMANGNYA KAU SIAPA?! "


" Kamu tidak perlu tahu, yang pasti kamu harus segera mempertanggungjawabkan kejahatan mu atas penyiksaan anak dibawah umur"


" Apa maksudmu?! Kalianlah yang pantas dipenjara karena telah menculik seorang anak"


" Ho... Lalu bagaimana kau akan menjelaskan ini? "


Klik!


Elias menekan remot yang dari tadi telah dia bawa. Layar di kedai es krim tersebut memperlihatkan kekerasan yang dilakukan oleh wanita paruh baya tersebut terhadap seorang anak kecil yang tak lain adalah Arthur. Semua orang yang melihat rekaman video tersebut berbisik dan memaki wanita tersebut.


" Ba... Bagimana bisa?! "


" Setelah pegawai ku yang belum menikah membawa anak, aku sedikit curiga, jadi aku menyelidiki anak itu"


~dasar direktur sialan!!! Bisa-bisanya dia membeberkan statusku!!!!! ~


Wanita paruh baya itu terdiam.


" Bawa dia ke kantor polisi! "


Pengawal Elias langsung menyeret wanita itu ke kantor polisi meskipun meronta-ronta. Elias berbalik kemudian menghampiri Lily dan Arthur kecil.


" Saya sungguh berterima kasih direktur! "


" Tidak masalah,jadi mau kamu apakan anak itu? "


Lily menengok ke arah anak tersebut. Tampak dia masih ketakutan dan hampir menangis.

__ADS_1


" Kamu takut dengan paman itu ya? "


" Pa-paman?! "


" Bukan itu kak, aku mau mengucapkan Terima kasih sama paman"


Entah mengapa pangggilan paman ini membuat hati Elias sedikit tertusuk. Elias mengajak Lily dan Arthur untuk duduk dulu di kedai tersebut. Orang-orang yang tadinya ricuh sembari bergerombol sudah mulai tenang.


" Jadi apa yang sebenarnya terjadi? "


Gadis itu juga ingin mengetahui apa yang terjadi pada Arthur kecil. Arthur sedikit ketakutan, jadi Gadis bernetra emas itu menggenggam tangan Arthur dan memberi isyarat.


~tenang saja... Kakak ada bersamamu jangan takut~


Anak itu kemudian menarik nafas panjang dan mulai bercerita.


" Sebenarnya ibu... Sudah pergi... Ayah menikah lagi dengan bibi tadi. Kemudian karena sakit ayah pergi menyusul ibu, jadi bibi yang merawatku, tapi bibi menjadi jahat! Aku disuruh mencari uang, dia memaksaku berpura-pura seperti anak hilang dan ketika ada yang datang mengantarku pulang bibi akan meminta uang kepada orang yang mengantarku. Kalau tidak... Dia akan dilaporkan sebagai penculik anak"


~ah! Pantas saja saat aku mau mengajaknya ke kantor polisi, Arthur tidak mau.... Rupanya dia takut dengan bibinya itu~


Anak bernetra ruby tersebut menceritakan semua hal dan kejadian yang dilakukan oleh bibinya.


Usai mendengarkan cerita Arthur,Elias terdiam sejenak. Lily menyodorkan es krim stroberi milik Arthur yang tadi belum dihabiskannya. Sempat menolak tapi akhirnya Arthur mau memakannya meskipun tidak selahap tadi.


" Kalau begitu aku akan menyerahkan mu pada polisi, mereka akan mengurusmu"


" TIDAK! AKU TIDAK MAU PAK POLISI! AKU MAU DENGAN KAK LILY!! "


Gadis bersurai coklat tersebut merasa kasihan kepada Arthur. Karena jika anak itu di antar ke kantor polisi, makan dia akan diantar ke panti asuhan. Arthur menangis sekencang kencangnya.


" Tidak bisa! Kamu akan merepotkan pegawaiku"


Arthur menangis dengan semakin keras yang membuat seisi kedai melirik kearah meja mereka bertiga. Elias bahkan tak berusaha menenangkan Arthur dia malah diam saja. Lily kemudian berfikir sejenak.


" Baiklah! Kalau begitu kakak akan mengadopsi mu"


" Kamu.. Apa?! "


Tangis bernetra ruby itu lama kelamaan tak terdengar lagi. Lily seketika beradu mulut dengan Elias.


" Kamu sudah gila?! Aku melarangnya! "


" Memang kamu  siapa?! Suamiku?! Kenapa mengatur aku?!"


" Jika tidak mau aku akan... "


"Pecat? Pecat saja! Aku tidak peduli kau ini dasar direktur sialan!!!! "


Lily menggendong Arthur dan segera meninggalkan kedai tersebut.


" Kakak... Kalau kakak jadi di pecat... "


"Tenang saja! Aku akan mencari pekerjaan lainnya, nah! Sekarang ayo kita beli baju dan peralatan mandi untukmu! "


Lily berjalan ke arah departemen store terdekat. Lily memasuki area anak-anak sambil masih menggendong Arthur. Kemudian Lily menurunkan Arthur dan memilih beberapa baju  untuk anak kecil bersurai hitam tersebut.


10.00 PM


Lily dan Arthur sedang berjalan ke arah rumah.


" Bagimana tadi menyenangkan tidak? "


Arthur hanya diam saja tak menjawab pertanyaan gadis itu. Bulan Purnama sudah menampakkan dirinya dengan sangat terang.


Bruk!


Arthur terkejut saat melihat Lily jatuh.


" Kak Lily kenapa? "


"uhuk! Uhuk! Hah... Hah... "


Nafas gadis itu terengah-engah sambil menahan rasa sakit yang berada di tubuhnya. Lily berfikir bahwa penyakitnya sedang kumat, jadi dia menyuruh Arthur untuk tenang saja. Tiba-tiba netra emas gadis itu berubah menjadi warna merah darah, giginya mengeluarkan taring, dan kukunya sedikit memanjang. Melihat hal itu Arthur mundur beberapa langkah ke belakang. Tiba-tiba Lily menatap tajam ke anak itu seperti hendak menerkam nya.


Srat!


Lily meluncur ke arah Arthur seperti singa yang menerkam mangsanya.


" Ahhhhhhh!! "


Arthur berteriak sekencang-kencangnya berharap ada yang datang menolongnya, tetapi percuma jalanan itu sepi dan berada jauh dari kota.


Drap!


Belum sempat Lily menyentuh Arthur, seseorang dari belakang gadis itu menarik dan menghentikan gerakannya. Gadis itu meronta-ronta berusaha melepaskan cengkraman pria itu.


Tes...!


Gadis netra merah tersebut menggigit leher pria itu hingga darahnya menetes, Lily mulai menghisap darahnya.


Usai meminumnya Mata Lily kembali seperti semula dan dia mulai pingsan.


" KAK LILY! "


Arthur kecil segera Berlari menghampiri Lily yang pingsan. Pria itu mengangkat tubuh Lily sontak Arthur segera mengikutinya, karena lelaki itu tak lain adalah Elias. Mereka berdua masuk ke mobil.


" Paman, apa kak Lily baik-baik saja? "


~sialan! Anak ini memanggilku paman lagi... Aku kan tidak setua itu!! ~


" Lily baik-baik saja dan berhenti memanggilku paman"


Usai perbincangan tersebut mereka sudah sampai di rumah Lily. Elias segera membaringkan diri di kamar. Arthur kecil yang sedang bediri di samping tempat tidur Lily mulai berkaca-kaca.


" Tenang, saja gadis itu akan baik-baik saja.sudah anak kecil tidur saja! "

__ADS_1


Arthur tak menjawab Elias, ia hanya diam saja.


Bersambung


__ADS_2